Meninggalkan Semua Kemewahan

Standing ovation saya berikan bagi Panitia Besar Pekan Paralimpik Nasional XIV (Peparnas XIV) Tahun 2012 di Pekanbaru, Riau yang berakhir tanggal 15 Oktober 2012 lalu. Standing ovation saya berikan atas semua kemewahan yang telah diberikan kepada kontingen (official dan atlet) dari seluruh Indonesia.

Ya, selama sepuluh hari kami merasakan semua kemewahan yang telah diberikan Panitia Besar Peparnas XIV. Kemewahan itu nampak mulai dari akomodasi, konsumsi dan transportasi. Sangat berbeda dengan keadaan yang terjadi pada saat PON XVIII Riau 2012 lalu. Mungkin dari PON XVIII itulah, mereka mulai belajar banyak hal, mungkin juga mereka lebih siap dengan Peparnas XIV yang jumlah kontingennya (official dan atlet) tidak sebesar PON XVIII. Semoga Islamic Solidarity Games (ISG) 2013 yang akan dilangsungkan di tempat yang sama, mendapat sukses yang serupa seperti pelaksanaan Peparnas XIV.

Awal mula sebelum saya berangkat mengikuti Peparnas XIV, saya membayangkan keadaan yang sama dengan yang terjadi pada saat PON XVIII lalu. Saya pun hanya membawa perlengkapan seadanya, karena jika melihat berita, kondisi di sana akan sangat memungkinkan untuk bersusah-susah, membawa perlengkapan banyak akan makin menambah derita (pikir saya saat itu). Namun, hal itu tidak terbukti sejak hari pertama tiba hingga berakhirnya Peparnas XIV.

Akomodasi yang diterima oleh semua kontingen dari seluruh Indonesia bertempat di hotel berbintang tiga, dengan pembagian setiap kamar berisi dua orang (sesuai dengan kapasitas kamar). Meski sebenarnya yang terjadi pada saya (khusus cabang olahraga atletik yang saya handle) saat itu dengan jumlah atlet dan official sebesar 21 orang hanya mendapatkan jatah 10 kamar, tetaplah bukan menjadi masalah yang besar.

Karena sekalipun saya sendiri yang harus berkorban : berada dalam satu kamar dengan isi tiga orang di dalamnya, tanpa tambahan bantal dan selimut, hanya beralaskan papan dan kayu penyangga spring bed (pada saat itu saya tidak terpikir untuk meminta tambahan bantal dan selimut, karena fokus saya hanya pada perlombaan, selama atlet sudah terkondisikan dengan baik, sudah cukup bagi saya). Kemewahan tetaplah bisa saya rasakan, tidak mengurangi kemewahan fasilitas lainnya seperti kamar mandi dalam (lengkap dengan kran shower panas dingin), televisi dengan banyak saluran luar negeri, akses internet gratis, kulkas, pemanas air, ruangan ber-AC, minuman (kopi dan teh lengkap dengan gula) yang selalu tersaji setiap harinya di dalam kamar, dll, dsb.

Kemewahan lain yang bisa kami rasakan dalam hal konsumsi, menu makanan yang tersaji setiap harinya sebanyak tiga kali, (menurut saya) sudah melampaui menu empat sehat lima sempurna. Mungkin bisa disebut menu empat kali empat sehat sama dengan enam belas sempurna (hehehe, terlalu banyak pilihan menunya sih). Setiap harinya selalu menggunakan sistem prasmanan, atlet dan official bebas ambil sebanyak-banyaknya dan apapun menu yang disajikan. Sempat beberapa kali menggunakan kotakan (dikemas dalam kardus makan) karena ada sebagian yang harus makan siang di lapangan, tetap saja tidak mengurangi kemewahan menunya.

Dalam hal transportasi juga berlaku hal yang sama, angkutan yang membawa kontingen dari penginapan menuju venue tempat dilangsungkan perlombaan (begitu juga kembalinya), menggunakan bus pariwisata full AC dan musik. Belum lagi ditambah dengan pengawalan dari Aparat setempat untuk menghindari kemacetan Kota Pekanbaru.

Kini, semua kemewahan itu telah kami tinggalkan. Dua hari menjelang kepulangan kami, saya mendengar beberapa atlet dan official mengucapkan (pujian) apresiasinya terhadap kerja Panitia Besar Peparnas XIV. Apresiasi atas kemewahan yang telah dirasakan selama sepuluh hari, dibalik apresiasi itu beberapa diantaranya ada yang bercanda kalau sebentar lagi kita semua kembali jadi orang susah, selama sepuluh hari merasakan AC, sebentar lagi kipas angin pun mungkin tidak ada, dll, dsb. Saya sendiri sering meledek mereka (dalam bahasa jawa) ketika bercanda seperti itu : “Sebentar lagi kita semua menjadi rakyat jelata kembali, semua akan kembali berjuang dalam kehidupannya masing-masing.”

Kebiasaan sehari-hari selama sepuluh hari terakhir (jika tidak ada jadwal perlombaan) adalah makan, tidur, santai dalam kamar dan jalan-jalan keliling Kota Pekanbaru. Kini, kemewahan itu tidak dijumpai kembali. Kerasnya kehidupan akan kembali dirasakan, salah dua contohnya adalah dua atlet (ditambah satu lagi dengan pendamping) binaan saya yang beberapa waktu lalu sempat saya buatkan catatan untuk menceritakan pengalamannya.

Sumaryono peraih medali perak Lari 200 Meter T 35-36 Putra (https://roysoselisa.wordpress.com/2012/10/10/sumaryono-adidas/) akan kembali pada kehidupan sehari-hari membantu Ibunya berjualan nasi pecel. Sunoto peraih medali emas pada Lari 100 Meter, 200 Meter dan 400 Meter T 11 Putra (https://roysoselisa.wordpress.com/2012/10/13/program-kelas-sore-di-universitas-kehidupan/) akan kembali pada kehidupan sehari-harinya menjadi tukang pijat tuna netra. Begitu pula dengan pendamping Sunoto, akan kembali merasakan perjuangan dalam bekerja (mengajar di banyak tempat dan melakukan pekerjaan serabutan lainnya) untuk bertahan hidup.

Mungkin bisa saja mereka saat ini masih bersantai sejenak, belum kembali melanjutkan kegiatan sehari-harinya. Karena uang saku yang diterima lalu masih cukup untuk digunakan bertahan hidup hingga beberapa bulan ke depan. Namun, cepat atau lambat, uang saku itu pasti akan habis. Sekalipun uang reward (yang nominalnya lebih besar dari uang saku) bagi atlet berprestasi peraih medali akan keluar nantinya, tetap akan ada waktunya untuk habis. Mau tidak mau, semua yang pernah merasakan kemewahan terkait dengan pelaksanaan Peparnas XIV ini, akan kembali berjuang dalam kehidupan sehari-harinya.

Berbicara tentang kemewahan, sama halnya berbicara tentang kebiasaan. Bagi kami, tidak terlalu shock dan sulit ketika harus meninggalkan kemewahan Peparnas XIV Riau 2012. Karena kami lebih terbiasa dengan kesederhanaan yang telah kami jalani selama ini, daripada terbiasa dengan kemewahan yang hanya dirasakan selama sepuluh hari saja.

Catatan di atas mengingatkan saya akan Satu Pribadi yang hidup di dunia ini dua ribu tahun yang lalu. Satu Pribadi yang melekat (kekal) dengan kemewahan, terbiasa sejak semula (kekekalan) hidup dalam kemewahan. Tentunya tidak mudah untuk meninggalkan semua kemewahan yang melekat itu (saat orang kaya jatuh miskin saja, bisa gila dan telanjang di jalanan), tidak mudah untuk turun ke dunia dengan meninggalkan semua kemewahan yang ada di Sorga.

Namun, Satu Pribadi itu rela meninggalkan semuanya. Rela menyangkal diri, rela meninggalkan semua kemewahan dengan segala konsekuensi, rela menanggung segala konsekuensi dari dosa umat manusia yang keji. Semua itu dipilih-Nya, supaya kita semua yang hina tetap bisa merasakan kemewahan di Basileia, supaya kita semua yang berdosa tetap bisa mengenakan mahkota di Kerajaan Sorga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: