Judi Bukan Hanya Sangat Nggak Tepat, tapi Judi Juga Sangat Jahat.

Image

Tiga hari yang lalu (12/6) saya ada pertemuan rutin guru-guru (arisan bulanan) di komplek unit kerja saya. Dalam rangkaian acara tersebut, ada penjualan kupon undian. Pada saat kupon ditawarkan oleh salah satu guru, saya coba-coba merogoh kantong saya, adakah uang koin (receh) yang bisa saya belikan kupon. Eh, nggak tahunya ada lima ratus rupiah dalam kantong saya, dan akhirnya saya beli satu kupon undian dengan uang yang ada tersebut.

Selama empat belas bulan saya mengajar di sana, satu kali pun saya nggak pernah membeli kupon setiap kali menghadari pertemuan rutin. Karena saya jarang ikut pertemuan, selalu berbenturan dengan jadwal mengajar saya. Disamping itu saya memang kurang tertarik dengan hal-hal semacam undian gitu, males sama deg-deg’annya menanti nomor yang bakal keluar. Hehehe. Singkat cerita, saat nomor diundi, keluarlah nomor undian yang saya miliki, dapat dua sabun deterjen anti noda seharga empat kali lipat dari harga kuponnya. Hoyeeeee.

Sesaat setelah mengambil hadiahnya, pikiran saya melayang-layang, mencoba mencari “pesan” apa yang ada dalam peristiwa dapat undian ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, undian berasal dari kata dasar undi. Dipakai untuk menentukan atau memilih sesuatu, seperti untuk menentukan siapa yang berhak atas sesuatu, siapa yang lebih dulu, dll, dsb. Namun, jika diartikan secara bebas (menurut saya), undian juga merupakan sebuah pertaruhan. Mempertaruhkan sesuatu dengan melakukan tindakan spekulatif yang akan menghasilkan kemenangan atau kekalahan.

Nggak ada yang salah sebenarnya dengan undian, namun akan jadi salah jika nggak tepat penggunaan dan tujuannya. Jadi salah jika karena undian, seseorang menjadi beriman (menaruh kepercayaannya) kepada nasib dan untung-untungan, bukan pada pemeliharaan Tuhan. Sama seperti pisau, nggak ada yang salah dengan pisau, namun akan jadi salah jika nggak tepat penggunaan dan tujuannya. Untuk memotong brambang kah? Atau untuk menggorok leher orang kah?

Dari pikiran yang melayang-layang tentang pengertian undian yang telah saya tulis dalam paragraf sebelumnya, pikiran saya pun melayang-layang juga pada saudara kandung dari undian yang bernama judi. Sekarang kan lagi demam bola, demam Euro 2012, pasti saat-saat seperti ini, saudara kandung dari undian jadi ikutan beken. Banyak orang melakukan tindakan spekulatif terkait dengan pelaksanaan Euro 2012, banyak orang mempertaruhkan sesuatu untuk negara-negara yang bertanding dalam Euro 2012, banyak orang di belahan bumi ini sedang berjudi.

Nah, disinilah pikiran saya mulai bermain, bermain pada persoalan tindakan berjudi. Kalau untuk tindakan spekulatif yang ada dalam diri saudara kandung dari undian ini (judi), apapun alasannya sangat nggak tepat. Berbeda dengan undian sendiri, selama penggunaan dan tujuannya tepat, sah-sah aja. Pikiran saya terus bergerak kepada pelakunya (penjudi) : Jika seseorang telah berjudi, lalu menang dari pihak lain dan mendapatkan uang dari hasil kemenangannya, imbalan apa yang bisa diberikannya? Bukankah prinsip yang benar, jika seseorang hendak makan (mau uang) harus bekerja lebih dulu? Ini tanpa bekerja, cuma membuat kesepakatan untuk bertaruh dan menang, eh dapat uang. Bermental apakah orang seperti itu?

Apakah pihak yang menang itu tahu dari mana uang yang diperoleh dari hasil kemenangannya berjudi? Nggak sedikit orang-orang yang berjudi menggunakan uang terakhir yang dimilikinya (dengan harapan bisa dilipatgandakan), uang yang diperlukan untuk membayar sekolah anaknya, beli susu anaknya, dll, dsb. Jika uang telah hilang, apakah pihak yang kalah berjudi itu bisa membayar sekolah anaknya, bisa beli susu anaknya, dll, dsb? Itu sama aja artinya dengan makan uang orang yang lagi menderita, menari di atas penderitaan orang lain, mendapatkan keuntungan di atas kerugian orang lain.

Bagi pihak yang kalah, harusnya nggak perlu membuang uang yang semestinya bisa digunakan untuk hal yang lebih penting. Kalau sudah nggak ada uang lagi, akhirnya segala cara ditempuh, dari sinilah salah satu sumber munculnya kejahatan. Karena sudah kepepet, mulailah nyopet, meskipun sambil kebelet, yang penting anak nggak digencet (karena belum bayar sekolah), istri juga tetap bisa makan meskipun hanya tempe penyet. Hehehe, maksa dot com.

Jadi, kesimpulannya adalah : Judi bukan hanya sangat nggak tepat, tapi judi juga sangat jahat. Judi lebih mementingkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu, daripada keinginan untuk memberi sesuatu. Judi lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri, daripada kepentingan orang lain yang sudah kalah dan hampir mati. Judi sama sekali nggak ada pengorbanan diri, yang ada malah membuat seseorang melacurkan diri hingga bunuh diri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: