Merenungkan Dunia Pendidikan Dalam Perjalanan Libur Lebaran

Seminggu sudah berlalu, selama seminggu terakhir, saya mengisi tiga hari libur cuti bersama dan dua hari libur hari raya idul fitri (libur lebaran) dengan melintasi Pulau Jawa dan Sumatera. Menempuh perjalanan-perjalanan yang ada dengan menggunakan berbagai macam alat transportasi, baik alat transportasi darat, laut, maupun udara. Dalam perjalanan-perjalanan itu, saya memiliki banyak waktu untuk merenungkan banyak hal, merenungkannya tanpa perlu terganggu dengan kesibukan sehari-hari yang kerap menyita waktu dan pikiran.

Beberapa hal yang saya renungkan berkaitan dengan dunia pelayanan yang saya tekuni setiap harinya, dunia pelayanan yang bersentuhan dengan dunia pendidikan, dunia pelayanan yang bersentuhan (langsung) dengan anak didik (manusia/makhluk hidup) di sekolah. Yang coba saya sampaikan di sini hanya sebuah perenungan sederhana, namun berharap dari perenungan ini, dapat dijadikan batu penjuru dalam mengelola cara pelayanan (khusus) pada anak didik di sekolah. Mengembangkan model pelayanan pada anak didik yang bukan hanya berfokus pada aspek kognitif saja, namun cukup banyak aspek yang bisa dikerjakan (dikembangkan), jika mampu mencermati masalah yang kerap muncul di permukaan.

Awal mula munculnya perenungan yang berkaitan dengan dunia pendidikan tersebut (salah satunya), karena timbul pertanyaan dalam diri saya: “Haruskah menghukum siswa yang terlambat datang ke sekolah?” Pertanyaan yang muncul itupun, coba saya renungkan ketika dalam perjalanan libur lebaran. Perenungan saya awali dengan menggali memori yang ada dalam lipatan-lipatan otak saya. Menggali memori yang berkenaan dengan peristiwa yang saya alami pada saat masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Semasa duduk di bangku SMP, datang terlambat ke sekolah bukanlah kebiasaan saya, namun sekali-kalinya terlambat, saya harus mendapatkan hukuman membersihkan (ngepel) lantai aula sekolah dengan tongkat yang dilengkapi kain pel. Usaha saya mengayuh sepeda angin dengan sepenuh tenaga dan tergesa-gesa supaya tidak terlambat masuk sekolah, jadi terasa sia-sia. Karena terlambat masuk hanya lima hingga sepuluh menit saja, harus dibayar dengan hukuman yang seharusnya menjadi kewajiban tenaga kebersihan. Tubuh yang terasa lelah (mungkin) bukanlah masalah bagi saya, namun jam belajar (pendidikan yang layak) selama satu jam pelajaran (40 menit) yang sudah seharusnya menjadi hak saya, terbuang percuma begitu saja.

Semasa duduk di bangku SMA, saya pun mengalami hal yang serupa. Namun, hukuman yang saya terima bukanlah ngepel, tapi cukup bengong di depan pintu gerbang sekolah menghabiskan satu jam pelajaran (45 menit). Yang saya sesalkan pada saat itu, guru piket yang bertugas tidak pernah sekalipun coba memperhatikan alasan atau coba mengetahui latar belakang keterlambatan siswa datang ke sekolah. Alasan keterlambatan memang dicatat dalam buku pelanggaran, namun alasan itu tidak dijadikan pertimbangan bagi guru piket untuk menginjinkan siswa yang terlambat masuk mengikuti pelajaran, tanpa harus bengong tak berguna.

Bagi saya pribadi sebagai siswa kala itu, sama sekali tidak ada kesengajaan untuk menerlambatkan diri. Alasan saya terlambat cukup berarti, sebelum saya menuju ke sekolah, saya harus mengantar kakak saya berangkat kerja lebih dulu. Mengantar kakak kandung saya yang mencari tambahan biaya kuliah dengan bekerja, supaya meringankan beban orang tua. Karena sepeda motor hanya satu-satunya di rumah, maka mengantar kerja tersebut menjadi rutinitas setiap pagi. Rute yang harus saya tempuh berlainan arah dengan rute ke sekolah, kerap kali kepadatan jalan raya Kota Surabaya menghadang laju motor saya.

Saya paham benar, jalanan Kota Surabaya cukup padat saat jam berangkat kerja dan anak masuk sekolah. Karena pemahaman itu, saya selalu berusaha berangkat lebih pagi dan memacu motor lebih kencang, agar tidak terlambat datang ke sekolah. Namun, sesekali datang terlambat ke sekolah tak terhindarkan, dan saya pun harus menerima konsekuensinya dengan bengong tak berguna di depan gerbang sekolah selama satu jam pelajaran. Perjuangan saya memacu motor lebih kencang dengan nyawa yang dipertaruhkan, jadi terasa sia-sia dan tak berguna, karena setibanya di sekolah tetap harus bengong tak berguna. Sekalipun saya sudah coba sampaikan alasan keterlambatannya, hukuman tetap diterima.

Semestinya saya bisa menempuh cara lain yang bisa menghindarkan saya dari hukuman bengong tak berguna, dengan cara lompat pagar masjid yang ada di belakang sekolah, lalu menyembunyikan tas dalam masjid sekolah, dan berjalan masuk ke dalam kelas seolah-olah dari toilet. Tapi cara-cara (yang sudah banyak dilakukan) seperti itu, tidak pernah saya tempuh, saya lebih memilih berdiplomasi ala anak SMA. Menyampaikan alasan keterlambatan, dan mengemis untuk diijinkan masuk mengikuti pelajaran, karena terlambat hanya 5 menit. Rupanya guru piket lebih suka dibohongi siswa dengan lompat pagar belakang sekolah, daripada menghargai kemampuan berdiplomasi siswa dan mengetahui latar belakang keterlambatan siswa.

Persoalannya kini: Apakah yang saya alami tersebut di atas terjadi hingga hari ini? Munculnya perenungan ini, salah satunya dipicu oleh peristiwa yang saya jumpai sebelum libur lebaran, ketika saya melewati jalanan yang terdapat gedung sekolah tempat saya menyelesaikan jenjang SMA, saya menyaksikan siswa yang terkunci pintu gerbang depan sekolah, karena datang terlambat ke sekolah. Konsekuensi yang harus diterima oleh siswa yang terlambat yaitu berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh (sekitar satu kilometer) untuk menuju ke pintu belakang sekolah.

Hukuman semacam itu, sudah seharusnya ditinjau kembali. Saya pribadi pun, yang kini melayani dalam dunia pendidikan sebagai tenaga pendidik, telah meninjau dan mengubah hukuman yang tak berguna semacam itu (seperti yang pernah saya terima semasa sekolah dan terus tumbuh subur hingga sekarang). Sebagai tenaga pendidik, setiap kali ada siswa yang terlambat, selalu saya sempatkan berbicara dengan siswa tersebut. Menanyakan latar belakang alasan keterlambatannya, berbagai macam fakta saya jumpai, salah satunya keterlambatan yang disebabkan bangun tidur kesiangan, karena harus membantu orang tuanya berjualan di pasar hingga pukul 04.00 WIB.

Sebagai tenaga pendidik, perlu memperhatikan ruang konteks, memperhatikan situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sangat konyol sekali, apabila hukuman tetap diberikan kepada siswa yang dengan segala keterbatasan kehidupan sosial (keluarga) mereka, masih memiliki semangat belajar yang berapi-api, yang dibuktikan dengan kemauan mereka datang ke sekolah. Memberikan hukuman atas keterlambatan mereka, sama artinya dengan memadamkan semangat belajarnya. Konteks seperti inilah yang kerap saya jumpai pada masyarakat (tempat saya mengajar) di Surabaya Utara, dan setiap kali saya menjumpai siswa yang terlambat dengan alasan semacam itu, saya menepuk bahunya, menjabat tangannya, sambil berkata: “Hebat, Nak. Masih tetap mau datang ke sekolah. Silakan masuk mengikuti pelajaran.”

Percayalah, saat kita memberikan kebebasan semacam itu, tidak akan dimanfaatkan/diartikan negatif oleh mereka. Mereka tidak akan menjadi bebas sebebas-bebasnya (liar), karena tetap ada penghormatan yang mereka miliki dan mereka tujukan pada otoritas yang ada dalam diri pendidik (wakil orang tua mereka) di sekolah. Mendisiplin anak didik memang baik, saya pribadi tidak memberikan perlakuan yang sama kepada anak didik yang melakukan pelanggaran, oleh sebab konteks yang terjadi pada setiap anak berbeda. Namun, terlepas dari ruang konteks yang mereka alami, peraturan (hukum) dibuat untuk anak didik (manusia), bukan anak didik (manusia) untuk peraturan (hukum). Peraturan (hukum) yang ada tidaklah berdiri dalam ruang yang hampa, kita perlu memperhatikan dampak yang lebih berguna bagi anak didik ketika kita mengenai suatu tindakan kepada anak didik, dalam bentuk apa pun itu.

Bagi saya pribadi, membiarkan anak yang datang terlambat ke sekolah, ada bersama-sama dengan kita di dalam kelas, itu jauh lebih berguna bagi mereka, daripada membiarkan mereka ada di luar kelas dengan bengongnya yang tak berguna. Percayalah, kita akan lebih bahagia saat menyaksikan anak didik kita dengan segala keterbatasannya (terlambatnya, bandelnya, dsb.), tetap mau hadir di sekolah untuk belajar bersama-sama dengan kita. Karena kehadiran mereka di sekolah adalah anugerah yang tak terkira, kehadiran mereka untuk menyelesaikan jenjang pendidikan wajib belajar dua belas tahun itu sungguh berharga. Percayalah, menyaksikan siswa dengan segala keterbatasannya (terlambatnya, bandelnya, dsb.) itu jauh lebih membahagiakan, daripada menyaksikan mereka putus sekolah, jadi anak jalanan atau berusaha mencari mereka yang terhilang meninggalkan sekolah, seperti yang pernah saya alami (tersirat dalam note tersebut: http://goo.gl/e65LRZ).

Demikian opini sederhana saya bagi dunia pendidikan yang timbul dari hasil perenungan dalam perjalanan libur lebaran. Dengan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia yang beberapa hari lagi kita rayakan HUT-nya, kiranya oponi ini bisa membebaskan anak didik dari belenggu-belenggu yang tak berguna, yang dapat menghalangi mereka mendapatkan pendidikan yang layak (belajar dengan maksimal). Melalui kesempatan ini, tak lupa juga saya mengucapkan Selamat Idul Fitri bagi saudara-saudara Muslim dimanapun sedang berada, kiranya hidup terus dikelola dalam rahmat dan kemurnian Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: