Mengawasi Anak Jalanan Mengikuti Ujian Nasional

Gambar

Senin, 6 Mei 2013, Pukul 06.15 WIB saya tiba di sebuah sekolah dasar yang memiliki Kelas Layanan Khusus (KLK) untuk mengawasi Ujian Nasional. Dengan pakaian batik yang melekat pada tubuh, bukan pakaian dinas harian (seragam) yang biasa dikenakan oleh tenaga pendidik di Kota Surabaya. Tujuan dari mengenakan pakaian batik tersebut, untuk menciptakan suasana yang lebih rileks bagi siswa, dan menjauhkan siswa dari suasana angker yang seolah-olah (siswa) akan dibantai oleh algojo berseragam.

Rupanya kedatangan saya ke sekolah tersebut terlalu pagi, saya pun memilih untuk memperhatikan lingkungan sekitar, dan berbincang dengan pimpinan sekolah (yang tiba 5 menit kemudian setelah kedatangan saya), sembari menunggu waktu pengarahan. Selesai berbincang, saya masuk ke dalam ruang tunggu pengawas untuk mendapatkan pengarahan terkait hal-hal teknis pelaksanaan ujian dari Ketua Penyelenggara Ujian Nasional Tingkat Satuan Pendidikan.

Usai pengarahan, waktu untuk mengawasi pun tiba. Saya keluar dari ruang tunggu dengan membawa lembar jawaban, soal ujian dan perangkat lain yang dalam keadaan tersegel. Dengan senyum saya menyapa siswa yang ada di halaman sekolah: “Ayo Nak, bisa mulai berbaris dan masuk ke dalam ruangan.” Setelah siswa menempati bangku sesuai nomor Ujian Nasional masing-masing, dilanjutkan dengan memberi salam dan berdoa. Ketika saya membuka segel perangkat ujian dan akan membacakan tata tertib ujian, saya melihat ketegangan pada wajah siswa yang akan saya awasi tersebut.

Melihat ketegangan pada wajah mereka, saya menunda sejenak untuk membaca tata tertib ujian. Dalam benak saya: “Apa yang mereka takutkan ya? Pakaian yang saya kenakan sudah batik, bukan seperti algojo yang berseragam. Malah mungkin tampang saya lebih mirip dengan tukang cendol, penjual balon, dan penjual lain yang ada di depan sekolah mereka (hehehe).” Seketika itu, saya berkata: “Kok tegang sekali? Santai dan rileks saja, Nak. Coba minta senyum dari bibirnya, 5 centimeter ke kanan, dan 5 centimeter ke kiri (sambil saya memberikan contoh menarik bibir lebar-lebar).” Serempak, mereka pun tertawa kecil saat memperhatikan perkataan saya.

Setelah suasana cair, barulah saya melanjutkan aktivitas berikutnya, membaca tata tertib ujian, membagi lembar jawaban dan soal, hingga tiba waktu mengerjakan. Sepanjang ujian berlangsung, tak ada lagi cemas, tegang dan ketakutan pada wajah mereka. Setiap kali mereka melihat wajah saya di sela-sela mereka mengerjakan soal, sebisa mungkin saya selalu melempar senyum pada mereka. Mereka pun jadi tersipu malu saat melihatnya, dan kembali fokus kepada soal yang ada di hadapannya.

Tiba-tiba saya teringat, dan bertanya dalam hati: “Bukankah siswa yang saya awasi ini merupakan Kelas Layanan Khusus (KLK)? Kelas yang dipenuhi dengan anak jalanan, anak yang pernah putus sekolah, dan setengah mati untuk membujuknya supaya bisa kembali sekolah? Kelas yang terkadang tidak menyenangkan bagi guru yang mengajarnya, karena mendapatkan makian, lemparan sepatu, dsb adalah hal yang biasa? Namun, mengapa saat ini mereka bisa tertib (bahkan hingga berakhirnya UN hari pertama ini), tanpa membuat keributan dan gangguan sama sekali di dalam kelas?”

Dalam tanya saya, muncul rasa syukur kepada Tuhan. Terlepas dari kontoversi pelaksanaan Ujian Nasional, melihat mereka selama 120 menit berlangsungnya Ujian Nasional pada hari pertama ini, membuat hati saya limpah dengan syukur. Bersyukur atas anugerah Tuhan yang telah menggerakan hati anak-anak jalanan (yang mungkin liar, tidak bisa diatur, dsb) tersebut untuk bisa mengikuti Ujian Nasional. Bersyukur karena pendidikan yang layak, bisa mereka dapatkan dengan gratis. Kiranya dengan keberhasilan mereka mengikuti ujian nasional sekolah dasar, wajib belajar 12 tahun akan bisa mereka kecap. Maju terus pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: