Di Bandara Juanda Ku Berdoa

Rentang waktu antara Tahun 2006 hingga Tahun 2007 merupakan saat-saat terberat saya dalam menjalani hidup sebagai anak muda yang memiliki sejuta mimpi dan sedang berusaha mencapai mimpi-mimpi itu.

Sebagai anak muda, saya memiliki mimpi bisa berprestasi (di meja belajar) secara akademik dan non akademik (di lapangan dengan menjadi atlet). Sejak usia pelajar (jaman masih SMP), saya sudah aktif dalam kegiatan olahraga prestasi. Sejak usia pelajar itu pula saya sudah membangun mimpi saya untuk bisa sukses berprestasi sebagai pelajar (dan mahasiswa nantinya) dan sukses berprestasi sebagai atlet.

Mimpi-mimpi itu makin terasa dekat dapat saya capai, ketika usaha saya dalam menekuni olahraga prestasi mulai ‘menampakan taringnya’. Meskipun taring itu masih tampak kecil karena baru tumbuh, tapi sudah cukup untuk membuat saya mantap melangkahkan kaki dalam usaha mencapai mimpi-mimpi saya itu.

Selepas SMA, saya mulai menunjukan totalitas dalam usaha mencapai mimpi itu. Masalahnya adalah totalitas itu harus dibarengi dengan fokus, dari fokus inilah telah memaksa saya untuk membuat keputusan dan menentukan pilihan untuk berprestasi secara akademik atau non akademik. Karena setelah saya coba jalani keduanya, terasa cukup berat. Terlalu banyak yang dikerjakan, rasa-rasanya akan membuat dangkal usaha untuk mencapai mimpi-mimpi itu.

Hingga akhirnya saya tiba pada keputusan untuk fokus dalam usaha mencapai prestasi non akademik lebih dulu, baru setelahnya saya fokus kepada usaha mencapai prestasi akademik. Keputusan itu saya buat pada semester ketiga saat duduk di bangku kuliah. Saya lebih memilih (fokus) banyak menghabiskan waktu di Asrama Atlet agar bisa berlatih setiap saat (pagi dan sore), daripada harus menghabiskan banyak waktu di kampus. Sebenarnya bisa sih, kalau saya harus menjalani keduanya, namun karena terkendala mata kuliah saya lebih banyak praktek di lapangan, bisa mampus dibuatnya kalau harus menjalani keduanya secara bersamaan.

Singkat cerita setahun telah berjalan, keputusan yang saya buat ternyata tak berjalan mulus. Prestasi saya dalam bidang non akademik tak menunjukan pertumbuhan taring yang makin besar, tajam dan kokoh. Malah cenderung makin tumpul dan siap untuk dicabut supaya tidak menghabiskan darah orang di sekitar saya (hehehe, apa’an sih).

Bisa dibilang prestasi saya dalam bidang non akademik tak membuahkan hasil yang maksimal. Pencapaiannya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan atau mungkin bisa ;juga itu hanya rasa ketidakpuasan saya saja, karena terlalu tinggi dalam menetapkan standart untuk sebuah pencapaian hasil prestasi yang harus diraih. Karena menurut sebagian orang, bisa berada pada titik dimana saya bisa berada saat itu, sudah cukup baik.

Keadaan ini benar-benar mengacaukan hidup saya pada saat itu, karena saya harus mengubah haluan dalam usaha meraih mimpi untuk bisa berprestasi. Kendalanya adalah prestasi akademik akan bisa diraih, jika saya memulainya kembali dengan usaha yang jauh lebih keras dan jauh lebih melelahkan, karena saya sudah tertinggal langkah cukup jauh sekali.

Sejak September 2006, hari-hari saya lalui dengan ketakutan memandang masa depan, ngeri rasanya jika harus melihat ke depan. Hingga beberapa bulan ke depannya, saya tetap saja melalui hari-hari dengan cemas, meskipun saya sudah memulai langkah baru untuk berusaha mencapai mimpi yang lainnya. Puncaknya terjadi pada akhir Januari 2007, setelah selesai Ibadah Raya Hari Minggu, saya memacu motor saya dari Surabaya Pusat menuju Bandara Juanda Surabaya (terletak di Kabupaten Sidoarjo lebih tepatnya).

Saya merasakan dorongan yang kuat sekali dari dalam diri saya untuk datang ke Bandara Juanda. Setibanya di bandara tersebut, saya parkir motor saya. Lalu saya mulai berjalan menaiki tangga anjungan tempat pengantar penumpang penerbangan bisa menyaksikan pesawat yang sedang ditumpangi handai taulannya tinggal landas dari Bandara Juanda.

Dalam anjungan tersebut, saya mengambil posisi berdiri pada tepian kaca sambil memandang jalur lintasan pesawat dan pesawat-pesawat yang parkir di sekitarnya. Dalam posisi berdiri itu, saya mulai berdoa dalam hati : “Tuhan, Roy kan sempat naik pesawat sebanyak tiga kali melalui bandara ini. Masak cuma berhenti dalam tiga kali kesempatan itu saja? Roy percaya, lewat bandara ini lagi, Tuhan akan bawa Roy naik pesawat lagi.”

Pertanyaannya adalah : “Kenapa saya harus berdoa seperti itu?” Karena menurut pandangan saya pada saat itu, prestasi diukur dengan bisa naik pesawat. Contoh misal : Kalau bisa mewakili Indonesia sebagai atlet yang berlomba di luar negeri, bukankah yang dinaiki atlet tersebut adalah pesawat? Itu kenapa saya berdoa seperti di atas.

Selesai berdoa, saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan saya pun bergegas mengambil motor di parkiran. Belum jauh motor keluar dari lokasi bandara, tanpa terasa air mata keluar membasahi pipi saya. Di atas motor yang saya kemudikan, tangis itu makin lama makin menjadi. Entah apa yang terjadi dengan diri saya pada saat itu, saya sadar jika saya sedang menangis, tapi saya tidak mengerti apa yang membuat dan menggerakan saya menangis. Saya merasakan ada kekuatan lain dalam diri saya yang sedang berdoa untuk diri saya, melebihi doa yang saya naikan (secara sadar) sebelumnya.

Hari pun terus berlalu, saya sudah mulai lupa dengan doa yang pernah saya ucapkan di Bandara Juanda itu. Karena bisa naik pesawat bukan lagi menjadi fokus saya, kesibukan saya sehari-hari dalam mengejar ketertinggalan langkah yang cukup jauh, telah membuat saya lupa akan itu semua. Saya juga lebih banyak menghabiskan waktu bergaul (bermain dan berlatih di lapangan) dengan teman-teman (atlet cacat) saat sore hari. Saat bergaul dengan mereka, saya bisa belajar banyak hal tentang kehidupan ini, mereka tidak pernah lelah berjuang menjalani kehidupan ini sekalipun banyak kekurangan dalam diri mereka.

Keadaan hati saya pun mulai tertata setelah melewati pertengahan Tahun 2007, saya mulai menata mimpi kembali lewat kepingan-kepingan mimpi yang telah hancur sebelumnya. Seiring dengan hati yang mulai tertata, tertata pula cara ber-teologi (ber-Tuhan) saya yang ngaco. Akhir tahun 2007 saya sempat teringat akan doa saya di Bandara Juanda, dengan cara ber-teologi (ber-Tuhan) yang telah tertata, membuat saya jadi malu ketika mengingat doa di Bandara Juanda. Saya minta ampun saat itu juga atas doa yang pernah saya ucapkan di Bandara Juanda. Karena saya rasa (terkesan) seperti memerintah Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai jongos yang harus memenuhi hal-hal yang menjadi keinginan saya.

Sejak akhir tahun 2007 itu, saya mulai tunduk di bawah kedaulatan Tuhan, tidak meminta ini itu lagi kepada Tuhan. Mau-maunya Tuhan, mau jadi apa saja nantinya, Tuhan lebih tahu yang terbaik bagi saya, karena semua sudah ada dalam kedaulatannya. Keyakinan itulah yang membuat saya berjalan lebih berani, saya pasti akan menapaki dan memasuki indah masa depan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Pertengahan tahun 2008, saya dibuat tercengang dengan pekerjaan tangan Tuhan lewat hal-hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi (salah satu dari sekian) utusan KONI Jawa Timur terkait dengan penyelenggaraan PON XVII Kaltim 2008. Tugas saya saat itu meng-cover pekerjaan panitia penyelenggara yang bersentuhan langsung dengan kepentingan Kontingen Jawa Timur. Contoh misal (salah satu kasus dan masih banyak kasus lainnya lagi ) : Apabila panitia tidak siap dengan transportasi untuk kepentingan Jawa Timur selama penyelenggaraan PON XVII Kaltim 2008, maka saya (dan teman-teman) yang akan meng-cover-nya dengan menyediakan alat transportasi yang telah kami bawa dari Surabaya.

Kesempatan yang saya dapatkan dalam PON XVII Kaltim 2008 itu, memungkinkan saya bisa naik pesawat kembali. Ya, saya bisa naik pesawat kembali euy. Seperti yang sudah saya tulis dalam paragaf sebelumnya, saya sudah mulai lupa dengan doa yang pernah saya naikan, tapi Tuhan tidak pernah lupa untuk menjawabnya (sekalipun menurut saya doa itu adalah doa yang kurang ajar). Tuhan menjawabnya dengan tiket pesawat pergi pulang rute Surabaya – Balikpapan – Surabaya, masih ditambah dengan perlengkapan dan uang saku pula.

Hari ini, saya mendapatkan jawaban doa itu kembali. Dua jam lalu saya baru saja terbang meninggalkan Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara Soekarno Hatta. Ucapan syukur tiada hentinya saya naikan kepada Tuhan, hati saya limpah dengan pujian dan pengagungan bagi Tuhan. Di Bandara Soekarno Hatta ini, sambil menunggu pesawat yang akan mengantarkan saya menuju Bandara Sultan Syarif Kasim, saya menuangkan ucapan syukur itu lewat catatan ini.

Bersyukur atas peryertaan Tuhan akan hari-hari yang telah saya lalui saat mengalami pergumulan sebagai anak muda, saat mengalami keterpurukan karena hancurnya mimpi yang indah. Potensi saya akan terpuruk lebih dalam, sangat besar peluangnya. Frustasi akan sangat mudah terjadi jika melihat goncangan yang terjadi pada saya saat itu, tapi tangan Tuhan benar-benar menyertai. Tuhan bawa saya dari satu pergaulan ke pergaulan yang lainnya, dan dari bergaul dengan teman-teman dari olahraga cacat-lah (awalnya hanya anak-anak Tuna Rungu Wicara) saya bisa menemukan semangat hidup kembali.

Dari kedekatan saya dengan teman-teman Tuna Rungu Wicara itu juga-lah yang telah mengantarkan saya seperti hari ini. Saat berjumpa pertama dengan mereka, saya merasa menemukan ladang pelayanan yang perlu dikerjakan dengan keseriusan dan ketulusan. Serius dan tulus memberikan yang terbaik, serius dan tulus mendedikasikan diri untuk kepentingan kemanusian lewat kemampuan (melatih olahraga cacat) yang telah Tuhan percayakan.

Hari ini saya mengerjakan dengan serius dan tulus ladang pelayanan itu. Rencana Tuhan membawa saya dari satu pergaulan ke pergaulan yang lainnya, bukanlah suatu rencana yang kebetulan. Sejak lama Tuhan telah menyiapkan saya untuk hari ini, untuk melayani teman-teman dari olahraga cacat. Seperti yang sudah saya tulis dalam catatan kemarin https://roysoselisa.wordpress.com/2012/10/03/709/, hari ini saya berangkat menuju Pekanbaru untuk kepentingan Kontingen Jawa Timur dalam keikutsertaannya pada Pekan Paralimpik Nasional XIV (Peparnas XIV) Riau 2012.

Saat di PON XVII Kaltim 2008 lalu, kerap kali saya mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab saya (dan dua teman saya) pada saat itu. Pekerjaan itu adalah mengangkat koper dan perlengkapan Kontingen Jawa Timur (beberapa cabang olahraga) yang jumlahnya ratusan, mengangkatnya untuk dinaikan ke atas truk yang akan membawanya menuju penginapan.

Koper dan perlengkapan lainnya harus saya (dan dua teman lainnya) yang mengangkatnya, karena petugas yang disediakan oleh panitia penyelenggara untuk mengangkat koper, tidak ada di tempat. Hal itu bisa dimaklumi, karena Kontingen Jawa Timur tiba pukul 01.00 WIT di Bandara Sepinggan, Balikpapan menggunakan pesawat carteran. Sementara panitia menyediakan petugas saat pagi (bukan dini hari) hingga malam hari saja. Jadilah kami bertiga yang (memang sengaja nongkrong untuk) menyambut dan membantu kelancaran kedatangan Kontingen Jawa Timur di Bandara Sepinggan pada saat itu.

Pengalaman saya jadi porter di Bandara Sepinggan itu, terulang kembali di Bandara Juanda pagi tadi. Saya menurunkan koper teman-teman dari atas bis yang telah mengantarkan kami dari tempat Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) menuju Bandara Juanda. Terlalu ringan tugas saya saat ini, karena jumlah koper dan perlengkapan yang saya angkat jumlahnya hanya puluhan saja. Dibanding dengan ratusan koper yang saya angkat empat tahun lalu di Bandara Sepinggan, tidak ada artinya apa-apa. Rencana Tuhan memang benar-benar sempurna, sudah melatih dan mempersiapkan saya sejak lama untuk menjadi porter.

Tugas saya tidak berhenti hanya sebatas menurunkan koper saja, tapi mesti mondar-mandir juga ngurusin tiket pesawat untuk teman-teman. Kalau dilihat sih, sebenarnya saya punya banyak pilihan untuk santai-santai saja. Kapasitas saya saat ini sebagai pelatih, saya juga ngurusin administrasi teman-teman terkait dengan keikutsertaannya pada Peparnas XIV Riau 2012. Tugas saya kan sudah cukup berat, kenapa masih harus ditambah lagi? Saat ini saya punya pangkat dalam Kontingen Jawa Timur loh (sok bergaya jadi bos neh, hehehe), punya pilihan untuk menjadi tuan yang dilayani, bukannya menjadi hamba yang harus melayani.

Tentunya akan keterlaluan dan tidak tahu diri sama sekali, jika saya lebih memilih untuk dilayani oleh teman-teman yang memiliki keterbatasan fisik dan gerak. Saya lebih memilih untuk menjadi hamba bagi mereka, lebih memilih untuk membasuh kaki mereka, lebih memilih untuk melayani mereka, daripada harus memilih untuk menjadi tuan yang dibasuh kakinya dan dilayani segala-galanya. Menjadi pelayan adalah tujuan Tuhan mengirim saya ke dunia ini, menjadi hamba yang mau berkorban adalah tujuan Tuhan mengutus saya di tengah dunia ini.

Sebentar lagi saya akan naik pesawat menuju Bandara Sultan Syarif Kasim, setelah empat jam transit di Bandara Soekarno Hatta (sambil sesekali menulis catatan ini). Terhitung untuk ke tujuh kalinya saya akan naik pesawat, jika dihitung dengan kepulangan saya ke Surabaya nanti (15/10), untuk ke sembilan kalinya saya akan naik pesawat. Sembilan kali kesempatan itu saya dapatkan dengan cuma-cuma tanpa pernah mengeluarkan uang pribadi. Kalau hanya sekedar ingin naik pesawat saja sih (tanpa ada tujuan yang jelas), sebenernya bisa dengan gaji dari pekerjaan tetap saya, dalam sebulan bisa naik pesawat hingga empat kali dengan rute Surabaya-Jakarta, tapi setelahnya saya tidak makan selama sebulan, hehehe.

Bisa naik pesawat hanyalah bonus dari Tuhan, panggilan besar di balik bisa naik pesawat-lah yang Tuhan ingin saya kerjakan dengan sungguh-sungguh tanpa beban.

Soli Deo Gloria – Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan

NB : Catatan tersebut saya tulis saat berada di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 4 Oktober 2012. Namun, baru bisa saya share sekarang, karena baru malam ini bisa terkoneksi dengan Wi Fi yang disediakan oleh pihak hotel tempat saya menginap. Sebenarnya dari kemarin-kemarin sudah bisa terkoneksi sih, tapi cuma bisa bertahan tiga menit saja setiap kali online.🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: