Abdi Negara Selalu Berusaha Memegang Teguh Panca Prasetya Korpri

Ada perasaan gimana gitu, ketika saya baru saja membaca komen seseorang yang membuat becandaan profesi Pegawai Negeri. Becandaan seseorang tersebut terjadi ketika nggak mau diajak pergi belanja pada saat jam kerja (dengan memberikan jawaban seperti ini) : Anda kira saya Pegawai Negeri di Indonesia apa?

Ya, mungkin saja orang tersebut sudah kelamaan tinggal di Hutan Amazon kali yah? Hingga bisa memberikan jawaban seperti itu. Tidak tahukah orang tersebut jika saat ini telah banyak perubahan di sana sini? Khususnya di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya (yang saya ketahui secara pasti) telah banyak hukuman disiplin diberikan bagi PNS-nya yang berkeliaran pada saat jam kerja.

Inspektorat (polisi-nya PNS yang berpakaian preman saat berada di pusat perbelanjaan) pun disebar dimana-mana, siap menangkap setiap PNS yang berkeliaran pada saat jam kerja. Pimpinan-pimpinan yang ada dalam Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pun, saat ini mulai tegas dalam hal memberikan ijin bagi anak buahnya yang akan meninggalkan unit kerja pada saat jam kerja. Jika bukan untuk kepentingan dinas atau kepentingan yang benar-benar mendesak, tidak akan bisa mendapatkan ijin keluar.

Saya sadar, tidak sepenuhnya juga menyalahkan pendapat (jawaban yang diberikan) itu, menyalahkan stigma yang sudah terlanjur melekat kuat di masyarakat (susah hilangnya). Kelakuan PNS “dahulu kala” memang ada yang seperti itu, tapi sekarang cobalah untuk melihat perubahan-perubahan yang terus dilakukan, reformasi terhadap birokrasi dan aparaturnya terus gencar dilaksanakan.

Kalau saya boleh sedikit curhat (agar ada bukti nyata dari saya pribadi) : Jika bukan pada bulan puasa seperti sekarang (pembelajaran efektif fakultatif = lebih singkat dari biasanya). Setiap hari Jumat gini, saya sudah berangkat dari rumah menuju unit kerja (sekolah) sejak pukul 06.00 WIB. Setibanya di sekolah, saya menyiapkan murid-murid untuk senam pagi (rutin setiap hari Jumat). Selesainya murid-murid senam pagi, saya lanjut mengajar hingga pukul 11.00 WIB.

Selesainya saya mengajar, saya membantu untuk menyiapkan peralatan-peralatan yang akan digunakan untuk Sholat Jumat bagi murid-murid di sekolah (bagian dari Pendidikan Agama Islam). Peralatan tersebut diantaranya karpet, speaker yang segede lemari es dua pintu, dll. Setelah semuanya lengkap, barulah saya tinggal makan siang di kantin sekolah.

Selesai makan siang, sambil menunggu Sholat Jumat selesai, saya rebahan di matras senam lantai yang ada di sekitar tumpukan lemari buku yang berdebu (perpustakaan yang lebih mirip kaya gudang sekolah). Ketika Sholat Jumat selesai, saya bantu beresin peralatan yang ada. Apakah semua berhenti sampai di situ? Tentu tidak.

Saya masih harus mengajar hingga pukul 16.00 WIB. Bayangkan semua yang saya lakukan setiap hari Jumat itu, seberat apa coba? Apakah saya asik belanja pada saat jam kerja? Apakah saya ada waktu banyak untuk cuci mata pada saat jam kerja?

Saya mengajar praktek di lapangan dan terkadang setengah tatap muka (dari 4 jam pelajaran) berada di kelas, jika memang ada teori yang perlu disampaikan. Dalam proses belajar mengajar itu yang saya hadapi semuanya adalah makhluk hidup yang bisa bikin jengkel juga. Benar-benar dibutuhkan pengendalian diri yang ekstra untuk menghadapi makhluk hidup. Capeknya terkadang jauh melebihi duduk berjam-jam di depan komputer.

Semua yang saya lakukan itu masih belum seberapa dibanding teman-teman saya yang lainnya, yang setelah capek mengajar seperti itu masih harus menempuh perjalanan menyusuri laut dengan perahu (daerah Kabupaten Sidoarjo yang tepiannya masih ada pulau kecil) untuk bisa kembali pulang menuju kediamannya.

Mungkin setelah baca cerita di atas ada yang bilang : Iya cerita itu kan untuk PNS tenaga fungsional (guru), bagaimana dengan PNS tenaga struktural yang ada di kantoran. PNS kantoran kan lebih banyak nganggurnya, bisa ninggalin kerjaan kapan aja, karena yang ditinggal bukan makhluk hidup. Jangan salah menilai juga dalam hal ini, teman-teman saya yang ada di bagian struktural pun juga tidak kalah “repotnya” dalam memberikan pelayanan.

Sebagian teman-teman yang di struktural itu ada yang bekerja di kantor dari pukul 08.30 WIB hingga jam 21.00 WIB tanpa henti (kecuali hanya untuk sholat dan makan), hanya untuk memberikan pelayanan prima bagi masyarakat. Ada juga teman yang harus bekerja ketika ada banjir (dan lain sebagainya), tengah malam harus berangkat ke lokasi, meninggalkan anak istrinya di rumah. Padahal seharian sudah bekerja di kantor untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat.

Hanya sedikit contoh kasus saja yang saya berikan di atas (masih banyak contoh lainnya), namun dari sedikit contoh itu, apabila saya boleh memohon : Cobalah untuk melihat dari sedikit contoh yang ada, lunturkan stigma negatif yang sudah terlanjur melekat kuat tak terkira. Aparatur-aparatur negara saat ini sudah mulai banyak yang berbenah diri, karena sebagai Abdi Negara selalu berusaha memegang teguh Panca Prasetya Korpri. Ingin selalu mendedikasikan diri dan memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Selamat malam dan selamat beristirahat bagi sahabat facebook semua. Selamat menjalankan puasa dan ibadah di bulan Ramadhan (bagi sahabat Muslim), senantiasa produktif dan kontributif. Jangan lupa bangun untuk sahur ya?🙂

Surabaya, 3 Agustus 2012, pukul 22.40 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: