Menghukum Siswa di Sabtu Pagi

Gambar

Semasa sekolah, saya memiliki pengalaman dihukum oleh guru karena pelanggaran-pelanggaran disiplin yang pernah saya lakukan. Dua hukuman yang pernah saya terima semasa SMA dan tetap teringat oleh saya hingga saat ini adalah hukuman karena memakai sepatu berwarna yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah, dan bersikap kurang baik terhadap salah satu guru.

Dua hukuman itu teringat oleh saya hingga saat ini, karena bentuk hukuman yang dijatuhkan kepada saya oleh salah satu guru pada saat itu, saya nilai kurang bijak. Untuk pelanggaran atas warna sepatu, bentuk hukuman yang dijatuhkan adalah sepatu kanan saya disita dan menyebabkan saya harus bertelanjang kaki sepanjang hari, baik pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dan pada saat istirahat di luar kelas.

Bagi saya hukuman itu tidak terlalu berat, tapi cukup untuk memberikan efek jera kepada saya agar tidak mengulang kesalahan. Karena saya sudah cukup malu ketika sepanjang hari disaksikan oleh warga sekolah, rasa-rasanya saya seperti anak hilang yang tersesat ke sekolah mereka. Namun, bagi guru yang memberikan sanksi kepada saya, hukuman semacam itu dirasa belum cukup.

Saat jam pulang sekolah, saya menemui guru yang telah memberikan sanksi, untuk meminta kembali sepatu yang disita, tapi guru tersebut menolak untuk memberikannya. Guru tersebut menyatakan sepatu boleh diambil, apabila orang tua saya yang mengambilnya. Saya berusaha menjelaskan kepada guru tersebut, bahwa saya sangat membutuhkan sepatu di tengah terik matahari siang seperti pada saat itu, karena saya harus jalan kaki cukup jauh untuk menuju angkot, begitu pula ketika turun dari angkot untuk menuju ke rumah. Penjelasan saya berakhir dengan percuma, alhasil saya pun harus pulang dengan bertelanjang kaki.

Ternyata dengan penderitaan menanggung rasa malu seharian di sekolah, tidak cukup untuk menebus kesalahan saya. Saya pun harus menebusnya dengan jalan bertelanjang kaki di atas aspal dan debu pasir berbatu yang sangat panas karena sengatan matahari. Karena saya tidak kuat dengan sengatannya, saya pun mengenakan sepatu sebelah kiri yang tidak ikut tersita. Seandainya saya ada cukup uang untuk membeli sandal jepit pada saat itu, pasti saya akan membelinya. Tapi jangankan ada uang untuk membeli sandal jepit, ada uang untuk ongkos naik angkot saja, sudah bersyukur sekali pada saat itu.

Dua tahun berlalu sejak hukuman itu saya terima, saya harus berurusan kembali dengan guru yang sama. Kali ini kesalahan saya karena mengabaikan peringatan guru yang telah menghimbau dari kejauhan agar seluruh siswa yang ada di depan kelas dapat masuk ke dalam kelas, karena jam istirahat telah berakhir. Ketika teman-teman yang lain berhamburan masuk ke dalam kelas karena ketakutan dengan himbauan guru tersebut, saya lebih memilih diam seorang diri di depan kelas, buang muka tidak memperhatikan himbauannya, seolah-olah sedang tidak terjadi suatu apapun.

Seketika itu juga, guru tersebut berjalan dengan cepat dari lantai dua turun ke lantai satu untuk menghampiri saya. Saya yang mengetahui hal tersebut, pada akhirnya memutuskan untuk masuk kelas. Tanpa disangka, guru tersebut berdiri di depan pintu kelas, dan dengan sadar langsung “plaaaaaaaak” menampar pipi kiri saya yang saat itu sedang berdiri di hadapan teman-teman sekelas. Sakit yang saya rasakan memang hanya terasa beberapa menit, tapi rasa malu yang saya dapatkan bertahan hingga seharian.

Saya akan lebih bisa menerima, jika guru tersebut menghajar atau menendangi saya sekalipun, tapi pada saat melakukannya tidak di hadapan teman-teman sekelas. Saya sadar sepenuhnya, pada saat itu saya memang salah. Tapi apakah layak hukuman fisik seperti itu hanya untuk sebuah “ke-iseng-an” pelajar SMA? Sementara hukuman untuk sebuah “ke-iseng-an” yang lebih berat saja, ketika saya (dengan tiga teman yang masing-masing memiliki peran) duduk di bangku SMP membunyikan petasan di lorong tangga yang menghasilkan gema suara yang cukup besar, hingga jatuh lima korban pingsan dan terjadi pada saat merebaknya isu bom Bali, hanya mendapat hukuman dikembalikan pada orang tua (skors) selama satu minggu, tanpa ada hukuman fisik sedikitpun.

Dari pengalaman semasa SMA itu, kini saya dapat belajar dalam mengambil tindakan yang tepat untuk menjatuhkan hukuman kepada anak didik saya yang melakukan pelanggaran. Saat anak didik melakukan kesalahan atau penyimpangan perilaku, maka tugas guru yang harus mengarahkan anak didik untuk bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Arahan dari guru sangat dibutuhkan untuk meluruskan anak didik yang berperilaku menyimpang. Namun, bentuk arahan seperti apa yang bisa diberikan guru kepada anak didik? Apakah dengan cara Koersif yang pernah saya terima ketika duduk di bangku SMA? Cara Koersif yang cenderung mengarah pada kekerasan, baik kekerasan fisik dan psikis yang diberikan kepada anak didik? Atau dengan cara Persuasif yang membimbing anak didik tanpa kekerasan?

Pagi ini, saya telah (menjatuhkan hukuman) memberikan arahan dengan cara Persuasif kepada anak didik saya yang telah melakukan pelanggaran atau kesalahan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Pelanggaran tersebut bermula saat kemarin (15/03) murid Kelas V usai mengikuti mata pelajaran Pendidikan Jasmani di halaman sekolah, dengan sepatu yang sedikit basah karena becek yang ada di lapangan, semua siswa masuk ke dalam kelas, sementara semua siswi masuk ke dalam lab komputer untuk berganti pakaian olahraga dengan seragam batik dan saya pribadi mengembalikan alat peraga yang telah digunakan untuk mengajar.

Ketika semua murid selesai berganti pakaian, saya pun bergegas masuk ke dalam kelas untuk melakukan evaluasi proses pembelajaran. Saat masuk ke dalam kelas, saya dikejutkan dengan dua siswi yang sedang menangis, saya coba menanyakan apa yang sedang terjadi. Ternyata dua siswi tersebut tas punggungnya kotor karena sengaja dijatuhkan dan diinjak oleh beberapa siswa, saya pun segera mencari akar permasalahannya dan mendapatkan beberapa siswa yang telah mengotori kedua tas punggung dengan sepatu kotor yang basah karena becek di lapangan.

Hukuman tidak seketika itu saya berikan kepada siswa yang telah melakukan pelanggaran. Saya meminta dua siswi yang menjadi korban “ke-iseng-an” itu, untuk tetap membiarkan tas punggung mereka dalam keadaan kotor dan meminta mereka untuk membawa kembali tas yang kotor itu hari ini. Karena saya akan menghukum siswa yang telah mengotorinya untuk mencuci kedua tas punggung itu hingga bersih. Alasan saya menunda memberi hukuman karena sedang memberi waktu kepada mereka agar merenungkan lebih dulu kesalahan yang telah diperbuat, selain itu juga karena waktu sudah menunjukan jam pulang sekolah. Semua siswa Kelas V dan Kelas VI harus melaksanakan kegiatan Sholat Jumat, meskipun mereka belum akil balig, namun sekolah kami tetap (mewajibkan) mengenalkan Sholat Jumat sebagai bagian dari pelajaran agama Islam.

Sesuai yang telah saya sampaikan, pagi tadi saat menjelang jam istirahat, saya mengeksekusi beberapa siswa yang telah melakukan pelanggaran. Sikat dan bak milik sekolah, ditambah dengan deterjen yang saya beli seharga Rp 1000,- (seribu rupiah) telah saya siapkan untuk mencuci tas kotor hasil “ke-iseng-an” beberapa siswa itu. Lima menit pertama, saya meminta tujuh siswa yang terlibat dalam “ke-iseng-an” untuk bergotong royong mencuci kedua tas punggung. Selebihnya saya persilahkan lima anak yang ada untuk beristirahat dan menahan dua siswa yang menjadi otak dan provokator dari “ke-iseng-an” untuk tetap melanjutkan cucian. Namanya juga anak-anak, sekalipun sedang dihukum dan sedang diberikan arahan oleh gurunya, momen itu berubah menjadi arena bermain air yang sangat menyenangkan bagi mereka. Saat saya perintahkan mereka untuk membilas tas yang penuh dengan busa deterjen, mereka ikut membasahi tubuh mereka yang sedang dibalut lengkap dengan seragam pramuka di bawah kran yang airnya sedang mengalir. Saya yang tadinya sibuk “ngomel” karena sedang memberikan nasehat, jadi tertawa karena melihat “ke-iseng-an” mereka yang baru.

Hukuman telah mereka jalani, tas punggung yang kotor telah bersih dan wangi, seragam pramuka yang basah kuyup karena “ke-iseng-an” mereka yang kedua kali, telah saya ganti dengan seragam cadangan yang saya sediakan dalam lemari. Tanpa perlu kekerasan fisik dan psikis, tanpa perlu intimidasi dan luka yang membekas di hati, saya telah coba menghukum mereka untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma, mengajarkan pada mereka untuk berani bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Nampaknya sederhana saja, tapi saya yakin momen hukuman dengan berbasah-basah itu, akan memberi pesan yang melekat diingatan hingga di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: