Mengaplikasikan kasih, saat remang petang suara adzan maghrib berkumandang.

Entah sejak kapan saya memulainya, seingat saya (kurang lebih) sejak seribu hari yang lalu saya mulai peka memperhatikan tepian jalan, sejak tiga tahun yang lalu saya mulai sering memperhatikan motor mogok di tepian jalan yang butuh bantuan didorong menuju tempat tujuan.

Pemicu kepekaan saya yang sering memperhatikan tepian jalan itu karena telah melihat tindakan kasih dari seorang teman. Ya, seorang teman yang menurut pendapat teman-teman saya yang lain, sering nggak nyambung ketika diajak ngobrol, sering ngaco dan ngelantur kemana-mana ketika diajak bicara, sering bikin jengkel lawan bicara akibat loadingnya yang lama. Saya pun hanya tersenyum dan kadang tertawa ketika teman-teman meledeknya, meledek tentang otaknya yang agak setengah. Hehehe.

Namun, dibalik otaknya yang agak setengah itu, menurut saya dalam hal kasih, teman saya tersebut jauh melebihi teman-teman lain yang sudah meledeknya. Saya mengetahuinya secara pasti, mengetahuinya dengan mata dan kepala saya sendiri, lewat beberapa kesempatan teman saya yang agak setengah ini telah berbuat kasih. Ternyata untuk bisa berbuat kasih itu nggak dibutuhkan otak setengah dewa, otak yang agak setengah pun juga bisa.

Sama seperti yang terjadi tiga tahun lalu, saat saya dan teman saya yang otaknya agak setengah tersebut sedang mengendarai motor secara beriringan di tepian Jalan Pucang Anom, Surabaya. Tiba-tiba teman saya tersebut menghentikan laju motornya, menepi dan menawarkan bantuan kepada seseorang yang sedang jalan kaki sambil mendorong motornya yang mogok. Saya tersenyum bangga saat melihat tindakan kasihnya, sekalipun kata teman-teman otaknya agak setengah, ternyata teman saya tersebut berhati mulia.

Sejak peristiwa tiga tahun lalu itulah, saya menjadi lebih peka dan lebih sering lagi untuk melakukan tindakan kasih dalam bentuk yang sama seperti yang teman saya sudah lakukan. Saya mengatakan lebih peka dan lebih sering lagi, karena jauh sebelum peristiwa itu, saya pun sudah melakukan hal yang sama seperti yang teman saya sudah lakukan, tapi hanya sesekali saja ketika saya sedang banyak waktu luang.

Kini bukan lagi menunggu banyaknya waktu luang, tapi setiap kali dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, saya selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan tepian jalan. Seperti yang terjadi saat remang petang tadi, saat suara adzan maghrib berkumandang. Setelah saya selesai melatih di Lapangan KONI Jawa Timur, Jalan Raya Kertajaya Indah, Surabaya. Saya memacu motor saya untuk meninggalkan lapangan dan pulang menuju ke rumah.

Ketika jarak rumah saya sudah dekat, saya menjumpai seorang bapak di tepian jalan sedang mendorong motornya. Saya berhenti tepat disampingnya, sambil menanyakan dengan singkat kesulitan apa yang sedang dialaminya. Tanpa banyak berkata-kata, setelah bapak tersebut mengucapkan : “Gak ero, Mas. Moro-moro mati ngono ae” (Nggak tahu, Mas. Tiba-tiba mati gitu aja.). Saya meminta bapak tersebut langsung menaiki motornya dan saya pun langsung mendorong motor dari belakang menuju ke rumah bapak tersebut.

Sepanjang perjalanan bapak tersebut menceritakan lebih panjang lagi, hal apa yang sedang dialaminya barusan : “Kulo mari ngeteraken anak kulo loro ten puskemas ambek ten Mbah’e. Terus kulo wangsul, mogok niki. Wis poso, durung buko durung opo iki, Mas.” (Saya baru saja mengantarkan anak saya sakit ke puskesmas sama ke Mbahnya. Terus saya pulang, dan mogok ini. Sudah puasa, belum buka belum apa ini, Mas). Sambil sesekali minta maaf karena sudah merepotkan dan mengucapkan terima kasih kepada saya. Motor terus saya dorong, hingga tiba pada ujung gang dari rumah bapak tersebut berada. Ternyata rumah bapak tersebut dekat dengan Lapangan KONI Jawa Timur, tempat yang baru saja saya tinggalkan (sama aja balik lagi tuh, hehehe). Singkat cerita, saya tinggalkan bapak tersebut di depan ujung gangnya dan saya kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Lewat peristiwa tersebut, yuk bareng-bareng kita mengaplikasikan tindakan kasih semacam ini, tindakan kasih dalam bentuk mendorong motor yang mogok di tepian jalan. Indonesia merupakan pasar sepeda motor terbesar ke tiga di dunia, dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa ladang pelayanan tersebut merupakan ladang yang besar. Kesempatan kita untuk bisa menolong orang yang kesulitan di jalanan sangatlah besar, peluang kita untuk mengaplikasikan kasih di jalanan sangatlah terbuka lebar.

Bagaimana cara menolongnya? Bagaimana cara mendorong motornya? Berikut ini akan saya bagikan cara-cara sederhana yang biasa saya lakukan terkait dengan hal tersebut :

1. Ketika menjumpai seseorang mendorong motor di tepian jalan, perhatikan terlebih dahulu ban motornya. Gembos atau tidak, karena jika ban-nya yang gembos atau bocor, maka tidak akan ada bantuan yang bisa kita diberikan. Terkecuali kita bersedia untuk menggantikan mendorong motornya dan mempersilahkan orang yang sedang mendorong motornya itu untuk menaiki motor kita. Hal ini bisa dilakukan jika orang yang mendorong motor yang ban-nya gembos itu berjenis kelamin wanita, terutama ibu-ibu. Namun jika yang kesulitan berjenis kelamin pria masih berusia muda pula, maka saya kembalikan ke masing-masing pribadi, akan meninggalkannya gitu aja atau menolongnya dengan segera.

2. Apabila setelah memperhatikan ban motornya tidak bermasalah, maka menepilah ke samping orang yang kesulitan tersebut. Tanyakan apa kesulitannya, tawarkan bantuan untuk mendorong motornya ke tempat tujuan.

3. Jika yang bersangkutan bersedia, maka masukan gigi sepeda motor pada gigi dua (agar nggak perlu ribet memindahkan gigi lagi pada saat mendorong nanti). Ambilah posisi pada sisi samping kanan belakang dari sepeda motor yang akan kita dorong tersebut.

4. Lalu letakan kaki kiri (dorong) pada ujung knalpot motor yang mogok itu, secara perlahan tarik gas motor kita, berikutnya tinggal menyesuaikan kecepatan saja. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, kecepatan maksimal pada gigi dua sudah cukup untuk mengontrol kecepatan motor yang kita dorong. Pertimbangannya adalah jalanan yang macet juga, apalagi kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, setengah mampus macetnya pada saat-saat jam berangkat dan pulang kerja.

5. Biasanya saat perjalanan, saya mengajak ngobrol pengendara motor yang mogok itu, sekedar untuk menghilangkan jengkelnya (mungkin saja) karena motornya sudah membuat harinya jadi buruk. Kalau memang nggak keberatan, ajaklah ngobrol tentang hal apa yang berharga dan berguna, yang bisa memberikan nilai tambah bagi yang bersangkutan (sambil menyelam minum air gitu).

6. Cukup mudah bukan untuk mengaplikasikannya?

Dalam seminggu terakhir ini, saya sudah lima kali menemui orang yang mendorong motornya di tepi jalan. Dari lima orang tersebut, hanya satu orang saja yang menolak bantuan yang saya tawarkan. Tepatnya terjadi tanggal 19 Juli 2012 lalu, di Jalan Gembong, Surabaya. Jika teman-teman ada yang memulai untuk pertama kalinya memberikan tawaran kepada orang yang mengalami kesulitan dengan motor mogoknya (kehabisan bensin, dll, dsb) dan langsung mengalami penolakan, nggak bersedia didorong gitu. Janganlah langsung menyerah, janganlah jadi berkecil hati atau istilah jawanya “cegek”, tetaplah memberikan tawaran pada orang lainnya yang akan dijumpai di kemudian hari.

Sepanjang saya memberikan tawaran bantuan, hanya dua kali aja tawaran saya ditolak. Pertama kali yang menolak saya adalah seorang bapak dengan anak ceweknya, sudah saya paksa dan saya yakinkan akan menolongnya tanpa ada imbalan, tapi tetap saja menolak tawaran saya. Kedua kalinya adalah tanggal 19 Juli kemarin itu, seorang bapak dengan istrinya, sudah saya paksa dan saya yakinkan untuk menolongnya, bukan untuk merampoknya, tapi tetap saja nyuekin tawaran saya. Ya, mungkin bapak-bapak itu takut dengan tampang tampan saya, takut apabila wanita yang bersamanya jadi tergoda. Hahahaha.

Dua kali penolakan yang saya alami itu, tidak pernah sekali-kalipun membuat saya jadi berkecil hati (cegek). Jika saya berkecil hati karena penolakan itu, lalu saya tidak pernah menawarkan dan memberikan bantuan lagi, apa jadinya seorang bapak yang tadi sore dengan langkah terkulainya karena sudah 12 jam lebih belum makan (sedang puasa ramadhan), lalu harus mendorong motornya dengan jarak yang cukup jauh?

Lah kok yang dua kali mengalami penolakan seperti itu, yang lebih dari itu aja nggak pernah membuat saya berkecil hati kok. Saya pernah mengalami kejadian konyol terkait dengan kebiasaan saya memberikan tawaran kepada seseorang yang mengalami kesulitan dengan motornya. Suatu pagi di Jalan Dukuh, Surabaya, ketika saya sedang berangkat kerja. Saya menjumpai seorang bapak yang mendorong motornya, karena saya terlambat mengetahuinya, maka saya mengerem motor secara mendadak ketika sudah berada di dekatnya. Seketika dari belakang ada motor yang menabrak saya dengan kecepatan tinggi, saat itu juga saya terlempar dari motor saya dan jatuh tersungkur.

Lucunya, seorang bapak yang menabrak saya itu, mendatangi saya dengan tangan yang gemetar, sambil meminta maaf sebesar-besarnya kepada saya. Hehehe. Saya sudah sampaikan ke bapak itu, kalau saya yang salah, tapi bapak itu tetap meminta maaf dan mengakui kalau bapak itu yang nggak kosentrasi dalam mengendarai motornya. Singkat cerita dengan beberapa luka dan kerusakan di motor, kami pun melanjutkan perjalanan. Sementara, bapak yang akan saya tolong tadi, entah sudah berada di mana.

Luka, memar dan kerusakan di motor saya itu tidak pernah menghalangi saya untuk tetap memberikan bantuan kepada seseorang yang sedang kesulitan di tepian jalan. Luka, memar dan kerusakan itu hanya membuat saya lebih berhati-hati saat akan berhenti menawarkan bantuan. Luka, memar dan kerusakan itu tidak akan pernah menghalangi saya untuk mengaplikasikan perintah Yesus supaya “memberi tumpangan” seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

Loh–loh, kok saya nyasarnya ke ayat “memberi tumpangan” segala ya? Apakah saya salah menulis? Tidak, saya tidak salah menulisnya. Saya memang berangkat dengan motivasi untuk mengaplikasikan ayat itu. Yuk, sekali lagi bareng-bareng “memberi tumpangan” seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut, bareng-bareng “memberikan tenaga untuk mendorong motor yang mogok” seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: