Tindakan Nyata Bagi Sesama: Om Telolet Om, Om Natal Om

Sangat menarik mencermati sisi lain dari fenomena “Om Telolet Om” yang makin menjadi trending topic dunia setelah dibicarakan selebritas dunia beberapa hari terakhir pada sebuah situs jejaring sosial—walaupun sebenarnya video dari fenomena tersebut sudah ada pada sebuah situs web berbagi video sejak beberapa bulan yang lalu. Dari berita-berita yang ada, fenomena “Om Telolet Om” berawal dari permintaan anak-anak di tepian jalan kepada Om sopir bus dengan berteriak (hingga berkembang dengan menggunakan media tulisan) “Om Telolet Om” saat sebuah bus sedang melaju, yang kemudian direspons oleh Om sopir dengan klakson yang berbunyi “telolet.”

Sisi lain yang menarik untuk dicermati itu terlelak di sini: Om sopir bus kok mau repot-repot amat mengikuti permintaan anak-anak untuk membunyikan klakson sih? Bahkan kabarnya Om-Om sopir tersebut sampai ada yang harus merogoh kocek sendiri (minimal sebesar Rp 3 juta) untuk memasang klakson tambahan yang terpisah dari klakson utama, hanya demi untuk menghasilkan bunyi “telolet” yang menarik dari bus yang dikemudikannya.

Pemikiran sederhana yang dapat kita miliki tentang alasan si Om sopir itu, mungkin si Om sopir coba memanipulasi bunyi klakson yang orisinal, yang pada umumnya selama ini bila dibunyikan berkali-kali di jalanan seolah-olah sedang mengintimidasi pengguna jalan yang lain: ”Woiii, minggir, aku mau lewat.” Tentu bunyi klakson yang orisinal itu akan sangat mengganggu dan membuat resah pengguna jalan yang lain: “Seenaknya saja si sopir ini, main klakson melulu, emang dia pikir jalanan punya nenek moyang dia sendiri aja?” Berbeda halnya saat Om sopir menggunakan bunyi klakson yang menarik hasil dari modifikasi, mungkin tidak akan membuat resah pengguna jalan yang lain, justru akan menghibur dan dengan senang hati memberikan jalan untuk si Om sopir.

Sementara itu pemikiran lebih jauh yang dapat kita miliki, bisa saja si Om sopir memang secara khusus menyediakan klakson modifikasi yang terpisah dari klakson utama, hanya untuk memberikan hiburan bagi anak-anak yang berada di tepian jalan yang dilalui oleh bus yang dikemudikannya. Mengingat dalam keadaan normal tanpa bunyi-bunyian yang dihasilkan dari suara klakson saja, anak-anak sudah sangat senang saat melihat bus yang melewati daerahnya. Terlebih bila musim liburan sekolah telah tiba, salah satu hiburan bagi anak-anak yaitu menyaksikan bus yang berlalu-lalang. Siapa pun yang pernah menjadi penumpang bus, dan menaruh perhatian terhadap hal ini pasti akan memahaminya, terutama pada daerah-daerah yang jarang dilalui bus, terkadang ekspresi yang timbul dari mereka hingga melambai-lambaikan tangan: “Daaaaaah.”

Terlepas dari itu semua, pada intinya Om sopir mau repot-repot mengikuti permintaan anak-anak untuk membunyikan klakson, karena Om sopir peduli terhadap sesamanya, sesamanya yang sama-sama manusia yang memiliki kebutuhan emosional yang perlu untuk dipenuhi. Hanya dengan memencet tombol klakson modifikasi yang menghasilkan bunyi “telolet”, tanpa disadari kebutuhan emosional sesamanya yang masih berusia anak-anak dapat terpenuhi, liburan yang menyedihkan pun (mungkin secara ekstrim dapat menyisakan trauma, yang dapat berakibat negatif saat dewasa) tak kan pernah ada, karena hiburan sederhana yang sangat membantu sesamanya telah diberikan oleh Om sopir —sementara banyak anak tak ada yang membantu untuk mendapatkan hiburan yang layak, hingga harus terbelenggu selama berjam-jam menggunakan gadget-nya (bermain game, dll.), bila sudah demikian bukannya terhibur, justru kebutuhan emosionalnya akan terkubur.

Om sopir telah melakukan tindakan nyata bagi sesama, dan Natal pun berbicara tentang tindakan nyata bagi sesama. Apabila “Om Telolet Om” menunjuk pada sebuah komunikasi antara anak-anak di tepian jalan dengan Om sopir, hingga karena begitu besar kepedulian Om sopir pada anak-anak, maka diberikanlah “Telolet” itu. Dengan menggunakan ungkapan yang serupa: “Om Natal Om”, ungkapan ini pun menunjuk pada sebuah komunikasi Ilahi antara Sang Pencipta dengan Sang Bayi, hingga karena begitu besar kepeduliaan Sang Pencipta pada ciptaan-Nya, maka diberikanlah “Natal” (kelahiran) itu.

Natal bukanlah berbicara tentang atribut keagamaan, melainkan berbicara tentang kelahiran Sang Bayi yang melakukan tindakan nyata bagi sesamanya—sesamanya manusia yang sama-sama terlahir dari rahim seorang perempuan, sama-sama memiliki pikiran dan perasaan, sama-sama dapat merasakan lapar dan kenyang, sama-sama dapat merasakan sakit dan sehat—sebuah tindakan nyata yang puncaknya berada pada salib yang berdarah-darah.

Sang Bayi telah memberikan teladan agung-Nya, sebuah teladan untuk melakukan tindakan nyata bagi sesama. Pertanyaannya kini, sudahkah kita melakukan tindakan nyata bagi sesama kita? Tindakan nyata bagi sesama tidaklah harus sebuah tindakan yang mencolok mata (spektakuler), melalui sebuah tindakan yang sederhana (menghadirkan telolet) pun dapat menghasilkan dampak yang luar biasa. “Om Telolet Om” dan “Om Natal Om” telah mengantarkan kita pada suatu perenungan: “Om Bertindak Nyata Om”. Mari bersama melakukan sebuah tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi sesama, tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Selamat Natal.

Surabaya, 25 Desember 2016

Iklan

Usia Muda yang Memalukan

Setelah adanya fitur pemberitahuan yang mengingatkan setiap kenangan yang pernah diposting dalam akun facebook, saya jadi sering tertawa geli dan terkadang jadi malu pada diri sendiri saat membaca status facebook saya pada waktu yang lampau, khususnya untuk status-status yang memiliki muatan keagamaan. Meski sejak semula saya bermain facebook pada tahun 2009 (sebelumnya bermain Friendster) berangkat dari motivasi ingin membagikan hal yang positif dan menginspirasi orang lain, akan tetapi tanpa disadari yang tampak dari sebagian status yang ada, justru saya sedang membagikan pandangan yang fundamentalis (kolot dan reaksioner), menyomot ayat-ayat kitab suci untuk mendukung gagasan yang sedang dikemukakan, dan lebih parahnya merasa yang paling agamis—seperti yang punya Tuh*n sendiri saja, yang lain nggak ada yang benar. Status-status seperti demikian, beberapa kali masih bermunculan hingga tahun 2012.

Dari semua status yang telah dibangkitkan kembali dalam ingatan oleh facebook tersebut, tak ada satu pun status yang coba saya hapus, karena dari situ saya dapat mengetahui—proses belajar—riwayat kesehatan otak saya yang masih terisi dengan wawasan dan pengetahuan dari satu sudut pandang saja. Namun, selepas tahun 2012 saya memperhatikan status-status yang terposting lebih melunak, serta memudarnya pandangan yang fundamentalis, kebiasaan menyomot ayat-ayat kitab suci, dan merasa yang paling agamis. Setidaknya demikian yang saya rasakan melalui kenangan yang telah muncul, dan bila saya melempar ingatan lebih dalam lagi pada waktu yang lampau, seingat saya melunak dan memudarnya pemahaman tersebut banyak dipengaruhi oleh berbagai bacaan yang beragam dari berbagai aliran yang seagama, maupun yang berbeda agama.

Dari berbagai bacaan yang beragam itulah, tanpa saya sadari pula karya dari penulis-penulis yang luas cakrawala berpikirnya dan kaya pengalamannya (baik sebagai akademisi, maupun sebagai praktisi), mempengaruhi saya untuk melihat segala sesuatu dengan lebih terbuka dari berbagai sudut pandang. Yang mempelajari agama bukan hanya dari kitab suci saja, melainkan turut menggunakan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu yang ada. Bahkan, secara ekstrem saya turut diantarkan pada pemahaman untuk berani mengatakan bahwa tidak semua pemahaman dalam kitab suci itu ada, sehingga saat kita akan memutuskan sesuatu pada zaman modern ini dapat berdasarkan pemahaman-pemahaman modern dengan mengambil gagasan dari sisi kemanusian manusianya, karena tidak semua peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman modern ini telah terjadi dan tertulis pada zaman kitab suci, sehingga kita tidak bisa memaksakan diri untuk mencari dalilnya.

Dalam usia yang muda dan seiring bertambahnya usia, tentu saya sangat bersyukur atas kehadiran penulis-penulis yang dengan coretan bijaknya telah membuat hidup menjadi lebih berarti. Akhir kata, belajar adalah proses yang tak boleh berhenti, mari bersama kita terus belajar untuk berjumpa dengan kebenaran. Berjumpa dengan kebenaran tidak selalu dengan cara menambahkan wawasan dan pengetahuan ke dalam hati dan pikiran, melainkan juga mengeluarkan wawasan dan pengetahuan dari dalam hati dan pikiran yang dapat menjadikan kita buta hingga mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman bangsa—mengabaikannya merupakan tindakan yang memalukan.

Surabaya, 19 Desember 2016

Merekah Hati Berbunga-bunga

Kejuaraan yang pada tahun-tahun sebelumnya bertajuk “Piala KONI Kota Surabaya”, kini untuk pertama kalinya setelah NPC Indonesia keluar dari keanggotaan KONI, maka kami sebagai induk organisasi pembina olahraga prestasi yang resmi bagi kaum disabilitas yang berada di Kota Surabaya pun mengikuti regulasi yang menjadikan kedudukan Npc Kota Surabaya sejajar dengan KONI Kota Surabaya, dan tajuk kejuaraan pada tahun ini turut berubah menjadi: Kejuaraan Junior NPC Se-Kota Surabaya Memperebutkan Piala NPC Kota Surabaya Tahun 2016.

IMG_2812.JPGDalam kejuaraan tersebut diikuti oleh pelajar-pelajar dari SDLB/SD Inklusi, SMPLB/SMP Inklusi, dan SMALB/SMA Inklusi Se-Kota Surabaya. Untuk pertama kalinya pula, kejuaraan yang pendanaannya berasal dari APBD Pemerintah Kota Surabaya tersebut menyelenggarakan 40 nomor lomba pada cabang olahraga Atletik, serta disediakannya 40 buah piala dan 40 penghargaan berupa uang pembinaan untuk setiap nomor lomba bagi setiap pelajar yang telah berhasil meraih medali dengan rincian sebagai berikut: Medali Emas sejumlah Rp 500.000,- (belum termasuk PPh), Medali Perak sejumlah Rp 400.000,- (belum termasuk PPh), Medali Perunggu sejumlah Rp 250.000,- (belum termasuk PPh)–uang pembinaan yang tersedia untuk tahun ini memang cukup besar dan lebih banyak, namun tidak demikian untuk honorarium panitia pelaksana, separuhnya dari uang pembinaan pun tidak ada.  Bahkan sebagian “orang dalam” harus rela berkorban untuk tidak mendapatkan seragam, karena terbatasnya anggaran (menguap entah kemana, kami pun tak mengetahui rimbanya).

RAY10056.JPGDari kejuaraan yang setiap tahunnya digelar tersebut, tentu kami berharap akan ditemukan bibit-bibit atlet muda berbakat yang berasal dari Kota Surabaya untuk dibina oleh NPC Kota Surabaya dengan baik, sehingga mampu berprestasi pada level yang lebih tinggi. Seperti bibit-bibit atlet yang pernah kami temukan pada tahun-tahun sebelumnya pada kejuaraan tersebut, yang pada Peparnas XV lalu (read more: https://goo.gl/SfPL7F) turut menyumbangkan medali bagi Kontingen Jawa Timur pada cabang olahraga Atletik, yakni dua medali perunggu dari Ridho Pangestu Abdilah, dan dua medali perunggu dari Andri Bagus Sugiarto–perolehan medali Kontingen Jawa Timur khusus pada cabang olahraga Atletik yaitu sejumlah 3 medali emas dan 7 medali perunggu.

IMG_3049.JPGDengan berakhirnya kejuaraan tersebut pada hari ini, turut menutup pula seluruh rangkaian kegiatan yang telah kami lakukan sepanjang tahun ini. Merekah hati kami berbunga-bunga, karena sepanjang tahun ini kami tidak hanya melihat prestasi, namun lebih dari itu semua kami telah banyak melihat semangat dan senyum indah dari atlet-atlet muda, harapan dan masa depan mereka sungguh ada. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu seluruh rangkaian kegiatan pada sepanjang tahun ini. Selamat menutup tahun yang indah, dan selamat menyongsong tahun baru dengan semangat yang lebih baik dari yang sudah-sudah. Tak lupa pula mengucapkan selamat memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW bagi umat Muslim di mana pun sedang berada, jangan pernah lelah untuk menjaga persatuan bangsa dan toleransi agama.

Surabaya, 11 Desember 2016

Keparpeda V Tahun 2016

Salah satunya dari kejuaraan semacam inilah: https://goo.gl/4U6Z5l, potensi-potensi sumber daya paralimpian (atlet difabel) yang masih banyak tersebar di Provinsi Jawa Timur secara perlahan akan tergali. Dari Keparpeda yang setiap tahun dilaksanakan ini (sudah berjalan selama lima tahun terakhir) telah ditemukan paralimpian-paralimpian berusia belia yang turut memberikan kontribusi medali emas bagi Kontingen Jawa Timur pada Peparnas XV lalu: https://goo.gl/i8FWrR.

Tentu kami sangat berharap, pada waktu yang akan datang tidak hanya sebatas Keparpeda yang dapat dilaksanakan, melainkan diselenggarakannya Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) dengan gaung yang lebih besar, sama dengan gaung yang tercipta saat diselenggarakannya Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) bagi atlet non difabel yang berusia pelajar SMP dan SMA. Bahkan, kami berharap pelaksanaan Peparpeda pun menjadi satu rangkaian dengan pelaksanaan POPDA, dan berakhir pada muara yang terarah pula yaitu pembinaan berjenjang. Karena dengan demikian, kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas dengan atlet pada umumnya sedang berjalan ke arah yang lebih baik (tanpa diskriminasi, dll.), mulai dari jenjang pembinaan yang paling dasar.

Photo by Nasrullah

img-20161130-wa0013

Hari Guru Nasional Tahun 2016

Besi menajamkan besi, sesama menajamkan sesama. Kita semua merupakan guru bagi sekitar kita, guru yang akan menajamkan sesama melalui berbagai peristiwa dalam kehidupan. Kita pun hendaknya senantiasa dapat belajar dari sesama, baik melalui berbagai peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Selamat Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2016 dan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-71.

img-20161125-wa0011

img-20161125-wa0012

Menghitung yang Tersisa, Berjuang Bersama

Seminggu telah berlalu, perhelatan empat tahunan dari ajang akbar olahraga disabilitas di Indonesia. Dalam Peparnas XV Tahun 2016 kali ini, Provinsi Jawa Timur berhasil kembali menduduki klasemen sepuluh besar dengan perolehan medali sejumlah 15 emas, 15 perak, dan 17 perunggu (klasemen keseluruhan: https://goo.gl/yyLvCF). Dari jumlah perolehan medali tampak mengalami peningkatan satu medali emas bila dibandingkan dengan empat tahun yang lalu pada saat Peparnas XIV Tahun 2012 di Riau, kala itu kami berhasil menduduki klasemen ke delapan dengan perolehan medali sejumlah 14 emas, 18 perak, dan 18 perunggu. Bahkan mengalami peningkatan tiga medali emas bila dibandingkan dengan delapan tahun yang lalu pada saat Porcanas XIII Tahun 2008 di Kalimantan Timur dengan perolehan medali 12 Emas, 11 Perak, dan 10 Perunggu—Porcanas merupakan singkatan dari Pekan Olahraga Cacat Nasional, yang kemudian berubah nama menjadi Pekan Paralimpik Nasional yang disingkat menjadi Peparnas.

Raihan tersebut tentu merupakan prestasi yang menggembirakan, mengingat dengan kami dapat ikut serta dalam Peparnas XV saja sudah merupakan sebuah anugerah (selengkapnya: https://goo.gl/9H4o2a), ditambah pula tidak pernah diselenggarakan pemusatan latihan dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi Peparnas XV, serta banyaknya atlet Provinsi Jawa Timur yang berpotensi meraih medali emas—dan memang terbukti telah menyumbangkan medali emas dalam Peparnas kali ini—telah hengkang ke provinsi lain karena berbagai tawaran yang lebih menjanjikan dengan bonus yang menggiurkan. Lawan-lawan kami pun merupakan raksasa dalam pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas di Indonesia, salah satu contoh untuk provinsi yang berada satu peringkat di bawah kami mendapatkan anggaran pembinaan dalam setahun sebesar Rp 1,2 Milyar (satu milyar dua ratus juta rupiah), sementara kami sama sekali tak ada anggaran apa pun untuk pembinaan.

Dengan sudut pandang yang lebih luas, peningkatan prestasi yang kami miliki sebenarnya lebih dari hanya sekadar bertambah satu medali emas. Selepas hengkangnya banyak atlet Provinsi Jawa Timur ke provinsi lain, kami tidak pernah menghitung yang hilang, namun kami menghitung yang tersisa. Dari menghitung yang tersisa inilah kami berangkat dengan penuh keyakinan dapat memberikan yang terbaik dari diri kami sendiri, hingga terkumpul sebanyak 15 medali emas, dan peningkatan prestasinya terletak pada 11 medali emas yang ada disumbangkan oleh atlet-atlet yang masih berusia di bawah 18 tahun—sebagian merupakan wajah baru, sementara yang wajah lama pada Peparnas XIV yang lalu masih menjadi bayang-bayang peraih medali emas—bahkan mereka tidak hanya sekadar menyumbangkan medali emas, tiga atlet di antaranya dari cabang olahraga renang telah berhasil memecahkan rekor Peparnas pula.

Menghitung yang tersisa akan terus kami lakukan untuk menyongsong masa depan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas di Provinsi Jawa Timur yang lebih cerah. Menghitung yang tersisa bukan hanya pada peraih medali, melainkan menghitung yang tersisa pada segala potensi sumber daya atlet yang masih banyak tersebar di provinsi tercinta ini. Menghitung yang tersisa bukan hanya pada potensi sumber daya atlet, melainkan menghitung yang tersisa pada potensi sumber daya organisator yang bisa bergandengan tangan dan berjuang bersama untuk sesuatu yang lebih besar dengan visi yang jauh ke depan, bukan menghitung mereka yang ingin menjadi organisator dengan bermodalkan janji manis dan bualan indah dari lidah yang berbisa hanya untuk kepentingan pribadi yang sempit dan berpotensi memecah belah kesatuan yang telah terbina.

Kota Pahlawan, 5 November 2016

IMG_5719.JPG

Bersandar pada Sang Anugerah

Di tengah kesibukannya, Ibu Farida Martarina – Ketua Pengda SOIna Jawa Timur menyempatkan diri untuk menengok kami di Kota Bandung. Dalam kesempatan tersebut, kami berbincang tentang keajaiban Sang Anugerah yang telah terjadi, mulai dari perbincangan tentang pelunasan biaya makan untuk 140 orang selama tiga hari (sebelum keberangkatan) yang tagihannya dibayar dengan menggunakan honorarium yang didapatkan dari menjadi narasumber dalam sebuah workshop (jumlah honorarium yang diterima sama persis dengan jumlah tagihannya, tidak kurang dan tidak lebih), hingga sebuah pengalaman tentang keadaan yang berubah menjadi sangat baik setelah melalui proses terdiskriminasi dan termarginalkan terlebih dahulu.

img_5739Tak dipungkiri, bagi saya pribadi, semua yang telah dilewati oleh Kontingen Jawa Timur dalam Peparnas XV hanya karena anugerah. Kami berjalan dari anugerah ke anugerah, dari keadaan yang seolah sedang berjalan sendirian, lalu sebuah kekuatan menghampiri, dan kami pun mulai berani melangkah dengan bersandar pada topangan yang ada. Sebuah sandaran yang tak pernah letih untuk menopang, sebuah sandaran yang mendorong kami untuk terus melangkah, sebuah sandaran yang tak pernah goyah.

Dalam Peparnas kali ini pun, kami tidak hanya mengalami sebuah kompetisi, melainkan juga mendapatkan pelajaran yang berarti dalam kehidupan. Nilai-nilai yang telah kami dapatkan melalui (nilai-nilai) olahraga, boleh kami dapatkan kembali dalam setiap dinamika yang terjadi. Kami diajarkan kembali untuk dapat membangun kecakapan dalam menyikapi segala keadaan yang terjadi. Saat keadaan tidak sesuai dengan yang diharapkan, kami diingatkan untuk tetap dapat membangun penghargaan pada diri sendiri dan menjaga kehormatan diri dengan tidak merengek, mengeluh dan memaki, melainkan melakukan introspeksi dan secara perlahan membangun sikap toleransi—dengan merengek, mengeluh dan memaki hanya akan menunjukan betapa kerdilnya jiwa kita.

Perjuangan jilid pertama telah usai: https://goo.gl/9H4o2a, Peparnas pun (tersisa satu hari lagi) telah kami lalui, dan tak lama lagi kami akan melanjutkan perjuangan jilid kedua yang menyangkut kelangsungan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas pada masa yang akan datang di Provinsi Jawa Timur. Kami optimis terhadap kelangsungan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas akan dapat menjadi lebih baik, sama optimisnya (berpandangan baik) saat kami melibatkan akademisi yang mengajar pada jenjang sarjana dan pascasarjana untuk masuk ke dalam kontingen—meski tak ada royalti yang dapat kami beri, malah yang bersangkutan harus tekor karena merogoh kocek sendiri.  

IMG_5509.JPG

Kami optimis dengan melibatkan akademisi, setelahnya akan banyak jiwa-jiwa kerelawanan yang terbangun dalam diri mahasiswa (yang berlatar belakang dari fakultas ilmu keolahragaan) saat mereka mengikuti kelas-kelas mata kuliah Penjas Adaptif dan Olahraga Disabilitas. Dengan tumbuhnya jiwa kerelawanan, harapannya akan makin banyak yang terpanggil untuk bergerak dalam bidang tersebut. Begitu pula halnya dalam karya-karya akademis (skripsi, tesis, dan disertasi), harapannya akan banyak mahasiswa yang terdorong untuk mengambil tema-tema yang terkait dengan olahraga disabilitas, yang tentu nantinya dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kelangsungan pembinaan dan pengembangan olahraga disabilitas.

Menjadi relawan bukan karena mengejar royalti, menjadi relawan karena panggilan hati. Menjadi relawan bukan karena mencari muka, menjadi relawan karena anugerah. Menjadi relawan tak bisa hanya mengandalkan kekuatan manusia, menjadi relawan harus senantiasa bersandar pada Sang Anugerah.

Kota Bandung (Ibis Hotel – Trans Studio), 23 Oktober 2016

Previous Older Entries