Mengisi Kemerdekaan Sebagai Bentuk Ibadah Kepada Tuhan

Sebelum Bangsa Indonesia dinyatakan merdeka tanggal 17 Agustus 1945, banyak rangkaian kegiatan diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan kemerdekaan. Diantaranya kegiatan yang ada dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang sebelumnya juga telah ada Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Bagian yang menarik saat saya memperhatikan rangkaian-rangkaian persiapan kemerdekaan itu terletak pada bagian (usaha) menyiapkan sesuatunya. Apakah sesuatu yang sedang disiapkan oleh panitia yang sudah dibentuk pada saat itu? Apakah menyiapkan nasi tumpeng dengan puncaknya yang menjulang tinggi ke langit, supaya bisa dimakan ramai-ramai untuk merayakan kemerdekaan? Apakah menyiapkan petasan dan kembang api yang ketika disulut oleh api bisa meledak sekeras dan seindah mungkin sehingga bisa menambah semarak kemerdekaan? (dan seterusnya).

Ternyata bukan hal-hal yang menambah semarak kemerdekaan seperti itu yang sedang dipersiapkan oleh panitia yang ada, melainkan hal terpenting yang sedang direncanakan dan disiapkan bersama adalah membentuk pemerintahan. Ya, membentuk pemerintahan adalah bagian yang terpenting, mulai dari memilih dan mengangkat Presiden beserta Wakilnya, membentuk Kementerian, membentuk DPR dan MPR, membentuk Pemerintahan Daerah, dan lain sebagainya.

Negara tanpa pemerintahan, semua kepentingan tidak akan pernah berjalan. Karena tidak akan ada pemegang otoritas, semuanya ingin jalan sendiri-sendiri tanpa pernah ada yang mengaturnya. Yang utara mau ke selatan, yang selatan mau ke barat, yang timur mau ke utara, yang barat mau ke timur. Semuanya berjalan semau gue, bisa ruwet dan morat-marit situasi kondisi kehidupan bermasyarakat.

Bersyukur kepada Tuhan, jika sejak awal kemerdekaan Bangsa Indonesia telah terbentuk pemerintahan. Ada yang mengatur jalannya kehidupan di negeri ini, mengakomodasi yang menjadi mau rakyat dan merealisasikan menjadi suatu kebijakan. Namun, apakah cukup jika saya hanya bersyukur karena sejak awal kemerdekaan telah terbentuk pemerintahan? Apakah cukup jika saya hanya bersyukur lewat kata-kata atas apa yang sudah terjadi di awal bangsa ini baru berdiri?

Bersyukur saja tidaklah cukup atas kemerdekaan dan pemerintahan yang sudah terbentuk. Perubahan-perubahan sistem yang ada dalam pemerintahan masih saja terus terjadi mulai dari bangsa ini berdiri hingga kini. Beberapa sistem pemerintahan telah dilewati oleh bangsa ini, mulai dari sistem yang ada pada Orde Lama, Orde Baru hingga kini memasuki Reformasi. Tidakkah kita peduli dengan apa yang terjadi dalam sistem-sistem yang pernah berjalan dan akan berjalan?

Saya pribadi mengekspresikan rasa syukur itu dengan bentuk peduli terhadap sistem pemerintahan yang ada. Weh, kaya orang top aja yah? Hehehe. Belagu ah. Bukannya belagu, tapi saya benar-benar mengekspresikan syukur itu ke dalam tindakan nyata bukan hanya sekedar kata belaka. Caranya gimana?

Karena saya hidup di era yang sudah berbeda, era yang sudah tidak perlu lagi ada acara membentuk panitia untuk mempersiapkan kemerdekaan segala, membentuk pemerintahan segala, atau jika mundur sedikit hidup di era yang tidak perlu lagi untuk merebut kemerdekaan. Ya, saya tidak perlu lagi merebut kemerdekaan, karena Pahlawan Bangsa telah merebutnya dari tangan penjajah. Tugas saya kini adalah mengisi kemerdekaan, melanjutkan cita-cita Pahlawan Bangsa.

Ekspresi syukur dan tindakan nyata untuk mengisi kemerdekaan itu, saya wujudkan dalam bentuk menambah pengetahuan politik, menambah pengetahuan tentang sistem pemerintahan, pengetahuan tentang segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dll, dsb) mengenai pemerintahan. Dengan belajar hal tersebut, saya rasa bobotnya sama dengan panitia-panitia yang sedang mempersiapkan pemerintahan pada saat awal kemerdekaan.

Saya belajar banyak hal tentang pengetahuan politik itu, karena saya dalam rangka sedang mempersiapkan pemerintahan juga. Kok bisa? Ya tentu saja bisa. Bukankah setiap lima tahun sekali (sesuai agendanya masing-masing) akan ada Pemilu yang bertujuan untuk memilih Kepala Daerah, Gubernur, Presiden dan Wakil Presiden? Bukankah era reformasi kini yang menentukan siapa-siapa yang boleh duduk di kursi-kursi jabatan itu adalah rakyat (termasuk saya) melalui hak suaranya?

Ya, lewat momen itulah saya mengekspresikan rasa syukur dan memberikan tindakan nyata untuk mengisi kemerdekaan. Tahun 2004 adalah tahun pertama saya mendapatkan hak untuk memberikan suara dalam Pemilu. Sejak tahun 2004 itulah setiap kali ada kesempatan Pemilu (baik untuk pemilihan Kepala Daerah hingga pemilu ‘Nasional’), saya tidak pernah sekali-kalipun melewatkannya. Saya memberikan hak suara dengan sah sesuai aturan yang telah ditetapkan.

Setiap kali momen Pemilu dilaksanakan, setiap kali itu juga saya mempelajari calon-calon yang ada. Mulai dari latar belakang, perjalanan karier, sepak terjang, personality, kapasitas, dll, dsb. Karena saya ingin memilih yang terbaik, ingin mempersiapkan pemerintahan yang baik dengan memilih calon pemimpin pemerintahan yang baik pula.

Bahkan, untuk Pemilihan Presiden yang akan diselenggarakan tahun 2014 nanti saja, saya sudah mempelajari salah satu calon yang (arahnya sangat kuat) akan mengikuti Pemilu 2014. Sejak tiga tahun lalu ketika nama dari salah satu calon ini muncul dipermukaan, saya sudah mencari tahu tentang banyak hal terkait dengan calon tersebut. Saya pelajari buah pikirannya, visi misi, tindakan nyata apa yang sudah diperbuatnya selama ini, pengaruh apa yang sudah diberikannya, dll, dsb.

Itulah ekspresi syukur dan tindakan nyata saya untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini. Semua itu saya lakukan juga dalam rangka (sedang) beribadah, sedang melakukan apa yang Alkitab katakan. Alkitab memiliki pandangan yang serius dalam kehidupan berwarga-negara.

Semua pemerintahan datangnya dari Tuhan, kita semua diminta terlibat di dalamnya, termasuk terlibat dalam memberikan hak suara. Pemberontakan terhadap pemerintah (tidak tunduk pada otoritas) sama artinya dengan melakukan pemberontakan kepada Tuhan. Yesus pun semasa di dunia juga tunduk pada pemerintah, hal itu ditunjukan dengan tindakannya membayar pajak, karena pajak merupakan pembayaran yang sepantasnya untuk pemerintah.

Malam ini, malam menjelang kita merayakan HUT RI ke 67, merupakan malam yang tepat untuk kita merenungkan kembali. Merenungkan hal apa saja yang sudah kita berikan untuk bangsa ini. Lewat hal yang sederhana (memberikan hak suara), ternyata kita bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi kelangsungan dan kemajuan bangsa ini.

Yuk, bareng-bareng kita ekspresikan rasa syukur itu ke dalam tindakan nyata. Bareng-bareng kita mengisi kemerdekaan sebagai bentuk ibadah kita kepada Tuhan. Merdeka !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: