Bolehkah Bernazar?

Tadi siang, rekan kerja (tenaga outsourcing) saya membagikan sekotak styrofoam yang berisikan nasi dan lauk di dalamnya. Saya pun bertanya: “Dalam rangka apa nih, kok bagi-bagi makanan?” Rekan tersebut menjawab: “Dalam rangka syukuran kenaikan gaji, karena dulu saya pernah bernazar. Apabila saya naik gaji, maka saya akan mengadakan syukuran.” Seketika itu saya tersenyum dan mengucapkan selamat atas kenaikan gajinya.

Mendengar kata nazar dalam jawaban rekan saya tersebut, mengingatkan saya akan obrolan dengan teman facebook beberapa waktu lalu, obrolan tentang nazar dalam kisah Yefta yang ada dalam Alkitab (Kitab Hakim-hakim 11). Cukup banyak orang yang menjadikan kisah Yefta untuk sebuah pengajaran atau refleksi mengenai komitmen.

Komitmen dari seorang Panglima Perang yaitu Yefta. Yefta yang jika menang dalam perang, akan menyerahkan kepada Tuhan apa yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemui Yefta ketika kembali dengan selamat dari berperang. Sekalipun saat itu yang keluar adalah anak gadis Yefta sendiri, Yefta tetap memenuhi komitmennya mempersembahkan anak gadisnya kepada Tuhan untuk melayani di rumah Tuhan.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu, tidak ada yang salah jika banyak orang mempelajari tentang komitmen dari kisah Yefta. Namun, saya mempelajari hal yang lain dari kisah Yefta, dalam ayat 35 tertulis: “Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku HANCUR LULUH dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.”

Pertanyaan yang muncul dalam benak saya ketika membaca ayat 35 yang menceritakan kisah Yefta tersebut adalah: Mengapa Yefta harus hancur luluh ketika melihat anak tunggalnya yang keluar dari pintu rumahnya dan teringat akan nazarnya? Jawabannya (menurut saya) adalah: Karena Yefta menyesal telah terburu-buru dalam bernazar, tidak memikirkan akibat dibelakangnya. Yang penting Yefta bisa menang dalam peperangan, sekalipun anaknya yang harus dikorbankan.

Akibat dari nazar Yefta yang terburu-buru saat di medan perang itu, anak gadis Yefta jadi menangisi kegadisannya (menderita) selama dua bulan dengan mengasingkan diri di pegunungan dan seumur hidup tidak pernah mengenal laki-laki. Jika memperhatikan lebih jauh lagi pada ayat 40, penderitaan dan kesedihan anak gadis Yefta menjadi penderitaan dan kesedihan pula bagi orang banyak. Dalam adat Israel dari tahun ke tahun, anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari dalam setahun akan meratapi kisah anak perempuan Yefta tersebut.

Tentunya dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap Roh yang menghinggapi Yefta (ayat 29), jika melihat dampak yang ditimbulkan dari nazar Yefta tersebut, terlihat bahwa Yefta benar-benar egois dan terkesan emosional saja. Bernazar tanpa menimbang baik-baik apa yang dinazarkannya, tidak punya spesifikasi tentang hal apa yang harus dikorbankannya, yang penting Tuhan tergerak untuk melakukan sesuatu baginya pada saat itu juga.

Untuk nazar yang sangat penting dalam hidupnya, tidak seharusnya Yefta asal cuap, tidak memikirkan akibat yang terjadi di belakang: Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran (Hakim-hakim 11:30-31).

Nazar Yefta nampak tergesa-gesa, nazar yang diucapkan pada saat dalam perjalanan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon (Hakim-Hakim 11:29). Nazar yang dibuat dengan tergesa-gesa saat dalam perjalanan, tidak melalui pergumulan yang panjang oleh Yefta itu, benar-benar tidak sebanding dengan dampak nazar yang dialami anak gadisnya selama dua bulan dan seumur hidupnya.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Yefta tersebut adalah: Kita boleh saja bernazar, tidak salah jika kita menunjukkan ketergantungan kepada Tuhan dengan cara bernazar. Namun, jangan terburu-buru dalam bernazar, hingga harus datang penyesalan di belakang. Terlebih lagi, jangan sampai dengan nazar itu seolah-olah kita sedang mempengaruhi Tuhan, sedang memberikan iming-iming kepada Tuhan, agar Tuhan berpihak dan berbuat sesuatu bagi kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: