Sebuah Refleksi Malam Satu Suro

Sebulan terakhir cukup banyak undangan nikah berdatangan, hal tersebut terjadi karena cukup banyak orang dan budaya (khususnya Budaya Jawa yang saya ketahui) yang meyakini akhir Tahun Hijriyah merupakan hari baik sebelum datangnya bulan Suro (berganti tahun) untuk mengadakan pesta seperti resepsi pernikahan.

Ada sebuah refleksi berarti dibalik banyaknya undangan nikah yang berdatangan. Banyaknya undangan yang berdatangan dan resepsi pernikahan yang dilangsungkan, membuat sebagian orang menyebutnya sebagai parade. Ya, parade yang memerlukan ‘tiket masuk’ bagi penonton yang akan menyaksikannya.

‘Tiket masuk’ yang diperlukan bagi penonton itulah yang menjadi point refleksi dalam catatan ini. Berdasarkan pengalaman sebulan ke belakang, cukup banyak orang yang mendedikasikan gaji-nya selama satu bulan penuh hanya untuk ‘tiket masuk’ tersebut.

Tiket masuk dalam resepsi pernikahan lebih tepat disebut dengan kata buwuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata buwuh adalah uang atau bahan yang diberikan oleh tamu kepada tuan rumah sebagai sumbangan untuk suatu upacara atau pesta. Karena sifatnya sebagai sumbangan, maka ‘harga tiket masuk’ pun tidak ditentukan, terserah tamu mau ngasih berapa-berapanya.

Namun, jika kita perhatikan (entah sadar atau tidak). Ajang resepsi pernikahan, kerap kali dijadikan ajang yang sarat kepentingan bagi tamu kepada tuan rumah. Cukup banyak tamu yang datang dan memberikan buwuh dengan tujuan pamrih. Bahkan motivasi dari sebagian besar tamu pun (saya sering mendengarnya), berangkat dengan tujuan “lek onok butuhe sek enak.”

Jika saya artikan dalam Bahasa Indonesia, makna motivasi itu kira-kira seperti berikut : kalau ada keperluan apapun dengan tuan rumah (umumnya untuk kepentingan yang linier) di kemudian hari supaya mudah, karena kita sudah pernah datang dalam pestanya. Motivasi inilah yang menyebabkan tamu memberi buwuh dalam jumlah besar (terbaik menurut ukurannya) dan dimasukan ke dalam amplop bertuliskan keterangan lengkap dari mana amplop tersebut berasal.

Apapun motivasi tamu, apapun nilai yang sedang dibangun saat menghadiri resepsi pernikahan, itu semua merupakan hak pribadi setiap orang. Namun, saat saya menerima undangan resepsi pernikahan, saat saya menghadiri dan memperhatikan banyaknya tamu yang berdatangan dalam sebuah pesta pernikahan, yang ada dalam benak saya adalah munculnya beberapa pertanyaan.

Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali saya ‘obrolkan’ dengan diri saya sendiri. Kita pasti dengan mudah bisa memberikan buwuh dalam jumlah yang besar saat menghadiri sebuah pesta pernikahan, karena identitas kita bisa diketahui dari amplop yang mengemasnya dan sarat dengan kepentingan dibalik itu.

Namun, apakah kita tetap bisa memberi (semacam) buwuh saat menghadiri kematian seseorang? Apakah kita tetap bisa memberi (semacam) buwuh saat mengunjungi rekan kita yang sedang sakit? Apakah jumlah yang diberikan sama besar sekalipun amplop yang mengemasnya tak tertulis identitas kita di dalamnya? Apakah kita tetap bisa memberi dengan sepenuh hati sekalipun mengetahui fakta tak mungkin buwuh kita bisa dibalas oleh tuan rumah?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang kemudian saya bedah (jawab) dalam benak saya, dan hasil pembedahannya akan saya perkatakan pada diri sendiri untuk (coba) diterapkan.

Pembedahan yang ada dalam benak saya biasanya seputar hal-hal berikut : Saat seseorang akan menikah, pasti akan lebih siap segalanya. Termasuk lebih siap dalam hal dana, dalam artian seseorang itu telah menyiapkan sebaik mungkin dana untuk pesta pernikahannya.

Bahkan ada sebagian orang yang selama masa bujangnya bekerja keras mengumpulkan pundi-pundi uang hanya untuk menggelar pesta pernikahannya, prinsipnya sekali seumur hidup sih, jadi ya harus semeriah mungkin digelarnya.

Lalu pertanyaannya, jika kita memberikan buwuh dalam jumlah besar pada pesta pernikahan yang memiliki kekuatan dana semacam itu, apakah bisa dirasakan manfaatnya yang begitu besar juga? Kalau pesta pernikahan itu digelar dari uang hutang sih, mungkin akan berguna dan dirasakan besar manfaatnya.

Meskipun sebenarnya berhutang untuk pesta pernikahan adalah sebuah kekonyolan (menurut saya), karena pernikahan bukan hanya sebuah resepsi atau pesta. Kehidupan setelahnya (berumah tangga) masih jauh membutuhkan banyak biaya.

Jika kita sedikit cerdik dalam memberi, termasuk dalam hal buwuh. Pasti kita akan bisa melihat bahwa buwuh untuk kematian atau seseorang yang sakit, jauh lebih berarti manfaatnya daripada buwuh untuk pesta pernikahan. Karena saat kematian datang, tidak ada seorang pun yang merencanakannya. Termasuk dalam hal dana untuk pemakaman, peti mati atau kain kafan, dll, dsb.

Sama halnya saat sakit melanda, tidak seorang pun yang tahu kapan akan tiba waktunya dan mempersiapkan diri akan hal itu. Termasuk mempersiapkan diri dalam hal dana untuk perawatan di Rumah Sakit, obat-obatan, dll, dsb. Tidak semua orang dilindungi dengan asuransi kesehatan dan kematian, bisa dibayangkan seberapa kesulitannya (keluarga dari) orang-orang tersebut, saat hal seperti itu menimpanya.

Dari sedikit pembedahan semacam itulah mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa tidak membedakan besaran pemberian (semacam buwuh) untuk kepentingan pesta pernikahan dengan kepentingan seseorang yang sedang dilanda musibah kematian atau sakit. Jauh lebih bijaksana lagi, jika nominalnya lebih besar dari yang diberikan (hanya) untuk sebuah pesta pernikahan.

Bukan malah sebaliknya, untuk pesta pernikahan bisa memberi buwuh sebesar mungkin, tapi untuk kematian dan sakit seseorang hanya pemberian yang ala kadarnya. Bahkan yang sering terjadi untuk dana kematian dan sakit seseorang hanya dijalankan sistem iuran yang nominalnya jauh dari layak, bukan menggunakan sistem yang sama seperti buwuh pada pesta pernikahan yang nominalnya layak.

Kiranya catatan ini bisa menjadi refleksi di kemudian hari untuk berbagi dan memberi. Melalui kesempatan ini juga, saya sebagai pemuda yang berlatar belakang CINA, mengucapkan : Selamat Tahun Baru 1434 Hijjriyah bagi saudara-saudaraku Muslim dan Selamat Tahun Baru Satu Suro bagi saudara-saudaraku dari Suku Jawa.

NB (nambah) : CINA merupakan kepanjangan dari Cakep Item Nyong Ambon. Lebih tepatnya saya CINA yang manis. Hahaha.đŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: