Mengajar Murid Lewat Mencuri

Dua puluh menit menjelang jam pelajaran berakhir, seorang siswi mendatangi saya, sambil menangis dan berkata: “Pak, uangku hilang.” Saya pun meresponnya: “Sudah pasti hilang? Tidak lupa meletakannya?” Siswi pun menjawab: “Nggak lupa, Pak. Tadi saya letakan dalam tas.” Seketika itu juga siswi yang lain menyusul jawaban siswi yang kehilangan dengan menyebut nama salah satu siswa yang mengambilnya, karena pada saat siswa yang disebut namanya mengambil uang sebelum pelajaran dimulai, ada saksi mata yang melihatnya.

Dihadapkan pada situasi seperti ini, tindakan apa yang harus saya ambil untuk menyelesaikan masalah yang ada? Apakah seketika itu juga saya bisa “menghakimi dan menindak” siswa yang namanya telah disebut? Karena telah jelas ada saksi mata yang melihatnya. Namun, jika saya langsung “menghakimi dan menindak”, apakah kesaksian yang ada tidak diragukan? Apakah kesaksian yang ada benar adanya sesuai dengan yang dilihat oleh saksi mata? Apakah kesaksian yang ada tidak terdapat unsure ingin “menjatuhkan” teman sendiri?

Dalam waktu yang singkat, saya harus menentukan langkah apa yang diambil untuk menyelesaikan masalah yang ada. Demi mengungkap kebenaran yang sesungguhnya, demi mengungkap kesalahan yang ada tanpa meninggalkan luka pada hati siswa, demi mengungkap kesalahan dengan memberi pelajaran kehidupan, maka saya memutuskan untuk menunggu pengakuan dari siswa yang melakukan pencurian. Menunggu pengakuan? Wah, mana mungkin ada maling ngaku, maling ngaku pasti penjara penuh. Respon klasik yang diberikan pasti akan seperti itu, murid-murid saya (anak kelas VI SD) pun memberikan respon yang seperti itu.

Setelah menentukan langkah yang diambil, saya meminta kepada semua murid yang mengikuti pelajaran di lapangan untuk berganti pakaian olahraga dengan seragam merah putih, lalu setelahnya menunggu di dalam kelas. Ketika semua murid sudah terkondisikan di dalam kelas, saya menyampaikan kepada mereka: “Terkait dengan kehilangan yang terjadi, maka saya putuskan untuk tidak memberikan jam istirahat kepada kalian semua, sebelum ada pengakuan dari yang mencuri. Bagi yang merasa mencuri, saya tunggu pengakuannya. Saya hanya butuh pengakuan, tidak akan ada hukuman, mengaku dan kembalikan uang yang diambil, lalu akan saya ganti uang yang telah dikembalikan.”

Loh, enak sekali. Melakukan tindak pencurian, kok tidak diberi hukuman sebagai efek jera? Melakukan tindakan pencurian, kok malah diberi hadiah atas sebuah kesalahan? Tindakan macam apa ini? Mungkin bagi sebagian orang dewasa akan berpendapat seperti itu. Namun, bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, pendapat yang mereka miliki masih sederhana sekali. Terbukti dari celotehan sebagian siswa yang mulai protes karena tak kunjung istirahat dan tak kunjung ada pengakuan: “Wah, enak’e rek. Mek ngaku tok, oleh duwek. Aku gelem ngaku. (Bahasa Jawa yang artinya: Wah, enaknya kawan. Cuma mengaku saja, dapat uang. Saya mau mengaku.)”

Dasar pertimbangan saya menggunakan strategi dengan memberikan “pemikat ganti uang” tersebut cukup beralasan. Saya memberi pemikat untuk menarik hati siswa yang melakukan pencurian, karena siswa yang mencuri pasti mengalami kesulitan. Mengingat kejadian seperti ini jarang terjadi, kalau sekarang terjadi, pasti keadaan yang mendesak siswa untuk mencuri. Maka, cara terbaik untuk membuat mengaku adalah dengan cara menjadi jawaban bagi siswa, dengan cara memenuhi kebutuhannya, memenuhi yang menjadi kesulitannya hingga harus melakukan pencurian.

Rupanya strategi yang saya terapkan pun berhasil, dengan pemikat yang ada, tak butuh waktu lama untuk membuat siswa mengakui tindakannya. Siswa yang mengaku tersebut, sesuai dengan nama siswa yang telah saya kantongi sejak awal berdasarkan informasi dari saksi mata/siswa lainya. Mengetahui telah ada yang mengakui, saya pun mempersilakan semua murid untuk istirahat di luar kelas, kecuali siswa yang telah mengaku dan salah satu aktor intelektualnya. Karena berdasarkan pengakuan siswa yang mencuri, tindakan mencuri dilakukannya atas perintah salah satu temannya (aktor intelektual).

Setelah semua murid keluar untuk istirahat, saya pun mengunci pintu kelas dari dalam, dan mengajak mereka duduk berdekatan. Dengan mengusap kepala mereka, mengusap untuk meredam rasa bersalah dan takut mereka, saya mulai mengajak bicara mereka. Dalam pembicaraan kami terungkap bahwa siswa yang mencuri terpaksa melakukan pencurian karena terlupa membawa uang jajan, lalu oleh salah satu temannya disarankan untuk mengambil uang dari salah satu tas milik teman lainnya, untuk kemudian dibagi dua sebagai “jasa informasi”.

Setelah melakukan tanya jawab dengan mereka, menggali isi hati dan pikiran mereka, dan memberi sedikit pesan-pesan, akhirnya saya menutup pembicaraan dengan mengajak mereka mengucapkan janji yang saya pandu kata per kata (saya berharap momen ini diingat seumur hidup mereka): “Saya berjanji, tidak akan pernah lagi mengingini dan mencuri (sengaja tidak menyebut uang, supaya berlaku juga untuk pencurian yang lain) milik orang lain. Saya berjanji hingga dewasa nanti, sekalipun keadaan mendesak, saya tetap tidak akan mencuri, lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jika keadaan benar-benar mendesak, namun pekerjaan belum ada, maka meminjam uang/berhutang kepada orang lain menjadi pilihan saya, bukannya mencuri.”

Ya, berhutang termasuk kata-kata yang saya ucapkan untuk mereka ikuti dalam janji, karena “pemikat ganti uang” tidak saya berikan cuma-cuma kepada mereka, saya hanya sebatas memberikan pinjaman. Mengapa hanya sebatas memberikan pinjaman? Supaya ada kelinieran dengan pesan-pesan yang saya sampaikan kepada mereka, karena saya sempat menyampaikan kepada mereka: seharusnya tidak perlu mencuri, jauh lebih baik jika memang lupa membawa uang jajan, bisa pinjam teman lebih dulu, atau pinjam pada saya dan guru lainnya, daripada harus mencuri.

Tiga hari setelah kejadian pencurian tersebut berlalu, namun hingga kini pinjaman yang saya berikan supaya mereka bisa jajan, belum juga dikembalikan. Tadi pagi saya sempat mengingatkan dan menagih pinjaman tersebut, tapi siswa yang bersangkutan lupa membawa uang saku lebih sesuai nominal yang saya pinjamkan (hanya sebesar tiga ribu rupiah saja sih). Menagih pinjaman itu sengaja saya lakukan sebagai rangkaian strategi berikutnya untuk mengajarkan kehidupan, mengajarkan kewajiban orang berhutang adalah membayar hutangnya kepada pemberi pinjaman.

Pinjaman yang saya berikan tetap saya nantikan untuk dikembalikan, namun saat nanti mereka telah memenuhi kewajiban dengan membayar pinjaman, sesuai rencana saya pada keesokan harinya/selang satu hari, pasti akan saya kembalikan lagi kepada mereka. Mengembalikan pinjaman yang telah mereka bayar, sebagai hadiah (pemikat ganti uang) yang sesungguhnya karena telah menjadi siswa yang bertanggung jawab.

Siswa yang bertanggung jawab? Ya, sejak awal strategi yang saya jalankan memang bukan hanya mengajarkan kepada mereka tentang (meminjam ungkapan filsuf yang bernama Rene Descartes): “cogito ergo sum” (aku berpikir, maka aku ada), tapi juga mengajarkan tentang “respondeo ergo sum” (aku bertanggung jawab, maka aku ada). Mengajarkan kepada murid bukan hanya untuk bisa berpikir sebelum bertindak dalam hidup ini (cogito ergo sum), tapi juga mengajarkan kepada murid untuk bisa bertanggung jawab atas setiap tindakan dalam hidup ini (respondeo ergo sum).

Hukuman tidak selamanya menyelesaikan masalah, bahkan membawa masalah (yang baru pertama kali terjadi) kepada orang tua mereka pun tidak saya tempuh sebagai bentuk hukuman, supaya bisa menimbulkan efek jera bagi mereka. Bagi saya pribadi, mengajarkan cara bertanggung jawab jauh lebih penting, daripada hanya sekedar menjatuhkan hukuman. Karena bagi saya, saat mereka berani membuat pengakuan, sudah menjadi hal yang berharga sekali dan patut untuk dihargai.

Sang Pencipta saja menghargai setiap pengakuan dosa, lalu siapa saya manusia berdosa (yang diberikan kesempatan oleh Sang Pencipta untuk menjadi guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan) yang dengan mudah bisa menjatuhkan hukuman, tanpa terlebih dahulu memberikan kesempatan pengakuan? Tuhan menghargai setiap pertobatan, setiap kali umat-Nya datang dengan penuh penyesalan, mengakui setiap kesalahan, dan berjanji tidak akan jatuh kembali dalam kubangan, maka pelukan yang akan Tuhan berikan, bukan hukuman yang Tuhan timpakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: