Mengajar Murid Peduli Masa Depan Bumi

“Kok pakai kertas bekas, Pak?” tanya kritis seorang murid yang berdiri disamping saya, ketika tes pengambilan nilai psikomotor (praktek) mata pelajaran Pendidikan Jasmani dilangsungkan. Murid tersebut bertanya seperti demikian, karena telah memperhatikan lembaran daftar nilai yang saya gunakan untuk mencatat nilai murid sesuai prestasi yang telah mereka raih dalam praktek. Saya memang sengaja memanfaatkan sisi kosong tumpukan kertas bekas yang ada di sekolah, tumpukan kertas bekas hasil pekerjaan yang salah, cetakan tinta yang tidak jelas (buram), dsb. Kertas bekas itu saya gunakan untuk lembar daftar nilai sementara, sebelum saya olah ke dalam lembar daftar nilai sebenarnya (untuk disetorkan kepada wali kelas dan arsip administrasi pembelajaran) yang telah dipadukan dengan nilai afektif dan kognitif.

“Iya, untuk menghemat penggunaan kertas. Makin sedikit penggunaan kertas, makin sedikit pohon yang ditebang.” timpal saya yang didengar murid lainnya. “Apa hubungannya kertas dengan pohon, Pak?” tanya kritis berikutnya dari murid yang sama. “Asal kertas kan dari pohon, untuk membuat kertas, harus ada pohon yang ditebang untuk bahan bakunya. Makin banyak pohon yang ditebang, maka paru-paru bumi yang berfungsi untuk menyerap polusi pun makin banyak berkurang. Surabaya yang sudah panas luar biasa seperti sekarang, jadi tambah parah lagi panasnya. Mau Surabaya tambah panas? Kan sudah pernah Pak Roy jelaskan tentang hal ini?” timpal saya berikutnya. “Hehehe, iya sudah pernah, Pak.” jawab murid tersebut menutup pembicaraan.

Penjelasan kepada murid terkait dengan pertanyaan semacam itu, tidak membutuhkan penjelasan yang terlalu panjang. Karena setiap awal tahun ajaran baru, saya sudah jelaskan secara komprehensif (namun tetap dengan bahasa sederhana sesuai porsi berpikir mereka) terkait dengan topik yang saya sampaikan dalam catatan ringan ini. Penjelasan tersebut bermula dari “aturan main” yang harus disepakati dan dijalankan selama mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada bidang studi Pendidikan Jasmani (Penjas). Ada beberapa “aturan main” yang saya terapkan dalam enam kelas besar (pararel kelas 4, 5 dan 6) yang saya tangani, diantaranya adalah terkait dengan penggunaan buku tulis. Saya selalu tekankan kepada murid-murid, agar tidak mengganti buku tulis yang mereka gunakan untuk mencatat teori Penjas. Jika waktu kelas 4 naik ke kelas 5, buku tulis yang mereka gunakan untuk mencatat teori Penjas masih ada halaman tersisa, tetap gunakan buku yang sama, begitu seterusnya hingga mereka duduk di bangku kelas 6.

Aturan main yang ada tidak hanya berhenti di situ, saya juga mengingatkan kepada setiap murid, agar mematikan empat buah lampu (masing-masing lampu berkekuatan 40 watt) dan tiga kipas angin (berukuran 16 inch) yang ada di dalam kelas selama mengikuti pelajaran Penjas di lapangan. Pada saat istirahat pun saya ingatkan mereka untuk mematikan lampu dan kipas angin, dinyalakan kembali setelah jam istirahat berakhir. Terkait dengan aturan main yang berikutnya tersebut, saya jelaskan pula secara komprehensif, seperti penjelasan tentang bahan dasar listrik yang berasal dari batu bara yang tidak dapat diperbarui. Lalu menjelaskan tentang lampu dan kipas angin agar bisa menyala dibutuhkan listrik yang dihasilkan oleh PLTA, yang tenaganya diperoleh dari pembakaran batu bara. Saat pembakaran batu bara terjadi, akan ada emisi yang dihasilkan berupa karbon dioksida, karbon dioksida inilah yang akan merusak lapisan atmosfir bumi, dan menyebabkan global warming. Global warming pun turut saya jelaskan dengan bahasa sederhana sesuai porsi berpikir mereka.

Seperti itulah cara saya mengajar murid-murid untuk peduli masa depan bumi, masa depan tempat tinggal manusia, masa depan mereka dan anak cucu mereka selama hidup di dunia. Mengajarkan kepada mereka, bahwa mereka bagian dari bumi, jadi hidup mereka (dan saya juga tentunya) harus jalin-menjalin dengan bumi. Saat bumi hancur, maka manusia juga hancur. Cara seperti ini pula yang pernah saya ajarkan kepada murid-murid di sebuah sekolah yang empat tahun lalu saya pernah mengajar di dalamnya, sebuah sekolah dengan murid-murid yang berasal dari keluarga menengah ke atas. Karena dari keluarga menengah ke atas, maka gaya hidup mereka pun berbeda dengan gaya hidup murid-murid yang ada di tempat saya mengajar sekarang. Suatu ketika, saat pelajaran Penjas akan dilangsungkan di aula sekolah, saya mematikan dua unit AC yang ada di dalam kelas dengan kekuatan masing-masing 2 PK (kalau saya tidak salah ingat), namun tak lama sesudah saya mematikan AC, salah seorang murid (yang mendapat dukungan dari murid lain) menyalakan kembali AC yang telah saya matikan. Seketika itu saya bertanya kepada murid tersebut: “Kenapa dinyalakan kembali?” Murid pun menyahut: “Iya, Pak. Biar kelasnya dingin, nanti habis olahraga kan panas berkeringat.”

Sambil tersenyum dan mengambil remote AC untuk saya matikan kembali, saya pun menjelaskan (hal yang sama sesuai yang telah saya tulis pada paragraf sebelumnya) kepada murid-murid yang ada dalam kelas saat itu. Tanpa mereka mengerti: Berapa banyak emisi yang dihasilkan oleh AC yang menyala selama 4 x 35 menit? Berapa tebal atmosfir yang dirusak oleh AC yang menyala hanya untuk mendinginkan ruang kelas yang kosong? Saya memahami ketidak-mengertian mereka dalam hal ini, kebiasaan mereka yang tertanam di rumah, mereka lanjutkan saat di sekolah. Bukan masalah berasal dari keluarga kaya atau miskin, bukan masalah kuat bayar listrik atau tidak, tapi ini masalah masa depan bumi, jadi kebenaran yang ada harus disampaikan. Saat itu yang dapat saya lakukan hanya sebatas memberikan pengertian, selebihnya berharap kepada orang tua mereka (yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama) yang akan menanamkan kepedulian mereka akan masa depan bumi.

Dalam dua sekolah, dengan latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda, saya telah coba mengajarkan untuk peduli masa depan bumi. Tapi apakah hanya sebatas pengajaran yang saya berikan? Apakah hanya sebatas Jarkoni (isok ngajar, gak isok ngelakoni *bahasa Jawa yang artinya: bisa mengajar, tidak bisa mengaplikasikan) yang saya tampilkan? Rasanya malu pada diri sendiri jika seorang pendidik hanya mengajarkan sesuatu yang dirinya sendiri tidak bisa mengaplikasikannya. Saya pribadi saat di sekolah mencoba memberi teladan kepada murid-murid, sebisa mungkin saya meluangkan waktu saat sebelum mengajar dan di sela-sela saya tidak mengajar untuk mengontrol lampu-lampu yang ada di aula, mushola, toilet dan lorong kelas yang mungkin luput dari perhatian untuk dimatikan. Teladan bisa saya berikan, karena saat saya mematikan lampu aula, saya harus masuk ke dalam kelas (tentunya tanpa mengganggu KBM yang sedang berlangsung) tempat saklar lampu berada. Saat saya masuk ke dalam kelas itulah, murid-murid melihat apa yang saya lakukan, berharap dari situ mereka meneladani dan terus diingatkan pada “aturan main” yang saya sampaikan setiap awal tahun ajaran baru.

Apakah hanya sebatas (tindakan yang dibuat-buat) memberikan teladan? Apakah hanya sekadar untuk dilihat murid-murid saja? Jawabnya tidak, sebisa mungkin saya tetap mengaplikasikan apa yang saya ajarkan, sekalipun murid-murid tak melihatnya. Selain melakukan yang telah tertulis di atas, saya pribadi juga selalu menyempatkan diri untuk mengontrol beberapa unit PC yang tersebar di ruang tata usaha dan perpustakaan. Setiap kali melihat PC (personal computer) yang mungkin lupa dimatikan setelah digunakan, saya matikan PC tersebut dengan segera. Selain itu, saya juga selalu menyempatkan diri untuk mengontrol lampu dan kipas angin yang ada di ruang kepala sekolah (ruangan saya bersebelahan dengan ruang kepala sekolah), karena seringkali kepala sekolah keluar dengan tergesa-gesa untuk mememenuhi panggilan dinas, dsb., sehingga terlupa untuk mematikannya.

Mengajarkan kepada murid untuk peduli masa depan bumi telah saya lakukan, mengaplikasikan apa yang saya ajarkan di lingkungan sekolah juga telah saya lakukan, lalu bagaimana dengan di rumah? Untuk lingkungan sekolah yang tidak ikut membayar tagihan listriknya saja, saya berusaha memberikan yang terbaik, apalagi yang untuk di rumah, pasti semuanya harus diirit, hehehe. Sebenarnya hanya satu alasan saya mengajarkan dan turut mengaplikasikan kepeduliaan akan masa depan bumi, alasannya sebagai bentuk beribadah kepada Tuhan. Karena dalam lembar halaman terdepan dari kitab yang menjadi pedoman kehidupan beriman saya, tertulis kata “berkuasa” dan “menaklukan” bumi, yang dalam konteks keseimbangan ekologi, tafsirannya lebih diperlunak dan memiliki makna “membangun” dan “memelihara” bumi dalam rangka tanggung jawab atas masa depan bumi yang telah Tuhan sediakan sebagai tempat tinggal manusia.

Peduli masa depan bumi, harus dimulai sejak dini. Membangun dan memelihara bumi, harus tertanam dalam hati. Kiranya melalui catatan sederhana ini, makin banyak yang mengajarkan kepeduliaan akan masa depan bumi. Stay blessed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: