Memasang Anting Pada Daun Telinga Bayi Merupakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Image

Baru saja saya membetulkan anting keponakan saya yang terlepas karena garukan tangannya. Sejak dua puluh menit lalu, saya sudah berusaha membetulkannya, tapi nggak bisa segera terpasang kembali. Abis keponakan saya ini aktif sekali sih, motoriknya berkembang dengan pesat sejak sebulan terakhir (10/08/2012 yang akan datang, genap tujuh bulan). Setelah di-nina bobo-in terlebih dahulu, barulah anting bisa terpasang kembali.

Saat membetulkan anting keponakan saya tersebut, dalam hati ada sedikit jengkel. Jengkel terhadap budaya memberikan anting pada daun telinga bayi cewek. Termasuk budaya yang ada pada Rumah Sakit Bersalin, budaya (jasa) pemasangan anting pada daun telinga bayi cewek yang baru lahir.

Menurut saya, memasangkan anting pada daun telinga bayi cewek itu merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Apakah mereka (orang tua sekalipun) yang memasangkan anting pada daun telinga bayi, telah mendapatkan persetujuan dari bayi yang bersangkutan? Apakah bayi itu sudah menyatakan kesediannya, jika daun telinganya akan dilubangi dan dilukai?

Saya pribadi, apabila kelak mempunyai bayi cewek (yang lahir dari rahim istri saya). Tidak akan saya perbolehkan siapapun untuk menindik daun telinganya, tidak akan saya ijinkan seorangpun untuk memasang anting pada daun telinganya.

Ketika bayi (anak) saya tersebut sudah besar (remaja atau dewasa), barulah saya persilahkan anak saya untuk melakukan sesuatu pada daun telinganya. Ingin menindik daun telinganya (mengenakan anting) seperti anak cewek lainnya atau ingin tampil berbeda tanpa anting di telinga.

Saat anak sudah bisa “berpikir” dan saat anak sudah bisa menentukan pilihan adalah saat yang tepat untuk melubangi dan melukai daun telinga. Saya rasa sebagai orang tua, tindakan itu sangat fair untuk anak saya. Tidak berlaku otoriter, tidak meneruskan kesalahan yang sudah ada untuk anak saya.

Jika dipertimbangkan dari segi keamanan pun, mengenakan anting pada daun telinga bayi cukup berbahaya, contoh misal : Ketika bayi yang beranting sedang tidur dan orang tua tertidur lelap. Tengah malam tanpa sepengetahuan orang tua, bayi tersebut menggaruk daun telinganya dengan cukup keras. Karena garukan yang cukup keras dari bayi, membuat anting terlepas hingga merobek daun telinganya.

Semua itu mungkin saja bisa terjadi. Belum lagi saat anak mulai agak besar, mulai belajar merangkak, mulai belajar berjalan, mulai banyak tingkah kesana-kemari nggak ada henti. Benda asing (anting) pada daun telinga akan berpotensi menimbulkan luka. Belum lagi jika anak mendapatkan partner bermain, bisa saja anting itu tanpa sengaja tertarik partner bermainnya.

Kalau memang pertimbangannya dari segi keindahan, supaya anak tampak lebih cantik gitu. Menggunakan anting pasangan kan juga bisa. Banyak kok sekarang macamnya, kalau mau gonta-ganti model juga lebih mudah, nggak perlu ribet nyopotin anting dari lubang daun telinga. Meskipun resiko anting pasangan lebih mudah hilang, masih jauh lebih baik daripada daun telinga yang hilang. Hehehe.

Hmm, ingin rasanya menulis lebih panjang lagi. Meneruskan tulisan tentang “penindasan hak anak” ini terkait dengan (dibalik) China mendominasi perolehan medali emas Olimpiade London 2012. Hal-hal apa saja yang terjadi pada atlet-atlet China sejak usia anak-anak, hal-hal “kejam” apa saja yang sedikit lagi (mungkin saja, karena perolehan medali emas-nya terus berkejaran dengan USA) akan mengantarkan China sebagai Juara Umum Olimpiade London 2012.

Tapi mata ini sudah nggak kuat lagi, beberapa jam lagi juga mesti berangkat kerja, ingin segera mengarahkan mouse pada “Turn Off Computer” neh. Akhir kata : Selamat menantikan waktu sahur bagi teman-teman Muslim dimanapun sedang berada. Selamat beristirahat dan selamat beraktivitas untuk esok hari bagi sahabat facebook semua.

 

3 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Sunat Merupakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia « Roy Soselisa
  2. Apriyanto pram
    Okt 16, 2012 @ 08:30:26

    Setuju bngt. .
    Saya baru saja punya bayi cewek,baru usia 3 minggu lbh istri dan mertua saya sudah ngotot ingin menindik dan memasang anting,sedang saya masih menimbang baik buruknya dan juga berdasar sunahnya,tp scara pribadi saya tdk stuju,biarkan anak dewasa dan memilih apa yg mau dilakukan dg daun telinganya..

    Balas

  3. ÝaÝayaya
    Mar 17, 2014 @ 00:49:56

    Hahahah..
    Saya saat ini berusia 27th, kakak tertua saya 40th. Dulu, kata ibu saya, waktu ibu mau masangkan anting ke putrinya, alm.ayah saya marah besar. “Kelak, biarkan dia yg memintanya!” Itu ucapan ayah saya. Yah, kami jadinya ditindik pas udah SD semua (udah minta sendiri).
    Kakak2 dan abang saya yg punya anak perempuan, satupun gak ada yg bayÍnya ditindik.
    Bahkan kakak tertua saya, pernah berdebat dgn mertuanya saat mertuanya mau nindik anak kakak saya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: