Dunia Nyata Bukan Hanya Kata-Kata dan Angka di Ijazah

Dua hari libur cuti bersama ini, saya dedikasikan waktu yang ada untuk mengerjakan nilai murid-murid saya. Tiga minggu terakhir saya telah melakukan tes psikomotor dari beberapa kriteria yang ada, namun hasilnya belum direkap sesuai norma yang saya tetapkan dengan catatan prestasi yang telah mereka raih.

Dalam dua hari inilah, saya mengerjakan itu semua. Selain mengerjakan nilai mereka yang tersebar di enam kelas, saya juga menyiapkan undangan dan blanko pendaftaran untuk sebuah kejuaraan di bulan Desember mendatang. Tentunya saya juga tidak lupa untuk memanjakan diri dengan tidur siang (tadi sore tembus hingga tiga jam euy, hehehe), karena hal itu merupakan sebuah kemewahan yang tidak mungkin bisa dilakukan saat hari biasa.

Rencana kegiatan saya dalam libur dua hari ini, sudah saya agendakan sejak minggu lalu. Namun, agenda kegiatan libur saya kemarin malam jadi agak sedikit berbeda sesuai rencana, karena kedatangan teman lama saya ke rumah. Teman lama yang menghabiskan waktu bersama saat masih duduk di bangku SMP dan SMA yang sama dengan saya.

Sempat terkejut juga dengan kedatangan teman lama saya tersebut, karena lebih dari tiga tahun kami tidak berjumpa dan sebelumnya pun tidak pernah membuat janji. Teman saya hanya berspekulasi, barangkali liburan seperti kemarin saya ada di rumah. Karena saat hari biasa, akan sangat sulit untuk bisa menemui batang hidung saya, sekalipun di rumah (Cieee, sok sibuk banget ya? Beneran sibuk atau nggak mau ditemuin neh? Hehehe).

Setelah saya mempersilahkan masuk ke dalam rumah, saya menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk kami berdua. Obrolan kami awali dengan saling menanyakan kabar, lalu berlanjut dengan nostalgia semasa SMP. Kami mengingat saat-saat pulang sekolah bareng sambil mengayuh sepeda angin (onthel), rute jalan yang dilalui saat itu pun juga kami kenang kembali.

Masih teringat jelas ketika kami pulang sekolah melewati Kampus B – Universitas Airlangga, saling bercanda dan menunjuk gedung yang akan menjadi kampus kami kelak (saya dulu sempat menunjuk gedung Fakultas Hukum dan FISIP). Teringat juga di mana titik kami harus berpisah, karena jalan menuju rumah kami masing-masing berbeda. Titik itu adalah sebuah toko yang berada di Pasar Karang Menjangan, Surabaya. Teman saya berhenti untuk membeli barang dagangan (kulakan) yang akan dijual Ibu-nya di rumah dan saya melanjutkan perjalanan pulang.

Makin lama obrolan kami pun makin seru, masing-masing kami menceritakan tentang banyak hal yang telah terjadi selama tidak pernah berjumpa. Ada bagian yang menarik dari cerita teman saya, hingga menggerakan saya untuk menulisnya dalam catatan ini. Teman saya menceritakan bahwa enam bulan lalu dirinya baru saja diangkat sebagai Supervisor Keuangan di sebuah perusahaan jasa ekspedisi milik salah satu pentolan partai politik besar di Indonesia.

Bagian menariknya adalah teman saya tersebut hanya lulusan SMA, jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya, selepas SMA lebih memilih bekerja sebagai kurir ekspedisi untuk membantu meringankan beban orang tua dalam membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Tahun ketiga berkarier sebagai kurir, teman saya diberi kesempatan oleh pimpinan perusahaan cabang Surabaya untuk menjadi staf perusahaan di bagian keuangan. Satu setengah tahun berada dalam posisi staf telah mengantarkannya pada posisi Supervisor.

Cukup banyak kandidat dari beberapa staf yang ada untuk menduduki posisi itu, tentunya dengan latar belakang pendidikan yang jauh lebih baik pula (sarjana). Namun, hanya teman saya yang terpilih karena kinerjanya selama ini. Ketika teman saya bertanya dengan keheranan dan menyatakan tidak berani untuk menduduki posisi itu, ketika itu juga pimpinan meyakinkan bahwa dirinya pasti mampu. Karena pimpinan telah memperhatikan sikap dan tanggung jawabnya selama bekerja dalam perusahaan.

Enam bulan yang lalu, pimpinan cabang Surabaya setelah berkoordinasi dengan pusat, menyediakan tiket pesawat Surabaya-Jakarta (PP) untuk teman saya mengikuti training bersama dengan Supervisor lain dari cabang yang tersebar di Indonesia. Dari delapan peserta training, hanya teman saya yang berlatar belakang pendidikan SMA (lainnya sarjana). Hasilnya, sepulang dari training hingga akhir bulan lalu dengan posisinya yang baru, kinerja teman saya mulus-mulus saja. Meskipun ada sedikit konflik intern (maklum ‘orang baru’ kan diragukan), tapi hal itu tidak terlalu mempengaruhi.

Pengalaman teman saya tersebut, benar-benar mengingatkan saya. Bahwa tidak ada yang perlu disombongkan dengan prestasi akademik kita, tidak ada yang perlu disombongkan dengan gelar yang mengikuti nama kita. Dalam hidup ini, kerap kali saya berjumpa dengan pribadi yang pongah, merasa paling hebat dengan prestasi yang telah diraih selama duduk di bangku kuliah. Lebih parahnya lagi dalam kepongahannya itu, jadi merendahkan orang lain.

Menganggap orang lain yang tidak berasal dari kampus yang sama bagus dengan kampus asalnya (misal Terakreditasi A), maka orang tersebut lebih bodoh darinya, tidak mampu melakukan hal apapun. Menganggap dengan Indeks Prestasi Kumulatif terpuji yang dimiliki, lalu membuatnya merasa terbang di atas awan-awan dan menganggap orang lain hanya mampu berjalan di dasar comberan.

Rasa percaya diri dengan kepongahan (angkuh) diri itu beda-beda tipis. Percaya diri karena prestasi akademik, lalu menjadikan seseorang lebih berani dan tidak minder dalam menghadapi dunia nyata (kerja), itu namanya hebat. Tapi pada saat percaya diri menjadikan seseorang memiliki pandangan bahwa dengan prestasi akademiknya jadi merasa yang paling hebat, menganggap orang lain tidak lebih hebat darinya, maka pada saat itulah percaya diri berubah menjadi angkuh diri.

Cerita teman saya tersebut membuktikan, bahwa menghadapi dunia nyata tidak cukup hanya dengan kata-kata dan angka yang ada dalam ijazah saja. Karena kata-kata dan angka itu bisa saja di dapat dari kedekatan mahasiswa dengan pengajar semasa kuliah. Karena tak jarang menjumpai mahasiswa yang menjilat sedemikian rupa kepada pengajar, supaya bisa mendapatkan nilai tambahan. Dalam ini bukan berarti semua pengajar bisa dijilat, karena tidak semua pengajar bisa terpengaruh, masih banyak pengajar yang berintegritas dan mampu bersikap objektif.

Kata-kata dan angka dalam ijazah ternyata tidak selamanya menjadi jaminan untuk bisa menghadapi dunia nyata. Bukti telah ada bahwa dengan tertuju dan melekat kepada Tuhan, selalu menganggap Tuhan ada dalam setiap pilihan untuk segala tujuan, maka Tuhan akan berkenan. Namun, sekalipun kata-kata dan angka dalam ijazah bukan jaminan, pendidikan tetaplah penting.

Saya pribadi dalam obrolan dengan teman saya sempat menyampaikan supaya teman saya mengembangkan kapasitasnya dengan kuliah, supaya semua potensinya tergali, persaingan dalam waktu ke depan juga pasti akan terjadi. Saya pun sempat memberikan referensi tempat kuliah yang bisa dijalani sambil bekerja, ditempuh saat malam hari atau dengan cara memadatkan jam tatap muka dalam dua hari (Sabtu-Minggu). Karena bagaimanapun juga, masa depan adalah milik orang-orang yang mempersiapkan hari ini untuk pendidikan.

Jangankan kita, Yesus pun yang Mahu Tahu rela merendahkan diri untuk memberikan teladan kepada kita dalam hal pendidikan. Karena Yesus juga melewati jenjang pendidikan dasar hingga tertinggi pada masa itu. Alkitab telah menyampaikan secara implisit bahwa Yesus telah menempuh pendidikan itu.

Untuk seorang yang boleh dipanggil Rabi (seperti Yesus) harus melewati pendidikan para imam terlebih dahulu, jenjang pendidikannya dinamakan Bet Midrash. Hanya mereka yang menyelesaikan jenjang pendidikan Bet Midrash yang diperbolehkan mengajar di muka umum atau Bait Allah. Bet Midrash kalau jaman sekarang seperti Sekolah Tinggi Teologi gitu (setingkat Perguruan Tinggi).

Bet Midrash harus ditempuh selama sepuluh tahun (usia 20-30 tahun). Sebelum mengikuti Bet Midrash, tentunya harus menyelesaikan pendidikan wajib belajar terlebih dahulu, sama seperti jaman sekarang ada jenjang SD hingga SMA. Budaya saat itu sudah ketat, mengharuskan anak masuk jenjang pendidikan dasar sejak usia 5 tahun, jenjang pendidikannya dinamakan Mikra (membaca taurat).

Yesus telah menghabiskan waktu-Nya dengan belajar, belajar dan belajar (pendidikan). Waktu Yesus lebih banyak dihabiskan di bangku sekolah, sejak usia 5 tahun s.d 30 tahun. Mulai masuk ke dalam dunia pelayanan (mengajar) pada usia 30 tahun hingga 33 tahun, setelah itu memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia.

Waktu belajar yang cukup lama, hanya untuk masa pelayanan yang begitu singkat (namun membawa jiwa dan dampak yang besar bagi kekekalan). Hal itu menunjukan teladan untuk bersungguh-sungguh mengerjakan apa yang sudah menjadi panggilan kita. Terus belajar tanpa henti, sekalipun ajal yang ditentukan telah mendekati.

Relevansi dari cerita teman saya di atas dengan pribadi pongah yang kerap saya jumpai dan teladan yang telah Yesus beri. Mengantarkan saya pada kesimpulan (mengombinasikan relevansi yang ada) : Terus belajar tanpa henti, tetap rendah hati dan selalu menganggap Tuhan ada dalam setiap pilihan untuk segala tujuan.

NB :

1. Belajar tanpa henti = terus mengupdate ilmu pengetahuan pada bidang yang kita tekuni.

2. Menganggap Tuhan ada = mengandalkan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: