Rencana Indah Bagi Setiap Anak-Nya

*Catatan tersebut saya dedikasikan untuk seorang kawan yang saat ini sedang berada di udara dalam perjalanan dari Kota Surabaya menuju ke Kota Manado, Sulawesi Utara.*

 

Masih teringat jelas saat-saat kita mengikuti pelajaran agama gabungan siswa satu komplek Sekolah Dasar Negeri (SDN) dimana kita menempuh pendidikan dasar bersama. Masih sama-sama culunnya, masih sama-sama sering keluar ingusnya.

Saat menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), kita tidak pernah berjumpa lagi, karena kita berada di SMP Negeri yang berbeda. Namun, saya mengetahui dengan pasti sekolah mana yang kau tuju pada saat itu, karena teman sebangku saya saat SD (yang meninggal dua tahun lalu karena mengemudikan motor dalam keadaan mabuk) juga berada di sekolah yang sama.

Tiga tahun berlalu, kita berjumpa lagi pada saat daftar ulang masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan gayaku yang sok kenal sok dekat, coba menyapamu pada saat itu. Jujur, ada bangga dan ada terharunya waktu kita bisa berada di sekolah yang sama pada saat itu.

Gimana tidak bangga dan terharu, produk ABG seperti kita yang tumbuh besar di lingkungan perumahan dengan pergaulan yang akrab dengan minuman keras, peredaran narkoba, perkelahian dan tindak kriminal lainnya. Namun, mampu melawan arus (lebih tepatnya Tuhan yang menjagai kita dalam pergaulan kali ya?) dan bisa masuk SMA Negeri favorit yang ada di Surabaya ini.

Masih teringat jelas saat awal tahun pelajaran baru, kita pulang sekolah bareng naik angkot. Meskipun pada saat itu kita beda kelas, kita saling tunggu untuk pulang bareng. Masih teringat jelas juga saat kita harus jalan kaki lumayan jauh setelahnya turun dari angkot, lengkap dengan obrolan ngalor ngidul (ke utara ke selatan) yang tercipta diantara kita.

Setengah tahun berjalan, rutinitas naik angkot pun mulai berkurang. Karena pada saat itu sebuah Motor Cina (mocin) hadiah dari ebesmu (bokapmu) kita gunakan sebagai kendaraan pergi ke sekolah dan pulang dari sekolah. Terima kasih untuk saat-saat itu kawan, karena telah setia menjemputku setiap pagi dan mengantarku pulang kembali ke rumah dengan selamat.

Sebenarnya ada cerita menarik dari kebiasaan setiap pagi kau menjemputku. Masih ingatkah kau dengan tawaran yang selalu Mamaku tawarkan setiap pagi pada saat itu : “Sudah sarapan?” Bagian menariknya ada dari jawaban yang kau berikan : “Sudah, Te. Pake tempe goreng dan nasi anget.” Jawaban itu yang selalu diberikan hampir setiap kali tawaran diajukan.

Mamaku hingga saat ini, setiap kali aku membawa cerita tentang dirimu pulang ke rumah. Selalu memberikan respon : “Wis sukses saiki rek, padahal mbiyen sarapane tempe. (Sudah sukses sekarang, padahal dulu sarapannya tempe).” Hehehe, Mama saya memberikan respon dengan gaya bercandanya gitu.

Masih teringat ketika belum lama rutinitas kita naik motor bersama, suatu waktu dirimu sakit dan minta tolong supaya aku yang bawa motornya. Dengan penuh keberanian aku mencobanya, tapi apa daya pada saat baru beberapa meter motor berjalan, diriku sudah tidak mampu mengemudikannya dengan baik. Maklum, kan belum bisa naik motor pada saat itu? Ujung-ujungnya dirimu yang mengambil alih kemudinya dengan menahan rasa sakit menuju ke rumah.

Berangkat dari peristiwa itu, di kemudian hari saat berangkat maupun pulang dari sekolah, aku pun mulai belajar untuk mengemudikan motor. Terima kasih untuk saat-saat itu, aku jadi terlatih mengemudikan motor karena kesempatan belajar yang didapatkan saat kita pergi dan pulang bersama dari sekolah.

Waktu terus berlalu (ditulis di sini juga enggak ya bagian yang ini? Hehehe), rupanya gejolak kawula muda mulai tumbuh dalam hatimu. Tisam-tisam (titip salam) pun kerap dilakukan untuk seorang wanita yang berada satu kelas denganku. Hingga tiba saatnya, gejolak kawula muda itu meningkat dari sekedar tisam berlanjut ke pacaran.

Hikz hikz hikz, aku merasa kehilangan dirimu saat itu, karena rutinitas baru mulai dijalani. Jika tadinya saat pulang sekolah, kita langsung pulang bersama. Namun kini, semuanya menjadi berubah, rutinitas langsung pulang ke rumah ditunda untuk berdua lebih dulu dengan sang pujaan hati.

Diriku pun jadi kesepian karena harus seorang diri jalan kaki di tengah terik sinar matahari dan bengong seorang diri dalam angkot. Ingin rasanya kubenturkan kepala ini ke body angkot yang kutumpangi. Sek ta lah, kok tulisanku dadi lebay ngene yo? (Tunggu sebentar, kok tulisan saya jadi lebay gini ya?) Hahaha.

Saat pulang kita boleh tidak bersama, namun saat pagi hari dirimu masih tetap setia menjemputku hingga akhir semester satu di kelas dua SMA. Karena tepat memasuki semester kedua di kelas dua SMA, motor honda bebek baru kudapat dari Papa. Semuanya masih teringat jelas kawan, masih teringat banyak kejadian lainnya yang belum tertulis di atas.

Masih teringat jelas saat kita harus menghadiri acara natal pelajar Surabaya yang berada di tempat yang tidak terjangkau kendaraan umum (angkot), hingga mengharuskan kita boncengan tiga bareng ebesmu (bokapmu) yang mau repot-repot mengantar saat mau berangkat pelayanan. Teringat juga pada saat itu kita berhasil menjawab beberapa pertanyaan dari kuis alkitab yang diadakan oleh panitia, beberapa hadiahnya pun berhasil kita borong (mug-nya ada yang tersimpan sampai sekarang euy).

Masih teringat jelas akan pergumulanmu berkaitan dengan wanita yang sekelas denganku itu. Semua kisah seperti diantaranya : Waktu SMA kau sempat mengajakku untuk nyamperin anak yang menggodanya (cemburu nih yee ceritanya?). Waktu ke rumahnya saat kita dihadapakan pada posisi yang terpojok, saya sempat bersikap seperti Petrus yang menyangkal (Hehehe, kalau ini pengakuan dosa ceritanya, tapi sekarang boleh diuji dech. Tak kan ku ulang kembali kebodohan itu, disalib terbalik seperti Petrus pun rela). Banyak lagi yang berkenaan dengan hal itu yang masih kuingat, hingga puncaknya dua tahun lalu kita bisa menyaksikan bersama baptisan selam untuknya (Kapan neh dilanjutin ke jenjang berikutnya? Hehehe).

Masih teringat jelas saat kita (dan bareng teman-teman yang lain), ngamen keluar masuk cafe yang ada di Surabaya. Masih teringat juga saat-saat sibuk nge-band, motor cina yang selalu kita tunggangi saat SMA berakhir riwayatnya. Hingga mengharuskan kita bersusah payah mendorongnya ke rumah dalam keadaan basah kuyup kehujanan. Panjang kalau semuanya harus ditulis di sini, belum lagi saat-saat kita (dan bareng teman-teman yang lain) jadi kelalawar di malam hari hingga dini hari. Hehehe.

Kini masing-masing kita telah masuk ke dalam panggilan Tuhan, panggilan indah yang telah Tuhan tentukan bagi masing-masing kita. Rencana Tuhan sungguh indah dan sempurna bagi setiap anak-anak-Nya.

Bersyukur saat ini bisa menyaksikan pekerjaan tangan Tuhan atas dirimu : Setelah lulus dari Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya, bekerja sebagai auditor di sebuah kantor akuntan publik. Hingga kurang lebih setahun bekerja di kantor akuntan publik, masuk dan mengawali karier sebagai auditor untuk wilayah Jawa Tengah dari sebuah Bank Pemerintah terbesar di Indonesia.

Dalam usia yang masih sangat muda dan dalam waktu yang relatif singkat, jenjang karier yang lebih tinggi pun telah didapat karena kinerja. Jabatan sebagai Manajer Operasional di sebuah Kantor Cabang Bank Pemerintah yang ada di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Selamat Jalan Kawan. Kiranya Tuhan senantiasa menyertai di ladang yang baru, menjadi Manajer Operasional yang takut akan Tuhan. God be with you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: