Mendidik Harus Berangkat Dari Motivasi Mengasihi

Dua hari terakhir ini, saya mendengar share dari dua orang (keluarga) yang berbeda tentang cara yang diterapkannya dalam mendidik anak-anaknya. Share yang lucu adalah share yang datang dari salah satu teman saya tentang anaknya yang mulai tumbuh remaja, saat ini anaknya menginjak bangku sekolah menengah pertama.

Teman saya ini cerita tentang caranya memukul anak-anaknya, kalau anaknya melakukan pelanggaran yang sudah keterlaluan atau kelewat batas gitu, keluarlah senjata andalannya. Senjata andalan yang berupa kayu sudah disediakan khusus untuk memukul anaknya tersebut.

Bagian yang lucu dari cerita tersebut adalah dokumentasi dari bekas-bekas pukulan (lecet kemerah-merahan) di punggung anaknya yang ditimbulkan dari pukulan-pukulan teman saya itu, kok ya sempet-sempetnya mikir buat mendokumentasikan bekas-bekasnya. Dokumentasi dalam bentuk foto itu selalu ditunjukan kepada anak-anaknya sebagai pengingat kalau melakukan kesalahan yang sama, hukuman apa yang harus diterimanya.

Bagi saya sih, cerita seperti itu nggak ada serem-seremnya, biasa aja. Karena saya pun tumbuh dengan pola didikan seperti itu, bahkan jauh lebih serem. Nggak gampang untuk bisa menjadi orang tua buat saya, benar-benar butuh perjuangan yang keras dan luar biasa untuk bisa mendidik pribadi seperti saya.

Saya masih ingat banget, bentuk pukulan seperti apa saja yang saya terima setiap kali melakukan kesalahan pada saat masih anak-anak. Pukulan yang sering saya terima dari Papa adalah pukulan yang menggunakan sapu lidi di bagian kaki, setiap kali habis dipukul gitu, sambil menangis dan minta ampun, saya selalu mencabut beberapa bagian sapu lidi yang menancap di kulit-kulit kaki (kadang berdarah).

Kalau sama Mama sih, pernah suatu waktu saya mencuri uang, sama Mama dipukuli di bagian pantat dan setelahnya saya diikat di depan pagar rumah sambil menangis. Setiap kali ada orang lewat, pasti akan melihat saya yang sedang menangis dan tampak jelek sekali itu. Malunya nggak ketulungan, mana siang bolong lagi, banyak orang yang mondar-mandir.

Hari ini, saya bersyukur atas semua didikan yang telah Papa Mama berikan itu. Jika saya nggak pernah menerima didikan semacam itu, saya benar-benar akan tumbuh menjadi pribadi yang liar. Pukulan Papa benar-benar menjadikan saya pribadi yang nggak lari dari masalah, harus bertanggung jawab terhadap masalah, dll, dsb. Pukulan dan ikatan Mama benar-benar menjadikan saya pribadi yang takut untuk mengambil dengan sembarangan milik orang lain atau yang bukan menjadi hak saya, dll, dsb.

Pertanyaannya sekarang adalah : Apakah saya akan menerapkan hal yang sama terhadap anak-anak saya kelak? Menerapkan apa yang telah di-share-kan teman saya? Meneladani cara-cara yang Papa Mama saya terapkan untuk mendidik anak-anaknya?

Dalam porsi yang berbeda, saya pasti akan menerapkannya pada anak-anak saya kelak. Porsi yang berbeda itu dalam artian nggak sampek berdarah-darah dan berbekas gitu lah. Alkitab secara jelas telah memberikan perintah bagi orang tua untuk memberikan atau mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya. Bahkan alkitab dengan tegas memerintahkan untuk menggunakan “tongkat atau rotan” dalam mengajarkan disiplin (mendidik anak).

Ya, saya akan menggunakan “tongkat atau rotan” itu dalam mendidik anak-anak saya kelak. Namun, “tongkat atau rotan” yang bermakna sebagai simbol mendidik disertai pukulan ini akan saya jadikan pilihan terakhir setelah tahapan-tahapan mendidik (yang saya miliki) lainnya telah saya jalankan.

“Tongkat atau rotan” itu sangat dibutuhkan untuk mengoreksi hidup anak-anak saya kelak, dengan memukul (setelah mereka melakukan kesalahan yang berat) maka saya telah melakukan tindakan koreksi, sehingga anak-anak akan mengalami perubahan hati (pertobatan) dan tidak akan mengulangi kesalahannya kembali.

Mendidik (mendispilin diri) harus berangkat dari motivasi karena kita mengasihi. Jika berangkatnya dari motivasi mengasihi, maka mendisiplin diri sangat berbeda dengan memarahi. Mendisiplin diri adalah tindakan yang bertujuan untuk mengoreksi kesalahan dan mengajarkan yang benar. Namun, memarahi adalah tindakan yang melukai, dengan memarahi akan membuat anak menjadi sakit hati dan hancur hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: