Hanya Hawa yang dari Tulang Rusuk, Wanita Lain dari Sperma dan Ovum

Siang ini, saya teringat dengan pertanyaan semasa duduk di bangku kuliah, pertanyaan yang saya tujukan pada dosen pengampuh mata kuliah agama, saat materi tentang lembaga pernikahan disampaikan: “Pak, apakah konsep tulang rusuk (penciptaan manusia pertama), yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa pria (Adam) harus lebih tua secara usia (lebih dulu ada), dan wanita (Hawa) harus lebih muda secara usia (baru kemudian ada), masih berlaku hingga hari ini? Jika konsep tulang rusuk (penciptaan manusia pertama) itu masih berlaku hingga hari ini, lalu bagaimana dengan perbandingan jumlah wanita yang jauh lebih besar daripada pria (enam berbanding satu) yang ada di bumi ini? Apakah Tuhan terlalu banyak mengambil ruas tulang rusuk pada pria? –saya tutup pertanyaan dengan nada bercanda- Jika terlalu banyak mengambilnya, bisa protol (bahasa Jawa yang artinya: rompal) tubuh ini, Pak?”


Dosen tersebut menjawab: “Jangan dilihat secara matematis, tapi lihatlah dari segi Kuasa Tuhan dalam mencipta manusia. Tuhan bisa menciptakan apa pun dan berapapun jumlahnya sesuai yang dikehendaki-Nya (dan bla, bla, bla).” Saya lupa jawaban lengkapnya, namun yang saya ingat saat itu, jawaban yang diberikan belum bisa memenuhi kekosongan rasa ingin tahu saya. Dalam hati saya bertanya, harus kemanakah saya pergi mencari jawabannya? Sangat tidak mungkin untuk mencari jawaban di perpustakaan kampus, karena kampus saya bukan jurusan teologi atau pendidikan agama. Hanya buku-buku dengan tema ilmu keolahragaan dan kesehatan yang berjajar rapi di sana. Mencari di internet juga terbatas waktu dan dana, karena harus ke warnet lebih dulu, akses internet belum mudah saya dapatkan seperti sekarang.

Pada akhirnya, saya mencoba bertanya dan mencari jawabnya sendiri dalam pikiran, mencoba merenungkan pertanyaan yang saya miliki. Sebenarnya, munculnya pertanyaan tersebut dipengaruhi oleh pelajaran kehidupan yang kerap saya jumpai pada saat itu. Saya kerap melihat pasangan dan mendengar cerita teman-teman tentang perbedaan usia dalam pernikahan orang tua mereka, usia ibunya (wanita) yang lebih tua dari bapaknya (pria). Dari pelajaran kehidupan itu muncul pula pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Apakah salah pernikahan yang seperti itu? Apakah salah pernikahan yang telah melahirkan anak-anak cerdas dan diberkati seperti itu? Apakah pernikahan seperti itu termasuk pernikahan yang gagal? Dan berbagai pertanyaan buruk lainnya (dampak buruk jika usia wanita lebih tua dalam pernikahan).

Dalam pemahaman saya kala itu, karena wanita (Hawa) dicipta dari tulang rusuk pria (Adam), maka pria harus lebih tua (Adam ada lebih dulu), bila wanita yang lebih tua, itu namanya bukan jodoh. Itu sebabnya saya membawa pemahaman yang saya miliki lewat pertanyaan dalam bangku perkuliahan, mengingat saya juga tidak pernah menjumpai didactic (dogma, aturan, norma) yang tertulis dengan jelas di Alkitab tentang perbedaan usia pasangan dalam pernikahan. Hanya lewat konsep tulang rusuk, saya bisa mempelajari tentang perbedaan usia pasangan dalam pernikahan.

Setelah mencoba merenungkannya (bertanya dan mencari jawabnya sendiri dalam pikiran), pemahaman yang saya miliki pun berkembang: Konsep tulang rusuk yang ada itu hanya untuk Hawa sebagai wanita pertama yang dicipta, wanita berikutnya setelah Hawa berasal dari sperma bapaknya dan ovum ibunya masing-masing. Jadi, konsep tulang rusuk bukanlah patron yang mutlak untuk dijadikan dasar dalam menentukan perbedaan usia pasangan dalam pernikahan, pria tidak harus lebih tua secara usia, pria tidak harus lebih dulu ada untuk diambil tulang rusuknya, karena untuk mencipta wanita tidak lagi dibutuhkan ruas tulang rusuk pria, melainkan dibutuhkan sperma dan ovum. Kala itu, saya terkecoh dengan semua ungkapan yang ada, baik lewat pengajaran, perbincangan, buku, maupun lagu (yang mengusung) tentang konsep tulang rusuk (pasangan yang hilang dan mencarinya) yang hanya sebuah kiasan dari kisah penciptaan manusia yang pertama.

Hingga perjalanan saya sejauh ini, belum pernah saya jumpai tinjauan teologis yang membahas secara tegas tentang konsep tulang rusuk yang terkait dengan usia. Bahkan, dari kalangan akademisi yang telah menempuh pendidikan teologi tertinggi (Doktor) sekalipun, tidak menjadikan konsep tulang rusuk yang terkait dengan usia sebagai patron yang mutlak. Justru, tinjauan yang diberikan mengarah pada pernikahan dengan wanita yang usianya lebih tua: “Sebaiknya kita menikah dengan orang yang usianya tidak terlalu jauh berbeda. Pria maksimal 10 tahun lebih tua dari wanita dan wanita jangan sampai 5 tahun lebih tua dari pasangannya. Karena perbedaan usia berdampak pada cara berpikir, menyikapi hidup, dll. (Dr. Paul Gunadi, Dosen SAAT Malang: http://goo.gl/WLDa3V).”

Dalam usaha saya merenungkan pertanyaan semasa duduk di bangku kuliah, saya tidak hanya fokus tentang usia. Dari konsep tulang rusuk itu, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dalam pernikahan, daripada hanya sekedar perbedaan usia. Lewat konsep tulang rusuk, saya bisa melihat bahwa dalam pernikahan hanya boleh ada satu pria (Adam) dengan satu wanita (Hawa), bukan satu pria dengan beberapa wanita (poligami), bukan pula satu wanita dengan beberapa pria (poliandri). Saya juga bisa melihat bahwa dalam pernikahan hanya boleh ada satu pria (Adam) dengan satu wanita (Hawa), bukan satu pria dengan satu pria (gay), bukan pula satu wanita dengan satu wanita (lesbian). Desain yang agung telah Tuhan ajarkan lewat konsep tulang rusuk, desain yang indah telah Tuhan susun untuk sebuah keluarga.

Terkait dengan perbandingan jumlah wanita yang jauh lebih besar daripada pria (enam berbanding satu) yang ada di bumi ini, saya menggaris-bawahi jawaban dosen saya kala itu: “Jangan dilihat secara matematis, tapi lihatlah dari segi Kuasa Tuhan dalam mencipta manusia.” Ya, dalam pandangan saya pun, Tuhan pasti punya alasan yang kuat untuk setiap kita terlahir di bumi ini, Tuhan tidak kurang kerjaan hingga harus iseng menciptakan manusia tanpa guna. Menurut saya, saat jumlah wanita lebih banyak daripada pria, itu merupakan pertanda tidak semua wanita dipanggil untuk menikah. Sangat tidak mungkin memaksakan pernikahan antara satu pria dengan enam wanita, karena desain agung telah nampak dalam konsep tulang rusuk, desain yang indah telah Tuhan ajarkan untuk menghindari desain yang salah (dan bisa membawa petaka).

Saat wanita dipanggil untuk tidak menikah, Tuhan pasti punya maksud dan tujuan bagi hidupnya untuk mengerjakan panggilan yang lebih mulia. Banyak kisah yang menceritakan tentang wanita yang tidak menikah dipakai Tuhan untuk suatu pekerjaan yang besar, salah satunya seperti yang dialami Bunda Teresa (http://goo.gl/oKLuav). Bunda Teresa merupakan wanita yang tidak pernah menikah, namun hidupnya dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa untuk memberikan dampak besar bagi kelangsungan hidup manusia (dimulai dari lingkup yang kecil di sekitarnya, hingga bisa memberikan dampak kepada dunia). Apakah hanya wanita yang dipanggil untuk tidak menikah? Jawabnya tidak, Tuhan pun juga memanggil banyak pria untuk tidak menikah, salah satu kisahnya ada dalam sosok yang turut mewarnai perjalanan bangsa ini, sosok yang bernama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik (http://goo.gl/h0RpJo).

Demikian catatan ringan saya yang menggambarkan “kontroversi hati” saya akan pertanyaan “konspirasi” pernikahan saat duduk di bangku kuliah. Kiranya melalui catatan ringan ini, kita semua bisa belajar “harmonisasi” dari hal yang terkecil sampai yang terbesar. Kita tidak boleh “ego” terhadap catatan ringan ini dan tidak boleh memaksakan “kudeta” pandangan, jika pandangan yang dimiliki berbeda dengan pandangan penulis. Hahaha….. Kacau, paragraf terakhirnya terkena wabah fenomena “Vickiisme”. Sebenarnya tanpa disadari, bukan hanya Vicky Prasetyo yang memiliki gaya bahasa seperti itu, bahasa Indonesia kita pun sering campur aduk dengan basa-basi intelektual. Stay Blessed.

 

1 Komentar (+add yours?)

  1. sopyan
    Nov 20, 2014 @ 15:33:08

    Knapa lebih banyak wanita daripada pria 1:6, mungkin simple dari jaman dulu yang berburu ataupun yang berperang kebanyakan pria, maka pria lebih besar kemungkinan untuk mati.

    Women survive…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: