Kesiangan Bagi Kemanusiaan, Kepagian Bagi Keilahian

Dua hari lalu, seorang teman berbagi cerita kepada saya tentang salah satu rekan kerjanya yang menghadap pimpinan, agar diberikan ijin tidak masuk kerja setiap hari Sabtu. Oleh sebab, rekan kerjanya tersebut akan menguduskan hari Sabtu (yang disebut juga sebagai hari Sabat), tidak melakukan pekerjaan apa pun, selain kegiatan beribadah. Teman saya tidak mengetahui secara pasti yang menjadi alasan rekan kerjanya dalam membuat keputusan semacam itu, entah karena pengaruh dari komunitas tertentu atau ada sebab lain yang mempengaruhinya.

Saya pun coba merespon cerita teman saya tersebut. Apakah benar memaknai hari Sabat seperti itu? Apakah benar harus berhenti bekerja dan menghindari kegiatan-kegiatan yang dilarang pada hari Sabat (hari Jumat saat matahari terbenam hingga hari Sabtu saat matahari terbenam)? Bukankah Yesus telah mengajarkan cara yang benar dalam memaknai hari Sabat? Sebuah hari yang diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat. Hari yang dibuat untuk kita, untuk kepentingan dan kesejahteraan kita bersama. Bukan hari yang menjadi beban bagi kita, hingga harus meninggalkan pekerjaan (ladang pelayanan).

Makna Sabat yang benar telah Yesus ajarkan lewat teladan hidup-Nya. Semasa hidup di muka bumi ini, Yesus selalu peka terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Yesus tidak peduli sekalipun hari itu adalah hari Sabat, hari yang dalam tradisi Yahudi tidak boleh melakukan pekerjaan dan harus dijaga kesuciannya. Namun, Yesus tetap memberi pertolongan (melakukan pekerjaan) pada hari Sabat, menyembuhkan seorang perempuan yang sakit hingga bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak selama 18 tahun.

Teladan yang Yesus berikan tidak hanya berhenti sampai di situ, Yesus juga menentang sempitnya pandangan kaum Farisi dalam memegang tradisi Yahudi tentang hari Sabat yang ada dalam hukum taurat. Pandangan sempit yang memegang teguh unsur yang tersurat dalam hukum taurat, tapi mengabaikan unsur yang tersirat yaitu Kasih. Kasih yang harus ditunjukan kepada Allah dan sesama lewat hukum taurat. Atas dasar unsur yang tersirat itulah, Yesus juga pernah menyembuhkan seorang tukang batu pada hari Sabat. Seorang tersebut salah satu tangannya mati (lumpuh) karena suatu penyakit, sehingga tidak bisa bekerja dengan maksimal. Tentunya berkat pertolongan Yesus, seorang tersebut akan bisa menggunakan kembali kedua tangannya untuk bekerja.

Teladan lain yang Yesus berikan dari unsur yang tersirat itu, Yesus telah berbelas kasihan (tindakan kasih) kepada murid-murid-Nya saat hari Sabat. Belas kasihan itu nampak dari tindakan Yesus mengijinkan murid-murid-Nya untuk memetik bulir gandum guna dimakan, karena murid-murid saat itu sedang kelaparan dalam perjalanan. Dalam tradisi Yahudi, tindakan memetik bulir gandum (panen) seperti itu, termasuk tindakan atau pekerjaan yang dilarang untuk dilakukan saat hari Sabat. Namun, Yesus menentang tradisi yang tersurat itu, karena yang tersirat jauh lebih penting untuk dikedepankan.

Jika Yesus lebih mengedepankan unsur yang tersirat, daripada unsur yang tersurat dari hukum taurat. Lalu bagaimana dengan kita yang menjadikan Yesus sebagai Junjungan Agung? Apakah akan mengikuti teladan yang telah Yesus berikan? Atau tetap memegang teguh hukum taurat dengan mengabaikan prinsip kasih? Hari Sabat yang benar adalah hari yang mendatangkan berkat untuk sesama, bukan hari yang menjadi belenggu bagi kita, hingga tidak bisa berbuat kebaikan bagi sesama.

Relevansi dari teladan Yesus dengan cerita teman saya, sangat disayangkan apabila rekan kerjanya harus meninggalkan pekerjaan (ladang pelayanan) yang menyangkut kepentingan orang banyak, hanya karena alasan akan beribadah (menguduskan hari Sabat). Karena esensi dari kata ibadah itu sendiri adalah setiap saat mengarah kepada Tuhan dan mengerjakan apa pun dengan sungguh-sungguh seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Jadi, saat kita bekerja pun termasuk beribadah, terlebih jika pekerjaan itu menyangkut kepentingan orang banyak.

Tuhan tidak menginginkan kita selalu kesiangan (terlambat) bagi kemanusiaan dan selalu kepagian bagi keilahian. Tentunya Tuhan akan jauh lebih disenangkan, saat kita bisa mendahulukan dan mengutamakan kepentingan orang banyak, daripada kepentingan pribadi untuk beribadah. Mengapa beribadah saya katakan kepentingan pribadi? Karena kecenderungan manusia dalam beribadah, hanya berangkat dari motivasi untuk mendapatkan sesuatu (perasaan damai, upah, pahala atau ganjaran) bagi dirinya sendiri. Tuhan jauh lebih bijaksana untuk mengingat, memperhatikan, menimbang dan menetapkan nilai dari setiap ibadah yang kita lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: