Berbagi hal-hal yang positif, berbagi hal-hal yang berharga dan berarti bagi orang lain.

Ada yang bilang facebook tempatnya selingkuh. Ada yang bilang facebook tempatnya penipuan. Ada yang bilang facebook menggantikan kehidupan sosial yang sesungguhnya. Ada yang bilang facebook bisa menyebabkan kesenjangan sosial. Ada yang bilang facebook bisa bikin seseorang tersesat dan lain-lain, dan sebagainya? Apa benar begitu?

Tidak terasa sudah tiga tahun ini saya bermain facebook, tepatnya sejak tanggal 18 Februari 2009 saya mulai bergabung dalam jejaring sosial ini. Awal mula saya membuat account facebook ini, karena jejaring sosial yang sudah lebih dulu ada mulai sepi dan banyak penggunanya yang beralih ke facebook.

Sejak awal saya beralih dan mulai bermain facebook, karena adanya suatu tujuan. Tujuan apakah itu? Mungkin bisa dilihat dari isi status-status yang saya miliki sejak account tersebut saya bikin. Bagi saya pribadi, tidak ada masalah (dampak negatif) yang berarti selama tiga tahun menggunakan facebook. Karena bagi saya, tujuan (dan motivasi) bermain facebook turut menentukan dampak yang ditimbulkan.

Kalau boleh saya share tentang apa yang saya alami selama tiga tahun bermain facebook, cukup banyak hal-hal menarik yang bisa saya jumpai. Awal tahun 2010, saya mulai demen masukin video dengan berbagai tema ke dalam facebook (http://www.facebook.com/video/?id=1278294848). Di dalam video-video yang saya masukan itu, saya sertai dengan catatan-catatan (yang muculnya lewat “imajinasi” saat melihat video yang ada) yang relevan sama isi videonya.

Mulai dari video yang lucu, video yang rada serius, dll, dsb. Lebih dominannya sih video yang lucu-lucu. Saya dapatkan semua video itu dari youtube dan dari berbagai grup yang bertebaran di facebook. Motivasi dan harapan saya waktu itu adalah mengemas catatan dalam bentuk yang berbeda, supaya bisa menghibur pembaca. Karena jika membuat catatan dengan bentuk yang isinya cuma tulisan panjang gitu aja (menurut saya pada waktu itu), akan sangat menjemukan, sehingga pesan yang ada dalam catatan nggak bisa maksimal tersampaikan

Usaha dari mengemas catatan dengan bentuk yang berbeda itu, nampaknya membuahkan hasil dan mendapatkan sambutan yang baik. Beberapa teman facebook mulai minta ijin mengunakan video dan catatan yang ada di dalamnya untuk mendukung bahan khotbahnya, bahan mengajarnya, dll, dsb. Saya persilahkan dengan senang hati semua teman-teman itu, karena hal itulah yang menjadi tujuan dan motivasi saya sejak awal bermain facebook.

Ternyata nggak hanya berhenti di situ aja, respon yang diberikan pembaca pun mulai beragam. Beberapa teman (maupun yang nggak ada dalam daftar teman pun) mulai masuk ke inbox, mengajukan pertanyaan terkait dengan catatan yang ada dalam video. Bahkan sampek ada yang curhat segala, malah lebih mengarah kaya konseling gitu. Kasusnya macam-macam, ada yang tanya tentang hubungan cintanya, ada yang tanya tentang pergaulan anaknya, ada yang tanya tentang sekolah yang terbaik karena bingung setelah lulus SMA harus melanjutkan ke mana, banyak macam kasusnya yang masuk ke dalam inbox saya.

Setahun berjalan, memasuki tahun 2011 saya mulai mengubah konsep catatan yang saya tulis. Bukan lagi lewat video, tapi saya menulisnya lewat status yang saya tulis seri per seri setiap harinya. Setelah seri dari status tersebut habis, saya mengumpulkannya jadi satu ke dalam sebuah catatan yang saya lengkapi dengan gambar-gambar yang berkaitan dengan isi catatannya. Di sinilah tantangan bermain facebook mulai melanda, status-status yang saya tulis saat itu merupakan bongkaran dari “bangunan-bangunan” yang ada dalam pikiran saya, bongkaran dari cara berpikir (paradigma) saya yang ngaco dan cara berteologi yang nggak back to bible. Sering kali saat menuangkan bongkaran paradigma yang ada dalam status itu, saya menggunakan kata-kata yang keras.

Makian dan teguran pun mengalir kepada saya, hingga ada beberapa teman facebook yang memblokir saya, setelah diskusi panjang via inbox. Jengkel kali ya, setelah baca status-status saya yang keras. Kata mereka, status saya tendensius sekali, kalimatnya menyerang hamba Tuhan dan denominasi tertentu gitu. Padahal, sekali-kalipun tidak ada dalam hati dan pikiran saya motivasi kotor seperti itu. Saya benar-benar murni ingin menuangkan semua yang salah, semua yang pernah membelenggu saya, agar semua yang pernah saya alami itu, tidak perlu (terjadi) terulang kembali pada teman-teman facebook saya.

Namun, dibalik makian dan teguran itu, masih banyak teman lain yang setuju dengan apa yang saya tulis. Malah ada yang mengucapkan terima kasih segala, karena apa yang saya tulis dalam status itu pernah atau sedang dialaminya, seperti (membaca) melihat gambaran yang sedang terjadi pada dirinya. Beberapa bulan setelah peristiwa itu, saya sempat jarang menulis catatan maupun status-status. Karena pada saat itu saya sedang membuat dua account facebook baru, satu account untuk salah satu organisasi olahraga dan satu account lagi untuk salah satu lembaga pendidikan. Saya keasikan bermain dengan dua account facebook itu, sampek facebook saya sendiri nggak terurus.

Sampai sekarang pun saya masih sering aktif dengan dua account facebook itu, tiap kali saya online facebook juga selalu membukanya secara bersamaan dengan menggunakan tiga web browser yang berbeda : mozila firefox, opera dan google chrome. Saat berbicara tentang olahraga, saya menggunakan account facebook dari organisasi olahraga. Saat berbicara tentang pendidikan, saya menggunakan account facebook dari lembaga pendidikan. Saat berbicara hal-hal yang umum, saya menggunakan account facebook saya pribadi. Banyak hal yang bisa didapat dari sana, dengan tergabung dalam grup-grup yang bertebaran di facebook, kita bisa diskusi dengan banyak orang. Lewat diskusi dengan berbagai topik dan informasi yang ada, akan semakin memperbesar kapasitas dan kemampuan kita.

Jadi nggak sepenuhnya tepat, jika menyatakan facebook bisa bikin seseorang tersesat, malahan dengan facebook kita bisa menjadi berkat. Sedikit share lagi terkait dengan penggunaan (saya bermain) facebook. Baru-baru ini ada seorang rekan yang akan menempuh pendidikan Pasca Sarjana-nya di Calvin Theological Seminary, Grand Rapids, Michigan. Rekan tersebut mendapatkan beasiswa penuh selama menempuh pendidikan di sana, namun untuk biaya hidup (lewat kerja part time) dan tempat tinggal ditanggung sendiri. Kendalanya adalah rekan tersebut mulai kebingungan saat mendekati keberangkatannya, karena sama sekali belum mengenal Michigan, ke luar negeri paling jauh cuma ke Singapore.

Motivasinya yang besar, rasa keterpanggilannya yang besar untuk mendalami firman Tuhan, agar sekembalinya dari menempuh pendidikan di Michigan bisa menurunkan firman Tuhan ke dalam ilmu pengetahuan (murid-murid di sekolah), patut diberikan big aplauze. Tapi apakah cukup hanya memberikan big aplauze saja? Sementara rekan tersebut sedang kebingungan? Lewat facebook-lah saya bisa memberikan informasi pada rekan tersebut, saya mulai memberikan contact seseorang yang saya ketahui lewat facebook sebagai alumni (mahasiswa Indonesia) dari Seminary tersebut dan saat ini masih berada di sana. Visa dan sebagainya telah siap, tanggal 29 Juli 2012 yang akan datang rekan tersebut akan berangkat.

Kejadian berikutnya yang terkait dengan penggunaan (saya bermain) facebook, terjadi beberapa hari lalu. Kali ini menceritakan tentang teman seperjuangan saya. Teman yang ada dengan saya saat mengajar untuk pertama kalinya, setia mendampingi dan menjadi asiten saya pada saat-saat awal saya mengajar. Saat-saat di mana saya nggak bisa tidur semalaman karena bingung harus bersikap seperti apa, harus bergaya seperti apa saat berada di depan kelas menghadapi mahasiswa-mahasiswa yang usianya jauh di atas saya. Hehehe.

Teman saya tersebut sudah lama berhenti mengajar di tempat kita sama-sama mengajar dulu, tepatnya dua semester setelah saya memutuskan untuk (berhenti mengajar terlebih dahulu) fokus di Surabaya. Setelah berhenti mengajar di sana, teman saya tersebut mengajar di sekolah yang berada di dekat rumahnya (Ngoro, Mojokerto) dengan honor yang tak seberapa. Setiap kali teman saya tersebut share tentang pergumulan hidupnya, tentang apa yang sedang dijalani sehari-harinya, setiap kali itu juga saya jadi terbeban memikirkannya.

Setahun terakhir saya berusaha mencarikan lowongan guru untuk teman saya tersebut di sekolah yang ada di Surabaya, tapi tak kunjung membuahkan hasil. Saya sudah coba menanyakan ke beberapa teman yang mengajar di sekolah swasta yang sangat memperhatikan kesejahteraan gurunya, tapi hasilnya tetap sama saja. Selama setahun terakhir ini, akses yang saya miliki hanya untuk lowongan Guru Tidak Tetap yang ada di sekolah negeri, yang tidak ada “gaji pokoknya”, yang ada hanya “pokoknya digaji”.

Bukan mata duitan atau matre sih, tapi saya kan harus melihat secara realistis juga untuk teman saya tersebut. Melihat dan mempertimbangkan jarak rumahnya yang sejauh 50 km dari Surabaya, jika hanya mengandalkan “pokoknya digaji”, untuk sekedar biaya transportasi pergi pulang aja nggak bakalan cukup tuch. Uang memang bukan segalanya, tapi uang kan (dan pengabdian) yang utama. Kira-kira gitu kali ya. Hehehe.

Akhirnya beban dalam hati dan pikiran saya sedikit berkurang, setelah minggu lalu saya menemukan informasi lewat facebook tentang kebutuhan guru di sekolah tertentu yang ada di Surabaya. Dari yayasan-nya, saya bisa mengetahui bahwa sekolah tertentu itu sangat memperhatikan kesejahteraan gurunya. Setelah saya teruskan infomasi yang ada kepada teman saya tersebut, ditindaklanjutilah keesokan harinya. Singkat cerita setelah melewati proses mengirim lamaran, proses wawancara, psikotes, dll, dsb. Teman saya tersebut diterima oleh tim seleksi dan langsung menandatangani kontrak kerja selama satu tahun, sekaligus sebagai masa uji coba untuk diangkat sebagai Guru Tetap Yayasan.

Bicara tentang gaji, sesuai dengan dugaan awal saya saat melihat yayasan dari sekolah tersebut sangat memperhatikan kesejahteraan gurunya. Teman saya menceritakan, setelah dihitung untuk makan siang setiap harinya dan transportasi pergi pulang (Mojokerto – Surabaya – Mojokerto = Jarak 100 km) setiap harinya selama satu bulan, masih tersisa 75 % dari gaji dan semua tunjangan yang diberikan oleh Yayasan setiap bulannya.

Bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan hikmat kepada kita untuk menggunakan media facebook, menggunakannya sebagai media untuk berbagi hal-hal yang positif, berbagi hal-hal yang berharga dan berarti bagi orang lain. Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: