Obsesi Bikin Muntah, Cinta Bikin Bahagia

Geli mengiringi saat mengingat masa-masa SMA, rasa ingin tertawa menyertai saat mengingat masa-masa teman sebaya mulai bergandengan tangan dengan masing-masing pasangan. Hanya rasa geli yang bisa saya rasakan, karena tak ada yang bisa saya kenang tentang bergandengan tangan dengan pasangan (pacaran). Bergandengan tangan dengan pasangan tak pernah saya rasakan selama duduk di bangku SMA, bahkan semasa kuliah pun saya tak pernah merasakan. Tak pernah merasakan gandengan tangan, karena saya tak pernah ada pasangan. Bagaimana bisa merasakan, kalau tangan yang digandeng tak pernah ada di hadapan? (Sebenarnya bisa sih, asal maen gandeng aja, paling resikonya cuma ditabokin orang, hehehe).

Tak pernah menggandeng pasangan, bukan berarti bumi berhenti melakukan putaran. Tak pernah menggandeng pasangan, hanya karena telah menjadi pilihan. Semasa duduk di bangku SMA dan kuliah, saya memang tak pernah menggandeng pasangan, karena prinsip yang saya miliki saat itu, sekali menggandeng untuk selamanya. Karena prinsip itulah, saya berhati-hati dalam melangkah, lebih memilih untuk menghindari berkali-kali ganti gandengan, lebih memilih untuk membangun banyak relasi dan mengenali banyak karakter pribadi, daripada harus menggandeng untuk kemudian dilepaskan gandengannya, dan berganti gandengan lainnya (tindakan yang mengecewakan dan bisa menjadi batu sandungan).

Berhati-hati dalam melangkah benar-benar saya lakukan, mengingat kepribadian yang saya miliki cenderung mengarah kepada kesempurnaan, dalam artian senang ketika mampu mengerjakan sesuatu dengan hasil yang maksimal, bangga saat bisa menganalisa sesuatu dengan ketelitian, dan dalam setiap analisa selalu memberikan perhatian hingga bagian yang terkecil. Dengan kepribadian yang saya miliki tersebut, maka saya tak ingin terjebak dalam keinginan kesempurnaan bergandengan tangan, tak ingin terjebak dalam rasa senang ketika mampu bergandengan tangan dengan hasil yang maksimal (tak pernah mengalihkan pendangan sedetikpun, tak ada kata berpisah, dsb.), tak ingin terjebak dalam rasa bangga ketika setiap momen bergandengan tangan dijalani dengan ketelitian (setia tanpa pengkhianatan, selingkuh, tak sembarangan dalam bersikap dengan lawan jenis, dsb.), dan dalam bergandengan tangan selalu memberikan perhatian hingga bagian yang terkecil.

Setelah saya belajar psikologi, barulah saya mengetahui bahwa kecenderungan karakteristik kepribadian seperti yang saya miliki itu dikenal dengan sebutan kepribadian obsesif kompulsif. Setelah mengetahuinya, makin yakinlah saya untuk tidak sembarangan (memilih) bergandengan tangan, karena orang dengan kepribadian obsesis kompulsif ini, cenderung mengalami gangguan obsesif kompulsif atau Obsesif Compulsive Disorder (OCD). Mengerikan sekali, jika saya harus terjebak dalam OCD ini, karena saat saya telah memiliki pasangan (gandengan tangan), namun karakter yang tidak baik dijumpai dalam diri pasangan (tidak sepadan, dsb.), saya pasti tak bisa melepaskan begitu saja, saya pasti akan berjuang mempertahankan hubungan yang ada. Pikiran obsesif saya (kesempurnaan dalam bergandengan tangan) pasti akan memberikan pengaruh yang kuat, dan dari pikiran obsesif yang kuat itu akan memunculkan perilaku kompulsif yang kuat pula (mempertahankan gandengan tangan).

Selain belajar dari ilmu psikologi, saya juga belajar dari kehidupan, belajar dengan bercermin dari kisah sahabat yang buku kehidupannya telah dibiarkan terbuka untuk dibaca. Salah satunya tentang kisah nyata yang menceritakan tentang seorang gadis yang tidak pernah mengenal pacaran. Ketika gadis tersebut duduk di bangku SMA, datanglah seorang mahasiswa mendekatinya. Dengan sadar si gadis bisa melihat siapa mahasiswa yang datang mendekatinya tersebut (menurut pengakuan gadis tersebut): Seorang mahasiswa yang miskin, anak kampung yang kemana-mana naik angkot, tampang culun dan cungkring, benar-benar mahasiswa yang tidak masuk hitungan sebagai pria yang bisa dibanggakan. Singkat cerita, gadis tersebut berpacaran dengan pria tersebut. Karena apa? Karena gadis tersebut terlena terus dibuai dengan buaian-buaian murah dalam bentuk tulisan syair hasil plagiat dari syair lagu-lagu terkenal, dan saat si gadis tengah terlena, si pria melancarkan aksi-aksi berikutnya.

Aksi berikutnya yang dijalankan adalah berdusta dengan menggunakan mulutnya, si pria membuat pengakuan menderita suatu penyakit, mengaku bahwa umurnya tidak panjang, bisa mati kapan saja. Penyakit itu begitu menyiksanya, bahkan saat menceritakannya lengkap dengan air mata. Si gadis yang tengah terlena pun merasa terharu mendengarnya, disitulah si gadis mengatakan akan bersama dengan si pria, menemani sisa-sisa harinya. Tanpa waktu yang lama, gadis yang memiliki kepribadian obsesif kompulsif tersebut terjebak dalam perangkap si pria, tidak bisa lepas dari si pria. Sebenarnya gadis tersebut tidak terjebak dalam perangkap si pria, tapi gadis tersebut terjebak dengan dirinya sendiri, terjebak dalam Obsesif Compulsive Disorder (OCD).

Saat si gadis memutuskan akan bersama dengan si pria, menemani sisa-sisa harinya. Maka saat itu si gadis telah masuk dalam jebakan yang disiapkannya untuk menjebak dirinya sendiri. Keputusan untuk tetap ada bersama dengan si pria akan terus merasuki pikirannya, keputusan untuk tetap setia ada bersama dengan si pria akan terus membentuk pola pikirnya. Terbukti saat waktu terus berjalan, terus banyak bukti yang terkuak dari kebohongan pria (salah satunya tak kunjung mati) yang bernilai diri rendah tersebut, si gadis tetap saja tidak bisa pergi meninggalkannya. Bahkan saat mengetahui kebohongan-kebohongan baru yang terus diceritakan untuk menaikan nilai diri si pria, si gadis tetap tak mampu pergi meninggalkannya. Hal ini terjadi karena kepribadian obsesif kompulsif yang dimiliki gadis tersebut berpengaruh besar pada diri si gadis, jangankan untuk mengambil tindakan pergi, saat baru sebatas rencana (untuk pergi) dalam pikiran saja, pasti akan menimbulkan kecemasan yang luar biasa dalam dirinya.

Pikiran akan bersama dengan si pria untuk menemani sisa-sisa harinya (tetap setia sampai batas akhir) merupakan pikiran obsesif, sementara perilaku mempertahankan hubungan tetap ada merupakan perilaku kompulsif. Kini, setelah si gadis lepas dari masa SMA-nya, setelah banyak melihat dunia luar, setelah terisi penuh otaknya, dan tentunya hanya karena Anugerah Tuhan, si gadis telah lepas dari si pria, telah sembuh dari Obsesif Compulsive Disorder-nya (OCD). Momen lepasnya gadis tersebut dari obsesinya, ditandai dengan muntah yang keluar dari mulutnya, muntah karena disadarkan pernah ada pria yang menjijikan dalam hidupnya. Lebih bersyukurnya bagi gadis ini bukan hanya karena bisa lepas dari obsesinya saja, tapi karena tak pernah membuat dirinya merasa nyaman dengan yang diobsesikan, hingga harus menaklukan dirinya dengan memberikan tubuhnya untuk dinikmati si pria.

Dari ilmu psikologi dan kisah nyata inilah, saya telah belajar untuk berhati-hati dalam mencari gandengan. Melalui catatan ringan ini, ijinkan saya berpesan pada adik-adik yang masih berusia remaja: jangan terburu-buru bergandengan (pacaran), isilah masa remaja dengan mengembangkan pikiran, mengarungi dunia, dan tumbuhlah dengan penuh warna. Menemukan gandengan itu indah saat kapasitas otak kita sudah diperbesar, karena kita bisa memberikan penilaian yang tepat tentang lawan jenis, bukan hanya makan cinta, yang ternyata hanya obsesi belaka yang dikemas dengan bungkus kata-kata cinta. Meski tak dipungkiri, ada pernikahan yang indah dimulai dengan persahabatan sejak masa SMA, namun ada juga pernikahan yang merana karena hanya obsesi yang terpelihara sejak SMA.

Ijinkan juga saya berpesan bagi pasangan yang belum menikah: Yuk, bareng-bareng saat ini kita memandang pasangan kita, tatap dalam-dalam matanya, perhatikan dengan seksama, Obsesi atau Cinta yang ada di sana? Jika Obsesi yang ada di sana, pergi dan larilah sejauh-jauhnya. Namun, jika Cinta yang ada di sana, genggam dan peluk erat jangan pernah melepaskannya. Karena Obsesi hanya bikin muntah, mengganggu segalanya, menyebabkan depresi yang berkepanjangan akibat merasa tertekan dengan kondisi yang dialaminya (tak diinginkannya). Sementara Cinta bikin kita bahagia, memberikan kekuatan melakukan segalanya, menjalani hari dengan semangat baru yang selalu berbeda, dan hidup lebih berwarna (yang sudah penuh warna, makin penuh hingga tumpah-tumpah kebahagiannya, hingga dirasakan sekitarnya).

Bagi pasangan yang sudah menikah: Tutuplah mata rapat-rapat, kesempatan untuk pergi atau merevisi hubungan saat menjumpai obsesi di dalamnya sudah tertutup rapat. Meski obsesi yang ada di dalamnya, tetaplah jalani itu semua dengan kekuatan pengharapan akan perubahan pasangan yang bersandarkan kepada Tuhan. Namun, jika cinta yang ada di dalamnya, selamat bermandikan cinta setiap saat, dan kiranya Sang Cinta senantiasa melimpahi keluarga Anda dengan sukacita sorga. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: