Lakoni Saja Skenario-Nya

tangan-mengepal-ilustrasi-_120507170041-806

Pagi ini saya mengawali hari dengan memutar lagu Praise and Worship yang banyak bertebaran di youtube (http://tinyurl.com/c7osz4x), lantunan musik dari lagu-lagu Praise and Worship itu terdengar agak kencang lewat speaker tambahan yang saya pasang pada laptop.

Saat larut dalam lantunan lagu-lagu tersebut, saya mengetik Personal Message dalam blackberry yang berbunyi sebagai berikut : “Mencoba mengerti maksud-Nya memang tidak mudah, karena kita tidak mengetahui alur cerita-Nya. Walau kita tidak mengetahui, lakoni saja skenario-Nya, karena itu pasti baik bagi kita.”

Personal Message itu boleh muncul karena dilatarbelakangi obrolan saya semalam dengan seseorang via blackberry messenger dan dikombinasikan dengan hal apa saja yang harus saya hadapi sepanjang hari ke depan. Simpelnya : Ayo semangat memasuki hari ini, walaupun tak mengetahui apa yang akan terjadi.

Semalam dalam blackberry messenger saya berjumpa dengan seseorang yang tangguh dalam menerima Kedaulatan Tuhan yang telah ditentukan baginya. Saat keinginan dan harapan seseorang tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, orang tersebut tetap taat dan setia pada jalan Tuhan (malah makin cinta Tuhan). Obrolan itu saya rangkum dalam bagian pertama dari personal message dalam blackberry yang berbunyi : Mencoba mengerti maksud-Nya memang tidak mudah, karena kita tidak mengetahui alur cerita-Nya.

Sementara bagian kedua dari personal message dalam blackberry yang berbunyi : Walau kita tidak mengetahui, lakoni saja skenario-Nya, karena itu pasti baik bagi kita. Bagian kedua ini saya tujukan bagi diri saya dan teman-teman lain yang mungkin saja membaca message tersebut. Tujuannya adalah menyampaikan bahwa semua hari itu baik dan indah, sekalipun kita tidak mengetahui hal apa yang akan terjadi sepanjang hari. Semua boleh terjadi karena tidak ada suatu rencana yang kebetulan saja, semua telah ada dalam skenario-Nya.

Skenario itu yang coba saya lakoni sepanjang hari ini. Setelah mengetik message dalam blackberry tadi pagi, saya bergegas mandi untuk menyiapkan diri dan semua perlengkapan yang saya butuhkan untuk bekerja. Saat berangkat ke tempat kerja, target yang harus saya kerjakan selama berada di tempat kerja adalah menyelesaikan semua administrasi pembelajaran yang diperlukan untuk Penilaian Kinerja Guru oleh Dinas Pendidikan yang akan berlangsung dua hari mendatang.

Saya sudah melakukan perhitungan dengan cukup baik, setelah saya cicil beberapa bagian untuk dikerjakan sejak kemarin siang hingga malam hari, pasti akan bisa selesai semuanya bila saya lanjutkan kekurangannya pada hari ini. Namun, ketika saya baru tiba di sekolah, semua tidak sesuai rencana. Seorang bapak berjalan kaki datang ke sekolah dengan kebingungan mencari anaknya yang masih kelas 6 SD (sekolah di tempat saya mengajar) tidak pulang ke rumah sejak kemarin sore.

Saya yang pada saat itu sudah siap mengerjakan kekurangan administrasi pembelajaran, menundanya sejenak untuk menawarkan bantuan mengantarkan bapak tersebut mencari keberadaan anaknya. Dengan modal informasi dari teman sekelasnya yang sempat melihat anak bapak tersebut mandi di sungai kemarin sore, saya pun bergegas mengambil kunci motor dan dompet saya.

Saat membuka tas, ternyata saya tidak menjumpai dompet saya ada dalam tas. Setelah saya mengingatnya, saat saya menyiapkan perlengkapan sebelum berangkat kerja tadi, dompet saya tidak ikut saya masukan ke dalam tas. Seumur-umur tidak pernah terjadi, tapi entah kenapa hari ini harus terjadi di saat butuh seperti ini. Ketinggalan dompet lengkap dengan SIM dan STNK di dalamnya, tidak membuat saya berhenti untuk melakoni skenario yang tidak kebetulan ini.

Saya pun meminjam motor milik security sekolahan, dengan segera pinjaman motor saya dapatkan. Kunci motor saya sehari-harinya selalu saya letakan gitu aja di kantor (kadang lengkap dengan STNK-nya). Barangkali ada yang butuh untuk keluar fotocopy atau kemana gitu, bisa menggunakan motor saya. Jadi pada saat darurat seperti tadi, tidak terlalu sulit untuk mendapatkan pinjaman dari teman-teman (kami saling pengertian).

Proses pencarian anak bapak tersebut pun dimulai, keluar masuk gang kelinci, warnet dan tempat game online. Namun, tidak kami jumpai anak bapak tersebut di sana. Melaporkannya pada pihak yang berwajib pun, kami rencanakan setelah menanti hingga siang hari atau 1×24 jam. Hingga akhirnya saya antarkan bapak tersebut pulang ke rumahnya (menyusuri bantaran sungai Kali Mas daerah Petekan), karena bapak tersebut harus menyiapkan mie ayam yang akan dijualnya keliling.

Lega, akhirnya bisa melakoni skenario yang tidak biasanya terjadi. Dalam perjalanan kembali ke sekolah, saya sambil tersenyum membayangkan akan melanjutkan kembali pekerjaan yang tadi sempat akan saya kerjakan. Setibanya di sekolah, baru beberapa saat saya memegang bolpoin untuk menulis, salah satu siswa dibawa masuk ke dalam ruang guru dengan digosok minyak kayu putih. Menurut informasi dari teman guru, siswa tersebut barusan muntah banyak banget di dalam kelas.

Saya pun menawarkan kepada siswa tersebut (yang pada saat itu didampingi neneknya yang menunggui di sekolah) : “Mau tetap melanjutkan Ujian Akhir Sekolah? Atau mau pulang? Kalau mau pulang, Pak Roy antar sekarang. Ujiannya bisa ikut susulan.” Setelah beberapa saat mempertimbangkannya, anak tersebut memilih untuk pulang istirahat di rumah.

Satu lagi skenario yang berbeda dari yang saya harapkan dan skenario ini pun harus saya lakoni. Kembali saya meminjam motor yang sama seperti pada saat saya mengantar bapak yang mencari anaknya tadi. Saya pun membonceng siswa yang sakit duduk di bagian depan dan neneknya duduk di bagian belakang, ada lucunya juga waktu mengantar siswa tersebut. Nenek dari siswa tersebut berulang kali komat-kamit membaca doa saat saya bonceng, padahal kecepatannya juga tidak terlalu kencang.

Mungkin karena faktor usia dan terlalu fokus sama jalanan yang padat lalu lintasnya, serta dilalui banyak kendaraan berat di sekitar kami. Saya pun coba mengalihkan perhatian nenek tersebut terhadap ketakutannya dengan mengajaknya ngobrol tentang beberapa hal terkait dengan cucunya tersebut. Setibanya di ujung gang rumah nenek tersebut (tidak sampai depan rumah, karena tidak bisa dilalui motor), saya pun kembali ke sekolah. Dalam perjalanan saya makin tidak sabar saja untuk segera tiba di sekolah karena ingin melanjutkan pekerjaan.

Dua skenario telah saya lakoni, berharap saya bisa dengan tenang mengerjakan pekerjaan saya yang belum lengkap. Baru beberapa menit melanjutkan pengerjaan administrasi pembelajaran, sebuah pesan pendek masuk ke handphone saya. Isinya meminta tolong supaya teman-teman dikondisikan untuk mengumpulkan legalisir SK CPNS dan SK PNS yang baru saja diterima.

Saat itu juga saya mengkondisikan teman-teman dan saya pribadi pun segera menyiapkan data yang telah diinformasikan dalam sms. Selesai menyiapkan data yang ada, saya segera meluncur ke kantor pihak yang mengirim sms tersebut. Kali ini saya menggunakan motor saya sendiri, karena sungkan kalau untuk kepentingan pribadi harus pinjam motor orang lain. Saya spekulasi saja, membawa kendaraan bermotor tanpa dilengkapi surat-surat. Bukan tidak tunduk pada otoritas, tapi keadaannya benar-benar darurat, harus segera dikumpulkan.

Rupanya skenario yang harus saya lalui kali ini adalah pelajaran berharga lewat sekolah kehidupan. Saya tidak mulus tiba di kantor yang saya tuju, di tengah jalan saya terjaring operasi lalu lintas. Dalam operasi tersebut, kelengkapan surat-surat pengendara kendaraan bermotor roda dua diperiksa. Saya tidak bisa menunjukan surat yang diminta, saya minta waktu kepada pihak yang memeriksa untuk menjelaskan kronologis yang terjadi pada saya. Saya jelaskan sejujur-jujurnya, tanpa mengurangi dan melebih-lebihkan, bahkan saya sempat akan menunjukan data atau dokumen yang saya bawa sebagai bukti kejujuran dari penjelasan saya.

Tanpa saya duga, pihak yang memeriksa tersebut bermurah hati mengijinkan saya untuk melanjutkan perjalanan dengan catatan saya harus kembali ke unit kerja saya. Saya pun segera kembali ke unit kerja dan minta tolong Staf TU untuk mengantar saya dengan motor yang lengkap dengan STNK dan SIM pribadinya. Seumur-umur juga baru sekali ini mengalami dompet tertinggal lengkap dengan STNK dan SIM di dalamnya, dapat bonus terkena operasi lalu lintas (pemeriksaan) pula. Namun, bisa diampuni kesalahannya, hanya dengan diberikan penjelasan yang jujur.

Apakah berhenti sampai di situ skenario yang harus saya lakoni? Setibanya di kantor yang saya tuju dan setelah menyerahkan data saya, beberapa teman dari sekolah lain sudah menanti saya untuk kepentingan yang lain. Teman-teman itu akan melakukan koordinasi terkait dengan pelaksanaan Pekan Olahraga SD Se-Kota Surabaya yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Acara tersebut sebelumnya (sebenarnya) tidak diagendakan, namun karena menyangkut kepentingan siswa banyak, maka saya meluangkan waktu untuk kepentingan tersebut.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan cerita administrasi pembelajaran milik saya yang belum selesai itu? Pada akhirnya saya harus lembur (pulang sedikit lama dari biasanya) untuk menyelesaikannya. Lembur sambil menahan rasa lapar juga tentunya, karena saya telah melewatkan waktu makan siang demi selesainya administrasi pembelajaran.

Skenario yang ditentukan telah berhasil dilalui, keinginan dan harapan pun bisa terwujud. Itu semua karena Si Penulis Skenario yang telah memampukan untuk bisa melakoninya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: