Nyepi Yang Kuhayati Dalam Kenasranian

GambarHari ini saudara kita yang beragama Hindu sedang melaksanakan ibadah Nyepi. Makna Nyepi bagi umat Hindu adalah menjauhkan diri dari kenegatifan dan keramaian, dengan melaksanakan tiga ketentuan yang ada, yaitu: mematikan api (amati geni), mematikan kegiatan (amati karya) dan mematikan hubungan (amati lelungan). Umat Hindu akan mengurung diri dalam rumah dengan mematikan seluruh alat yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Itu sebabnya di Pulau Bali yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu, pada saat Nyepi seperti saat ini, seharian hanya akan dijumpai keheningan di setiap sudut dan gelap gulita di malam hari.

Kegiatan yang ada dalam Nyepi, mengingatkan saya akan kegiatan yang ada dalam kenasranian. Jauh lebih minimalis, tanpa amati geni seperti dalam Nyepi, umat Nasrani setiap harinya saat pagi hari sebelum berkomunikasi dan bersosialisasi (melakukan kegiatan apa pun), akan masuk ke dalam kesunyian yang disebut dengan saat teduh. Saat teduh tersebut dilakukan karena meneladani gaya hidup Yesus selama ada di bumi ini. Yesus selalu bangun pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, dan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.

Banyak orang Nasrani mengambil waktu menenangkan diri dalam suasana yang teduh dan tenang untuk membaca dan merenungkan Alkitab, bukan hanya pada saat bangun pagi-pagi benar, tapi juga mengambil waktu di malam hari sebelum memasuki peraduan. Bahkan kini, saat teduh telah berkembang dengan menempuh perjalanan ke rumah-rumah doa yang ada di pegunungan, hingga ada yang ekstrim dengan masuk ke dalam hutan, tepi pantai, dan sebagainya hanya untuk mendapatkan suasana yang teduh dan tenang.

Saya tidak sedang membuat cerita fiktif belaka, saat teduh dengan masuk ke dalam hutan dan berada di tepi pantai itu benar-benar terjadi. Mungkin dengan berada di dalam hutan seorang diri, hanya mendengar kicauan burung dan daun-daun yang dihembus angin, seseorang bisa mendengar suara Misteri dengan jiwa. Mungkin dengan berada di tepi pantai seorang diri, hanya mendengar deburan ombak, seseorang bisa mendengar suara Misteri dengan hati.

Bagi saya, cara seperti itu sah-sah saja, tidak sesat dan tidak menjadikan seseorang murtad dengan beralih ke hal-hal yang klenik. Bukankah Yesus pun melakukan hal yang sama? Naik ke atas gunung? Masuk ke dalam taman (hutan) Getsemani? Sementara murid yang mendampingi-Nya selalu diminta menunggu dan berdoa dari kejauhan? Karena dengan cara-cara yang tidak biasa seperti itu, terkadang suara Misteri lebih jelas terasa di jiwa dan lebih keras terdengar di hati.

Saat teduh yang dilakukan terus menerus pada pagi hari dan malam hari, bagi saya pribadi hanya akan membentuk rutinitas belaka. Rutinitas untuk maksud dan tujuan yang baik memang patut untuk dipertahankan dan terus ditingkatkan. Karena dengan saat teduh, tanpa disadari sedang terjadi sesuatu dengan spiritual (alam roh) kita pada saat menjalani aktivitas sepanjang hari dan dalam sepanjang tidur di malam hari. Namun, dari rutinitas yang terbentuk itu cenderung menimbulkan kejenuhan yang menyebabkan saat teduh jadi bolong-bolong (terkadang dilakukan dan terkadang tidak dilakukan), hingga tak jarang kehidupan saat teduh jadi ditinggalkan.

Maka dari itu, cara saat teduh yang berbeda dari biasanya layak dipertimbangkan untuk diaplikasikan. Mungkin cara yang berbeda itu bukan hanya dari segi tempat, harus pergi ke hutan dan pantai dulu, tapi bisa juga dari segi waktu. Seperti cara sederhana yang telah saya aplikasikan semalam, bukan melakukan rutinitas saat teduh menjelang waktu tidur, namun melakukan saat teduh pada waktu-waktu (biasanya) saya sedang asyik dengan laptop, asyik berselancar kemana saja saya mau, asyik berkomunikasi via whatsapp, dsb. Dengan penuh kerendahan hati, semalam saya mencoba masuk ke dalam kesunyian, memasuki jembatan antara diri dengan Sang Misteri. Dalam jembatan itu, saya memberikan diri dan waktu untuk mendengar suara Sang Misteri dengan jiwa dan hati.

Tanpa tendensi untuk bermegah dan merendahkan siapapun, tanpa tendensi sok kharismatik yang merasa memiliki akses langsung kepada Tuhan. Suara Sang Misteri itu benar-benar terasa dan terdengar dalam jiwa dan hati, terlebih saat saya tak mampu berkata-kata dengan bibir dan pikiran lagi, Penolong dalam hati tetap mampu memperkatakan perkara yang tak dapat terkatakan oleh saya di dalam keheningan.

Bagi saudara-saudaraku Nasrani: Hampiri Tuhan dengan cara yang berbeda, bukan hanya karena rutinitas belaka. Bagi saudara-saudaraku Hindu: Selamat mengkhidmati kembali makna Nyepi dalam dunia yang galau ini. Akhir kata: Selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1935.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: