Cita-cita bisa direvisi, tapi janji harus digenapi.

Sejak kecil saya bercita-cita menjadi Seorang Perwira TNI, Kota Surabaya merupakan tempat yang tepat untuk memupuk cita-cita semacam itu. Mengingat sebagai ibu kota Jawa Timur dan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, di kota ini terdapat Markas-Markas Militer dan Pangkalan Militer terbesar, hampir separuh kekuatan Angkatan Laut Indonesia berada di kota ini.

Bukan hal yang sulit untuk bisa menjumpai anggota-anggota TNI (baik laut maupun darat) mondar-mandir di dalam kota ini. Senyum mengembang setiap kali saya melihat anggota-anggota TNI itu mengenakan Pakaian Dinas Harian atau Pakaian Dinas Lapangan-nya, terlebih lagi saat melihat pangkat yang melekat berada di pundak (Perwira), dalam hati selalu berkata : “Aku pengen seperti itu, itu cita-citaku.”

Cita-cita yang saya miliki bukan sekedar karena ikut-ikutan teman atau asal saja menyebutnya daripada nggak punya punya cita-cita, tapi saya sungguh-sungguh dengan cita-cita itu. Bentuk kesungguhan saya bisa dilihat dari aktivitas-aktivitas fisik (olahraga) yang tekun saya geluti sejak masih anak-anak, bahkan selepas usia sekolah dasar saya masuk ke dalam klub-klub olahraga. Mulai dari klub sepak bola hingga klub atletik, tujuan utamanya sedang mengarah kepada pembinaan fisik yang intens guna mempersiapkan diri saya agar kelak dapat masuk ke dunia militer.

Berawal dari mengikuti klub olahraga itu, saya makin banyak mengenal orang-orang dari kalangan militer. Dari mengenal dan bergaul hampir setiap harinya, saya mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan informasi tentang dunia militer, terlebih lagi selepas SMA setelah masuk kuliah semester awal, saya mendapatkan kesempatan tinggal di asrama atlet. Dalam satu kamar di asrama atlet tersebut, saya tinggal bersama lima atlet lainnya, salah satunya adalah Perwira Muda TNI AL lulusan Akademi Angkatan Laut. Rasanya makin terang saja jalan untuk mencapai cita-cita saya.

Dua tahun saya tinggal dalam asrama, dunia militer terasa dekat sekali, mulai dari bangun pagi hingga malam mau tidur kembali. Setiap harinya saya melihat teman sekamar yang Seorang Perwira Muda TNI AL itu benar-benar “menghidupi kemiliterannya”, mulai dari cara makan hingga menata selimut pun menggunakan cara-cara militernya. Saya tidak hanya sekedar melihat kesehariannya, tapi saya juga mulai menduplikasi dan melakukan semua caranya dalam “menghidupi kemiliterannya”. Semua itu saya lakukan terkait dengan cita-cita saya, mempersiapkan diri sebelum lulus kuliah, mengikuti seleksi dan hingga kelak (mungkin saja) masuk pendidikan Perwira Prajurit Karier TNI.

Kebersamaan saya dengan teman-teman di asrama tidak hanya sebatas saat di lapangan dan dalam kamar saja, tapi saat bermain keluar asrama pun kami sering bersama. Teman saya yang Seorang Perwira Muda TNI itupun kerap kali mengajak saya keluar bersamanya, entah itu saat kumpul dengan anggotanya maupun saat kumpul dengan teman satu liting (angkatan) saat di Akademi Angkatan Laut. Banyak hal yang saya tangkap dan pelajari selama dua tahun itu, selama waktu-waktu saya sering diajak bermain ke batalyon-nya, selama waktu-waktu saya sering diajak ke luar kota dengan mobil dinas-nya, selama waktu-waktu saya sangat dekat dengan dunia militer.

Seiring dengan berjalannya waktu, setahun menjelang lulus kuliah, semua mimpi dan cita-cita saya itu pudar. Sebuah rangkaian panjang yang membuatnya pudar, sebuah rangkaian yang saya jumpai sejak lepas dari bangku sekolah dasar hingga setahun menjelang lulus kuliah. Saya merasakan dunia militer bukan panggilan hati saya, dunia yang menjadi panggilan hati saya adalah dunia yang saya lihat setiap harinya sejak kecil hingga tumbuh dewasa.

Teladan Mama saya-lah yang terlihat setiap harinya sejak saya kecil hingga tumbuh dewasa, teladan Mama-lah yang membuat panggilan hati saya berubah. Mama memiliki prinsip hidup, selama hidupnya mau menjadi berkat bagi banyak orang, memberikan nilai tambah bagi banyak orang dan menolong banyak orang. Lewat dunia pendidikan (mengajar), Mama bisa menerapkan prinsip hidupnya itu.

Teladan lain yang turut mengubah panggilan hati saya adalah kakak tertua saya, Kakak rela melepas pekerjaan yang telah ditekuninya selama tiga belas tahun sebagai Manajer Quality Qontrol di salah satu perusahaan makanan. Rela melepas pekerjaan yang sudah mapan itu, demi memenuhi panggilan hatinya untuk menjadi berkat bagi banyak orang dengan masuk ke dalam dunia pendidikan. Jauh sebelum melepas pekerjaannya pun (di tengah-tengah kesibukannya), kakak juga sudah mengajar anak-anak jalanan yang tidak mampu dan putus sekolah (dengan tim juga membiayai mereka yang mau masuk sekolah formal).

Keputusan (merevisi cita-cita) untuk masuk dalam dunia pendidikan makin kuat saya rasakan dan saya mau mengikuti panggilan hati itu, karena saya merasa aman ketika saya mengikuti panggilan hati saya. Tahun pertama setelah saya lulus kuliah, saya merealisasikan keterpanggilan hati saya dengan mengajar di dua Perguruan Tinggi Swasta yang memiliki Jurusan Pendidikan Jasmani di Jawa Timur. Setahun berjalan, setelah mempertimbangkan banyak hal, maka saya hanya fokus mengajar di Kota Surabaya. Dari fokus inilah, telah mengantarkan saya seperti hari ini.

Guru, ya profesi inilah yang menjadi ganti (revisi) cita-cita awal saya sebagai Seorang Perwira TNI. Profesi inilah yang membuat saya semangat untuk bangun pagi, bergairah penuh untuk menatap mentari pagi. Lewat profesi inilah saya bisa memberikan hidup saya untuk orang lain, memberikan nilai tambah bagi orang lain, seperti yang sudah Mama saya teladankan untuk saya.

Bahkan, jika melihat lebih jauh lagi. Lewat profesi inilah saya ingin menjadi guru yang merupakan agen rekonsiliasi (dalam hal karakter) dan para individu yang keluar untuk “mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Guru merupakan orang yang mau bekerja dalam semangat (memberikan hidupnya), supaya murid-murid dibawa ke dalam Harmony of God dan dikembalikan ke dalam Image of God.

Kini, cita-cita telah saya revisi. Namun, dibalik cita-cita itu ada janji yang harus digenapi (tak pernah boleh direvisi apapun profesinya saat ini). Sebuah janji untuk melakukan segala sesuatunya seperti untuk Tuhan. Mengerjakan sesuatu bukan hanya sekedar karena ada urusan pekerjaan (gaji), tetapi mengerjakan sesuatu karena tahu akan ada yang datang dan menuntut pertanggungjawaban. Jika pekerjaan itu saya lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, maka saya akan bekerja sesuka hati bukannya sepenuh hati.

Karena ada janji di dalamnya, maka dibutuhkan totalitas dalam melakukan setiap pekerjaan. Tetap memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan, sekalipun tidak ada seorang pun (pimpinan, dll, dsb) yang melihatnya. Tetap memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan, karena pertanggungjawaban akan diberikan kepada “Dua Mata” yang tidak pernah berhenti menyorot saya.

Bersyukur kepada Tuhan yang turut bekerja dalam kehendak saya untuk membawa ke dalam kehendak-Nya dan masuk ke dalam panggilan-Nya. Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: