Banyak Membaca Menggantikan Petualangan Sebenarnya

Tadi pagi yang indah, saat saya berangkat kerja, menjelang dua ratus meter tiba di sekolah, saya melihat sekerumunan murid saya di tepi jalan raya. Dalam hati bertanya: “Bukannya ini sudah mendekati jam masuk sekolah? Bukannya sekarang mereka harus sudah mempersiapkan diri untuk senam pagi di sekolah (senam rutin bagi murid setiap hari Jumat)? Kok masih berkeliaran di sini?”

Seketika itu saya menghampiri mereka, menghimbau mereka untuk segera kembali ke sekolah. Ketika beberapa anak mengikuti himbauan saya untuk kembali ke sekolah, ada dua anak yang masih tertinggal dan bersembunyi, lalu saya hampiri dua anak tersebut. Ketika melihat wajah saya, tertawalah mereka, tertawa karena malu dalam keadaan telanjang bulat dan basah kuyup, karena sedang “mandi” dalam penampungan air di tepi jalan raya. Tanpa ada marah, saya hanya tersenyum menahan tawa melihat “petualangan” mereka.

Rupanya, mereka sebelumnya telah datang ke sekolah untuk meletakan tas, lalu beberapa anak memutuskan untuk melakukan kegiatan “petualangan” lebih dulu sebelum senam pagi dan pelajaran dimulai. Saya pribadi memaklumi yang mereka lakukan itu, karena lahan terbuka hijau di kota sebesar Surabaya ini semakin berkurang, maka segala bentuk “medan petualangan” apa pun yang mereka jumpai, akan mereka gunakan untuk “petualangan”.

Kok ada kata “petualangan” segala? Ya, saya menggunakan kata itu, karena dalam psikologi, anak seusia mereka (usia sekolah dasar) ada dalam fase “petualangan” (perkembangan psikis anak). Saat anak mendapat pengetahuan baru, maka daerah rangsangan pengetahuan mereka pun akan terus diperluas. Saat pengetahuan baru mereka dapatkan (seperti mandi di sungai dari mata air pegunungan itu segar rasanya, mandi di bawah guyuran air terjun itu segar rasanya, dsb.), maka kesempatan “petualangan” pun ingin mereka rasakan.

Sebuah fase “petualangan” yang harus dipenuhi dan dibutuhkan untuk proses peningkatan taraf hidup mereka saat dewasa kelak. Karena dengan mereka mendapatkan kesempatan “petualangan” itu, maka daerah rangsangan pengetahuan yang telah diperluas, akan terus membuka daerah rangsangan lainnya. Pengalaman pengetahuan dari “petualangan” akan membawa mereka dalam pemuasan kebutuhan. Mereka akan terus dibawa pada level yang lebih tinggi lewat kebutuhan “petualangan” yang tanpa akhir dan terus akan berulang. Lewat “petualangan”, rasa ingin tahu mereka akan terus dirangsang, sehingga mereka akan menjadi anak-anak yang kaya pengalaman dan pengetahuan yang akan sangat berguna bagi masa depannya.

Namun, fase “petualangan” itu jadi tak indah jika dilakukannya di tepian jalan raya, dan pada jam sekolah pula. Karena selain meninggalkan jam sekolah, kendaraan bermotor yang berlalu lalang akan membahayakan keselamatan mereka. Lalu bagaimana cara kita sebagai guru dan orang tua menghadapi fase “petualangan” pada seorang anak? Cara terbaik yang bisa kita tempuh adalah memberikan/menyediakan banyak bacaan buku kepada anak-anak, memilih buku-buku yang dapat merangsang anak mendapatkan pengalaman “petualangan”.

Bahkan saat anak memilih untuk membaca komik pun, biarkan itu dilakukannya. Tentunya kita juga harus mengeceknya lebih dulu, perlu memperhitungkan sifat anak dengan bahan bacaannya, sesuai atau tidak dengan daya tangkap anak, tema bacaan harus konstruktif yang bisa mengantarkan pada pembentukan kepribadian anak, dsb. Jika kita telah memastikan bacaan yang mereka baca baik, biarkan anak berada dalam alam khayalannya, karena dalam khayalan itu, petualangan dan penjelajahan akan mereka dapatkan. Hanya dengan buku bacaan yang dipegangnya, anak bisa mendapatkan pengalaman “petualangan”, tanpa perlu mengorbankan jam sekolah dan keselamatan jiwa.

Tidak perlu risau ketika melihat bahan bacaan anak bukan buku pelajaran sekolah, karena yang terpenting anak memiliki kesenangan membaca lebih dulu. Setelah kesenangan mereka dalam membaca terpupuk dengan baik, bahkan kapasitasnya dalam mencari inti dan hubungan yang terjalin dalam sebuah cerita/bacaan makin diperbesar, maka anak akan diarahkan pada kebiasaan membaca buku-buku pelajaran yang akan memudahkan keberhasilan studi mereka di sekolah.

Dengan membaca, fase “petualangan” dalam diri anak akan terpenuhi. Dengan membaca, “petualangan” akan anak dapatkan dalam alam pikirannya. Dengan membaca, anak bisa mendapatkan “petualangan” yang mudah, murah dan tidak berbahaya.

18102013_001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: