Menghitung yang Tersisa, Berjuang Bersama

Seminggu telah berlalu, perhelatan empat tahunan dari ajang akbar olahraga disabilitas di Indonesia. Dalam Peparnas XV Tahun 2016 kali ini, Provinsi Jawa Timur berhasil kembali menduduki klasemen sepuluh besar dengan perolehan medali sejumlah 15 emas, 15 perak, dan 17 perunggu (klasemen keseluruhan: https://goo.gl/yyLvCF). Dari jumlah perolehan medali tampak mengalami peningkatan satu medali emas bila dibandingkan dengan empat tahun yang lalu pada saat Peparnas XIV Tahun 2012 di Riau, kala itu kami berhasil menduduki klasemen ke delapan dengan perolehan medali sejumlah 14 emas, 18 perak, dan 18 perunggu. Bahkan mengalami peningkatan tiga medali emas bila dibandingkan dengan delapan tahun yang lalu pada saat Porcanas XIII Tahun 2008 di Kalimantan Timur dengan perolehan medali 12 Emas, 11 Perak, dan 10 Perunggu—Porcanas merupakan singkatan dari Pekan Olahraga Cacat Nasional, yang kemudian berubah nama menjadi Pekan Paralimpik Nasional yang disingkat menjadi Peparnas.

Raihan tersebut tentu merupakan prestasi yang menggembirakan, mengingat dengan kami dapat ikut serta dalam Peparnas XV saja sudah merupakan sebuah anugerah (selengkapnya: https://goo.gl/9H4o2a), ditambah pula tidak pernah diselenggarakan pemusatan latihan dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi Peparnas XV, serta banyaknya atlet Provinsi Jawa Timur yang berpotensi meraih medali emas—dan memang terbukti telah menyumbangkan medali emas dalam Peparnas kali ini—telah hengkang ke provinsi lain karena berbagai tawaran yang lebih menjanjikan dengan bonus yang menggiurkan. Lawan-lawan kami pun merupakan raksasa dalam pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas di Indonesia, salah satu contoh untuk provinsi yang berada satu peringkat di bawah kami mendapatkan anggaran pembinaan dalam setahun sebesar Rp 1,2 Milyar (satu milyar dua ratus juta rupiah), sementara kami sama sekali tak ada anggaran apa pun untuk pembinaan.

Dengan sudut pandang yang lebih luas, peningkatan prestasi yang kami miliki sebenarnya lebih dari hanya sekadar bertambah satu medali emas. Selepas hengkangnya banyak atlet Provinsi Jawa Timur ke provinsi lain, kami tidak pernah menghitung yang hilang, namun kami menghitung yang tersisa. Dari menghitung yang tersisa inilah kami berangkat dengan penuh keyakinan dapat memberikan yang terbaik dari diri kami sendiri, hingga terkumpul sebanyak 15 medali emas, dan peningkatan prestasinya terletak pada 11 medali emas yang ada disumbangkan oleh atlet-atlet yang masih berusia di bawah 18 tahun—sebagian merupakan wajah baru, sementara yang wajah lama pada Peparnas XIV yang lalu masih menjadi bayang-bayang peraih medali emas—bahkan mereka tidak hanya sekadar menyumbangkan medali emas, tiga atlet di antaranya dari cabang olahraga renang telah berhasil memecahkan rekor Peparnas pula.

Menghitung yang tersisa akan terus kami lakukan untuk menyongsong masa depan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas di Provinsi Jawa Timur yang lebih cerah. Menghitung yang tersisa bukan hanya pada peraih medali, melainkan menghitung yang tersisa pada segala potensi sumber daya atlet yang masih banyak tersebar di provinsi tercinta ini. Menghitung yang tersisa bukan hanya pada potensi sumber daya atlet, melainkan menghitung yang tersisa pada potensi sumber daya organisator yang bisa bergandengan tangan dan berjuang bersama untuk sesuatu yang lebih besar dengan visi yang jauh ke depan, bukan menghitung mereka yang ingin menjadi organisator dengan bermodalkan janji manis dan bualan indah dari lidah yang berbisa hanya untuk kepentingan pribadi yang sempit dan berpotensi memecah belah kesatuan yang telah terbina.

Kota Pahlawan, 5 November 2016

IMG_5719.JPG

Bersandar pada Sang Anugerah

Di tengah kesibukannya, Ibu Farida Martarina – Ketua Pengda SOIna Jawa Timur menyempatkan diri untuk menengok kami di Kota Bandung. Dalam kesempatan tersebut, kami berbincang tentang keajaiban Sang Anugerah yang telah terjadi, mulai dari perbincangan tentang pelunasan biaya makan untuk 140 orang selama tiga hari (sebelum keberangkatan) yang tagihannya dibayar dengan menggunakan honorarium yang didapatkan dari menjadi narasumber dalam sebuah workshop (jumlah honorarium yang diterima sama persis dengan jumlah tagihannya, tidak kurang dan tidak lebih), hingga sebuah pengalaman tentang keadaan yang berubah menjadi sangat baik setelah melalui proses terdiskriminasi dan termarginalkan terlebih dahulu.

img_5739Tak dipungkiri, bagi saya pribadi, semua yang telah dilewati oleh Kontingen Jawa Timur dalam Peparnas XV hanya karena anugerah. Kami berjalan dari anugerah ke anugerah, dari keadaan yang seolah sedang berjalan sendirian, lalu sebuah kekuatan menghampiri, dan kami pun mulai berani melangkah dengan bersandar pada topangan yang ada. Sebuah sandaran yang tak pernah letih untuk menopang, sebuah sandaran yang mendorong kami untuk terus melangkah, sebuah sandaran yang tak pernah goyah.

Dalam Peparnas kali ini pun, kami tidak hanya mengalami sebuah kompetisi, melainkan juga mendapatkan pelajaran yang berarti dalam kehidupan. Nilai-nilai yang telah kami dapatkan melalui (nilai-nilai) olahraga, boleh kami dapatkan kembali dalam setiap dinamika yang terjadi. Kami diajarkan kembali untuk dapat membangun kecakapan dalam menyikapi segala keadaan yang terjadi. Saat keadaan tidak sesuai dengan yang diharapkan, kami diingatkan untuk tetap dapat membangun penghargaan pada diri sendiri dan menjaga kehormatan diri dengan tidak merengek, mengeluh dan memaki, melainkan melakukan introspeksi dan secara perlahan membangun sikap toleransi—dengan merengek, mengeluh dan memaki hanya akan menunjukan betapa kerdilnya jiwa kita.

Perjuangan jilid pertama telah usai: https://goo.gl/9H4o2a, Peparnas pun (tersisa satu hari lagi) telah kami lalui, dan tak lama lagi kami akan melanjutkan perjuangan jilid kedua yang menyangkut kelangsungan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas pada masa yang akan datang di Provinsi Jawa Timur. Kami optimis terhadap kelangsungan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas akan dapat menjadi lebih baik, sama optimisnya (berpandangan baik) saat kami melibatkan akademisi yang mengajar pada jenjang sarjana dan pascasarjana untuk masuk ke dalam kontingen—meski tak ada royalti yang dapat kami beri, malah yang bersangkutan harus tekor karena merogoh kocek sendiri.  

IMG_5509.JPG

Kami optimis dengan melibatkan akademisi, setelahnya akan banyak jiwa-jiwa kerelawanan yang terbangun dalam diri mahasiswa (yang berlatar belakang dari fakultas ilmu keolahragaan) saat mereka mengikuti kelas-kelas mata kuliah Penjas Adaptif dan Olahraga Disabilitas. Dengan tumbuhnya jiwa kerelawanan, harapannya akan makin banyak yang terpanggil untuk bergerak dalam bidang tersebut. Begitu pula halnya dalam karya-karya akademis (skripsi, tesis, dan disertasi), harapannya akan banyak mahasiswa yang terdorong untuk mengambil tema-tema yang terkait dengan olahraga disabilitas, yang tentu nantinya dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kelangsungan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas.

Menjadi relawan bukan karena mengejar royalti, menjadi relawan karena panggilan hati. Menjadi relawan bukan karena mencari muka, menjadi relawan karena anugerah. Menjadi relawan tak bisa hanya mengandalkan kekuatan manusia, menjadi relawan harus senantiasa bersandar pada Sang Anugerah.

Kota Bandung (Ibis Hotel – Trans Studio), 23 Oktober 2016

Catatan Perjuangan Kontingen Jawa Timur Menuju Peparnas XV

Bukanlah tanpa sebuah usaha, sejak tahun lalu setelah NPC Provinsi Jawa Timur keluar dari KONI Provinsi Jawa Timur dan kedudukannya menjadi sejajar dengan KONI Provinsi Jawa Timur, kami telah berusaha untuk mendapatkan penganggaran dari Pemerintah Provinsi. Namun, dari semua yang telah kami ajukan melalui SKPD terkait, tak ada satu pun yang direalisasikan. Hingga keadaan buruk harus menimpa kami saat ini, kami dilanda kesulitan dalam hal penganggaran kebutuhan Kontingen Jawa Timur menuju Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV Tahun 2016 di Jawa Barat.

Saat jalan keluar dalam hal penganggaran kebutuhan kontingen tak kunjung kami dapatkan, sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphone via aplikasi whatsapp tepat pada malam penutupan PON XIX (29/9/2016) yang berbunyi: “Apa kabarnya Peparnas?” Jawaban pun segera meluncur dengan seketika, jawaban yang berisikan penjelasan tentang keadaan kami menyongsong keberangkatan menuju Peparnas—jawabannya lebih pada memperbarui informasi, karena sebulan sebelumnya saat bertatap muka sudah tersampaikan semua kendalanya. Jawaban yang tersampaikan kala itu berupa pernyataan bahwa Kontingen Jawa Timur (hingga dua minggu menjelang keberangkatan) hanya mendapat kepastian dukungan dari Dispora Provinsi Jawa Timur berupa pakaian kontingen—training spak, sepatu, kaos, topi, dan tas, serta pakaian pertandingan/perlombaan bagi sebagian cabang olahraga—untuk 94 atlet dan 46 official dengan nilai pembelian sebesar Rp 145.150.000,- (seratus empat puluh lima juta seratus lima puluh ribu rupiah) yang pendanaannya berasal dari penggeseran anggaran kegiatan. Perbincangan via whatsapp pun terus berlanjut, hingga harus terhenti karena sudah larut malam.

1

Keesokan harinya, sebuah panggilan masuk ke dalam handphone untuk melanjutkan perbincangan yang semalam sempat terhenti. Dalam perbincangan via telepon tersampaikan bahwa dana sebesar Rp 145.150.000,- (seratus empat puluh lima juta seratus lima puluh ribu rupiah) tersebut sebenarnya pernah ditawarkan kepada kami untuk pembelian tiket kereta api (pergi pulang) bagi 140 orang yang tergabung dalam Kontingen Jawa Timur. Namun, keputusan kami melalui perwakilan organisasi yang berdinas pada SKPD terkait (Mas Aruel dan Mas Rukhan) menyampaikan pertimbangan bahwa sebagian besar di antara kami adalah para penyandang disabilitas yang apabila menempuh perjalanan darat dalam waktu yang lama dapat berakibat pada timbulnya gangguan kesehatan, maka memilih menggunakan alat transportasi udara merupakan keputusan yang terbaik. Pertimbangan lainnya adalah dengan mengenakan training spak dan kaos bertuliskan “Jawa Timur” dapat memberikan arti dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebagian besar di antara kami yang sangat mencintai provinsi yang telah melahirkan kami, meskipun tiket keberangkatan belum terbeli, dan masih akan berencana melakukan donasi dalam internal organisasi untuk membeli tiket pesawat keberangkatan dan kepulangan sebagai bentuk kecintaan terhadap provinsi kami.

Singkat cerita selama dua hari berkoordinasi via telepon, pada akhirnya Ibu Farida Martarina, Ketua Pengda Special Olympic Indonesia (SOIna) Jawa Timur membuka jalan bagi kami. Beliau sendiri turut menjadi jawaban atas pertanyaan singkatnya yang disampaikan via whatsap: “Apa kabarnya Peparnas?” Sebuah pertanyaan singkat yang dijawab oleh beliau sendiri dengan tindakan nyata. Saat itu (1/10/2016), beliau menyatakan bersedia menanggung makan dan penginapan bagi 140 orang yang berdatangan dari seluruh Provinsi Jawa Timur untuk bergabung dalam kontingen di Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Jawa Timur selama tiga hari menjelang persiapan keberangkatan pada tanggal 12 Oktober 2016.

4Bukan hanya penginapan dan makan yang beliau tanggung, namun beliau juga mengoneksikan kami kepada pihak maskapai yang dapat memberikan bantuan harga tiket special untuk rute Surabaya-Bandung (round trip)—meski pada akhirnya kami harus berganti maskapai karena terbentur regulasi yang tak kunjung keluar dari maskapai tersebut terkait larangan mengangkut penumpang difabel yang tidak boleh melebihi 10% dari keseluruhan penumpang dalam satu kali penerbangan. Selain itu, beliau juga mengarahkan kami untuk mengirim surat permohonan audiensi dan bantuan alat transportasi kepada Dr. Freddy Poernomo, S.H., M.H., selaku Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur.

Surat permohonan audiensi dan bantuan alat transportasi pun telah kami layangkan, sementara perjuangan kami disuarakan pula oleh beliau melalui komunitas sosialnya yang melibatkan rekan-rekan media dengan menggunakan teknik tertentu. Dengan cepat perjuangan kami tersebar beritanya hingga terdengar oleh pihak-pihak terkait yang mungkin saat mendengar beritanya akan jadi tidak nyaman bila hanya duduk diam berpangku tangan. Perkembangan terjadi, pada tanggal 6 Oktober 2016 kami dipanggil menghadap SKPD terkait untuk membahas sudah sejauh mana persiapan Kontingen Jawa Timur menuju Peparnas XV, dalam pertemuan tersebut kami mendapat kepastian (sebelumnya sudah terdengar kabarnya, tapi masih diragukan realisasinya) bahwa kami diberi tambahan anggaran sebesar Rp 47.000.000,- (empat puluh tujuh juta rupiah) yang diperuntukan hanya bagi 95 atlet, dengan rincian setiap atlet akan mendapatkan Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) selama mengikuti Peparnas XV, sementara tak ada anggaran sedikit pun untuk uang saku bagi 45 official.

Keesokan harinya (7/10/2016), surat yang telah kami layangkan ke Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur mendapat respons dari Komisi A yang menyatakan bahwa kami akan diterima audiens dengan Ketua Komisi A DRPD Provinsi Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober 2016 dengan agenda menyampaikan aspirasi yang terkait dengan kesetaraan hak-hak penyandang disabilitas (terutama dalam konteks pembinaan olahraga prestasi) sesuai dengan kebijakan umum dari pemerintah.

Berita tentang kepastian akan dilangsungkan audiens dengan Komisi A tersebut tersebar dengan cepat di antara rekan-rekan media, bahkan kami ketahui salah satu media cetak telah memuat pemberitaan tentang diskriminasi yang kami alami, di antaranya pemberitaan tentang rencana kami akan melakukan donasi untuk melunasi biaya pembelian tiket pesawat—saat itu 135 seat sudah kami booking, dengan uang muka yang masih hutang pada pihak travel. Singkat cerita, sehari sebelum audiens dengan Komisi A (membidangi hukum dan pemerintahan, termasuk di dalamnya hak asasi manusia) berlangsung, pada hari minggu yang cerah (9/10/2016) handphone berdering dengan membawa kabar baik dari SKPD terkait bahwa pembiayaan tiket penerbangan (round trip) Kontingen Jawa Timur Menuju Peparnas XV sebesar Rp 134.000.000,- (seratus tiga puluh empat juta rupiah) telah diambil alih oleh Gubernur Jawa Timur melalui SKPD yang saat itu menghubungi kami. Seketika kelegaan menggelayut dalam hati kami, karena mendengar berita yang menunjukan jalan telah terbuka lebar.

3

Kelegaan boleh saja menggelayuti hati kami, namun sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan, pada tanggal 10 Oktober 2016 kami tetap melangsungkan audiens dengan Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur. Karena memang motivasi dan tujuan utama dari audiensi tersebut bukanlah untuk kepentingan sesaat menuju Peparnas, melainkan untuk kepentingan masa depan kesetaraan hak-hak atlet penyandang disabilitas di Provinsi Jawa Timur. Audiensi pun berlangsung, dan dalam audiensi tersebut kami didampingi oleh pengacara Edward Dewaruci, S.H., M.H.—yang dengan ketulusan dan kerelaannya mendampingi kami tanpa bayaran sepeser pun.

Dalam kesempatan audiensi tersebut, banyak hal yang terjadi di luar dugaan kami, di antaranya: 1) Alat transportasi untuk mengangkut kontingen dari Gedung BK3S menuju Bandara Juanda akan disediakan sepenuhnya dari DPRD Provinsi Jawa Timur; 2) Saat audiensi tengah berlangsung, tanpa diduga Dr. Freddy Poernomo, S.H., M.H. mengeluarkan amplop putih berukuran besar dari dalam tasnya (baru menerima gaji bulanan), dan beliau merobek bagian atas dari amplop tersebut, lalu mengambil Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) yang merupakan setengah dari keseluruhan gaji bulanannya yang diberikan untuk membantu kami yang sedang berjuang menuju Peparnas XV; 3) Setelah Dr. Freddy Poernomo, S.H., M.H. menyampaikan pengantar (demikian juga kami sebaliknya) dan memberikan bantuan tersebut, lalu beliau mohon izin sejenak untuk meninggalkan ruang sidang Komisi A, dan tak lama kemudian beliau hadir kembali dalam ruangan dengan mengajak serta Gubernur Jawa Timur dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur.

Setelah berjabat tangan dengan semua yang hadir dalam ruangan, Gubernur Jawa Timur dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur pun memberikan arahan kepada kami terkait dengan aspirasi yang telah kami sampaikan. Dalam keterbatasan waktu beliau menjelang sidang paripurna, pertemuan dengan Gubernur harus segera diakhiri dan memutuskan untuk memberikan tambahan anggaran operasional sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) melalui Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, dan yang jauh lebih penting untuk dicatat pada akhir audiens tersebut adalah pernyataan beliau tentang hak-hak atlet penyandang disabilitas di Provinsi Jawa Timur ke depannya akan disetarakan dengan atlet non-disabilitas yang berada di bawah naungan KONI Provinsi Jawa Timur.

Sampai sejauh ini, bukan hanya kelegaaan yang menggelayuti hati kami, melainkan juga sukacita. Karena dari semua rupiah yang terkumpul, kami dapat memberikan uang saku tambahan bagi setiap atlet menjadi Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dari yang tadinya hanya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), dan bagi setiap official pun mendapatkan uang saku Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dari yang tadinya tidak ada sama sekali—uang hasil dari donasi yang terlanjur sudah kami himpun untuk pembelian tiket pesawat, turut kami bagikan pula untuk menutup kekurangan dana uang saku bagi official. Sukacita yang kami rasakan sangat wajar, karena beban berat bagi kami saat tidak bisa memberikan uang saku hanya sekadar untuk pengganti uang makan bagi keluarga yang ditinggalkan di rumahnya masing-masing selama dua minggu (sebagian besar official dan atlet kami merupakan pekerja yang sudah berkeluarga dengan pekerjaan tidak tetap), meskipun angkanya masih sangat jauh berbeda dengan uang saku atlet dan official dari Kontingen Jawa Timur pada PON XIX yang menyentuh hingga angka Rp 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah) s.d. Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah).

Saat ini kami telah berada di Kota Bandung, pertandingan dan perlombaan belum dimulai, pembukaan pun baru akan dimulai, namun kemenangan seolah telah kami rasakan dengan melihat sukacita atlet yang mungkin seumur hidup baru pertama kalinya naik pesawat, bermalam selama dua minggu di hotel berbintang, menikmati menu makan yang mewah sebanyak tiga kali setiap harinya, dan lebih dari itu semua adalah rasa bangga ketika mereka dapat berlaga dalam ajang akbar multi event olahraga level nasional dengan mengenakan logo Provinsi Jawa Timur di dada mereka, serta kata “Jawa Timur” yang berada di punggung mereka.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu: Hj. Farida Martarina, Dr. Freddy Poernomo, S.H., M.H., Edward Dewaruci, S.H., M.H., Dr. Tjuk Kasturi Sukiadi, S.E. (Ketua Umum BK3S Provinsi Jawa Timur), Ibu Yeyen (Humas BK3S) beserta rekan-rekan media, komunitas sosial yang berada di BK3S Provinsi Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur, Ketua DPRD Jawa Timur, Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan (Dispora) Provinsi Jawa Timur, Kepala Bidang Olahraga Rekreasi Dispora Provinsi Jawa Timur. Tak lupa pula mengucapkan terima kasih untuk kolaborasi yang sangat indah yang terbangun dalam internal organisasi: Drs. Fathur Rahman Said, S.H. (a.k.a. Jimhur Saros), Imam Kuncoro, Rukhan, Nasrullah, Supardi, Amin Alwachijah, Ahmad Muzayin, dan rekan-rekan pengurus yang lain. Terlebih dari itu semua, saya pribadi mengucapkan terima kasih yang tiada terkira kepada Sang Disabilitas:https://goo.gl/TvFcQv. Mohon doa restu dari seluruh masyarakat Jawa Timur, agar kami dapat meraih prestasi yang maksimal.

Kota Bandung, 15 Oktober 2016

Roy Soselisa
Manajer Kontingen

5.jpg

Dirgahayu Republik Indonesia: Belajar Nyata, Mengajar Nyata

71 TAHUN INDONESIATema nasional yang telah dirilis oleh pemerintah untuk peringatan Hari Ulang Tahun Ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui Surat Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (http://goo.gl/3zVRxl) adalah Indonesia Kerja Nyata. Tema tersebut tentu menyapa semua lapisan masyarakat di seluruh Indonesia, apa pun profesinya, mulai dari Penjual Permen hingga Presiden. Terlebih bagi lapisan masyarakat yang terkait dengan dunia pendidikan, baik sebagai pelajar maupun pengajar, tema tersebut pasti menyapa sekaligus mendorong untuk mewujudkan Kerja Nyata dalam upaya memperkokoh salah satu pilar utama jati diri bangsa, dan salah satu pilar penting kehidupan bernegara.

Kerja Nyata bagi seorang pelajar dapat dimaknai dengan menunjukan aktivitas yang dapat dilihat secara nyata, aktivitas tersebut tidak harus berupa sesuatu yang muluk-muluk, cukup dengan cara yang sederhana, namun dapat memberikan dampak yang luar biasa. Cara sederhana itu dapat dimulai dengan kebiasaan membaca buku, melakukannya secara rutin, minimal satu jam dalam sehari, dan dilakukan terus menerus hingga dapat membentuk gaya hidup sebagai masyarakat baca.

Mungkin timbul pertanyaan: “Bagaimana bila membacanya menggunakan sumber bacaan yang ada pada media internet?” Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan pertanyaan: “Apakah dengan mencari sumber bacaan melalui internet, seseorang dapat bertanggung jawab sepenuhnya pada diri sendiri?” Selama dapat mengendalikan diri dan perhatian tidak mudah teralihkan, maka seseorang–pelajar yang masih berusia di bawah 17 tahun–diperkenankan untuk menggunakan media internet. Namun, godaan untuk beralih kepada konten-konten yang seharusnya tidak dikunjungi yang selama ini lebih besar dan lebih sering terjadi, daripada konsentrasi sepenuhnya pada sumber bacaan yang telah dipilih.

Bagi seorang pelajar yang memiliki kebiasaan membaca buku, akan dapat mempengaruhi dan membentuk hidup mereka dalam banyak aspek, seperti cultural, ilmiah, sosial, ekonomis, demokratis, dan kreativitas individu (Strategi Kultural Menumbuhkan Budaya Baca: http://goo.gl/gJ7Yui). Dapat dibayangkan pada masa yang akan datang, saat tongkat estafet beralih kepada generasi yang saat ini masih berusia pelajar, maka akan dijumpai generasi-generasi tangguh yang akan menjadi pilar yang kokoh bagi bangsa ini, karena telah menunjukan aktivitas yang dapat dilihat secara nyata melalui kebiasaan membaca.

Sementara Kerja Nyata bagi seorang pengajar, dapat dimaknai juga melalui aktivitas yang dapat dilihat secara nyata, yaitu tiada henti membaca banyak informasi yang bisa didapatkan melalui berbagai media. Seorang pengajar dalam keprofesiannya pasti selalu bersentuhan dengan pribadi-pribadi yang dinamis dan terus berkembang, oleh sebab itu sangat tidak santun apabila seorang pengajar menjadi pribadi yang statis dan tidak berkembang, karena tidak pernah berusaha untuk menunjukan aktivitas yang dapat dilihat secara nyata dalam mengupgrade/memperlengkapi diri.

Dalam proses pembelajaran, tak jarang seorang pengajar akan menemui kendala. Dengan bermodalkan wawasan yang luas dan pengetahuan yang dalam yang didapatkan dari usaha membaca, maka kendala-kendala yang ditimbulkan dalam proses pembelajaran akan dengan mudah dapat diatasi oleh seorang pengajar, sehingga kualitas pembelajaran dapat diperbaiki dan ditingkatkan sejak dini. Namun, akan berbeda ceritanya apabila seorang pengajar wawasannya sempit dan pengetahuannya dangkal karena tidak pernah membaca, sangat mungkin tidak pernah terjadi perbaikan terhadap kendala-kendala yang dijumpai dalam praktik pembelajaran, sehingga relevansi dan efisiensi pengelolaan pendidikan jadi terhambat, dan pada akhirnya mutu pendidikan pun tak dapat meningkat.

Mewujudkan Kerja Nyata ternyata tak perlu muluk-muluk tanpa ada artinya, sebagai seorang pelajar mewujudkan Kerja Nyata dapat melalui usaha membangun kebiasaan membaca sebagai bentuk Belajar Nyata demi masa depan bangsa. Sementara sebagai seorang pengajar mewujudkan Kerja Nyata dapat melalui usaha terus belajar tanpa kenal lelah, karena dengan demikian seorang pengajar akan dapat Mengajar Nyata demi mencerdaskan bangsa. Dirgahayu Republik Indonesia.

Sehari Penuh di Sekolah, Merah Putih Berhenti Berkibar di Angkasa

Terjawab sudah kecurigaan seminggu yang lalu, dunia pendidikan menjadi korban kembali: https://goo.gl/inRQeh. Sejak kemarin hingga hari ini, baik melalui media sosial maupun media massa, cukup banyak sudut pandang yang diberikan terkait dengan rencana digulirkannya regulasi memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah secara nasional. Mulai dari sudut pandang praktisi pendidikan, psikolog pendidikan, rohaniawan, anggota dewan, hingga masyarakat awam.

Dari sekian banyak sudut pandang, mungkin sudut pandang yang berbeda perlu diberikan untuk melengkapi sudut pandang lain yang tidak setuju dengan rencana regulasi yang ada. Sudut pandang tersebut bersinggungan dengan prestasi anak bangsa yang membanggakan pada pagelaran akbar dunia, sudut pandang yang dengan mengingat bahwa sang merah putih telah berhasil berkibar dan mendapat sorotan jutaan mata manusia dalam arena olahraga, sudut pandang yang berangkat dari raihan prestasi internasional berupa dua medali perak Olimpiade Rio 2016 oleh Sri Wahyuni Agustiani dan Eko Yuli Irawan.

Raihan prestasi kedua anak bangsa yang membanggakan ini tidak hadir dengan sendirinya, raihan prestasi ini hadir melalui proses yang panjang. Salah satu proses yang harus dilalui oleh mereka saat masih menjadi siswa (berusia pelajar) tentu harus memiliki syarat utama yaitu tidak pernah dipenjarakan sehari penuh di sekolah, karena mereka harus menempa diri dengan berlatih dalam bimbingan sang pelatih. Mustahil mereka dapat ditempa dan menempa diri untuk meraih prestasi, apabila sehari penuh dipenjarakan di sekolah dan dibelenggu kognisinya.

Perlu disadari sepenuhnya bahwa prestasi dunia dapat diraih tentu tak luput dari iklim kompetisi yang begitu ketat dari sesama anak bangsa, sebelum akhirnya anak bangsa yang terbaik muncul ke permukaan untuk mewakili bangsa tercinta melawan bangsa-bangsa lainnya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin dapat tercipta kompetisi yang ketat dan muncul anak bangsa yang terbaik, apabila tidak banyak anak bangsa yang berpartisipasi dalam kompetisi di dalam negeri sendiri? Meletakan sudut pandang lebih jauh lagi pada banyak cabang olahraga lain (selain Angkat Besi) yang ada dalam negeri ini, tentu tidak semua atlet yang terbaik yang masih berusia pelajar masuk ke dalam pemusatan pembinaan latihan pelajar (semacam sekolah-sekolah olahraga) yang tersebar di seluruh Indonesia, karena banyak orang tua menginginkan prestasi di meja belajar dan di lapangan berjalan beriringan, terlebih banyak orang tua mengharapkan perkembangan afeksi dan kognisi yang baik dapat dimiliki, dan prestasi pun dapat diraih.

Meraih prestasi di meja belajar dan di lapangan tentu hanya dapat diraih bukan dengan cara memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah, karena bagi banyak atlet berprestasi yang berada di luar pemusatan pembinaan latihan pelajar yang tersebar di seluruh Indonesia, mereka harus berlatih di bawah bimbingan pelatih-pelatih olahraga yang ada dalam klub-klub olahraga prestasi yang waktu latihannya di luar jam pelajaran sekolah. Pertanyaan berikutnya, pada pukul berapakah mereka harus mulai berlatih, apabila jam pelajaran sekolah baru berakhir pada pukul 17.00? Sementara untuk berlatih dibutuhkan persiapan yang cukup, baik persiapan fisik (makan, istirahat, dll.) maupun waktu untuk berkemas dan menuju ke tempat berlatih.

Dalam regulasi yang akan digulirkan, alasan dari memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah bertujuan untuk memberikan pendidikan karakter bagi siswa, sementara bagi atlet-atlet berusia pelajar tidak perlu diragukan lagi pendidikan karakternya, karena nilai-nilai olahraga akan didapatkan saat berlatih olahraga secara rutin, cukup banyak karakter dan kecakapan hidup yang dapat dibangun melalui olahraga (United Nation, 2003). Jadi, sangat berdasar sekali alasan untuk menolak regulasi memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah, karena pendidikan karakter tidak hanya didapatkan dari pembelajaran formal (sekolah), melainkan juga dari pembelajaran informal (klub-klub olahraga, dll.)–catatan lain: cukup banyak Guru Pendidikan Jasmani yang berperan ganda sebagai Pelatih Olahraga, dengan adanya regulasi yang baru tentu akan menumpulkan bahkan membunuh peran mereka.

Kesimpulan dari sudut pandang yang berbeda ini: Dengan adanya pembelajaran yang waktunya tidak hanya dihabiskan pada lingkungan formal, tentu bukan hanya prestasi yang membanggakan yang akan diraih, melainkan juga afeksi dan kognisi yang baik akan dimiliki sebagai sumber daya manusia yang turut membangun bangsa (selepas menjadi atlet tetap menjadi manusia yang berguna, dan tetap berkontribusi bagi negeri tercinta). Namun, apabila regulasi memenjarakan siswa sehari penuh di sekolah secara nasional tetap digulirkan, sepertinya olimpiade kali ini akan menjadi kesempatan yang terakhir bagi anak bangsa untuk meraih prestasi, dan sang merah putih pun akan berhenti berkibar di angkasa luar negeri.

Kota Pahlawan, 10 Agustus 2016

Seharusnya Sepenuh Hati, Bukan Setengah Hati

Terjadi perubahan kembali pada komposisi kabinet, semoga dunia pendidikan tidak menjadi korban lagi seperti yang telah ada selama ini: pemerintahan berganti, kabinet (baca: menteri) berganti, kebijakan berganti. Namun, terlepas dari perubahan komposisi kabinet (reshuffle) yang kabarnya setengah hati, jauh lebih baik kita mengingat pesan Anies Baswedan, Ph.D. yang pada hari terakhirnya (27/07/2016) menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengajak semua pendidik supaya meneguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai taman yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi semua warga sekolah. Pada malam hari ini pun, saya akan meresponsnya dengan mulai menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang penuh tantangan dan menyenangkan yang diperuntukan bagi warga sekolah yang baru menamatkan jenjang pendidikan taman kanak-kanaknya. :D 

1

Mengajar warga sekolah yang baru menamatkan pendidikan taman kanak-kanak merupakan tantangan tersendiri, karena sebagai pendidik benar-benar ditantang untuk dapat mengemas pembelajaran yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi mereka. Oleh sebab itu, pilihan yang tepat dalam mengajar peserta didik seperti demikian adalah jangan terburu-buru masuk ke persneling yang tinggi, melainkan gunakan persneling yang rendah terlebih dahulu, persneling yang biasa digunakan oleh peserta didik saat masih duduk pada bangku taman kanak-kanak, baru secara bertahap menaikan persneling sesuai kebutuhan untuk menaikan kecepatan. 😉

2

Bukan usaha yang mudah untuk bisa menuntun mereka meraih masa depan dan menjawab tantangan zaman, sebagai pendidik harus terus belajar mengembangkan diri tanpa pernah letih dan berhenti. Terutama bagi saya yang dalam riwayat mengajar selama tujuh tahun terakhir pada jenjang pendidikan dasar, baru tiga kali mendapatkan kesempatan mengajar peserta didik yang baru meninggalkan bangku taman kanak-kanak–sebelumnya hanya kelas besar, namun mulai tahun lalu mendapat tugas tambahan untuk mengajar kelas kecil dan kelas inklusi. Kesempatan yang pertama pada tujuh tahun yang lalu: foto bersama peserta didik yang mengenakan kaos putih kombinasi biru, kesempatan yang kedua pada tahun yang lalu: foto bersama peserta didik yang mengenakan kaos hijau muda kombinasi hijau tua, dan kesempatan yang ketiga pada tahun ini: foto bersama peserta didik yang masih mengenakan kaos taman kanak-kanaknya. 😀

3

Tentu tak mudah awalnya saat harus berhadapan dengan mereka, namun Sang Cinta dan rasa cinta yang penuh hingga seolah ingin melonjak keluar dari dalam hati telah memberikan keyakinan dan kemampuan diri. Mungkin yang senada dengan kalimat itu, saya kutipkan bagian lain dari pesan Anies Baswedan, Ph.D.–yang selama 20 bulan terakhir telah menunjukan kualitasnya sebagai akademisi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan–bagi pendidik di seluruh Indonesia (https://goo.gl/5PiKIq): “Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati, izinkan mereka menyambut dengan hati pula. Jadikan pagi, belajar yang cerah. Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah, tapi mata hati tiap anak, tiap guru yang menjadikannya cerah.”

Mereka Melebihi Apa yang Dapat Kita Pikirkan

Alih-alih ingin memberikan pandangan secara komprehensif terhadap pengesahan Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas (khususnya pada pasal 15, pasal 83, dan pasal 84 yang berkaitan dengan keolahragaan), namun apa daya otak dan mata yang kurang tidur selama empat hari terakhir ini tak bisa diajak kompromi, dan trailer yang dikirimkan via email oleh Dr. Dwi Cahyo Kartiko, M.Kes. lebih menggoda untuk dikomentari–kesimpulannya: edisi membela diri (ngeles) ini, Pak. 😀

Lalu di mana letak difabel-nya (different ability)? Respons itulah yang saya miliki saat pertama kali menyaksikan trailer pada link berikut:https://goo.gl/8yOiyQ. Selama ini saat berbicara tentang difabel, selalu berangkat dari sudut pandang tentang masalah seseorang yang mengalami keterbatasan diri, sudut pandang yang berbicara tentang cara hidup mereka yang menyesakan dada karena hidup dalam keterbatasan yang ada, atau sudut pandang yang mengasihani diri mereka dengan berbagai aneka warna yang pada akhirnya bermuara pada anggapan mereka tidak bisa. Namun, melalui trailer tersebut kita dapat melihat bahwa mereka sedang menaklukan anggapan dunia, mengubah anggapan yang tidak bisa, menjadi kenyataan yang luar biasa.

Sang Kuasa telah memberkati mereka untuk dapat menunjukan kepada kita bahwa yang ada bukanlah tidak bisa, melainkan hanya tidak ingin berusaha. Melalui nyanyian, keterampilan, kecerdasan, gerak badan, dan keberanian yang tersajikan, mereka sedang berkata dengan lantang bahwa setiap orang dalam kehidupan ini harus mendapat kesempatan yang sama. Dengan konteks yang disampaikan dalam trailer tersebut, mereka mendapat kesempatan yang sama untuk merasakan kompetisi olahraga empat tahunan yang begitu megah, suasana pagelaran akbar dunia, berada dalam arena yang mendapat sorotan jutaan mata manusia, dan yang lebih menggembirakan mereka dapat berdiri di atas podium peraih juara. Kesempatan yang mereka rasakan dalam Paralympic tak ada beda dengan yang dirasakan dalam Olympic, karena baik Paralympic maupun Olympic sama-sama dijumpai adanya semangat yang menggelora.

Lebih jauh lagi, dalam trailer tersebut saya menemukan cinta Sang Kuasa yang menyapa setiap kita. Gebukan drum hanya dengan menggunakan kaki, sedang menyapa para pemain drum untuk tidak pernah berhenti belajar menggebuk drum dengan tangannya. Memainkan alat-alat musik hanya dengan menggunakan tangan dan lengan yang tak utuh, sedang menyapa para pemain musik yang utuh tangan dan lengannya untuk terus memberikan performa terbaiknya. Menari (dengan cara barat: dansa) dengan menggunakan kaki palsu, sedang menyapa mereka yang akan dan telah menyerah dalam menarikan tarian kehidupan. Memainkan piano hanya dengan menggunakan lengan yang putus, sedang menyapa mereka yang akan dan telah menyerah dalam memainkan melodi-melodi kehidupan yang indah. Keberanian berseluncur dari ketinggian dengan menggunakan kursi roda, sedang menyapa mereka yang ketakutan melanjutkan perjalanan kehidupannya. Sukacita dan keberanian mereka (dalam trailer tersebut) menghadirkan rangkulan Sang Kuasa bagi mereka yang sedang menderita dan ketakutan dalam menjalani kerasnya kehidupan ini.

Mereka tidak dapat melakukan yang biasa-biasa saja, mereka hanya dapat melakukan yang luar biasa. Mereka telah mengalahkan ketakutan, hingga kita pun seharusnya tidak pernah takut. Mereka telah melampaui keterbatasan, hingga kita pun seharusnya melampaui batas yang membelenggu dalam kehidupan. Mereka dapat melakukan melebihi yang dapat kita pikirkan, mereka bisa melakukannya, kita pun harus bisa melakukannya. Saatnya membuang anggapan kita tidak bisa, dan mulai berusaha untuk mengubahnya menjadi kenyataan yang luar biasa, dan hendaknya setiap kita dapat berkata: Yes, I Can!

Kota Surabaya, 26 Juli 2016

Previous Older Entries