Saat kematian datang merupakan pertanda awal kehidupan baru yang lebih indah telah datang.

Cukup banyak diantara kita yang mengharapkan mujizat. Dalam setiap doa-doa kita, selalu tidak lupa dengan agenda memohon mujizat agar terjadi dalam hidup ini. Tanpa disadari, sebenarnya hidup yang kita jalani ini merupakan mujizat itu sendiri. Tanpa diminta pun, setiap kita sudah mengalami dan hidup dalam mujizat-mujizat Tuhan.

Contoh misal ketika kita berada di jalan raya, melakukan mobilitas sehari-hari, entah pergi ke tempat kerja, ke pusat perbelanjaan, dll, dsb. Saat kita keluar dari rumah hingga bisa tiba kembali dengan selamat di rumah tanpa ada kendala apapun, saat itulah mujizat sudah terjadi pada kita. Tanpa adanya mujizat, potensi pulang hanya tinggal nama sangat besar kemungkinannya.

Mujizat dalam bentuk penyertaan Tuhan semacam itulah yang saya alami dua minggu terakhir ini. Selama dua minggu terakhir, saya menempuh rute Surabaya – Madura – Surabaya. Saat sore hari selepas saya bekerja, saya berganti pakaian di rumah dan istirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Madura.

Setibanya di Madura, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan. Pekerjaan itu terkait dengan kepentingan kemanusiaan. Saya sedang menyiapkan beberapa dokumen yang sifatnya penting dan mendesak untuk kepentingan kemanusiaan itu.

Saya harus mengerjakannya di Madura, karena yang memiliki kapasitas untuk menandatangani dokumen yang sedang saya persiapkan itu, berdomisili di Madura. Lagi pula dalam mengkoordinasikan sesuatu hal terkait dengan pengerjaan dokumen tersebut, akan lebih mudah jika bertatap muka langsung dengan yang bersangkutan.

Sebenarnya yang memiliki kapasitas untuk menandatangani dokumen tersebut, telah mempercayakan sepenuhnya kepada saya untuk dikerjakan, tinggal terima jadi saja. Namun, saya lebih memilih mengerjakannya berdampingan, karena dengan berdampingan bisa saling melengkapi saat ada kurang lebihnya.

Kelengkapan data pendukung dari dokumen, saya selesaikan satu minggu pertama. Kemudian untuk isi redaksi dokumen (terkait dengan surat kedinasan, dsb), saya selesaikan satu minggu berikutnya. Pengerjaan dari isi redaksi inilah yang membutuhkan koordinasi lebih mendalam, setiap saya selesai mengerjakan satu halaman, saya meminta yang bersangkutan untuk langsung memeriksanya. Jika ada yang kurang, saya kerjakan saat itu juga sebelum beranjak ke halaman berikutnya.

Seringkali saat mengerjakan bagian dari isi redaksi dokumen, berakhirnya tengah malam. Masalahnya adalah saya harus kembali ke Surabaya setelah pengerjaan dari isi redaksi dokumen (yang saya cicil) selesai. Saya sendiri yang memutuskan untuk kembali ke Surabaya saat itu juga (terakhir kalinya saya pulang dini hari), saya lebih memilih langsung pulang tanpa menginap, karena keesokan harinya harus kembali bekerja.

Di sinilah mujizat Tuhan itu nyata, penyertaan Tuhan terhadap saya benar-benar nyata. Saat tengah malam (sempat sekali saya pulang dini hari), saya bisa melajukan motor kembali ke Surabaya tanpa ada suatu kendala apapun. Secara akal manusia (yang dipenuhi kekuatiran), mungkin akan memperhatikan kemungkinan ban bocor.

Ya, kemungkinan ban bocor bisa membuat saya menderita apabila benar-benar terjadi. Jalanan yang saya lalui sepanjang berkilo-kilometer tidak ada pencahayaan, hanya mengandalkan pencahayaan dari lampu motor dan terkadang pencahayaan dari lampu mobil atau truk yang bersamaan lewat. Pemukiman penduduk pun tidak ada di sepanjang tepian jalan yang saya lalui itu, hanya hamparan sawah yang luas.

Apa cukup dengan kemungkinan ban bocor? Tentu tidak cukup dengan kemungkinan buruk itu saja, masih ada kemungkinan lain yang akan menimpa saya yaitu kemungkinan tertimpa kejahatan. Tiga minggu lalu pada rute yang biasa saya lalui (sudah memasuki wilayah Surabaya) untuk pulang ke rumah, sempat terjadi perampasan motor secara paksa.

Berita perampasan tersebut sempat dimuat koran lokal Surabaya. Saat itu korban dikepung oleh delapan orang, masing-masing berboncengan menggunakan empat sepeda motor. Salah satu orang yang berboncengan tersebut menyabetkan pedang ke arah helm korban hingga terbelah menjadi dua. Singkat cerita, korban tak sadarkan diri dengan luka-luka di beberapa bagian tubuh saat ditolong warga sekitar untuk dilarikan ke Rumah Sakit.

Penyertaan Tuhan benar-benar telah saya alami, tanpa saya minta pun, tanpa saya memasukan ke dalam agenda untuk dibawa ke dalam doa pun, Tuhan sudah mengerjakan mujizat-Nya, karena Tuhan lebih tahu tentang kita. Kerjakan saja dengan baik semua hal yang menjadi bagian kita, Tuhan yang akan mengerjakan bagian-Nya dan bagian yang kita tidak mampu (menjauhkan diri dari ban bocor dan kejahatan).

Terlepas dari ‘benang merah catatan’ tentang mujizat yang sudah saya sampaikan di atas. Apakah dengan mengetahui adanya jaminan hidup dalam mujizat, sudah cukup membuat saya bernyali? Membuat saya tak takut sedikit pun menempuh perjalanan Madura – Surabaya pada tengah malam (dan dini hari)? Jangan menyangka saya robot yang berhati baja, saya sempat sekali ciut nyali dalam perjalanan tengah malam.

Namun, ciut nyali itu sirna ketika saya mengingat teladan yang telah Kristus berikan, teladan yang telah diikuti pula oleh Paulus semasa hidupnya. Teladan untuk memberikan hidup bagi orang lain (sesama), bagi orang-orang yang Tuhan pertemukan kepada kita. Lewat teladan itu, saya turut menerapkan : “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.”

Selagi saya hidup, saya akan gunakan hidup ini untuk melayani Kristus lewat pelayanan (memberikan tenaga dan buah pikiran) yang ditujukan bagi kepentingan kemanusiaan. Melayani Tuhan lewat melayani manusia, karena mustahil melayani Tuhan tanpa pernah melayani manusia.

Jika yang kita layani adalah Tuhan, maka sekalipun diri kita yang menjadi taruhannya, bukanlah sebuah kendala dan bencana. Pemahaman itu yang seringkali membuat nyali saya bertambah, karena mati bagi orang percaya merupakan sebuah keuntungan. Saat kematian datang, maka awal kehidupan baru yang lebih indah bersama Kritus telah datang.

From Him and through Him and to Him are all things. To Him be the glory forever.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: