Bersyukurlah Senantiasa !!! (Part 1)

Notes tersebut berisi status facebook “Roy Soselisa” yang bertemakan “bersyukurlah senantiasa”:

Roy Soselisa : Hari yang susah memang banyak, tapi hari yang beranugerah jauh lebih banyak. Makin bersungut-sungut, makin lemah dan makin tidak ada kekuatan. Makin banyak bersyukur, makin bergairah dan makin banyak kekuatan. Semua ujian akan lewat, semua kesusahan akan lewat, karena Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Bersyukurlah Senantiasa !!!

11 Oktober 2011 jam 7:13

Roy Soselisa : Seandainya hari ini musibah menimpa kita, apa yang akan kita lakukan? Bersungut-sungut atau tetap bersyukur?

Kalau hari ini musibah menimpa kita, ingat kemarin belum seperti ini. Kalau minggu ini bencana menimpa kita, ingat minggu lalu belum seperti ini. Kalau bulan ini kesulitan menimpa kita, ingat bulan lalu belum seperti ini.

Waktu susah, ingat kalau hari biasanya baik-baik saja. Waktu duka, ingat kalau minggu biasanya baik-baik saja. Waktu derita, ingat kalau bulan biasanya baik-baik saja.

Kenapa kita harus dihambat oleh sesuatu hal untuk tetap bisa bersyukur, hingga lupa Anugerah Tuhan (kebaikan-kebaikan) yang telah diberikannya untuk kita selama berpuluh-puluh tahun?

Biasanya bukan begini. Biasanya baik-baik saja. Bersyukurlah Senantiasa !!!

12 Oktober 2011  jam 9:29

Roy Soselisa : Tidak mudah untuk hidup terus bersyukur, adalah sesuatu yang percuma jika terus bersyukur tetapi kelakuan kita menyeleweng. Bersyukur bukan hanya di bibir saja, tetapi juga melalui kelakuan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kelakuan kita yang mencerminkan kemuliaan Allah, jauh lebih bermakna daripada hanya sekedar ucapan di bibir yang memuliakan Allah. Bersyukurlah Senantiasa !!!

13 Oktober 2011 jam 18:04

Roy Soselisa : Sebenarnya di tengah penderitaan, setan sedang menunggu kita untuk memaki Tuhan. Tetapi di dalam penderitaan itu juga, Tuhan sedang menunggu kita untuk memuji-Nya.

Di dalam tangan siapa, kita mau dipakai? Kita dipakai Tuhan untuk mempermalukan setan? Atau kita dipakai setan untuk mempermalukan Tuhan? Kita mau bersyukur untuk memuliakan Tuhan? Atau kita mau bersungut-sungut untuk mempermalukan Tuhan?

Dengan terus bersyukur, lembah bayang-bayang maut itu akan lewat. Bersyukurlah Senantiasa !!!

15 Oktober 2011 jam 7:14

Roy Soselisa : Penderitaan merupakan anugerah (Filipi 1:29-30), saat kita memutuskan menerima salib-Nya, saat itu juga kita harus berjalan dalam jalan-Nya. Dalam jalan-Nya itu pula, ada anugerah-Nya untuk kita bisa mengucap syukur atas segala sesuatu (penderitaan) yang terjadi.

Jadi tidak perlu pakai acara pindah-pindah tempat ibadah segala, hanya untuk mencari “tempat penghiburan”, mencari khotbah-khotbah yang menyukakan telinga, karena iman tidak akan muncul dari kebiasaan mencari penghiburan rohani seperti itu. Itu semua hanya kenikmatan semu, keluar dari tempat ibadah, berhenti mendengarkan khotbah, beban masih saja tetap menindih kepala.

Percaya kepada-Nya, berarti siap untuk menderita. Bersyukurlah Senantiasa !!!

16 Oktober 2011 jam 21:57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: