Hidup adalah Perjalanan Ujian Iman

url

Dalam hidup ini, tanpa disadari kita selalu mengalami berbagai macam bentuk ujian, entah sisi mana dari diri kita yang akan mengalami ujian itu. Bentuk ujian itu cenderung merupakan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Saat kita berada dalam komunitas rohani, semua yang berada di dalamnya (mungkin saja) nampak seperti malaikat. Karena semuanya nampak seperti malaikat, maka tidak akan menemukan kesulitan yang terlalu berarti dalam berinteraksi. Semua yang berada dalam komunitas bisa lurus-lurus saja, satu dengan yang lainnya bisa saling mengasihi.

Namun, jika melihat lebih dalam lagi, sebenarnya perjalanan yang lurus-lurus saja seperti itu bisa jadi merupakan perjalanan yang bermasalah, sangat rawan akan potensi kecewa di kemudian hari. Karena menurut saya, siapa saja yang terbiasa hidup nyaman tanpa pernah ada masalah, akan sangat rentan terhadap kekecewaan saat mengalami ujian. Karena hatinya tidak pernah disiapkan untuk menerima ujian (lengkap dengan bonusnya yaitu kekecewaan) dalam hidup.

Kita tidak pernah mengerti siapa-siapa saja yang akan hadir dalam hidup kita, akan memainkan peran seperti apa dalam hidup kita, akan dipakai Tuhan untuk menguji bagian mana dari diri kita yang masih perlu untuk diuji dan didewasakan. Kita hanya cukup untuk mengerti, bahwa kita harus siap sedia selalu (baik atau tidak baik waktunya) dalam menghadapi siapapun yang akan datang dalam hidup kita.

Salah satu contoh sederhana tentang ujian dalam hidup ini, misalnya kita memiliki kesulitan mendengarkan orang yang mengeluh, kita tidak pernah tahan terlalu lama mendengarkan orang menceritakan hal-hal buruk apa saja yang telah menimpanya. Kesulitan semacam itulah yang akan diuji dan didewasakan. Semakin kita menghindar, akan semakin kuat ujian itu diberikan.

Ujian bisa saja datang dari orang-orang yang menyebalkan, orang-orang yang datang dalam hidup kita untuk memainkan perannya. Saat orang menyebalkan itu datang dalam hidup kita, orang itu akan seringkali menceritakan kesulitan hidupnya, kesulitan yang seperti inilah, kesulitan yang seperti itulah. Lantas respon apa yang akan kita berikan?

Saat-saat seperti itulah kemampuan kita dalam menghadapi (melayani) orang yang menyebalkan akan diuji. Apakah kita lebih memilih untuk sabar memberikan telinga baginya? Apakah kita lebih memilih untuk menjadi pendengar setia dan berdoa untuknya? Atau kita lebih memilih untuk menghardiknya, karena tidak nyaman dengan semua keluhan yang diceritakannya?

Sikap apa yang akan kita ambil dalam ujian tersebut, akan berpengaruh besar dalam hidup orang lain. Saat kita lebih memilih untuk setia mendengarkannya dengan komitmen yang penuh ingin menjadi tempat sampah baginya, maka saat itu kita telah meneladani Teladan Agung kita yang telah memberikan nyawa-Nya (bukan hanya sekedar memberikan telinga untuk menjadi pendengar setia).

Teladan Agung yang mengajarkan bahwa kasih itu bukan mencintai atau dicintai karena kita sempurna, hebat dan layak (banyak mengeluh atau tidak pernah mengeluh), tapi karena komitmen. Sekalipun orang-orang yang menyebalkan itu terus datang dalam hidup kita, komitmen kita akan tetap sama yaitu mengasihi sepenuh hati (bukan terpaksa bertahan tanpa ada ketulusan atau malah pergi melarikan diri).

Namun, saat kita lebih memilih untuk mengabaikan dan menghardik orang yang berkeluh kesah tersebut, saat itulah kita telah membuang jiwa yang telah Tuhan percayakan untuk kita layani. Pelayanan memberikan telinga (syukur-syukur bisa berkembang menjadi konseling, tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memberikan solusi) bukanlah pelayanan yang sembarangan.

Sudah cukup banyak kasus tentang seseorang yang akan bunuh diri, bisa membatalkan keinginannya untuk mati hanya karena ada yang rela memberikan telinga baginya. Dihadapkan dengan orang-orang menyebalkan dalam hidup kita, merupakan proses yang digunakan Tuhan untuk memperbesar kemampuan hati kita dalam menerima (melayani) orang lain.

Saat kita bisa melewati semuanya dengan baik, maka saat itulah ujian telah berhasil kita lewati. Ujian tidak selalu dalam bentuk kekurangan, sakit penyakit, dsb. Lalu kita sanggup bertahan dan melewati semua ujian (pencobaan) yang ada. Pengertian ujian lebih dari itu semua, ujian bagi kita orang percaya juga bertujuan untuk pengembangan diri agar terlatih melayani orang lain yang akan mendatangkan kebaikan.

Saya pribadi pun, belajar banyak dalam hal ujian tersebut. Kelemahan saya dalam hal emosi (tempramental) telah diuji sedemikian rupa lewat orang-orang yang selama ini hadir untuk memainkan perannya dalam hidup saya. Berulang kali saya dihadapkan dengan orang-orang yang memancing emosi saya. Saat orang lain menghardik, saya akan balas dengan hardikan. Saat orang lain berkata-kata dengan keras, saya akan balas dengan kata-kata keras. Simpelnya : loe jual, gue beli.

Kini, setelah sekian lama saya (seringkali) dihadapkan dengan kondisi yang terpojok sekalipun, ditikam dari belakang sekalipun, dipancing emosinya melebihi batas-batas yang ada sekalipun. Sebisa mungkin pengendalian diri akan saya berikan dengan maksimal, sebisa mungkin senyum akan tetap mengembang di bibir manis saya (hehehe). Ya, meskipun terkadang sekali dua kali masih terpancing juga sih.

Bersyukurlah jika saat ini kita sedang dihadapkan oleh hal-hal yang tidak kita inginkan. Karena hal itu merupakan proses yang digunakan Tuhan untuk memperbesar kemampuan hati kita dalam menghadapi ujian, agar bisa maksimal dalam melayani sesama dan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: