Memberikan yang Terbaik Dalam Perlombaan

Image

Dua minggu lalu saya mendampingi delapan siswa saya lomba Senam Indonesia Jaya, secara pribadi saya tidak mengejar kemenangan (untuk gengsi pribadi, maupun pamor sekolah), terlebih harus memaksakan mereka mesti gini atau mesti gitu dalam berlomba, hingga mengeluarkan ancaman : “Kalau sampek kalah, akan saya pecat dari sekolah.” (Hehehe, lebay banget ya? Guru gendeng iku jenenge).

Karena yang terpenting dari perlombaan seperti itu adalah mengajari anak senang (berani) dalam berkompetisi, bahkan jauh ke depannya untuk membentuk karakter mereka menjadi pemberani, berani menjalani (dan meraih kemenangan dalam) kehidupan ini. Kalah atau menang adalah hal yang biasa, jangan pernah memarahi anak atau terlebih lagi menyalahkan pihak tertentu yang menjadi penyebab kekalahan.

Dari momen saya mendampingi (sejak latihan hingga lomba) mereka tersebut, ada “pesan” yang bisa saya ambil di dalamnya. Pada saat latihan minggu terakhir menjelang lomba, saya menjanjikan sesuatu kepada delapan siswa yang saya bina, masing-masing anak akan saya belikan coklat silver queen kemasan yang paling besar pada saat hari perlombaan nanti. Motivasi saya memberikan janji kepada mereka tersebut, bukan untuk “menyogok” mereka supaya tampil dengan baik dan harus menang, sama sekali bukan untuk itu.

Saya memberikan coklat tersebut, karena untuk mengganti kalori mereka yang habis untuk berlomba (makan coklat, es krim, dan sejenisnya sering saya konsumsi setelah selesai lomba pada saat dulu masih aktif sebagai atlet). Saya pun memberikan penjelasan ilmiah kepada mereka terkait hal tersebut. Meskipun keuangan saya terbatas (sebenarnya ingin membelikan yang lebih dari sekedar coklat), saya tetap mengusahakan hal itu untuk mereka.

Alasan saya selain untuk mengganti kalori, saya sedang “memanusiakan manusia”. Saya tau secara pasti, bentuk “kejiwaan” seperti apa yang mereka rasakan saat-saat itu, karena saya pernah berada dalam titik seperti itu. Saya bukan tiba-tiba saja menjadi Guru Penjas seperti sekarang, tapi saya berangkat mengenal olahraga sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Merintisnya dari lomba-lomba level kecamatan hingga mengantarkan saya seperti hari ini.

Dampak dari saya menjanjikan coklat itu sangat luar biasa bagi mereka, kesungguhan mereka mengikuti lomba, rasa tanggung jawab mereka akan lomba, antusias mereka menyambut lomba. Padahal sekali-kalipun saya nggak pernah menuntut mereka, bahkan berulang kali saya sampaikan kepada mereka : “Berlombalah seperti berlatih, berlatihlah seperti berlomba. Berikan yang terbaik dari yang kalian bisa, apapun hasilnya, kalian adalah juaranya buat saya.”

Mereka benar-benar nggak menyia-nyiakan “sebuah janji”, mereka sangat menghargai “pemberian”, mereka berusaha “memberikan yang terbaik” dalam perlombaan, sekalipun saya nggak pernah menuntut apapun dari mereka. Singkat cerita lomba telah usai, coklat yang saya janjikan mereka minta dalam bentuk uang, dengan alasan bisa mereka belikan coklat dalam ukuran yang lebih kecil (murah) dan sisanya bisa mereka tabung (tempat saya mengajar, hampir 80 % siswanya dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, uang “sebesar” coklat silver queen kemasan yang paling besar, sangat berarti sekali buat mereka).

Sebuah “pesan” yang berharga telah saya dapatkan dari mereka. Hidup ini juga merupakan sebuah perlombaan, kita semua diwajibkan untuk mengikuti perlombaan yang telah ditentukan bagi kita. Perlombaan dimana kita akan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan, berlomba-lomba untuk menolak kenikmatan dosa, berlomba-lomba untuk bertahan dalam mengalami penganiayaan, berlomba-lomba untuk tabah dalam pencobaan, dll, dsb.

Yuk, bareng-bareng kita menyelesaikan lomba ini dengan nggak menyia-nyiakan “sebuah janji” yang akan kita terima di akhir perlombaan nanti. Menghargai “pemberian” yang kekal dan abadi, yang jauh lebih mulia dan berharga dari semua yang ada di dunia ini. Selalu “memberikan yang terbaik” dalam perlombaan, melaksanakan perlombaan dengan tekun, penuh kesabaran dan ketabahan. Kita arahkan pandangan, hidup dan hati kita kepada teladan ketaatan yang telah ditunjukan oleh-Nya ketika di bumi.

Piala tiada artinya, tanpa perlombaan. Mahkota tiada artinya, tanpa penderitaan. Kemenangan tiada artinya, tanpa pengorbanan. Hidup tiada artinya, tanpa perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: