Sunat Merupakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia?

Setelah beberapa waktu lalu saya menulis note tentang membetulkan anting keponakan saya (https://roysoselisa.wordpress.com/2012/08/07/memasang-anting-pada-daun-telinga-bayi-merupakan-pelanggaran-hak-asasi-manusia/), ada pertanyaan masuk ke dalam inbox saya yang berbunyi seperti ini : “Saya setuju dengan masalah anting, Pak Roy. Tapi terus terang saya juga penasaran, bagaimana dengan anak cowok? Apakah pilihan sunat juga diserahkan pada anak yang bersangkutan?”

Pilihan sunat pada anak cowok, akan saya berlakukan hal yang sama seperti pilihan menggunakan anting pada anak cewek saya kelak (https://roysoselisa.wordpress.com/2012/08/07/memasang-anting-pada-daun-telinga-bayi-merupakan-pelanggaran-hak-asasi-manusia/). Sunat atau tidak sunat merupakan hak anak sepenuhnya, saya tetap tidak akan berlaku otoriter, mesti gini atau mesti gitu. Saya akan membiarkannya tumbuh besar terlebih dahulu, hingga cukup usianya untuk mengerti tentang apa sunat itu.

Namun, dalam waktu-waktu (anak saya masih kecil hingga) menunggu tumbuh besar. Saya akan memberikan banyak penjelasan dari berbagai sisi, diantaranya dari sisi agama (dalam note ini saya tidak menyentuh wilayah ini terlalu jauh) bahwa : dulu dalam tradisi bangsa Yahudi (Perjanjian Lama), bayi berusia delapan hari harus sudah disunat, dll, dsb. Tapi setelah Perjanjian Baru yang terpenting bukan lagi sunat jasmani (potong kulit kulup), melainkan sunat hati, dll, dsb.

Penjelasan berikutnya (yang terpenting) adalah dari sisi kesehatan. Dalam hal ini, saya akan memberikan penjelasan (teladan) lewat apa yang terjadi pada diri saya sendiri. Saya disunatkan oleh orang tua saya, saat saya telah tumbuh remaja. Mungkin alasan orang tua saya sama seperti alasan yang saya miliki, tidak ingin saya merasakan sakit yang berlebihan (memaksakan kehendak, dll) ketika saya masih kecil.

Lewat pengalaman saya disunat ketika usia saya telah menginjak lima belas tahun, membuat saya bisa mengerti dengan jelas tentang manfaat sunat. Karena usia lima belas tahun, merupakan usia yang sudah cukup besar untuk mengetahui dan merekam dengan baik banyak hal yang telah terjadi saat-saat itu.

Jelas sekali dalam ingatan saya, jika saya memperhatikan saat-saat saya sebelum sunat, sisa air yang keluar saat kencing, selalu terjebak di dalam kulit kulup yang belum dipotong. Beberapa waktu setelahnya, sisa air itu akan membentuk endapan kotor berwarna putih. Bisa kita bayangkan saja, daerah seperti itu akan sangat rawan untuk ditempati bakteri penyakit dan (bisa saja) menjadi sumber penyakit.

Namun setelah saya sunat, setelah kulit kulup saya dipotong dan dijahit. Tidak ada lagi penghalang yang mengganggu jalannya urine saya, air urine bisa langsung keluar tanpa perlu ada lagi yang terjebak di dalam kulit kulup dan mengendap hingga menjadi kotoran berwarna putih. Sejak sunat itulah, saya selalu merasakan dalam keadaan bersih, sekalipun (kadang) lupa untuk membilasnya ketika baru buang air kecil.

Apakah manfaat sunat hanya sebatas pada kesehatan saja? Menurut saya banyak manfaat lainnya, dari segi mental pun (lebih tepatnya sosial kali yah) akan berpengaruh. Kok bisa ngaruhnya ke mental segala? Ya bisa saja. Terutama jika kelak anak-anak kita masuk ke dalam dunia militer (atau kegiatan lainnya) yang memungkinkan untuk mandi bersama, bugil bersama dengan teman-temannya.

Pria yang saling memandang tubuh bugil pria lainnya, bukanlah hal yang aneh, bukan pula hal yang lucu, semua itu merupakan hal yang biasa saja. Mau bugil puluhan orang dalam satu barak, kalau mau mandi ya tinggal mandi aja. Tapi akan menjadi hal yang lucu dan akan menjadi bahan tertawaan bersama, ketika dari puluhan pria yang ada itu semuanya sudah sunat, hanya satu orang saja yang belum sunat. Silahkan dibayangkan sendiri aja, bagaimana malunya orang yang belum sunat?

Kalau masih sulit membayangkannya, mungkin saya bisa sedikit membantunya. Saya pernah mengalaminya saat ada Pekan Olahraga dan Seni Tingkat Propinsi (di Kota Blitar) gitu, kamar mandinya digunakan bersama-sama. Ketika teman-teman saya yang sebagian besar Muslim (sudah sunat karena merupakan salah satu syariat yang diwajibkan) mulai bugil, saya pun juga menyusulnya bugil. Mulailah keluarlah kata-kata : Yee, belum sunat. Hehehe.

Sekumpulan anak kecil, ledekannya juga masih kecil-kecilan aja seperti itu. Tapi dari ledekan yang kecil-kecilan itu aja, sempat membuat saya sedikit malu. Dampaknya hingga beberapa kali dalam kesempatan lainnya yang serupa seperti itu, (selama belum sunat) saya selalu berusaha menghindari untuk mandi bersama karena takut dan malu kalau sampai ketahuan belum sunat.

Setelah semua penjelasan dan teladan telah saya berikan kepada anak cowok saya kelak (seperti yang sudah saya siratkan dalam note di atas). Saya yakin dan percaya, tanpa saya meminta dan memaksanya untuk disunat pun, anak cowok saya pasti akan meminta dengan sendirinya untuk disunatkan. Sama seperti saya dulu saat meminta kepada Papa Mama, karena telah mengetahui (teladan) Papa dan Kakak laki-laki saya yang pernah disunat.

Dari minggu kemarin kok ngomongin anak saya kelak mulu yah, pake nentuin jenis kelamin segala. Kalau saya sih, dipercaya anak cowok atau anak cewek nggak ada masalah. Mau satu cewek dan satu cowok juga boleh, mau dua cowok juga malah bagus. Yang terpenting mendukung program pemerintah : Dua Anak Cukup.🙂

Selamat Malam dan Selamat Beristirahat bagi sahabat facebook dimanapun berada. Tetap semangat bagi Sahabat Muslim dalam menjalankan ibadah puasa yang tidak lama lagi akan menyambut hari kemenangannya.

3 Komentar (+add yours?)

  1. wahyu
    Sep 19, 2012 @ 10:11:58

    kalau saya boleh berpendapat, HAM adalah senjata YAHUDI untuk merusak segala sesuatu baik itu sunah maupun wajib, ada kalanya HAM itu perlu di hapuskan, karena setiap orang bukan berhak menentukan hidupnya sendiri melainkan menghargai orang lain,.!!

    Balas

  2. marvian
    Mei 19, 2013 @ 16:08:37

    Sunat tidak sunat tidak masalah menrut saya bos, apalgi agama dibawakan pd sisi kesehatan… Keduanya tidak bisa dikaitkan.

    Malu tidak sunat itu hanya beban mental di dunia.
    Agama berbeda keyakinan berbeda hargai baik yang tidak bersunat dengan yang bersunat fisik.
    Karena sunat itu bisa secara fisik dan rohani.
    Sunat Fisik bisa hancur/ hanya di dunia saja
    namun sunat rohani itu kekal/abadi.

    Dimana sunat rohani itu sunat akan hati dalam prilaku diri, pengendalian diri, dan menjaga sikap selalu menghargai satu dgn lain.
    Sikap dan hati yg tertuju pada kehendak perintah Tuhan.

    Jadi apapun pilihan masing* individu silahkan menghargai tidak utk ditertawakan/saling menjatuhkan seseorg dengan olokan.

    Bersunat itu melanggar HAM bila saling mencemooh dan menjatuhkan mental seseorang… Karena membuat seseorang kurang nyaman..
    Kembali tinjau apa arti dan tujuan bersunat itu sendiri bila hanya utk estetika dan kesehatan?
    Atau utk nilai agama yg terkandung?
    Bila bersunat tp hati tidak bersih untuk apa semuanya itu?

    Balas

  3. firsta
    Apr 12, 2015 @ 16:15:11

    untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: