Natal Adalah Mencari Yang Terhilang

When to Seek Help

Dua minggu sudah berlalu, hingga kini salah satu siswa kelas VI di sekolah tempat saya mengajar, telah pergi meninggalkan rumah tanpa pamit kepada ayahnya. Dua minggu lalu saat awal siswa tersebut baru saja pergi meninggalkan rumah, ayahnya mencari ke sekolah. Mencoba menanyakan keberadaan anaknya kepada guru dan siswa lain yang ada dalam satu kelas dengan anaknya.

Pada saat itu, saya sebagai guru yang sedang tidak mendapatkan tugas untuk menjaga pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS), mencoba menawarkan bantuan kepada bapak yang kebingungan mencari anaknya tersebut. Menawarkan bantuan untuk mengantar ke beberapa tempat (informasi yang didapat dari teman sekelasnya) yang biasa dituju siswa yang telah pergi meninggalkan rumah tersebut.

Sepanjang perjalanan saya mengantar, bapak tersebut menceritakan pergumulannya dalam rumah tangga (termasuk pergumulan dalam mengasuh anaknya). Bagian yang paling menyedihkan adalah ketika bapak tersebut menceritakan kisah rumah tangganya yang broken, isteri yang dikasihinya telah lama pergi meninggalkannya, sekarang anak satu-satunya pergi meninggalkannya pula.

Singkat cerita proses pencarian pada hari itu, tidak membuahkan hasil apapun (dua minggu lalu saya sempat menulisnya : http://tinyurl.com/cuz2lqm). Pada hari-hari berikutnya, saya (beserta wali kelasnya) tetap menjaga komunikasi dengan orang tuanya terkait dengan perkembangan dari siswa kami yang telah pergi meninggalkan rumahnya tersebut.

Setiap informasi yang kami peroleh dari orang tuanya, maupun dari teman sekelasnya, kami akan coba membantu menelusuri kebenarannya. Seperti yang terjadi minggu lalu, saat saya mendengar informasi bahwa yang bersangkutan bekerja sebagai kuli angkut pelabuhan, saat itu juga kami (saya beserta wali kelasnya) menuju ke beberapa terminal (berlian, jamrud dan kalimas) tempat bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Di tengah terik matahari dan padatnya aktivitas pelabuhan pada saat itu, tak menghalangi kami menyusuri Pelabuhan Tanjung Perak yang cukup luas dan berjauhan jaraknya dari terminal satu ke terminal lainnya. Setiap kapal yang berjajar melakukan bongkar muat barang, kami perhatikan dengan baik pekerja-pekerja (kuli angkut) yang ada di sekitarnya. Cukup banyak dijumpai pekerja yang seumuran siswa kami (berusia sekitar empat belas tahun, usianya beda dengan anak SD Kelas VI pada umumnya, karena beberapa kali tinggal kelas), hal itu yang membuat kami tak henti melakukan pencarian hanya pada satu terminal atau beberapa kapal saja, tapi berusaha mencari sampai batas maksimal.

Berusaha mencari hingga batas maksimal telah kami lakukan pada saat itu, namun belum juga membuahkan hasil. Tanpa saya lebih-lebihkan, boleh dibilang perasaan kami pada saat itu cukup sedih, karena kami merasa bertanggung jawab (minimal) atas kelangsungan siswa tersebut dalam menyelesaikan wajib belajar enam tahun. Kesedihan itu makin dalam kami rasakan bila berjumpa dengan ayah dari siswa tersebut, rasa sedih yang kami rasakan tidak ada artinya dengan rasa kehilangan ayahnya yang luar biasa. Sedih jika melihat hari-harinya hanya disibukan dengan mencari anaknya, hingga segala usaha dilakukannya, mulai dari cara yang natural hingga yang supranatural.

Seminggu setelah mencarinya di pelabuhan, kami masih terus berusaha mencari informasi tentang keberadaan siswa kami tersebut. Hingga puncaknya kemarin siang pada saat saya mengerjakan daftar nilai hasil evaluasi pembelajaran, ayah dari siswa yang pergi meninggalkan rumahnya tersebut, datang ke sekolah menemui saya. Baru beberapa kalimat berbincang dengan saya, saya memutuskan untuk memanggil wali kelas yang bersangkutan agar masuk bersama ke dalam obrolan kami.

Bapak tersebut mulai menceritakan kronologis penelusurannya dalam mencari anaknya. Informasi terakhir diperoleh dari beberapa teman yang pernah bekerja dengan anaknya di pelabuhan. Teman-temannya tersebut menyatakan bahwa benar anaknya pernah bekerja sebagai kuli angkut pelabuhan sekitar dua minggu lalu, dengan tujuan mengumpulkan modal untuk bisa pergi ke suatu tempat. Setelah modalnya terkumpul, anaknya tersebut diantar oleh salah satu temannya ke Pasuruan. Setelah tiga hari di Pasuruan, anaknya melanjutkan perjalanan menuju Malang Selatan (berbatasan dengan Blitar).

Seketika itu juga, bapak tersebut langsung mengetahui tempat mana yang dituju oleh anaknya. Malang Selatan merupakan rumah keluarga besar isterinya, yang telah lama pergi meninggalkannya (menurut pengakuannya lari ke Jakarta). Tanpa membuang waktu, bapak tersebut langsung bergegas menuju Malang Selatan. Setibanya di Malang Selatan, dijumpainya Kakak Ipar, Ibu Mertua dan anaknya yang selama dua minggu ini dicari.

Betapa sukacitanya bapak tersebut ketika bisa melihat anaknya pada saat itu, karena menurut pengakuannya hal itu telah meruntuhkan dugaan orang selama ini yang menyatakan bahwa anaknya telah meninggal karena hanyut ke dalam aliran air sungai saat mandi di Kalimas Surabaya. Setelah beberapa saat berbincang dengan keluarga besar isteri dan anaknya, bapak tersebut mengajak anaknya pulang kembali ke Surabaya. Namun, anaknya menolak untuk kembali ke Surabaya dengan berbagai alasan. Alasan yang paling utama dari anaknya adalah ingin bebas sesuai kehendak hatinya dengan tetap berada di Malang Selatan.

Seketika itu juga, sukacita yang dirasakan saat awal melihat anaknya tadi berubah menjadi duka. Bapak tersebut makin terpukul, lebih terpukul dari sebelumnya karena penolakan dari anaknya. Duka itupun bisa saya rasakan, saat bapak tersebut menemui saya kemarin, berulang kali kata perih terucap dari bibirnya dengan menahan tangis yang siap meledak. Bapak itu memohon kepada saya (karena menurut pengakuannya, nama saya sering dibawa pulang anaknya saat menceritakan sesuatu kepadanya) untuk coba merayu anaknya agar mau kembali sekolah. Merayu agar mau meneruskan sekolahnya yang kurang empat bulan lagi akan menghadapi Ujian Nasional, saya (beserta wali kelasnya) pun merespon permohonannya untuk berusaha merayu anaknya dengan mencatat nomor handphone (yang bisa dihubungi) milik Kakak Iparnya terlebih dahulu.

Lewat peristiwa tersebut di atas, mengantarkan saya pada sebuah perenungan natal. Natal (menurut saya) adalah mencari yang terhilang, natal merupakan kedatangan Yesus ke dalam dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Sorga menderita karena kehilangan yang dikasihi-Nya, sorga berduka karena kehilangan anda dan saya.

Sorga menderita karena banyak yang terhilang ditelan gemerlap dunia. Sorga menderita ketika seorang suami terhilang digondol wanita idaman lain, sorga menderita ketika seorang isteri digondol pria idaman lain. Sorga berduka karena semua tindak kejahatan kita, sorga berduka karena semua ulah kita yang terus hanyut ke dalam gemerlap dunia.

Sorga tidak tahan dengan itu semua, karena sorga sangat mengasihi anda dan saya. Segala cara akan sorga lakukan untuk membuka jalan bagi kita keluar dari gemerlap dunia, tidak peduli seberapa mahal harganya. Yesus sendiri yang membayar mahal semua harganya, rela meninggalkan kemuliaan sorga hanya untuk membuka jalan menuju kebebasan akan kebenaran bagi kita manusia berdosa. Walau harganya adalah Yesus sendiri yang harus menjadi korban, sorga tetap membuka jalan.

Kembalilah, pulanglah, tempuhlah jalan yang telah dibuka-Nya bagi kita. Kita sangat berarti bagi-Nya, Yesus tergila-gila kepada kita. Cinta memang kerap kali tak dapat dimengerti, (contoh misal) ada seseorang yang bertanya-tanya ketika mulai merasakan sesuatu dalam hatinya untuk orang yang selama ini dekat dengannya, lalu tiba-tiba (seperti) menghilang dari hidupnya : Dimana? Kemana? Mengapa? Itu semua karena cinta tak dapat dimengerti. Demikian juga cinta Yesus kepada kita yang seringkali tak dapat dimengerti oleh manusia.

Melalui catatan tersebut (selagi masih bisa online dan sebelum disibukan dengan kegiatan akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013), saya mengucapkan : “Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2013. Kiranya sukacita sorga nyata memenuhi sahabat semua.” Untuk seseorang yang bertanya-tanya : “Dimana? Kemana? Mengapa?” Mungkin untuk saat ini belum bisa dijawabnya, namun akan tiba waktunya semua akan dijawabnya. Dia lebih memilih untuk menunda menjawabnya, karena dia masih ingin menghabiskan waktu bersama yang lebih lama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: