Sumaryono Adidas

Salah satu paralimpian (atlet cacat) yang saya bina sebulan terakhir ini bernama Sumaryono, nama lengkapnya cukup Sumaryono saja. Namun saya berikan tambahan Adidas, karena Sumaryono merupakan Anak Desa (yang) Ingin Dahsyat.

Awal mula berjumpa dengannya ketika sebulan lalu kami memasuki Pemusatan Latihan Daerah Menuju Pekan Paralimpik Nasional XIV (Peparnas XIV) Tahun 2012 di Pekanbaru, Riau. Sumaryono cukup menarik perhatian saya saat awal mula berjumpa.

Mulai dari model rambutnya yang lain daripada yang lain, kaos yang dikenakan bertuliskan C. Ronaldo di bagian pundaknya dengan goresan cat seadanya yang ditulis dengan tangannya sendiri. Nampak sangat kasar dan tidak indah sekali presisi tulisan yang melekat pada kaosnya itu.

Setiap kali latihan, saya selalu memperhatikan Sumaryono mengenakan kaos itu. Saat malam hari pun, ia mengenakan kaos yang bertuliskan sama persis dengan kaos yang dikenakannya saat berlatih. Rupanya semua kaos yang Sumaryono miliki, diberi tulisan tangan yang sama dengan menggunakan cat berwarna hitam.

Saya bisa merasakan motivasi Sumaryono memberikan tulisan pada kaos-kaosnya itu. Sumaryono rupanya ingin menjadi dahsyat (menurut penilaiannya) seperti orang yang namanya ditulis pada semua kaosnya.

Suatu waktu pada malam hari setelah berlatih, saya sediakan waktu khusus (secara sengaja) untuk ngobrol bareng Sumaryono. Saya menanyakan aktivitas sehari-harinya melakukan kegiatan apa saja, berapa bersaudara, dan lain sebagainya.

Cukup menarik perhatian saya, ketika Sumaryono menceritakan kegiatan sehari-harinya dalam membantu Ibunya berjualan nasi pecel untuk siswa-siswi sebuah sekolah dasar di Kabupaten Magetan. Usia Sumaryono dua tahun lebih tua di atas saya, namun karena keterbatasannya (mungkin saja karena pola pikir) membuatnya tampak lebih muda dari dugaan saya, masih kelihatan seperti anak-anak.

Saya sama sekali tidak pernah mengenal Sumaryono sebelumnya, tapi saya coba masuk dan merasakan kehidupan seperti apa yang Sumaryono jalani sehari-hari lewat cerita yang disampaikannya. Saya bisa merasakan, ingin dahsyatnya (seperti C. Ronaldo) adalah karena Sumaryono ingin mempersembahkan sesuatu yang berharga bagi Ibunya selagi masih hidup. Seperti membantu dalam hal ekonomi, mempunyai tabungan untuk hari tua Ibunya, dll, dsb.

Mendengarkan cerita Sumaryono bukanlah hal yang mudah, sepenggal demi sepenggal ceritanya harus dicerna dengan seksama. Karena Sumaryono memiliki gangguan fungsi gerak yang ‘pusat masalahnya’ ada di otak kecil (cerebral palsy). Selain gangguan fungsi geraknya ‘yang menyerang’ tangan dan kaki (seperti orang kejang-kejang gitu), gangguan fungsi gerak Sumaryono juga berada pada leher dan lidahnya. Yang mengakibatkan cara bicaranya menjadi gagap dan terbata-bata gitu, susah sekali jika mendengarkannya berbicara. Sekali Sumaryono bisa mengeluarkan kata-kata, intonasinya terlalu besar seperti orang marah (lawan bicara jadi kaget dibuatnya).

Ingin dahsyatnya, bisa saya rasakan dari hari ke hari pada saat menjalani sesi latihan pagi dan sore. Semangatnya selalu berapi-api setiap kali menghadapi program latihan yang telah diberikan oleh pelatih, meskipun ekspresi dan responnya setiap kali mengetahui program latihan (yang berat) membuat jengkel-jengkel bikin ketawa gitu.

Ekspresi dan respon yang selalu ada setiap kali saya menyampaikan program latihan kepada Sumaryono adalah jalan membelakangi saya, setelah dapat lima langkah selalu meneriakan kata ‘legrek’. Ya, kata ‘legrek’ yang dalam bahasa jawa memiliki arti ‘hancur’. Maksud kata-kata itu adalah (seolah-olah) mengumpat program latihan yang saya berikan : “Hancur saya kena program latihan ini.”

Kata-kata yang selalu diucapkan Sumaryono ini telah menginspirasi saya untuk mengadopsinya menjadi yel-yel (semboyan) Kontingen Jawa Timur pada Pekan Paralimpik Nasional XIV (Peparnas XIV) Tahun 2012 di Pekanbaru, Riau. Yel-yel (semboyan) itu berbunyi seperti ini : “Satukan Tekad, Legrekan Lawan.” Artinya adalah “Satukan Tekad, Hancurkan Lawan.”

Kontingen Jawa Timur selalu meneriakan yel-yel tersebut dalam banyak kesempatan, terutama setiap kali mulai latihan dan pada saat berakhirnya latihan. Jika diucapkannya secara bersama-sama, kata ‘Satukan Tekad’ diucapkan oleh salah satu orang yang memberikan komando. Lalu dibalas dengan teriakan secara bersama-sama : “Legrekan Lawan”.

Hari ini (10/10/2012) di Bumi Lancang Kuning, Sumaryono telah membuktikan bahwa dirinya benar-benar dahsyat, Sumaryono benar-benar anak desa yang bisa ‘me-legrek-an’ lawannya pada perlombaan tingkat nasional. Ya, hari ini Sumaryono telah melaksanakan Upacara Penghormatan Pemenang sebagai peraih medali perak pada nomor Lari 200 Meter (Klasifikasi T 35-36 / Kecacatan Cerebral Palsy).

Mau ada label cacat lah, atau lah lah yang lainnya lah. Sumaryono kini telah berhasil menjadi orang dahsyat. Dari sekedar anak desa yang sehari-harinya membantu Ibunya berjualan pecel, hari ini Sumaryono telah menjadi juara nasional pada Pekan Paralimpik Nasional XIV (Peparnas XIV) Tahun 2012 di Pekanbaru, Riau.

Sumaryono benar-benar telah menjadi dahsyat, meskipun mungkin standartnya seperti C. Ronaldo belum terpenuhi. Dahsyat karena Sumaryono bisa naik pesawat, dahsyat karena bisa merasakan tidur selama berhari-hari di hotel berbintang tiga yang tergolong mewah di Kota Pekanbaru. Dahsyat pula karena anak desa seperti Sumaryono menjadi orang penting dalam seminggu terakhir, ya penting karena setiap kali keluar hotel selalu mendapatkan pengawalan dari pihak kepolisian.

Saya yakin dan percaya, diantara pembaca tulisan ini, pasti beberapa diantaranya (mungkin seumur hidup) ada yang belum pernah merasakan seperti yang pernah dirasakan Sumaryono. Sumaryono jadi orang penting neh jack, selama seminggu terkahir setiap pagi dan sore, di jalan raya Kota Pekanbaru serasa jadi milik Sumaryono sendiri. Tidak ada penghalang yang menghambat laju kendaraan yang membawa Sumaryono dari satu tempat ke tempat yang lainnya, karena satuan pengawalan siap memecah kemacetan yang ada.

Keberhasilan Sumaryono adalah senyum bahagia buat saya. Saya tidak akan bisa tersenyum melihat Sumaryono begitu bangga seperti sekarang ini, jika bulan lalu saya lebih mengikuti suara-suara yang menginginkan agenda terselubung. Sumaryono yang tadinya tidak saya kenal, hanya dikenal lewat Seleksi Daerah dengan kemampuannya yang tak seberapa, lebih saya pilih (setujui) karena faktor ‘kasihannya’.

Kok karena ‘kasihannya’ sih? Ya, awalnya memang sangat subyektif, awalnya memang hanya ingin (menyenangkan) memberikan kesejahteraan buat orang lain. Karena awalnya yang seharusnya berangkat bukanlah Sumaryono, melainkan orang lain yang prestasinya lebih bagus, namun karena non teknis tidak bisa berangkat.

Bersyukur karena berkat Tuhan telah turun atas Sumaryono. Kiranya kemenangan yang telah diraihnya (dan bonus yang menantinya) hari ini, terulang kembali pada dua nomor lain yang akan diikutinya lagi. Sehingga dengan kemenangan itu bisa memberikan senyum yang indah pula pada bibir Ibunya.

Sumaryono (berkaos merah putih).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: