Perkataan yang lemah lembut, bisa mengubah keadaan.

Malam ini kegiatan saya seperti biasanya, saya harus pergi ke suatu tempat dengan suatu tujuan tertentu. Namun, malam ini ketika saya hendak kembali ke rumah, saya mengambil rute perjalanan pulang yang berbeda dari biasanya. Seharusnya saya bisa langsung menuju jalan ke rumah ketika menemukan jalan yang lurus, tapi saya lebih memilih berputar terlebih dahulu sebelum menuju ke rumah.

Dalam perjalanan saya berputar terlebih dahulu tersebut, saya menjumpai kerumunan beberapa orang. Saya berhenti sejenak dekat kerumunan itu, ternyata ada seorang bapak dengan istrinya yang sudah berusia lanjut sedang kesakitan karena motornya baru saja ditabrak seorang remaja.

Saya perhatikan bapak tersebut sangat emosi, memaki-maki remaja tersebut : “Ayo, ganti rugi sini. Lihat semua kerusakan ini, dll, dsb.” Sempat juga saya melihat tangan bapak tersebut memukul dengan tas yang dipegangnya. Remaja yang dimaki itu hanya menangis, tanpa berkata-kata apapun.

Kurang dari tiga menit saya menyaksikan itu semua, karena jalanan macet akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan kerumunan dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Belum jauh saya meninggalkan tempat kejadian (kurang lebih 50 meteran), saya memutuskan untuk kembali lagi.

Alasan yang membuat saya kembali lagi, karena saat saya meninggalkan tempat kejadian hingga jarak 50 meteran sebelum kembali itu, hati dan pikiran saya bergejolak, bergejolak karena terbeban (lebih tepatnya di-anugerahi rasa) ingin menolong dan menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

Tadinya saya pergi meninggalkan tempat kejadian itu, karena saya pikir (kerumunan) orang segitu banyak pasti akan bisa menyelesaikan masalah, apalagi saat itu saya melihat Satpam perumahan di daerah (dekat) Atlas Surabaya juga hadir di sana. Jadi saya anggap sudah bisa diselesaikan oleh mereka.

Namun, hati dan pikiran ini masih terus tertuju kepada bapak dan remaja yang sedang ribut disaksikan kerumunan banyak orang itu. Saya terpikir kepada soal ganti rugi dan tangisan remaja tadi, hingga akhirnya saya memutuskan kembali ke tempat kejadian perkara dengan menyiapkan uang ganti rugi (seadanya) untuk bapak tadi, karena jika saya perhatikan remaja itu kesulitan dalam hal ganti rugi.

Setelah tiba kembali di tempat kejadian, saya parkir motor dan buka helm, mendatangi dua pihak yang sedang ribut-ribut tadi. Pertama kali yang saya tuju adalah remaja yang sedang menangis duduk di tanah dan di bawah motornya itu. Ketika saya ajak bicara, remaja tersebut tidak menjawab sama sekali, hanya menangis dan mengangguk-angguk. Ternyata remaja tersebut adalah Tuna Rungu Wicara (bisu tuli), pantes aja segitu banyak orang mengalami kesulitan berkomunikasi dan pantes juga kalau bapak yang ditabraknya itu makin tinggi emosinya karena saat diajak bicara diam aja, nggak nyambung-nyambung.

Tanpa banyak kata lagi, saya mengalihkan fokus pembicaraan saya dengan remaja tersebut dan beralih berbicara dengan bapak yang ditabrak tadi. Dengan kata-kata yang lembut saya coba meredam amarah bapak ini, sambil memperhatikan bagian motornya yang rusak, saya ngobrol dengan bapak ini : “Bagian mana yang rusak, Pak? Loh Pak, tangan bapak berdarah?”.

Oleh bapak tersebut dijawab seadanya, dan saya pun tetap coba memberikan perhatian kepada bapak dan istri yang mendampinginya : “Nampaknya anak ini memiliki keterbatasan dalam komunikasi, Pak. Bapak akan kesulitan jika menuntut yang lebih kepada anak ini. Soal ganti rugi mungkin bisa dibebankan kepada saya.”

Bapak tersebut tidak menjawab perhatian saya, tapi malah mengatai remaja yang menabraknya tadi : “Repot, bisu tuli gini. Sambil memukulkan (dengan pukulan yang tidak seberapa keras, karena usianya sudah lanjut) tas-nya sekali lagi ke remaja tersebut.”

Saya tidak berhenti mencari celah (kesempatan) buat meredam amarah bapak tersebut, kali ini istrinya yang saya perhatikan : “Ibu sakit di pundak ya, Bu? (karena saya melihat ibu itu terus memegangi pundaknya). Sambil mengajak suaminya untuk meninggalkan tempat, ibu itu menjawab pertanyaan saya : “Iya ini, Pak. Tadi kena setirnya, sakit sekali sampai terasa di tulang dada saya.”

Saat saya memberikan perhatian kepada ibu tersebut, suami dari ibu tersebut menaiki motornya. Saya pun coba membantu untuk mengkondisikan motornya supaya bisa dinaikin, sambil mengatakan sesuatu kepada bapak tersebut : “Apa bapak kuat melanjutkan perjalan? Saya bisa mengantarnya terlebih dahulu, Pak. Ibu juga kesakitan seperti itu, satu per satu secara bergantian akan saya antar pulang, jika memang bapak tidak keberatan. Mungkin bisa juga, kalau bapak dibonceng oleh Pak Satpam, Ibu biar saya bonceng. Nanti Pak Satpam, saya antar kembali lagi ke sini.”

Ibu tersebut mewakili suaminya menjawab : “Dekat sini kok rumah saya, Pak. Sudah nggak usah, terima kasih.” Tidak lama setelah itu bapak dan istirnya pergi meninggalkan tempat kejadian. Saya pun kembali memperhatikan remaja tadi yang masih betah dengan tangisannya. Saya tanya di mana rumahnya, biar saya antar, dan lain sebagainya. Singkat cerita, remaja tadi akhirnya pulang sendiri pakai motornya dengan menggunakan kecepatan siput (pelan sekali sih, hehehe). Remaja itu tidak mau saya antar pulang meskipun sudah saya paksa, saya hanya memintanya untuk hati-hati dalam mengendarai motornya.

Dari kejadian ini, saya bisa menangkap sesuatu. Amarah yang meledak, emosi yang tidak terkontrol, makian yang terucap, tangan yang berlaku kasar, ternyata bisa diredakan hanya dengan perkataan yang lemah lembut.

Tidak perlu membalas hal yang keras dengan hal yang keras pula, lewat kejadian ini telah ditunjukan bahwa perkataan yang lemah lembut bisa meredakan hati yang keras. Hati yang keras untuk meminta ganti rugi, tapi hanya dengan perkataan yang lemah lembut bisa membuat kondisi dompet tetap aman terkendali. Hehehe.

2 Komentar (+add yours?)

  1. satar
    Jul 29, 2012 @ 20:19:38

    lam kenal n ditungg silaturrahmi baliknya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: