Ketidakhadiran dari yang hadir, kehadiran dari yang tidak hadir.

new-years-resolutions11
Awal tahun seperti ini adalah momen yang tepat untuk menyiapkan segala hal terkait dengan resolusi yang akan kita susun dan kita jalankan sepanjang tahun ke depan. Resolusi yang kita susun itu sangat diperlukan sebagai bahan pembelajaran, agar kita tidak perlu mengulang kembali kesalahan di masa lalu.

Sebenarnya waktu yang tepat dalam membuat resolusi adalah akhir tahun. Saat tahun berganti, kita sudah bisa langsung tancap gas dengan resolusi yang telah kita susun. Namun, (mungkin saja) pada saat akhir tahun banyak yang disibukan dengan berbagai kegiatan (berlibur, dsb), hingga tidak sempat untuk menyusun resolusi, maka awal tahun seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menyusunnya.

Saya pribadi telah menyusun resolusi untuk tahun ini, sejak pertengahan bulan Desember lalu. Salah satu diantaranya adalah resolusi terkait dengan penggunaan blackberry. Saya merasa ada yang janggal dengan diri saya, selama menggunakan blackberry. Saya coba membereskan yang janggal itu, sekaligus memasukannya ke dalam agenda resolusi di tahun yang baru ini.

Sebelum saya melanjutkan note tersebut lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa melalui note tersebut, saya tidak sedang melihat perkembangan teknologi komunikasi, baik medianya (facebook, twitter, dsb) maupun alatnya (gadgets) dari kacamata yang pesimis. Saya hanya ingin menyampaikan sisi buruk dari perkembangan teknologi komunikasi yang telah saya alami dan tidak ingin terulang kembali.

Hingga hari ke empat di tahun yang baru ini, terhitung sudah delapan belas hari saya mematikan blackberry. Selama delapan belas hari itu, saya melakukan evaluasi. Evaluasi yang saya lakukan dengan adanya blackberry adalah pengaruhnya dalam hidup saya dan tingkat ketergantungannya. Saya coba mengingat kejadian apa saja yang saya alami sepanjang memiliki blackberry.

Dalam evaluasi itu, saya menjumpai diri saya jadi menyebalkan sama seperti orang-orang yang dulu menyebalkan bagi saya. Saya sangat sebal ketika orang yang berkomunikasi langsung (tatap muka) dengan saya, tapi sambil memainkan gadgetnya (entah blackberry, ipad, tab, dsb). Komunikasi tidak maksimal karena fokusnya jadi terpecah, tadinya hanya fokus pada tampang tampan saya (hehehe), jadi terpecah karena pikiran juga tertuju pada gadgetnya.

Hal menyebalkan semacam itu yang saya lakukan pada teman saya. Suatu ketika saat nongkrong bareng teman yang jarang berjumpa (karena dinas beda provinsi), saya lebih banyak mencurahkan perhatian untuk blackberry yang saya miliki, daripada mencurahkan perhatian untuk teman saya. Saya jadi manusia yang paling menyebalkan, karena saya selalu dikenal murah ngomong dengan teman-teman dekat, selalu banyak ngobrol dan senang mendiskusikan banyak hal.

Memang tidak seharusnya saya mencurahkan perhatian untuk blackberry, mencurahkan perhatian untuk menulis personal message, obrolan dalam group dan komunikasi untuk orang-orang yang tidak hadir di dekat saya. Jauh lebih baik, jika saya memberikan perhatian untuk teman yang hadir di dekat saya. Karena keterbatasan kesempatan untuk bisa berkomunikasi langsung (tatap muka), maka sudah seharusnya kualitas komunikasi dengan fokus pikiran yang tidak terpecah itu ada di dalamnya.

Pengaruh buruk dari blackberry dalam hidup saya tidak berhenti sampai di situ. Saat di tempat kerja terjadi hal yang sama, hanya ceritanya sedikit agak berbeda. Salah satu rekan kerja di bagian tata usaha yang menangkap perubahan saya karena pengaruh blackberry. Fokus saya di ruang guru (diluar jam mengajar) jadi terpecah, tidak lagi fokus untuk laptop, tapi fokus untuk blackberry. Laptop yang terkoneksi dengan internet adalah media saya belajar tentang banyak hal. Apabila saya membuka laptop di luar jam mengajar dan tidak sedang mengerjakan administrasi pembelajaran, maka rekan kerja akan langsung mengetahui bahwa saya sedang belajar.

Blackberry yang baru saya miliki tiga bulan terakhir di tahun 2012 itu (http://tinyurl.com/alkxwgg), benar-benar telah merenggut waktu belajar saya. Saya juga merasa jadi jarang ngobrol dengan rekan kerja saat berada di ruang guru, selain hanya untuk bercanda dan ngobrol yang penting saja. Rekan kerja yang hadir dekat saya, jadi seperti tidak hadir. Tapi teman-teman (dalam blackberry) yang tidak hadir dekat saya, jadi seperti hadir.

Oleh karena pengaruh yang kurang baik dari blackberry itulah yang memutuskan saya untuk melakukan evaluasi terhadap penggunaan blackberry dan memasukannya dalam agenda resolusi di tahun yang baru ini. Hingga kini saya belum mengaktifkan blackberry yang saya miliki, karena sedang saya pertimbangkan untuk menggunakannya kembali atau cukup menggunakan handphone yang minim aplikasi.

Resolusi harus benar-benar ditepati, karena potensi dari penggunaan gadget bisa berdampak buruk terhadap profesi. Bukan berlebihan jika saya mengatakan seperti ini, dua dampak buruk yang saya ceritakan di atas merupakan bibit segar yang bisa tumbuh subur menjadi pohon. Apa jadinya jika kebiasaan memainkan gadget, menjadi ketergantungan dengan gadget? Apa jadinya jika ketergantungan itu terbawa saat saya mengajar di dalam kelas?

Sangat mungkin saat berada di dalam kelas yang ramai, jadi seperti berada di dalam hutan yang sepi. Banyak siswa di dalam kelas, jadi seperti kelas yang tidak berpenghuni. Lebih parahnya jika mengajarnya di lapangan, ketergantungan dengan gadget dapat membunuh siswa (mungkin tewas tertabrak, dsb) yang lepas dari pengawasan. Itu semua bisa terjadi, jika sang guru lebih asik dengan gadgetnya, daripada memanusiakan siswanya.

Tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi komunikasi yang begitu luar biasa, saya pun tidak menutup diri akan hal itu. Hanya saja dibutuhkan pengendalian diri yang luar biasa pula, atas kemajuan teknologi komunikasi. Delapan belas hari terakhir adalah bentuk usaha saya mendapatkan pengendalian diri itu. Dengan mematikan blackberry, maka saya telah berusaha untuk membunuh bibit kebiasaan memainkan blackberry, agar tidak tumbuh subur menjadi ketergantungan dengan blackberry.

Kalaupun blackberry itu aktif kembali, saya tidak tergantung pada blackberry (terbukti dari delapan belas hari terakhir, saya baik-baik saja tanpa blackberry). Hanya akan menyentuh blackberry pada saat-saat tertentu saja, bukan setiap saat menyentuhnya hingga tidak bisa memanusiakan manusia yang hadir di dekat saya, merenggut jam belajar saya, dll, dsb. Menghindari teknologi (bukan hanya blackberry) yang juga bisa mendukung profesi sangat tidak mungkin, mengendalikan diri atas penggunaan teknologinya yang sangat dimungkinkan.

Jika melihat lebih dalam, resolusi yang saya susun tersebut memiliki jangkauan yang lebih jauh. Saat saya berhasil menepati resolusi di tahun yang baru ini, maka ke depannya dengan teknologi komunikasi yang lebih canggih dari sekarang pun, tidak akan menjadi masalah buat saya. Apa jadinya jika dengan kasus yang ringan saja, saya belum bisa berubah? Sementara jauh di depan sana, saya akan memiliki istri dan anak-anak?

Tentunya dampak buruk yang dihasilkan akan jauh lebih besar, dari tidak tepatnya menggunakan teknologi komunikasi. Istri dan anak-anak jadi jauh dari saya, sementara yang jauh jadi dekat dengan saya. Sama halnya dengan slogan media sosial yang ada selama ini : menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh.

Ini salah satu resolusi saya di tahun yang baru. Bagaimana dengan teman-teman? Yuk, bareng-bareng dalam segala bidang terus bertumbuh (mengembangkan diri), agar dapat maksimal dalam melayani sesama sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: