Awalnya dimulai dengan terpisah, terpotong, terobek dan tercerai-berai.

Barusan ada sms masuk di handphone saya dari seorang teman, isinya memberitakan kalau saya dapat salam dari seseorang. Tadi sore seseorang tersebut datang ke lapangan (tempat saya biasa melatih), menemui teman-teman dan mencari saya (hari ini saya nggak ada jadwal melatih, karena jadwal saya mengajar sampek sore).

Isi salam seseorang tersebut adalah permohonan maaf. Mohon maaf kepada teman-teman dan saya (khususnya) atas semua kesalahannya. Seseorang ini sadar kalau selama ini sudah diperalat, hingga harus menjelek-jelekan saya, berusaha dengan segala upaya membuat saya tersingkir dari organisasi, dll, dsb.

Teman (seseorang yang saya maksud), jika notes ini terbaca oleh Anda, saya hanya mau menyatakan bahwa setiap langkah dan setiap gerak yang saya ambil dalam organisasi, orientasinya adalah untuk kebaikan (kepentingan) bersama. Nggak ada cerita saya akan membuang orang tertentu setelah terpilihnya Ketua baru, justru agenda yang saya usung (saya sampaikan pada teman-teman semua) nggak boleh ada satu pun yang terbuang dari organisasi ini, semua tetap dirangkul dan diberikan kesempatan untuk berkarya.

Salam yang sampai pada saya (lewat sms), juga bilang kalau Anda merasa malu. Buang jauh-jauh perasaan seperti itulah, nggak perlu pake acara mengasihani diri dan tertuduh. Saya sama sekali nggak pernah peduli dengan nama baik kok, mau dijelek-jelekan separah apapun, saya nggak akan pernah peduli. Karena buat saya, melakukan segala sesuatunya dengan baik (benar sesuai “standart kebenaran” yang saya miliki), jauh lebih berarti daripada hanya sekedar mendapatkan nama baik.

Rasanya nggak perlu ada yang dimaafkan, karena menurut saya nggak ada yang salah dari Anda, hanya respon terhadap suatu masalah aja yang sedikit salah. Malah saya yang perlu minta maaf, karena dalam pertemuan kita yang terakhir, “anak kemarin sore” seperti saya menggunakan kata-kata yang keras untuk meng-counter Anda.

Saya tutup dengan satu hal yach? Sore tadi saya ke penjahit untuk ngecilin seragam pengurus yang baru, seragam milik saya kan kegedean gitu. Ada sesuatu yang bisa saya ambil dalam “proses pembuatan seragam” terkait dengan apa yang kita alami saat ini :

Seragam pengurus itu kan semuanya bermula dari sepotong kain, lalu oleh penjahitnya dipotong, dirobek dan dicerai-berai. Namun, pada akhirnya bisa menjadi satu kesatuan (baju) yang indah.

Sama halnya dengan hidup (yang kita alami saat ini), meskipun awalnya dimulai dengan terpisah, terpotong, terobek dan tercerai-berai. Namun, jika kita bisa menjahitnya dengan benar, pasti hasilnya akan indah.

NB : Catatan tersebut saya tulis dalam wall facebook pada tanggal 6 Juni 2012, Pukul 20.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: