Sikap Papa adalah Teladan

Siang ini, teringat perjalanan panjang yang telah saya lalui bersama dengan Papa. Sejak balita, tak banyak kata yang saya dengar dari Papa untuk bekal (pelajaran) menjalani kehidupan yang keras di dunia. Sejak balita, tak banyak kata yang saya terima dari Papa untuk mengajarkan sesuatu kepada saya. Papa miskin kata-kata, bisa mendengarkan Papa berbicara dengan banyak kata, merupakan keajaiban dunia.

Papa memang miskin kata-kata, namun Papa kaya dalam teladan. Sejak balita, tak pernah saya jumpai mulut Papa mengepulkan asap rokok, tak pernah saya lihat Papa menenggak minuman keras. Sekalipun tradisi seperti itu merupakan sesuatu yang lumrah bagi latar belakang kesukuan kami, namun Papa telah membuatnya berbeda. Sejak balita, tak pernah saya dengar dan lihat Papa main wanita, sekian lama Papa telah menjaga cinta, setia tanpa pengkhianatan kepada Mama, hingga kini keduanya makin menua.

Sejak balita, saya menjumpai Papa yang selalu menggunakan tangan berototnya untuk bekerja keras bagi keluarga. Hingga kini tangan berototnya tetap nampak, tetap bekerja bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tapi juga untuk berbagi dengan sesama. Berbagi dengan sesama, mulai dari yang sederhana hingga yang luar biasa (menanggung hidup seseorang). Contoh sikap sederhana yang selalu Papa lakukan adalah meletakan tumpukan uang koin berjajar di tepian tembok pagar rumah, agar setiap ada pengamen atau pengemis yang datang ke rumah, uang koin itu dapat segera diberikan. Sikap Papa dalam hal berbagi ini telah mengajarkan kepada saya untuk mengukur kekayaan bukan dari seberapa banyak (harta) yang bisa kita miliki, tapi mengukurnya dari seberapa banyak kita bisa berbagi.

Sejak balita, saya melihat Papa saat pagi hari dan malam hari, selalu memegang Alkitab untuk direnungkan, kadang juga tertidur dengan Alkitab di tangannya. Aktivitas Papa dalam membaca Alkitab tersebut tak pernah dilewatkan setiap harinya, tanpa aktivitas tersebut seolah Papa kekurangan energi dalam menjalani hari-harinya (http://goo.gl/UN99d). Konsistensi Papa dalam membaca Alkitab tersebut, telah mengajarkan kepada saya untuk memiliki hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan.

Pada akhir tahun 2006, saya menjumpai sikap Papa yang luar biasa kepada saya. Pada akhir tahun 2006 itu, merupakan saat terberat saya menghadapi pergumulan sebagai anak muda (http://goo.gl/GWAc1). Sebagai mahasiswa yang sedang merintis karier sebagai atlet, saya bisa kuliah gratis pada semester dua hingga empat, karena telah mendapat beasiswa prestasi. Uang saku pun tidak perlu lagi menunggu kucuran dana subsidi dari orang tua, karena sebagai atlet yang dibina oleh pemerintah daerah, saya telah mendapatkan uang saku yang cukup, makan tiga kali sehari dengan menu empat sehat lima sempurna, tinggal di asrama pula. Semua keadaan itu membuat saya merasa terbang di awan-awan, merasa tidak lagi menginjak bumi, merasa yang paling hebat, merasa bisa hidup mandiri dan lepas dari (tidak membutuhkan) orang tua. Apa pun yang saya kerjakan, orang tua tidak perlu ikut campur, yang terpenting mengetahui hasil akhirnya, setelah saya sukses nanti, orang tua juga pasti akan merasakan nikmatnya.

Saat saya merasa di atas awan-awan itulah, Tuhan ijinkan keadaan yang sulit boleh terjadi untuk menggempur kecongkakan diri. Semua keadaan yang tadinya baik-baik saja, berubah menjadi duka. Karier atlet yang saya rintis mandek di tengah jalan, kuliah pun berantakan. Mau tidak mau, saya harus memutuskan untuk kembali ke rumah, karena pilihan lain jika tidak kembali ke rumah adalah menjadi gelandangan. Pada momen saya kembali ke rumah inilah, sikap Papa yang luar biasa itu terlihat. Papa tidak menolak saya, Papa tetap menerima saya dengan tangan terbuka. Bukan hanya sekedar menerima, tapi Papa juga (kembali) memberikan dana subsidi untuk uang saku sehari-hari sebagai mahasiswa, dan menanggung biaya kuliah hingga saya selesai mengikuti wisuda. Lewat sikap Papa inilah, saya bisa melihat Tuhan yang tidak terlihat.

Cukup banyak kebaikan yang telah saya jumpai lewat sikap Papa, namun Papa juga tidak luput (beberapa kali) dari ribut-ribut dengan sesama. Bagi saya, ribut-ribut yang Papa alami itu bukanlah sesuatu yang memalukan, karena Papa bukanlah preman pasar yang sok jagoan, yang kerjaannya bikin keributan. Ribut-ribut yang saya jumpai dalam diri Papa itu, telah mengajarkan sesuatu yang berharga kepada saya: Jangan pernah takut menyelesaikan masalah apa pun, jika kita memang benar. Namun, jangan pernah malu untuk minta maaf (dan jangan pernah lari dari tanggung jawab atas kesalahan yang telah kita perbuat), jika kita memang salah.

Teladan yang ditunjukan lewat sikap Papa, telah mengajarkan banyak hal berharga kepada saya. Teladan yang melebihi semua pengajaran yang pernah (dan belum pernah) saya terima dari manusia, sepanjang saya hidup di dunia. Bersyukur, saya memiliki Papa yang miskin kata-kata. Karena banyak kata tak akan ada artinya, memberikan banyak nasihat hingga mulut berbusa tak akan ada gunanya, apabila semua yang disampaikannya hanya omong doang belaka, nilai-nilai yang disampaikan tak pernah dihidupinya.

Selamat ulang tahun, Papa. Terima kasih telah menjadi teladan yang luar biasa untuk anak-anak Papa. Teladan hidup yang telah Papa berikan itu, menjadi modal besar bagi saya untuk menjadi ‘pria’ (suami, ayah, dsb.) dalam kehidupan ini.

Surabaya, 2 Juli 2013

Roy Soselisa

—–

NB: Note di atas telah saya buat sejak akhir bulan lalu, sesuai rencana akan saya posting tepat pada tanggal 2 Juli 2013 lalu, namun karena kesibukan, jadi tertunda mem-posting-nya. Setelah bongkar-bongkar laptop, saya menemukan note (yang isinya telah tersampaikan pada yang bersangkutan) tersebut dan saya posting. Btw, selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat-sahabatku Muslim di manapun sedang berada, kiranya bulan yang penuh berkah ini membawa hikmah bagi sahabat semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: