Sorga di Bawah Ketiak Ibu?

Tak bisa dipungkiri, sekolah kehidupan yang memiliki masa belajar lebih lama (seumur hidup) dari sekolah-sekolah yang ada dalam jenjang pendidikan formal, mampu memberikan pelajaran yang berharga bagi hidup kita. Dalam sekolah kehidupan, kita dapat belajar banyak hal lewat potret kehidupan yang kerap dijumpai di sekeliling kita, diantaranya kita dapat belajar tentang rangkaian pengalaman kegagalan dan keberhasilan yang dialami seseorang.

Sebagai manusia yang terbatas usianya, kita tidak punya banyak waktu untuk mendapatkan semua pengalaman hidup di dunia yang luas ini, dunia yang penuh dengan berbagai pergumulan dan tantangan. Namun, dengan belajar dari pengalaman orang lain, dalam waktu yang singkat kita bisa mendapatkan pelajaran yang berharga. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita tidak perlu berkubang berlumurkan lumpur lebih dulu untuk mengalami kegagalan demi kegagalan, hingga akhirnya berhasil mencapai sebuah tujuan.

Melalui pengalaman orang lain yang kerap saya jumpai pula, banyak pelajaran berharga yang telah saya dapatkan, salah satunya yang akan saya coretkan kisahnya dalam catatan ringan tersebut. Tanpa tendensi dan motivasi untuk menjadikan pengalaman buruk orang lain sebagai alat untuk merendahkan, namun melalui catatan ringan tersebut, saya berusaha membagikan sesuatu pada teman-teman agar tidak mengalami hal yang serupa, sambil saya gunakan kisahnya sebagai sarana intropeksi bagi diri saya pribadi.

Kisah yang saya jumpai tersebut tentang seorang pria yang berada dalam kondisi terganggu karena tekanan psikologis (stress). Kondisi tersebut dipicu oleh berakhirnya hubungan dengan sang kekasih yang tidak lama lagi akan berlanjut ke pelaminan. Usut punya usut, ternyata sang kekasih yang meninggalkan pria tersebut, karena alasan tidak menyukai kebiasaan pria yang setiap menerima gaji dari pekerjaannya, selalu diserahkan kepada ibu-nya agar dikelola untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hmm, sepele bukan permasalahannya? Tapi apakah benar sesepele itu, seremeh itu, seenteng itu? Saat saya mengetahui kondisi si pria yang mengenaskan, si pria yang kehilangan arah hidupnya, si pria yang usianya terus bertambah (menginjak pertengahan kepala tiga, dan terus menuju kepala empat) dan banyak waktu yang telah terbuang, saya pun mengambil waktu untuk memetik pelajaran dari kisah yang terus membuat si pria tenggelam dalam pengasihanan diri.

Saat berusaha memetik pelajaran tersebut, pikiran saya tertuju pada pihak pria, awalnya sempat tertuju pada pihak wanita, namun penilaian tersebut masih dangkal dan terlalu prematur: “Wah, cewek nggak bener nih, nggak bisa menghormati orang tua (yang mengelola keuangan untuk calon suaminya), gimana bisa tunduk sama suami.” Setelah sempat berpikir seperti itu, penilaian pun berbalik arah pada diri si pria, membedah kisahnya dengan otak pria yang saya miliki.

Dalam pandangan saya, si wanita telah mengambil keputusan yang tepat untuk meninggalkan pria tersebut. Mengapa keputusan yang tepat? Karena pria semacam ini, jika saya analogikan seperti bayi yang telah tumbuh besar, namun masih tergantung dengan popok bayi-nya. Popok bayi yang terus melekat pada saluran pembuangan kotoran, popok bayi yang terus melekat setiap saat (pagi, siang, sore dan malam), popok bayi yang masih membutuhkan orang tua/orang lain untuk menggantinya, popok bayi yang bau dan menjijikan.

Ketergantungan bayi yang telah tumbuh besar dengan popok bayi, bisa disebabkan oleh pengasuhnya (orang tua) yang tidak mampu mengajarkan cara untuk lepas dari ketergantungan dengan popok bayi, bisa juga disebabkan oleh bayi sendiri yang memang berkebutuhan khusus. Karena jika memperhatikan tumbuh kembang anak secara normal (dalam hal ini yang saya perhatikan keponakan saya), saat bayi menginjak usia 15 bulan, telah dapat dihimbau untuk melaporkan kepada pengasuhnya, setiap kali ada hasrat/keinginan untuk pipis atau pup. Kini, setelah menginjak usia 17 bulan, beberapa kali keinginan itu timbul, keponakan saya telah mampu melaporkan keinginannya untuk pipis atau pup. Dan waktu akan terus berjalan, akan tiba saatnya keponakan saya lepas dari ketergantungan popok bayi.

Dari analogi popok bayi tersebut di atas, yang dapat saya garis bawahi adalah orang tua dari si pria yang tidak mampu mendidik, atau si pria sendiri yang memang berkebutuhan khusus. Mengingat tujuan dari catatan ringan tersebut bukan hanya untuk membagikan sesuatu pada teman-teman, tapi juga sebagai sarana intropeksi bagi diri saya pribadi, maka saya akan membedahnya lewat pengalaman yang telah saya lalui.

Mengelola keuangan bagi sebagian orang memang bukan hal yang mudah, perlu banyak belajar dalam hal itu. Bagaimana cara memanage keuangan pribadi untuk dialokasikan sesuai pos-pos kebutuhan yang ada setiap bulannya, dsb.? Nampaknya hal seperti itu sederhana saja, namun dari kebiasaan memanage keuangan pribadi, kita juga dilatih untuk bisa memanage diri sendiri. Tanpa disadari, dari kebiasaan mengelola keuangan pribadi, maka pengendalian diri (beli yang diperlu, bukan yang dimau), kemurahan hati (mengingat sesama yang perlu dibantu), kemampuan mengambil keputusan (menggunakan keuangan), dsb. yang bisa melatih diri untuk jadi lebih bijaksana dan berbuah-buah dapat diperoleh di dalamnya.

Bagi saya pribadi, mengelola keuangan telah saya mulai sejak usia sekolah. Ketika masih duduk di bangku SMP, saya telah menerima mata pelajaran tata buku yang masuk ke dalam muatan lokal pada saat itu. Lewat pelajaran itu, saya tergerak untuk membukukan pemasukan (subsidi dari orang tua) dan pengeluaran. Tapi namanya juga anak baru gede, kalau pas lagi semangat, gak ada hentinya membukukan, tapi kalau pas lagi malas, hingga berbulan-bulan tak dibukukan.

Berbulan-bulan tak dibukukan, bukan berarti keuangan yang ada lenyap begitu saja. Papa (dan Mama) saya dengan cara uniknya telah mendidik saya untuk menabung: Papa kerap (seolah-olah) meminjam uang yang saya miliki (tabungan uang saku pemberian Papa), bisa diambil kapan saja saat saya membutuhkan, dan Papa akan memberikan bunga sebagai imbalan jasa atas penggunaan uang yang saya miliki. Seingat saya, kebiasaan Papa (seolah-olah) meminjam uang tersebut, telah dimulai sejak saya duduk di bangku SD (belum mengenal pembukuan), mungkin tujuan awalnya selain mendidik untuk menabung, Papa juga sedang mengontrol saya agar tidak menyalahgunakan uang yang dimiliki.

Memasuki jenjang SMA, kebiasaan Papa itu tak pernah terulang kembali. Papa (mungkin) telah yakin dan percaya pada (hasil) didikannya selama ini, mampu mengelola keuangan dan tidak akan menyalahgunakan keuangan yang dimiliki. Kalaupun timbul masalah dengan keuangan yang ada, Papa pasti mengerti kemampuan mengelola keuangan telah mengantarkan saya pada kemampuan mengelola masalah juga. Saat duduk di bangku SMA, kebiasaan saya mencatat pemasukan dan pengeluaran dalam pembukuan, masih belum jauh berbeda dengan saat saya masih duduk di bangku SMP.

Hingga puncaknya tahun 2006, saya memutuskan untuk konsisten dalam usaha saya membukukan setiap pemasukan dan pengeluaran yang ada setiap bulannya, konsisten tersebut saya usahakan sebagai wujud saya dalam mengelola keuangan sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Kalau boleh saya menggunakan bahasa kaum Kharismatik (dan Pentakosta), menjadi bendaharanya (orang-orang kepercayaan) Tuhan untuk mengelola berkat-berkat-Nya di bumi (hehehe). Tahun 2006 hingga tahun 2010, saya membukukan keuangan yang ada dengan media buku folio bergaris, namun menginjak tahun 2011 hingga sekarang, saya menggunakan media Microsoft Office Excel dengan memasukan rumus-rumus yang ada (semestinya bisa menggunakan software pengatur keuangan yang banyak tersedia, namun karena alasan tertentu, saya cukup menggunakan Excel).

Kembali pada diri pria yang menjadi central dalam catatan ringan ini. Ketidakmampuannya mengolah sendiri keuangan yang dimiliki, memilih untuk menyerahkan pengelolaan keuangan kepada ibu-nya, menurut saya bukan sebagai bentuk tindakan menghormati orang tua, tapi merupakan tindakan yang merepotkan (menyiksa) orang tua yang usianya terus menua. Orang tua yang bijak pasti tidak menginginkan anaknya tergantung terus pada dirinya, orang tua yang waras pasti akan menolak saat anaknya menjadikan ketiaknya sebagai sorga (zona nyaman). Sorga yang diperoleh dengan terus berada di bawah ketiak ibu-nya, sorga yang membuatnya merasa aman dan nyaman dengan popok bayi yang selalu melekat, tidak perlu repot ke toilet setiap hasrat ingin pipis dan pup muncul, cukup ibu-nya yang direpotkan untuk mengganti popoknya yang bau dan menjijikan itu.

Wajar jika wanita lebih memilih pergi meninggalkan si pria, karena wanita mana yang tidak ngeri saat mengetahui seumur hidupnya akan ada bersama dengan balita yang terjebak dalam tubuh pria dewasa? Ketidakmampuan si pria keluar dari bawah ketiak ibu-nya untuk hal yang sederhana saja, sangat mungkin akan berpengaruh saat dihadapkan dengan kondisi yang sulit. Pria tersebut akan tumpul dalam mengelola hidupnya, terlebih dalam mengelola masalah. Mungkin yang akan terjadi, saat dihadapkan dengan masalah, si pria akan lari tunggang langgang mencari ketiak ibu-nya untuk tempat persembunyian, mencari sorga yang bisa membuatnya aman dan nyaman, tanpa bisa membuat keputusan. Lebih konyolnya lagi, jika wanita terus melihat si pria bersembunyi di bawah ketiak ibu-nya itu, akan berpikir seperti ini (maaf): “Jangan-jangan, saat malam pertama nanti, si pria akan membawa serta ibu-nya ada dalam satu ranjang dengan istrinya, untuk mengajarkan cara-cara mengganti popok-nya.”

Dalam pandangan saya, menghormati orang tua bukan berarti harus mengikuti semua yang menjadi maunya orang tua, bukan berarti semuanya harus kembali ke orang tua. Sikap yang saya teladani dalam hal ini adalah Yesus. Ketika Yesus berusia 12 tahun, Yesus hilang dan ditemukan kembali di bait Allah, setelah tiga hari orang tuanya mencari-cari. Bandel banget ya? Sudah tiga hari menghilang, eh setelah ditemukan orang tuanya, malah berkata seperti ini: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”

Apakah sikap Yesus tersebut kurang ajar? Apakah sikap Yesus tersebut seharusnya tidak perlu tercatat dalam Alkitab? Melalui sikap tersebut, sebenarnya Yesus hendak mengajarkan kepada kita untuk menghidupi jalan-jalannya Tuhan, menghidupi maunya Tuhan, melebihi maunya orang tua. Mengikuti maunya otoritas manusia (pemerintah, hukum tertulis, dsb.) memang baik, mengikuti maunya orang tua memang terpuji, tapi melebihi itu semua, prioritas tetap harus tertuju untuk mengikuti maunya (kehendak) Tuhan. Mau-maunya Tuhan ingin membawa kita kemana saja, orang tua sekalipun tidak boleh menghalangi saat anaknya yang menjadi kepunyaan Tuhan akan dipakai sesuai kehendak-Nya. Karena kerap kali ada orang tua yang sok tahu, sok kudus, gedhe rasa (GR) merasa yang paling dekat dengan Tuhan, merasa yang paling hebat punya akses langsung ke sorga untuk mendengar suara Tuhan, hingga sering memanipulasi keadaan dengan mengucapkan: “Kata tuhan seperti ini, kata tuhan seperti itu.” Selalu menggunakan senjata “kata tuhan” agar keinginan yang seenak jidatnya itu bisa diikuti anak-anaknya.

Mungkin saat saya menjadikan sikap Yesus (tersebut di atas) sebagai contoh teladan, ada yang berpikir seperti ini: “Ah, pada saat itu kan Yesus masih 12 tahun, masih anak kecil (belum matang secara emosional, dsb.), anak kecil tahu apa, itu sebabnya bersikap seperti itu.” Jangan salah, sikap Yesus tersebut tidak hanya ditunjukan pada saat masih anak-anak saja, ketika Yesus telah dewasa pun, pernah menunjukan sikap yang serupa. Seperti kisah Ibu Yesus dan saudara-saudara-Nya yang mencari-Nya pada saat Yesus sedang mengajar, jika kita mencermati kisah tersebut, di dalamnya kita bisa mengambil pelajaran berarti yang serupa. Pengajaran yang mengingatkan kita agar mengutamakan yang menjadi maunya Tuhan, karena saat kita mengutamakan yang menjadi maunya Tuhan, maka saat itu kita menjadi orang-orang terdekat (Ibu dan saudara-saudara-Nya) Yesus.

Lalu relevansi kisah pria dengan kisah Yesus tersebut: menghormati orang tua bukan berarti menyerahkan semua penghasilan kepada orang tua untuk dikelola sepenuhnya, tidak tepat jika menggunakan alasan menjalankan perintah Tuhan untuk menghormati orang tua, karena Yesus sendiri pun telah memberikan gambaran bagaimana harus bersikap kepada orang tua. Menurut saya, jauh lebih bijak jika menghormati orang tua dengan cara memberkati keuangannya (baik untuk orang tua yang masih bekerja, maupun untuk orang tua yang hanya mengurus rumah tangga), setelah kita merinci dengan baik pos-pos mana yang menjadi kebutuhan kita pribadi, dan pos-pos mana yang menjadi kebutuhan orang tua (terutama untuk orang tua yang hanya mengurus rumah tangga).

Saya pribadi menerapkan hal tersebut, setiap bulan saya selalu mengisi pos anggaran untuk memberkati Mama. Pos tersebut ada, setelah saya merinci besaran nominal uang (dari beberapa persen gaji saya setiap bulannya) yang bisa saya berikan kepada orang tua (yang masih bekerja) untuk membantu biaya hidup sehari-hari. Sebenarnya orang tua tidak membutuhkan bantuan (berkat) tersebut, terbukti saat awal saya memberkati, sempat (ditolak) disarankan untuk ditabung sendiri, karena Mama masih (bekerja) bisa mencari sumber penghasilan sendiri. Namun, kebiasaan memberkati Mama itu tetap saya lakukan setiap bulannya, sebagai bentuk menghormati orang tua.

Saya pribadi juga pernah memberikan seluruh penghasilan kepada Mama (dan Papa), sama seperti yang dilakukan pria dalam kisah catatan ringan ini. Namun, saya memberikan seluruh penghasilan tersebut bukan untuk membuat pusing Mama (dan Papa) agar mengelolanya sesuai pos kebutuhan saya dalam sebulan, tapi saya memberikan seluruh penghasilan tersebut sebagai bentuk ucapan syukur dan penghormatan kepada Mama (dan Papa) yang telah menjalankan perannya sebagai wakil Tuhan di dunia untuk mengantarkan saya pada titik saya berada (waktu itu, kini dan nanti). Peristiwa tersebut terjadi saat pertama kali saya menerima gaji CPNS, setelah mendapatkan amplop yang berisikan gaji pertama untuk sebulan ke depan, saya membaginya ke dalam tiga pos: 10% untuk persembahan persepuluhan, 45% untuk Mama, 45% untuk Papa.

Tindakan memberikan keseluruhan penghasilan tersebut tentunya telah melewati pertimbangan yang (menurut saya) berarti, saya tidak memilih untuk mempersembahkan seluruh penghasilan sebagai persembahan buah sulung, karena setelah mempelajari ayat di Alkitab yang kerap digunakan untuk bahan pengajaran tentang persembahan buah sulung mengatakan persembahan yang diberikan (cukup) hanya seberkas gandum, bukan keseluruhan hasil panen, bahkan dalam Kitab Imamat malah disebutkan cukup dengan mempersembahkan dua ketul roti. Maka, seberkas gandum dan dua ketul roti itu saya terjemahkan dengan persepuluhan, saya juga menerjemahkannya dengan kerinduan dan kerelaan hati, dan terjemahan itu mengantarkan saya pada kecenderungan untuk rindu dan rela memberikan 90% kepada Mama (dan Papa).

Kembali pada kisah si pria, mengingat kisah serupa telah banyak (terjadi dan) saya jumpai, maka tindakan bersembunyi di bawah ketiak ibu harus segera diakhiri. Segera ambil keputusan yang berarti, mencoba keluar dari bawah ketiak dan melepas popok bayi yang melekat, bukanlah merupakan tindakan berdosa. Sebagai pria, mengelola keuangan termasuk salah satu modal berharga untuk menjadi imam dalam keluarga. Sebagai pria, yang kelak akan menjadi suami dari seorang wanita, kita harus bisa memberikan teladan dalam mengelola keuangan. Jika dalam hal yang sederhana (mengelola keuangan) saja, kita tidak bisa menjadi teladan, bagaimana mungkin mampu menjadi teladan untuk hal lainnya? Melatih diri sejak dini adalah jalan yang terbaik, tanpa latihan sejak dini dan terus menerus, seorang imam dalam keluarga akan bengkak kegemukan karena terbiasa dimanjakan di bawah ketiak, saat penyakit menyerang, lumpuh pun menyergap hingga membuat tak berdaya nahkoda bahtera rumah tangga.

Mengambil keputusan yang berarti, tidak akan melukai hati orang tua. Dalam konteks yang berbeda, saya pribadi sering mengambil keputusan yang tidak sejalan dengan keputusan orang tua, namun orang tua tidak memandangnya sebagai perbuatan dosa, tidak memandangnya sebagai tindakan yang kurang ajar. Bahkan orang tua saya sering meminta pendapat kepada anak-anaknya atas keputusan yang akan (dan harus) diambilnya. Terlepas dari orang tua yang demokratis atau otoriter, yang bisa saya lihat dari orang tua saya, orang tua pasti akan memperhitungkan (bangga kepada) kemampuan dan pengetahuan anak-anaknya. Kemampuan yang diperoleh dari hasil belajar dalam dunia yang luas dengan semangat anak mudanya, pengetahuan yang diperoleh dari hasil berpikir yang masih segar, dsb. Orang tua yang bijak pasti (sedikit banyak) akan memperhitungkan hal tersebut, karena (mungkin) orang tua menyadari kemampuan yang dimiliki telah mengalami banyak penurunan (daya ingat, fisik, dsb.), pengetahuan yang dimiliki belum diperbarui, dsb.

Yuk, bareng-bareng saat ini, membuka celana dalam kita dan melihat ke bawah, adakah popok bayi yang melekat pada saluran pembuangan kita? Yuk, bareng-bareng saat ini, melihat ke atas kepala kita, adakah ketiak yang selalu memberikan aroma kurang sedap pada tubuh kita? Ketika seseorang pergi dari kita, sadarilah bahwa diri kita memang tidak layak disandingkan dengannya. Karena wanita mana yang mau berjalan dengan pria yang selalu menggunakan popok bayi yang menjijikan dan tubuhnya selalu beraromakan ketiak? Seperti apa diri kita, seperti itu pula pasangan yang akan kita tarik. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: