Belajar Dinamika Kehidupan di Bawah Guyuran Hujan

Gambar

Kehujanan di malam minggu, naik motor tanpa mantel yang melindungi tubuh. Namun, tidak terasa terlalu dingin, karena tubuh baru saja dihangatkan oleh pembakaran kalori (olahraga), semangkok bakso kotak dan segelas teh panas. Di bawah guyuran hujan lebat dari atas langit Surabaya, saya menempuh perjalanan pulang dari stadion tempat saya berolahraga.

Dalam perjalanan pulang, saya berjumpa dengan seorang penjual koran (SPK) yang membawa dagangannya terbungkus rapi dalam plastik. Datang menghampiri saya meminta pertolongan (mencari tumpangan), dan dalam perjalanan terjadi percakapan seperti berikut ini:

SPK: “Mas, nunut nang lampu merah ngarep yo?” (Mas, numpang di lampu merah depan ya?)
Saya: “Ayo Mas, ndang munggah.” (Ayo Mas, buruan naik.)

SPK: “Udan eh, Mas.” (Hujan neh, Mas.)
Saya: “Iyo, sek akeh ta dodolane?” (Iya, masih banyak ya dagangannya?)

SPK: “Iki jektas budhal, Mas.” (Ini baru berangkat, Mas.)
Saya: “Lah udan ngene iki, ajange dodolan nangdi?” (Terus kalau hujan seperti ini, mau menjajakan dagangannya kemana?)

SPK: “Yo nang ngarep kono, Mas. Lek gak nang Bonnet (pasar swalayan), yo nang Bon Cafe (cafe dan restoran).” (Ya di depan sana, Mas. Kalau tidak di Bonnet, ya di depan Bon Cafe.)
Saya: “Oh, iyo yo. Kan akeh pengunjunge lek Sabtu ngene.” (Oh, iya ya. Kan banyak pengunjungnya kalau Sabtu gini.)

SPK: “Iyo Mas, yak opo mane. Nggolekno mangan wong tuwo iki, wong tuwo garek siji tak eman-eman, Mas.” (Iya Mas, mau gimana lagi. Mencarikan makan orang tua ini, orang tua tinggal satu saya jaga benar-benar, Mas.)
Saya: “Iyo, Mas. Apik iku, sing sabar ae.” (Iya Mas. Bagus itu, yang sabar saja.)

SPK: “Aku gak dodol koran tok, Mas. Aku yo jektas muleh kerjo ket isuk iki.” (Saya tidak cuma jualan koran aja, Mas. Saya juga baru aja pulang kerja dari pagi ini.)
Saya: “Mosok Mas? Kerjo nangdi?” (Masak sih Mas? Kerja di mana?)

SPK: “Kerjo cleaning service nang Rumah Sakit Haji, Mas.” (Kerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Haji, Mas.)
Saya: “Nduwe adik ta, Mas?” (Punya adik ya, Mas?)

SPK: “Nduwe Mas, loro adikku, wedok kabeh. Sing siji sek SD, sing siji SMP. Tak bukakno usaha dodolan tahu tek nang omah, Mas.” (Punya Mas, dua adik saya, perempuan semua. Yang satu masih SD, yang satu SMP. Saya bikinkan usaha jualan tahu tek di rumah, Mas.)
Saya: “Wah, hebat sampean, Mas. Sing penteng tetep sabar ae yo? Aku mbiyen budhale yo tekok soro kok, Mas. Berjuang teko nisor, gak langsung enak.” (Wah, hebat Anda, Mas. Yang penting tetap sabar aja ya? Saya dulu berangkatnya juga dari susah kok, Mas. Berjuang dari bawah, tidak langsung nyaman.)

SPK: “Iyo, Mas. Aku kadang yo kerjo nyambi liyo, gak mek iki tok. Sampean menggok ta, Mas?” (Iya, Mas. Saya kadang juga kerja part time lainnya, tidak cuma ini aja. Anda belok ya, Mas?)
Saya: “Iyo, aku belok, Mas. Sampean ajange nangdi seh? Tak terno ae gak popo.” (Iya, saya belok, Mas. Anda mau kemana sih? Saya antar juga tidak masalah.)

SPK: “Wah, suwon yo, Mas.” (Wah, terima kasih ya, Mas.)
Saya: “Sante ae, Mas.” (Santai saja, Mas.)

Setibanya di tempat yang dituju, seorang penjual koran tersebut turun dari motor dan mengucapkan terima kasih, saya pun membalas dengan jawaban: “Semangat yo, Mas?”

Dunia ini memang sangat luas untuk dipelajari, bukan hanya luas secara arti harafiah saja, tapi setiap hal yang mengisinya, termasuk setiap dinamika kehidupan yang ada di dalamnya. Manusia adalah salah satu contoh subjek yang selalu menarik untuk dijadikan objek pembelajaran dengan tujuan dan maksud yang baik.

Malam minggu ini, saya telah belajar kembali dari dinamika kehidupan: Seorang anak manusia yang sedang berjuang tanpa henti dalam kehidupan, tak peduli di bawah guyuran hujan, tak peduli dengan kesehatan yang terancam, hanya mengerti tentang arti dari sebuah pengorbanan.

Dua malam minggu terakhir, saya telah belajar di bawah guyuran hujan. Jika malam minggu ini, saya melihat masih ada orang-orang yang mau berjuang dan berkorban. Minggu lalu saya melihat orang-orang dengan tampang preman (mungkin menurut yang lainnya sebagai orang jahat), namun mengerti bagaimana caranya bersyukur dan berterima kasih. Bersyukur dan berterima kasih, karena mendapatkan bantuan ketika motor yang dikendarainya mogok di tengah guyuran hujan (mirip dengan yang tercatat dalam note tersebut: http://goo.gl/17eqF).

Jangan pernah berhenti belajar. Karena pada saat belajar, tanpa disadari kita merecharge (mengisi/membangkitkan kembali) kemampuan-kemampuan yang telah kita miliki sebelumnya, untuk dikembangkan. Karena pada saat belajar, tanpa disadari kita akan menemukan hal-hal baru (yang mungkin saja belum kita miliki sebelumnya), untuk diaplikasikan.

Happy Saturday Night sahabat semua. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: