Pornografi Merenggut Kepolosan Muridku

Hembusan badai pornografi makin tak terkendali, bukan hanya menerjang kaum remaja dan dewasa, anak-anak pun kini turut diterjangnya. Badai pornografi makin merajalela menyerang anak-anak, karena hembusannya begitu mudah menerjang setiap sasaran yang ada. Berhembus lewat teknologi bluetooth yang ada dalam ponsel, berhembus lewat warung-warung internet (warnet) yang terkadang disajikan film dewasa pada setiap komputer yang disewakan, dsb.

Pagi ini (17/05/2013), kembali saya menjumpai dampak kerusakan dari hembusan badai pornografi pada anak-anak. Ketika saya memberikan materi latihan pengembangan tubuh, cara melatih kekuatan otot tangan bagi anak usia sekolah dasar, salah satunya saya perkenalkan gerakan push up yang dimodifikasi. Secara bergantian saya persilakan setiap siswa melakukan gerakan yang telah saya contohkan, saat tiba giliran siswa putri yang melakukan gerakan push up, salah satu siswa putra menyeletuk sambil memperagakan gerakan yang dimaksud: “Salah ngono iku, sing bener wedok nang ngisor, lanang nang ndukure.” (Bahasa Jawa yang artinya: Salah seperti itu, yang benar perempuan di bawah, pria di atasnya).

Semua siswa pun jadi tertawa mendengar celetukan yang ada. Tertawa mereka (seolah) menyiratkan bahwa semua siswa, baik putra maupun putri, memahami makna yang terkandung dalam celetukan disertai gerakan tersebut. Seketika itu juga, saya memohon perhatian kepada semua siswa, tanpa nada marah dan menghakimi, saya coba beri pengertian: “Bagus enggak kalau seperti barusan? Siapapun nggak boleh ada yang melakukan seperti barusan ya? Hanya setelah menikah diperbolehkan seperti itu.”

Salah satu siswa menimpali perkataan saya: “Iya Pak, bukan muhrim-nya ya, Pak?” Saya pun menjawab dan melanjutkan kembali memberi pengertian: “Iya benar, saat kelak kalian pacaran, jika pacar mulai pegang tangan, sebisa mungkin berikan penolakan. Tampar kalau perlu (sambil mempraktekan gerakan lucu yang membuat mereka tertawa), katakan hi jijay dengan menyingkirkan tangannya (seolah jijik dengan keberadaan tangan pasangan yang belum menjadi suami istri).” Saya pribadi menilai dengan memberi penjelasan semacam itu, bisa langsung menancap dalam benak mereka, bukan malah memarahi tanpa memberi nilai tambah.

Selesai mengajar, saya terus terbayang dengan peristiwa tersebut di atas. Bukan pertama kali saya menjumpai dampak hembusan badai pornografi seperti itu, bukan hanya pada lingkup tempat saya mengajar, namun ada pada banyak lingkup yang saya sempat bersentuhan di dalamnya. Dampak kerusakan dari hembusan badai pornografi pada anak-anak begitu luas, khususnya anak-anak dari keluarga menengah ke bawah yang kurang mendapat perhatian dari orang tua. Pertanyaannya adalah: “Siapakah yang harus menjadi jawaban? Agama? Pendidikan? Keluarga? Pemuka Agama? Guru? Orang Tua? Pemerintah? (atau) Siapa?”

Menangkal hembusan badai pornografi, tidak cukup hanya mengandalkan salah satu komponen saja, setiap komponen harus bersinergi menangkal hembusan yang ada. Setidaknya bisa meminimalisir dampak hembusan dengan cara memberikan pendidikan seks, mengemasnya dengan bahasa yang halus, coba memberikan pengertian tentang bahaya pergaulan bebas. Tidak cukup hanya memberi semboyan “say no to free sex”, tapi juga harus memberi pengertian tentang bahaya free sex, bahaya penyakit menular, bahaya aborsi, resiko kehamilan usia muda, dsb.

Setiap kita (yang merasa) sebagai orang dewasa adalah pengajar bagi anak-anak di sekitar kita. Setiap kita (yang merasa) sebagai orang dewasa, dipanggil untuk mengajar anak-anak yang kita jumpai di sekitar kita. Bukan hanya sebatas orang tua dengan anak kandung, sebatas guru dengan anak murid, tapi setiap (yang merasa) orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk mengajar anak-anak yang dijumpainya. Mengajar lewat teladan, dengan cara menjaga sikap yang mudah bisa terlihat oleh anak-anak. Mengajar lewat perkataan, dengan cara memberikan pengertian saat menjumpai ketidakberesan pada anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: