Program Kelas Sore di Universitas Kehidupan

Sore tadi, saya sedang mempersiapkan paralimpian (atlet cacat) binaan saya untuk mengikuti Final Lari 400 Meter pada Pekan Paralimpik Nasional XIV (Peparnas XIV) Tahun 2012 di Pekanbaru, Riau. Paralimpian tersebut bernama Sunoto, Klasifikasi-nya masuk Class T 11 (kecacatan tuna netra / buta total).

Sehari sebelumnya, Sunoto telah meraih dua emas untuk Lari 100 Meter dan 200 Meter pada penyelenggaraan Peparnas XIV tersebut. Keikutsertaannya di nomor Lari 400 Meter sore tadi, untuk menambah pundi-pundi perolehan medali bagi Kontingen Jawa Timur. Keikutsertaan Sunoto pada nomor tersebut merupakan harapan terakhir dari Kontingen Jawa Timur untuk bisa menambah perolehan medali.

Bagi saya pribadi, apabila Sunoto berhasil meraih emas untuk nomor yang terakhir ini, maka terpenuhi sudah target yang dibebankan pada saya (bagian dari pertanggungjawaban). Besar harapan saya, Sunoto bisa berhasil menyabet emas pada nomor terakhir yang diikuti oleh Jawa Timur.

Delapan puluh menit sebelum lomba dimulai, saya menyiapkan Sunoto untuk melakukan pemanasan (warming up) terlebih dahulu. Pemanasan dilakukan bersama pendamping (guide) Sunoto, pendamping tersebut bernama Pairul. Pairul memang secara khusus diperuntukan untuk mendampingi Sunoto saat berlari (baik saat lomba, maupun saat latihan).

Satu jam rangkaian pemanasan telah dilalui, panggilan bagi paralimpian di call room untuk masuk lintasan dan memulai perlombaan telah dilakukan. Saya pun bergegas mengarahkan Sunoto dan Pairul menuju pintu masuk lintasan untuk diperiksa kelengkapannya oleh panitia pelaksana. Setelah mengarahkan mereka berdua, saya beralih menuju tribun tepat pada posisi menghadap garis finish.

Selang beberapa menit, Sunoto dan Pairul telah berada pada garis start. Saya melihat mereka berdua dari atas tribun sedang menyiapkan posisi start, mulai dari mencoba start block (berfungsi sebagai tumpuan pada saat kaki melakukan langkah pertama) hingga meluruskan tubuh dan kepala Sunoto pada arah lari.

Setelah aba-aba start mulai terdengar : ‘Bersedia’ disambung dengan ‘Siap’ dan berakhir dengan suara letusan senjata api sebagai tanda pelari boleh bergerak dan mulai berlari, saat itu saya mulai mencermati mereka. Saat melewati seratus meter pertama, lawan sudah tertinggal jauh. Terlebih saat mereka melewati jarak tiga ratus meter, saya pejamkan mata saja, mereka sudah pasti menang.

Ketegangan mulai timbul ketika lima belas meter menjelang garis finish, saya perhatikan Pairul sangat kelelahan sekali. Saya perhatikan pula, karena kelelahannya itu, Pairul menjadi kehilangan kontrol diri. Menjadi tidak sadar dan tidak bisa menguasai keadaan karena kelelahan yang luar biasa itu.

Karena kelelahan dan kehilangan kontrol diri tersebut, Pairul menjadi lupa akan ketentuan peraturan perlombaan yang mengharuskan pendamping (guide) mendahulukan paralimpian saat memasuki garis finish. Bukannya guide yang lari lebih dulu di depan paralimpian (ataupun sejajar dengan paralimpian) seperti yang telah dilakukan Pairul. Ketentuan yang ada mengharuskan paling tidak paralimpian harus berada di depan guide dengan jarak minimal tiga centimeter hingga sepuluh centimeter saat memasuki garis finish.

Keadaan ini benar-benar memberikan kepada saya sebuah tanda tanya besar terkait dengan hasil yang dicapai Sunoto. Apakah Sunoto berhak atas medali emas karena telah meninggalkan lawan cukup jauh di belakangnya (sesuai fakta yang ada di lintasan)? Apakah Sunoto dinyatakan diskualifikasi karena kesalahan Pairul yang memasuki garis finish bersamaan atau lebih dulu itu?

Sambil bertanya-tanya dalam hati, saya turun meninggalkan tribun untuk menjemput mereka di garis finish. Dari garis finish, kita menuju kembali ke call room untuk melakukan pendinginan (cooling down). Setelah selesai mengantarkan mereka di call room, saya berjalan menuju ruang pengola hasil, karena rasa ingin tahu dengan segera akan hasil yang diraih Sunoto.

Selama beberapa menit saya tongkrongin depan pintu ruang pengolah hasil, ketika ada petugas yang berjalan sambil membawa print out hasil perlombaan, saya coba untuk melihatnya. Print out tersebut menyatakan bahwa Sunoto berada di urutan yang terbawa dengan keterangan hasil DNF = Did Not Finish. Ah, hati ini terasa ‘Mak Nyess’ ketika membaca hasilnya, DNF itu pertanda Sunoto terkena diskualifikasi.

Saya pun berjalan kembali menuju call room untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Sunoto dan Pairul. Ketika saya menyampaikannya, masing-masing dari mereka memiliki respon tersendiri. Respon yang diberikan oleh Pairul adalah meratapi kesalahannya, merasa terpukul dan sangat terintimidasi sekali. Sementara respon yang diberikan oleh Sunoto seketika itu juga mengajak pulang meninggalkan venue dan kembali ke hotel tempat kita menginap.

Saya coba menenangkan keadaan, kita duduk bareng sambil diam tak berkata-kata selama beberapa menit. Setelah keadaan tenang, saya mulai sampaikan beberapa hal kepada Sunoto dan Pairul. Jika saya tulis apa yang saya sampaikan itu di sini, mungkin bisa dibuat untuk bahan khotbah tuh, melebihi isi tulisannya sendiri (tema yang sebenarnya), hehehe.

Kalau bisa saya simpulkan, inti dari yang saya sampaikan itu mengarah pada usaha saya untuk membebaskan rasa bersalah yang Pairul rasakan. Disamping itu, saya juga berusaha membawa keluar Sunoto dari rasa kecewanya. Usaha yang coba saya sampaikan (menyampaikan tentang pengertian kedaulatan Tuhan tentang menang kalah) kepada mereka itu membuahkan hasil, Pairul mulai bisa menerima keadaan yang terjadi dan menerima apa yang sampaikan sekalipun hanya dengan responnya yang mengangguk-angguk saja.

Untuk Sunoto sendiri, mulai bisa menerima keadaan yang terjadi. Terbukti sambil rebahan di lantai call room, ia memberi respon atas apa yang sudah saya sampaikan dengan mengucapkan kalimat : “Iya, Mas. Yang penting saya sudah menyelesaikan kewajiban saya. Kewajiban untuk lari dalam perlombaan, sekalipun hasilnya seperti ini.”

Terus bagaimana dengan suasana hati saya saat itu ya? Sebenarnya saat saya berusaha membawa keluar Pairul dari rasa bersalah dan berusaha membawa keluar Sunoto dari rasa kecewa, saya merasakan yang lebih dari yang mereka rasakan. Ya, saya harus merasakan kecewa, saya juga harus dengan segera mencari jawaban se-obyektif mungkin untuk bahan pertanggungjawaban saya. Karena sekalipun kesalahan itu dilakukan oleh Pairul dan Sunoto (sekalipun) di lintasan, muaranya pasti akan kembali pada saya.

Sekarang tiba giliran saya yang terdiam, saya yang jadi yang tak berkata-kata. Tahukah apa yang membawa saya keluar dari rasa yang lebih dari yang mereka rasakan? Seorang Panitia Pelaksana (panpel) dari bagian Upacara Penghormatan Pemenang (UPP) mendatangi saya dan menunjukan hasil perlombaan Sunoto yang berbeda dengan apa yang telah saya lihat sebelumnya. Ya, Panpel dari bagian UPP itu menunjuk nama Sunoto berada di urutan pertama dan meminta tolong kepada saya untuk menyiapkan Sunoto beserta Pejabat dari Jawa Timur yang akan mengalungkan medali pada saat UPP dilangsungkan.

Respon yang saya berikan pada Panpel bagian UPP itu adalah meminta tolong untuk memastikan kebenarannya terlebih dahulu, karena data yang ditunjukan pada saya, berbeda dengan data yang saya lihat sebelumnya. Saya tidak ingin membuat paralimpian saya kecewa untuk kedua kalinya : kecewa karena diskualifikasi, ditambah dengan kecewa UPP yang tidak jadi dilaksanakan karena data yang ada ternyata salah.

Setelah beberapa menit Panpel itu pergi untuk mengecek keakuratan data hasil perlombaan milik Sunoto, Panpel tersebut kembali dengan pernyataan bahwa hasil perlombaan Sunoto sebagai penyabet emas adalah benar adanya. Saat itu juga kita bergegas menuju tempat UPP, untuk melangsungkan UPP.

Wah, kok bisa ya? Padahal hasilnya tadi menyatakan Sunoto DNF? Sangat besar kemungkinan, hasil sebelumnya adalah hasil yang tidak melewati pengamatan melalui Photo Finish. Karena dengan alat itu akan bisa diketahui secara jelasnya, guide yang lebih dulu atau pelari yang lebih dulu.

Kalau saya pribadi sih, menangkap hal tersebut adalah kejutan dari Tuhan. Selera humor Tuhan kan tinggi juga, bisa becandaan seperti ini. Pairul benar-benar dibuat pucat dengan mengetahui kondisi Sunoto yang diskualifikasi, Sunoto benar-benar dibuat kecewa karena habis lari setengah mampus, eh diskualifikasi. Namun, dalam beberapa menit, keadaan dirubah jadi baik kembali. Apa itu tidak becanda namanya?

Bersyukur atas becandaan Tuhan ini, karena lewat becandaan di sore hari tadi, telah memberikan pelajaran yang berharga buat kita. Pairul benar-benar telah diajar untuk bisa mengucap syukur secara mendalam, karena telah merasakan ‘lembah kelam’ (walau hanya sesaat) dan dibawa kepada ‘bukit berkat’. Begitu pula dengan Sunoto, diajar untuk bisa menerima kedaulatan Tuhan, sekalipun kedaulatan Tuhan itu mengharuskan Sunoto kalah.

Untuk saya pribadi, sedang diajar tentang penguasaan diri. Dalam keadaan seperti itu sangat berpotensi besar, saya akan memaki Pairul (bahkan mungkin saja akan menonjoknya), mengintimidasi Pairul, marah-marah dan lain sebagainya. Mungkin juga, bisa saja saya mengungkit seharusnya sejak awal saya mempersiapkan pendamping lain yang tidak perlu melakukan kesalahan fatal seperti ini. Tapi Program Kelas Sore di Universitas Kehidupan ini telah berhasil saya ikuti dengan baik.

Bersyukur kepada Tuhan atas kemenangan Sunoto dan Tim Atletik Provinsi Jawa Timur yang telah berhasil meraih 8 Emas, 6 Perak dan 3 Perunggu pada Pekan Paralimpik Nasional XIV Tahun 2012. Sebuah pencapaian hasil dan peningkatan yang cukup berarti dibanding dengan pencapaian hasil saat Pekan Olahraga Cacat XIII (nama pagelarannya sebelum berganti nama dengan Peparnas) Tahun 2008 lalu.

Tidak sia-sia, saya telah membayar mahal untuk kemenangan ini. Ya, kemenangan ini tidaklah gratis, saya telah membayar harganya dengan kulit wajah dan tubuh yang makin gelap, hehehe. Kiranya semua pelayanan yang telah saya lakukan ini menjadi persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Sabtu, 13 Oktober 2012 – Pukul 02.10 WIB
Sudut Kamar 510 – New Hollywood Hotel
Kota Pekanbaru – Provinsi Riau

Dari kiri ke kanan : Roy Soselisa, Sunoto dan Pairul.

Sunoto (berkaca mata hitam) dan Pairul (berkaos lengan panjang warna biru).

1 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Meninggalkan Semua Kemewahan « Roy Soselisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: