Lion Air Yang Kutumpangi di Bandara Husein Sastranegara

Tergelincirnya Pesawat Lion Air dengan rute penerbangan Bandung-Denpasar di sisi runway Bandara Ngurah Rai kemarin sore (13/04), mengingatkan saya akan perjalanan dua minggu lalu (31/03) dari Bandung pulang ke Surabaya. Tepat dua minggu lalu, pukul 15.50 WIB hujan lebat turun membasahi Bandara Husein Sastranegara. Ketika waktu menunjukan jam keberangkatan, saya pun bergegas dari ruang tunggu bandara menuju pesawat Lion Air Flight No. JT 0950 dengan menggunakan payung yang telah disediakan oleh maskapai penerbangan untuk melindungi penumpang dari guyuran hujan.

Setibanya di dalam pesawat, saya mencari Seat 17 C sesuai yang tertera dalam tiket. Setelah menemukannya, saya meletakan kedua tas ransel dalam bagasi kabin tepat di atas Seat 17 C, dan sesudahnya saya duduk manis sambil mengenakan sabuk pengaman. Selang lima menit, pramugari mengumumkan bahwa keberangkatan pesawat ditunda 15 menit hingga cuaca membaik. Waktu yang diperkirakan ternyata benar, setelah 15 menit berlalu, hujan lebat berubah menjadi gerimis sendu. Pesawat pun mulai bergerak mengambil posisi lepas landas.

Hanya dalam hitungan detik, pesawat pun telah meninggalkan landasan pacu Bandara Husein Sastranegara. Dari jendela pesawat, nampak awan gelap melingkupi pesawat yang saya tumpangi. Fasten Seat Belt yang biasanya dalam keadaan penerbangan dengan cuaca normal akan segera mati setelah pesawat mencapai ketinggian yang ditentukan, kali ini lampunya tetap menyala dalam waktu yang lama. Saya pun tetap mengenakan sabuk pengaman, karena memang beberapa kali goncangan terjadi. Sebenarnya goncangan yang terjadi beberapa kali itu, sama sekali tidak membuat cemas, karena hanya goncangan kecil seperti biasa saat pesawat melintasi awan. Namun, dari beberapa kali goncangan itu ada sekitar lima kali goncangan keras (turbelensi) yang terjadi.

Dari lima kali goncangan inilah yang sempat membuat penumpang panik, karena penumpang (saya pun) merasa seperti dihempaskan dengan cepat dari ketinggian turun ke bawah. Pada saat penumpang panik tersebut, ada peristiwa yang cukup menggelitik bagi saya. Saat turbulensi yang pertama terjadi, saya coba melihat penumpang Bule dengan temannya yang duduk tepat di samping saya pada Seat 17 B dan 17 A, mereka berdua lebih memilih untuk memejamkan mata. Pandangan pun saya alihkan pada penumpang yang duduk di samping kanan saya pada Seat 17 D, seorang bapak-bapak yang ekspresinya ketakutan sambil memandang saya seolah bertanya: “Gimana ini, Mas?”

Saya pribadi saat itu coba menikmati keadaan yang sedang terjadi, dengan tetap memperhatikan ekspresi penumpang lainnya yang ada dalam jangkauan mata saya. Tak lama kemudian, turbulensi yang kedua terjadi, kali ini saya mendengar suara beberapa anak kecil yang tertawa. Saya coba mendengarkan dari mana suara tersebut berasal, ternyata tiga baris seat di depan saya ada beberapa penumpang yang masih berusia anak-anak. Mendengar tawa mereka, saya pun jadi tersenyum lebar, karena pada saat penumpang dewasa lainnya ketakutan, anak-anak tersebut malah tertawa. Bukan hanya tertawa pada saat terjadi turbelensi yang kedua, tapi sepanjang terjadinya turbulensi. Anak-anak itu sangat menikmati terjadinya turbelensi, mungkin dalam pikiran mereka rasa dari turbulensi pesawat itu sangat menyenangkan, (mungkin) sama menyenangkannya saat mereka bermain Roller Coaster di Trans Studio Bandung.

Tawa anak-anak pada saat itu, seketika mengingatkan saya akan pengajaran Yesus. Sambil tersenyum lebar, saya coba mengingat kisah mengenai Yesus selama hidup di muka bumi ini dengan anak-anak kecil. Suatu kali pada saat Yesus mengajar, Yesus pernah memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah banyak orang yang sedang diajar-Nya. Yesus pada saat itu mengajarkan kepada banyak orang, supaya menjadi seperti anak kecil yang berada di tengah-tengah mereka.

Melihat fakta pada anak-anak kecil yang saya jumpai dalam pesawat Lion Air, mengingatkan saya kembali bahwa apa yang diajarkan Yesus adalah hal yang luar biasa. Hal luar biasa yang dapat ditemukan dari seorang anak kecil, yang juga harus dimiliki dan dipertahankan oleh orang dewasa seperti kita. Anak-anak kecil dalam pesawat itu tetap bisa tertawa, karena mereka adalah pemberani. Pemberani yang tidak pernah memikirkan bahaya yang akan terjadi, karena anak-anak itu mengerti bahwa orang tua mereka ada bersama dengannya. Mereka percaya dan bergantung penuh kepada orang tuanya, hingga tidak perlu merasakan kuatir akan bahaya turbulensi.

Saat ini, (mungkin) entah sudah berapa tiket penerbangan Lion Air yang dibatalkan oleh banyak penumpang yang (mungkin) ketakutan setelah tergelincirnya pesawat Lion Air di Bandara Ngurah Rai kemarin sore. Jika melihat apa yang Yesus ajarkan, sudah selayaknya kita bersikap seperti anak kecil yang pemberani. Menjadi pemberani yang tidak pernah memikirkan bahaya yang akan terjadi, karena kita mengerti bahwa Tuhan selalu ada bersama dengan kita. Pemberani yang percaya dan bergantung penuh kepada Tuhan, hingga tidak perlu merasa takut dan kuatir akan bahaya yang akan terjadi.

Pesawat mewah, maskapai terkemuka, (dan sebagainya) bukanlah jaminan dari keselamatan. Karena hidup ini tidak dipengaruhi oleh fasilitas yang mewah, hidup ini tidak ada dalam genggaman tangan pilot yang (handal) dapat dipercaya, (dan sebagainya) tapi hidup ini ada dalam genggaman tangan Tuhan yang penuh kuasa. Yuk, bareng-bareng jadi seperti anak kecil yang pemberani dalam kehidupan ini. Karena kita tidak akan pernah bisa bergerak kemana-mana, jika kita selalu memikirkan bahaya yang akan menimpa. Tak ada yang perlu dikuatirkan, karena Tuhan selalu ada bersama dengan kita.

Happy Sunday sahabat semua. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: