Jangan Ijinkan Pengalaman Traumatik Menghantui Hari-Harimu

Catatan ini saya dedikasikan untuk seorang teman yang malam minggu kemarin (2/6), menghabiskan waktu berdua dengan saya di tepian Pantai Kuta, Bali. Kita terlibat dalam obrolan yang serius, diiringi suara deru ombak, di bawah cahaya rembulan, di samping kiri sekumpulan anak muda yang ngomongnya ngelantur kesana kemari karena pengaruh whisky dan di samping kanan sekumpulan anak muda yang asik foto-foto sendiri.

Kini aku jadi tahu, kenapa banyak perubahan besar dalam hidupmu. Kini aku jadi tahu, kenapa keputusan yang tak pernah terpikir sebelumnya harus kau tempuh. Kini aku jadi tahu, alasan dirimu meninggalkan Surabaya dan lebih memilih tempat yang jauh untuk melanjutkan hidupmu. Akhirnya, terjawab sudah “tanda tanya besar” tentangmu yang selama ini ada di kepalaku.

Nggak gampang berada dalam posisimu, saya bisa sedikit rasain yang kamu rasain, sedikit rasain saat berada dalam titik seperti itu. Saya tahu, kalau luka di tangan, kaki atau bagian tubuh yang lain, gampang diobatin sampek tuntas. Tapi saat luka itu ada di batin, nggak gampang untuk ngobatinya.

Sekalipun nggak gampang, bukan berarti nggak bisa. Senyum yang ada di bibirmu malam minggu lalu, pasti akan muncul lagi. Muncul lagi bukan karena untuk nutupin batin yang lagi nangis, tapi muncul lagi karena batin yang benar-benar sudah bisa tersenyum, hingga mengajak bibir ikut tersenyum.

Mau batin bisa tersenyum kembali? Harus mau dong. Luka batin yang mendalam seringkali menyebabkan seseorang kehilangan kepercayaan, baik kepada dirinya, maupun orang lain. Seseorang itu akan cenderung menutup diri bahkan sebagian orang akan sangat defensive dan nggak cooperative, hal inilah yang justru menjadi kendala dalam proses penyembuhan.

Namun, saya yakin dan percaya, nggak akan ada kendala yang berarti untuk dirimu bisa tersenyum kembali. Mulailah ambil langkah seperti yang sudah saya sampaikan malam minggu lalu. (Selain itu,) jangan memberikan respon yang keliru terhadap masalah ini, yang bisa merugikan diri dan masa depanmu sendiri.

Miliki pengenalan diri, bahwa dirimu berharga banget di mata Tuhan. Jangan ijinkan pengalaman traumatik menghantui hari-harimu. Karena semua itu hanya membuat tubuh, pikiran dan hati menjadi terikat, sehingga nggak ada kebebasan hidup. Dengan memiliki pengenalan diri yang benar, maka dirimu akan jadi lebih kuat dan berani menghadapi (bukan lari dari) kenyataan hidup ini.

Nggak kalah penting dari semuanya itu, adalah pengampunan. Ya, mulailah (juga) untuk mengampuni diri sendiri maupun orang yang telah menyakiti. Mau nggak mau, langkah ini harus ditempuh. Karena hanya dengan pengampunan, luka batin bisa disembuhkan. Bisa lupa atau enggak itu urusan nanti, semua memang butuh waktu (kecuali mendadak amnesia). Wajar kalau (nantinya) luka itu meninggalkan bekas, tapi paling enggak dengan mengampuni bisa segera membuat luka itu “kering”.

Jaga diri baik-baik selama di Denpasar ya teman, nggak tega ngelihat dirimu seorang diri berjuang di sana. Ambil semua langkah yang telah tersampaikan untuk membangun dan merajut masa depan. Lupakan yang di belakang dan arahkan diri ke depan, kita memiliki Tuhan yang ada dan mampu. Bersama dengan-Nya pasti akan bisa pulih dengan sempurna.

Oia, betewe. Soir jika sejam menjelang kita melihat sunrise di Sanur, saya memutuskan untuk kembali ke hotel, habisnya nggak kuat banget neh mata sudah dua puluh tiga jam nggak terpejam, mesti siap-siap balik ke Surabaya juga sih. Lihat sunrise-nya diganti kapan-kapan aja di Kenjeran Surabaya ya? (Hehehe) Terus STMJ-nya Akasaka Denpasar yang tutup terlalu awal, juga bisa diganti dengan STMJ-nya Biliton Surabaya. (Hehehe)

NB : Catatan tersebut saya tulis dalam wall facebook pada tanggal 4 Juni 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: