Apa cukup hanya mengerti dan mempelajari teologi? Apa perlu menghidupinya juga dengan sepenuh hati?

Gambar

Sepulang dari ibadah tadi (13/01), saya teringat momen-momen bersama Papa sewaktu masih remaja. Salah satu momennya: saat saya mulai tumbuh mengenal banyak hal, terutama dalam hal kerohanian. Kala itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal yang berbau rohani lewat bacaan-bacaan, entah buku rohani, renungan harian, dsb (jaringan internet pada saat itu belum mudah didapatkan seperti sekarang, mesti repot ke warnet dulu).

Teringat setiap kali saya ke toko buku rohani untuk membeli renungan harian remaja, saya juga membelikan renungan kaum dewasa untuk Papa. Anak baik kan? Dapat subsidi bulanan dari orang tua, keuntungannya kembali lagi untuk orang tua, hehehe. Alasan saya membelikan renungan untuk Papa, karena saya selalu melihat Papa tidak pernah menggunakan panduan apapun dalam membaca Alkitab.

Sebagai remaja yang baru lahir dalam kerohanian, saya merasa tergerak untuk membangun kerohanian Papa (maklum sok berapi-api, hehehe). Papa selalu menerima setiap renungan yang saya belikan, tidak pernah menolaknya. Namun, keadaannya masih sama seperti sebelumnya, Papa tidak pernah menggunakan renungan harian yang saya belikan untuk digunakan sebagai panduan dalam membaca Alkitab.

Saya pernah coba menanyakan kepada Papa tentang hal itu, jawab Papa seperti sedang menggali dalam pikiran saya: “Renungan ini kan tafsiran manusia juga, makan apa penulisnya, kalau tidak menulis?” Saya yang waktu itu merasa lebih pintar (padahal sedikit pun tidak lebih pintar) dari Papa, coba balas menjawab: “Penulis itu kan juga dipakai Tuhan untuk menjadi berkat, Pa?” Jawaban tidak cukup hanya berhenti di situ, masih lebih banyak lagi jawaban yang saya beri.

Singkat cerita, kebiasaan saya membelikan renungan untuk Papa terhenti. Karena Papa tidak pernah menggunakannya, akan terasa percuma jika saya terus membelikannya untuk Papa. Penasaran saya akan tindakan Papa itu berlangsung lama hingga saya tumbuh dewasa. Tentu Papa punya alasan yang kuat, kenapa tidak pernah menggunakan panduan dalam membaca Alkitab dan tidak pernah membaca buku rohani, sekalipun buku itu banyak terdapat di rumah.

Dalam hal membaca Alkitab, konsistensi Papa tidak pernah diragukan. Sejak kecil saya selalu melihat Papa saat pagi hari dan malam hari, selalu memegang Alkitab untuk direnungkan, kadang juga tertidur dengan Alkitab di tangannya. Entah, sudah ke berapa kalinya Papa membaca habis isi Alkitab dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Jika melihat rambutnya yang sudah memutih seperti sekarang, pasti sudah melebihi hitungan jari.

Papa tidak pernah banyak bicara kepada anak-anaknya, Papa lebih banyak memberikan teladan daripada harus banyak berkata-kata. Karena karakter Papa yang tidak banyak bicara itu, membuat rasa penasaran saya sulit untuk terjawab. Waktu terus berlalu, saya pun terus tumbuh dewasa, ketertarikan saya akan bacaan pun makin beragam tema (terlebih setelah adanya koneksi internet di rumah), bukan hanya dalam hal rohani saja.

Dari ketertarikan saya yang makin beragam itulah menjadi titik awal saya menemukan jawaban dari rasa penasaran. Banyaknya tema yang saya pelajari, khususnya bidang yang saya tekuni, terkadang membuat saya melupakan untuk mempelajari hal-hal yang berbau rohani. Sekalipun ketertarikan untuk mempelajarinya muncul, hanya membacanya sekedar untuk alasan pengetahuan.

Kakak wanita saya yang berkarir juga di bidang pendidikan, selalu membawa pulang buku-buku rohani yang diwajibkan untuk dibaca oleh pekerja dari lembaga tempat kakak melayani. Buku-buku yang kakak bawa pulang itu, pasti akan turut saya baca. Mempelajari isinya untuk memenuhi rasa lapar akan pengetahuan (teologi), rasa kenyang baru didapatkan ketika semua isi buku telah habis dimakan.

Teladan Papa yang konsisten dalam membaca Alkitab setiap pagi dan malam hari-lah, yang telah menjawab rasa penasaran, sekaligus menyadarkan saya. Sadar bahwa ketertarikan saya dalam renungan harian dan buku-buku rohani sejak remaja, telah mengantarkan saya pada titik menjadikan Firman Tuhan hanya sebagai pengetahuan, bukan untuk menghidupi Firman Tuhan.

Teladan Papa yang saya lihat setiap harinya, seolah-olah berkata dengan keras kepada saya: supaya saya tidak berhenti hanya pada batas mempelajari hal-hal yang berbau rohani (teologi) saja, tapi juga harus menghidupi kebenaran yang didapat di dalamnya. Rasa penasaran saya terjawab semuanya, Papa tidak pernah mau menggunakan panduan-panduan yang ada, karena Papa tidak ingin perhatiannya lebih besar tertuju pada alat panduannya, daripada ke Alkitabnya sendiri.

Lagi pula tanpa panduan dari manusia sekalipun, bukankah pada diri kita setiap orang percaya telah dikaruniakan Roh Kudus yang akan memimpin, membimbing dan menuntun dalam segala hal? Termasuk memimpin, membimbing dan menuntun dalam membaca dan merenungkan Alkitab? Bukankah Roh Kudus sendiri yang akan memberikan hikmat dalam memahami setiap kalimat dalam Alkitab?

Salah satu momen pada saat remaja bersama Papa inilah, yang kini telah mengantarkan saya kepada sebuah pemahaman: Tidak cukup hanya sekedar mengerti teologi (ilmu yang mempelari tentang Tuhan), tetapi juga harus mempelajari dan terlebih lagi menghidupi kebenaran di dalamnya dengan sepenuh hati.

Happy Sunday untuk sahabat semua. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: