Ada kuasa dibalik pujian yang kita naikan, membebaskan kita dari kekakacauan dan memudahkan kita dalam segala urusan.

Lebih Dalam Ku Menyembah (http://youtu.be/vbS1SofiA8s) atau Take Me Deeper (http://youtu.be/qHw9fWXQXgo) merupakan pujian yang saya naikan untuk mengawali hari ini (tadi pagi). Sesaat setelah bangun tidur, sebelum saya melakukan aktivitas yang lainnya (mandi dan makan pagi), saya menaikan pujian tersebut terlebih dahulu.

Setelah selesai mandi dan makan pagi, saya segera bergegas berangkat kerja. Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, di atas motor saya juga menaikan pujian yang sama (seperti tadi pagi) dengan suara yang lembut. Hati berasa adem banget karena pujian yang dinaikan itu.

Kurang dari tiga puluh menit, saya pun tiba di tempat kerja. Setelah parkir motor, saya menyalami dan mengucapkan selamat pagi kepada beberapa rekan kerja yang sudah hadir lebih dulu sebelum saya. Kegiatan (aktivitas kerja) pun saya lanjutkan dengan mengeluarkan laptop dari tas dan mulai ngetik (membuat) Silabus dan kroni-kroninya.

Dua jam tanpa terasa, saya melewatinya dengan terus berada di depan laptop. Pujian yang sama seperti tadi, sesekali juga saya naikan dengan suara yang lembut di tengah-tengah saya ngetik. Hingga tiba pada puncaknya, saya teringat akan sesuatu hal dan mulai coba browsing di internet.

Saya teringat (lebih tepatnya iseng yang tidak kebetulan) jika hari ini merupakan Pendaftaran Reguler Kedua untuk masuk SMP Negeri, pendaftaran tersebut ditujukan kepada siswa-siswa yang tidak diterima pada saat pendaftaran yang pertama karena nilainya sedikit di bawah nilai minimal sekolah yang dituju. Siswa-siswa itu bisa mengisi bangku kosong yang disebabkan oleh beberapa siswa yang telah diterima, namun tidak mendaftar ulang sesuai batas waktu yang telah ditentukan.

Ketika saya mulai browsing dan meng-klik Sub Rayon yang banyak dituju oleh siswa saya, terkejutlah saya ketika menjumpai nama salah satu siswa saya ada di sana. Spontan ketika saya mengetahui nama siswa saya itu, saya mematikan laptop dan mengajak rekan kerja saya untuk menjemput yang bersangkutan di rumahnya. Karena waktu pendaftaran (konfirmasi bahwa yang bersangkutan mengambil hak-nya) akan berakhir dua jam lagi.

Ketika saya dan rekan kerja saya tiba di daerah tempat tinggalnya (gang kelinci gitu), saya mulai teriakan nama siswa yang bersangkutan dari ujung gang sambil berjalan masuk ke dalam gang. Karena saya dan rekan kerja saya hanya mengetahui daerahnya saja, tanpa mengetahui alamat rumahnya yang pasti. Singkat cerita, siswa tersebut saya minta untuk membawa kelengkapan berkasnya dan segera ganti pakaian untuk saya antar menuju sekolah yang menerimanya.

Sepanjang perjalanan dari rumah siswa tersebut hingga tiba di sekolah yang menerimanya, tanpa saya sadari pujian yang saya naikan tadi pagi, terus keluar dari hati dan mulut saya dengan lembut saat mengendarai motor. Begitu tiba di sekolah yang menerima siswa saya tersebut, saya segera menuju ke salah satu ruangan.

Di ruangan inilah bagian yang terpenting dimulai, saya mulai menyampaikan maksud kedatangan saya kepada tiga panitia pendaftaran yang berada di situ. Nampaknya kedatangan saya membuat mereka kecewa (nampak dari cara bicara dan raut wajahnya), skenario yang mereka susun seperti gagal begitu saja, ketika saya tiba dan menyebutkan nama siswa yang telah diumumkan di internet.

Segala alasan coba disampaikan oleh mereka, dibulet-bulet (dipersulit) gitu. Namun saya tidak fokus untuk menanggapi alasan mereka, saya lebih fokus untuk menanyakan kepada mereka tentang administrasi apa yang harus segera saya penuhi untuk siswa saya tersebut. Saya menangkapnya ada tendensi yang kental sekali, dibalik bangku kosong yang tidak terisi di hari terakhir ini. Mungkin, harapan mereka besar sekali supaya bisa bermain-main dengan bangku kosong ini. Kenapa harus mbulet dan dipersulit segala? Kenapa harus menampakan kekecewaan saat saya hadir di sana? Rasanya kita sama-sama ngertilah, tendensi apa yang sudah membudaya.

Percayalah, jika saya tidak menghadapi mereka dengan hati yang adem. Sudah bisa dipastikan saya akan menggunakan tindakan yang konyol saat berhadapan dengan mereka, minimal akan menggunakan kata-kata keras. Ya, karena saya masih hidup dengan tubuh jasmani saya, yang dilengkapi dengan emosi (cenderung tempramental) yang siap meledak kapan saja jika ada yang memicunya.

Setelah sedikit “tekanan” dengan cara yang sopan telah saya berikan, akhirnya mereka memberikan kepada saya formulir untuk diisi. Masalah muncul lagi karena saya lupa tidak membawa bolpoin (abisnya terburu-buru sih), saya coba pinjam kepada panitia yang ada, tahukah apa yang terjadi? Saya mendapatkan respon jauh melebihi respon anak usia sekolah dasar. Hehehe. Nampaknya panitia yang ada pada ngambek semua (kecewa skenarionya tidak berjalan mulus dengan hadirnya saya), panitia yang ada keberatan saya pinjam bolpoinnya, dengan alasan hanya tinggal satu-satunya bolpoin yang mereka miliki.

Saya hanya tersenyum melihat respon mereka. Jangan gila dong, di ruangan ini kan banyak Alat Tulis Kantor berserakan. Tidak kehabisan akal, saya lari menuju siswa-siswa SMP yang ada di halaman sekolah, namun mereka pun tidak membawa bolpoin karena mereka sedang libur (hanya bermain ke sekolah, tidak ada pelajaran). Tidak berhenti di situ, saya pun melanjutkan lari ke pos satpam dan melalui Pak satpam itulah saya mendapatkan pinjaman.

Saya sengaja tidak keluar dari sekolah untuk membeli bolpoin, karena lingkungan sekolah ini berada di tepian tambak (bahkan bisa dibilang pesisir Surabaya Utara) yang jauh dari pertokoan. Bisa terbuang habis waktu pendaftaran yang tersisa hanya untuk mencari bolpoin. Bolpoin pun saya serahkan kepada rekan kerja saya, minta tolong supaya diisikan formulir yang ada.

Saya sendiri setelah mendapatkan bolpoin itu, kembali ke tempat kerja saya untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan siswa saya tersebut. Mulai dari kelengkapan berkas : Legalisir SKHUN, Ijazah, fotocopy KK, materai Rp 6000,- sejumlah 3 lembar. Selain itu saya juga harus menjemput orang tua (ibu) yang bersangkutan ke rumahnya kembali, karena kehadiran orang tuanya dibutuhkan untuk menandatangani formulir yang sedang diisikan oleh rekan kerja saya.

Singkat cerita, siswa saya tersebut telah diterima di SMP Negeri. Sebuah kebanggaan yang berarti bagi siswa dan keluarga yang bersangkutan karena bisa diterima di sekolah negeri. Bagi masyarakat (maaf) kurang mampu seperti mereka, masuk sekolah negeri adalah sebuah prestasi dan berkah tersendiri.

Hal itu terbukti dari curhatan tetangga dan saudara-saudaranya yang keluar karena mendengar teriakan saya saat menjemputnya tadi. Tetangga banyak yang bilang, siswa saya tersebut semalam sempat menangis karena tidak bisa sekolah negeri, dll, dsb. Saya sempat memberikan sedikit nasehat selama perjalanan pulang dari pendaftaran ketika berboncengan tiga bareng ibunya, tentunya setelah saya mengantarkan rekan kerja saya kembali terlebih dahulu ke tempat kerja.

Lewat peristiwa hari ini, saya pribadi mendapatkan pelajaran yang berharga. Salah satu diantaranya adalah mengalami kuasa dibalik pujian yang memberikan dampak luar biasa bagi hati (kehidupan rohani) saya. Pujian yang terus keluar dari hati dan mulut saya dari pagi hingga sebelum saya memasuki areal sekolah di mana saya mengantar siswa saya untuk melakukan pendaftaran, ternyata untuk membuat hati saya tetap adem saat menghadapi panitia-panitia yang ada.

Ada kuasa dibalik pujian yang kita naikan. Ada kuasa yang membebaskan kita dari kekakacauan. Ada kuasa yang memudahkan kita dalam segala urusan. Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: