Bonek Ngamuk, Jalan Tol Surabaya Lumpuh

GambarMalam ini, ratusan Bonek turun ke jalan tol Dupak Surabaya arah Waru. Aksi dari suporter Persebaya Surabaya yang sebagian besar berusia remaja itu, terjadi karena akan melakukan sweeping terhadap suporter Aremania yang akan melewati jalan tol setelah menyaksikan pertandingan Arema melawan Persegres, Gresik, Kamis (7/3/2013) sekitar pukul 15.00 WIB tadi. Aksi tersebut sebagai reaksi balas dendam dari insiden pemukulan oleh Aremania terhadap Bonek saat di Blitar beberapa waktu lalu.

Sebagai pemuda asli kelahiran Surabaya dan mantan Bonek saat masih remaja, saya mengetahui secara pasti yang teman-teman lakukan. Tipikal remaja (dan pemuda) Surabaya memang identik dengan keras serta memiliki keberanian yang luar biasa, di samping itu mereka juga memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Saat satu Bonek tersakiti, maka sakit itu adalah sakit bagi semua Bonek. Apa pun akan dilakukan demi membalaskan rasa sakit itu, seperti halnya yang terjadi malam ini, ratusan Bonek turun ke jalan tol dengan bermodalkan nekat (BOndo NEKat).

Sebagai mantan Bonek, saya angkat topi untuk teman-teman Bonek yang telah memiliki keberanian yang luar biasa dan solidaritas yang tinggi. Namun, apabila saya boleh saran: “Ayo rek, sing rukun gak usah gegeran. Gegeran mek ngrugikno masyarakat liyane. Arema sek dulur dhewe, dulur ijen tanah air, tanah air Indonesia. ” (Ayo kawan, yang rukun tidak perlu rusuh. Kerusuhan hanya akan merugikan masyarakat luas. Arema masih saudara sendiri, saudara satu tanah air, tanah air Indonesia). Terlebih bagi Bonek yang masih berusia sekolah: “Aku yo tahu mbonek rek, sek cilik mekitik wis melok Yayasan Suporter Surabaya wilayah Ngagel, tapi gak tau nggawe resek.” (Saya juga pernah menjadi bonek, masih kecil sudah ikut Yayasan Suporter Surabaya wilayah Ngagel, tapi tidak pernah bikin onar).

Bonek yang identik dengan keberanian yang luar biasa itu, akan sangat baik jika diarahkan untuk hal yang positif dan membangun, bukannya merusak. Menjadi Bonek yang memanfaatkan masa muda dengan hal yang berguna untuk mempersiapkan masa depan. Seperti pada saat perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia ini, pada saat itu ada satu anak muda yang masih berusia belasan tahun mengambil bagian dengan menjadi Bonek untuk melawan penjajah. Namanya adalah Slamet Rijadi, ia menyandang gelar sebagai Pahlawan Nasional dan merupakan pencetus pasukan khusus TNI yang dikemudian hari dikenal dengan nama Kopassus. Ia sangat menonjol kecakapan dan keberaniannya, terutama setelah Jepang bertekuk lutut dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan (http://goo.gl/vFWvA).

Slamet Rijadi telah berjuang, bukan hanya dengan bondo nekat belaka, tapi dengan kepandaian dan kecerdasan, membangun kompetensi dengan banyak membaca buku. Jika saat ini hasil dari Slamet Rijadi memanfaatkan masa muda dengan sangat baik itu dapat berguna bagi kita semua, maka sudah selayaknya apabila Bonek-Bonek meneladani Slamet Rijadi. Bukan menjadi Bonek yang cenderung identik dengan nekat yang anarkis tanpa memberikan nilai tambah buat orang lain, tapi menjadi Bonek yang memiliki keberanian yang luar biasa dan bertindak karena visi (cita-cita) yang kuat. Bonek mesti pandai dan cerdas, bukan hanya sekedar bondo nekat belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: