Siapa yang menyuruh kita untuk percaya pada Tuhan?

Dalam studi filsafat, keyakinan manusia dalam menyembah, memuji, memuliakan, mematuhi perintah dan menjauhi larangan Tuhan, sering dipertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sekitar: Apakah kita mau disuruh menyembah orang lain? Apakah kita mau diperintah orang lain untuk berbuat baik dan tidak berbuat jahat? Apakah kita mau memuji dan memuliakan orang lain? Jadi mengapa kita harus melakukan itu kepada Tuhan? Siapa yang menyuruh kita? Apakah bukan diri kita sendiri yang memerintah itu pada tubuh kita?

Respon saya dalam menghadapi skema konsepsi (kerangka pemahaman) studi filsafat seperti itu, sederhana saja: Dalam menyembah, memuji, memuliakan, mematuhi perintah dan menjauhi larangan Tuhan, saya hanya memiliki satu kata dan satu alasan saja yaitu Cinta. Karena cinta yang ada dalam diri ini, maka tanpa disuruh dan diperintah oleh siapapun, akan muncul berbagai ekspresi cinta kepada Tuhan. Terlebih jika terus mabuk karena cinta, maka hal yang terduga sekalipun akan muncul di permukaan.

Skema konsepsi yang lebih tepat mungkin (bisa) seperti ini: Apakah kita bisa mencintai orang lain (sepasang kekasih, sepasang suami istri, dsb)? Apakah kita mau diperintah orang lain untuk berbuat sesuatu sebagai bukti cinta? Apakah kita mau memuji orang lain (tidak perlu berlebihan) yang telah berjasa dalam hidup? Apakah kita mau memuliakan orang lain yang telah membuat hidup menjadi lebih indah karena cinta? Jadi mengapa kita tidak melakukan itu kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia, langit dan bumi beserta isinya? Bukankah kita juga mencintai-Nya? Bukankah cinta yang tak bisa dipungkiri itu yang akan memerintah pada tubuh kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: