Memberikan perlindungan secara berlebihan?

112169.1LMalam minggu ini, saya teringat dengan obrolan via inbox facebook dengan seorang Ibu sekitar dua tahun silam, obrolan yang tercipta pada saat itu tentang tema-tema rohani. Setelah beberapa kali obrolan terjadi, saya sempat dikejutkan dengan pernyataan Ibu tersebut, ketika saya merekomendasikan untuk bergabung ke dalam salah satu group facebook. Ibu tersebut butuh waktu yang lama, karena harus minta pendapat (izin) lebih dulu sama suami untuk bergabung di dalamnya.

Saat itu muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya terkait dengan tindakan yang Ibu tersebut lakukan. Pertanyaan yang muncul dengan kuat dalam benak saya adalah: Ketika seorang wanita harus bertindak seperti itu, apakah mengindikasikan bahwa pria yang bersama dengannya over protective? Hingga menjadikan istri tidak berani melakukan apapun, kecuali jika telah mendapat izin dari suami? Meskipun hanya sebatas untuk bergabung ke dalam group rohani yang ada dalam facebook?

Dari penggalan pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saat itu, mengantarkan saya pada sebuah refleksi malam minggu ini. Sembari menikmati jus alpukat, saya duduk di depan laptop, menekan tombol-tombol huruf yang ada. Sebuah refleksi tentang kekuatiran yang berlebihan, hingga mendorong seseorang untuk melindungi orang yang disayangi secara berlebihan pula. Tindakan tersebut dikenal dengan istilah over protective. Over protective bisa terjadi dalam hubungan orang tua kepada anaknya, suami kepada istrinya (begitu juga sebaliknya), bahkan dalam tahap pacaran dan tahap saling mengenal pun bisa saja terjadi.

Over protective seringkali dimaknai dengan negatif, karena memang dalam kasus tertentu ada yang kelewat batas. Over protective membuat seseorang merasa dijadikan seperti boneka oleh pasangannya, boneka yang mendapat perlindungan sebaik mungkin, tidak ada orang lain yang boleh menyentuh dan coba memiliki. Bahkan ada yang ekstrim, menjadikan pasangan sebagai boneka yang dimasukan ke dalam kotak dan dikunci rapat-rapat. Kalau perlu, boneka itu dipotong-potong, dicincang sampai halus dan tidak berbentuk lagi supaya muat dalam kotak, hehehe.

Dalam banyak sisi saya pribadi kurang setuju dengan tindakan over protective. Karena dampak dari objek yang dikenai tindakan tersebut, cenderung menjadi pasif, penakut dan melakukan aktivitas secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan (izin) dari subjek yang mengenai tindakan. Namun, saya juga berusaha melihat sisi lain dari tindakan over protective, pasti ada alasan kuat mengapa subjek memperlakukan objek sebegitu overnya. Sisi lain yang bisa berarti bahwa subjek sangat menyayangi objek. Sekalipun nampaknya objek hanya dijadikan seperti sampah dan boneka yang tak berguna, seperti tidak dijadikan partner terlebih menjadi penolong yang baik, namun keadaan yang sebenarnya terjadi adalah subjek sangat takut untuk kehilangan objek.

Sisi lain itulah yang coba saya tangkap pada Ibu yang terlibat obrolan dengan saya dua tahun silam. Bisa saja apa yang telah saya sampaikan di atas, telah dialami pula oleh Ibu tersebut. Hal itu bisa terlihat dari usaha meminta pendapat (izin) lebih dulu kepada suami, melakukannya dengan senang hati, tanpa perlu melakukan sesuatu di luar pengetahuan suaminya. Apa yang Ibu tersebut lakukan, bisa berarti pula bahwa Ibu itu sedang membalas cinta suami yang telah terbukti dengan over protective. Karena dengan over protective yang diterimanya selama ini, membuatnya jadi mengerti bahwa suami sangat mencintainya.

Selamat berakhir pekan sahabat semua. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: