Renungan Tahun Baru Jawa: Mengenal Budaya Jawa Merupakan Ibadah

Terlahir dari rahim wanita cantik bersuku Jawa, menjadikan saya banyak mengenal budaya Jawa (local wisdom/kearifan local, adat istiadat, tradisi, mitos, ritual). Bahkan kebalikannya, budaya Ambon sendiri tidak banyak saya ketahui, meski darah dari suku Ambon mengalir dalam nadi saya dengan begitu derasnya, dan salah satu ciri suku Ambon (patrilineal yang bisa dilihat dari nama keluarga orang tua pihak laki-laki pada nama belakang) melekat dalam diri saya.

Wanita cantik yang melahirkan saya berasal dari keluarga besar dengan kebhinekaan yang indah. Keindahan itu nampak dari kesatuan keluarga, meski kepercayaan yang berbeda dijumpai di dalamnya: ada Islam, ada Kristen, ada pula Kejawen. Dari ajaran Kejawen yang berkembang di tengah-tengah keluarga besar beliau tersebut, cara pandang dan nilai-nilai yang dimiliki dalam menjalani kehidupan pun, banyak dipengaruhi oleh filosofi Kejawen (local wisdom masyarakat Jawa).

Yang menjadi pertanyaannya: Apakah semua ajaran Kejawen itu bisa diserapkan dan diterapkan dalam keluarga inti kami saat ini? Apakah semua ajaran Kejawen itu tidak bertentangan dengan ajaran yang kami yakini dalam pikiran dan kami imani dalam hati? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa dilihat dari meleburnya darah Ambon dan Jawa yang mengalir dalam nadi saya. Meleburnya darah Ambon dan Jawa dalam nadi saya, terjadi karena meleburnya diri Papa Mama dalam cinta. Begitu pula dengan ajaran yang ada, karena cinta meleburlah ajaran Kejawen dengan ajaran yang kami yakini dalam keluarga kami.

Namun, dengan meleburnya ajaran yang ada, bukan berarti dalam keluarga kami memiliki dua pijakan iman dalam berdiri. Meleburnya ajaran yang ada, hanya berarti dalam keluarga kami telah melakukan seleksi dan komparasi terhadap budaya Jawa dengan kebenaran yang kami yakini dalam pikiran dan kami imani dalam hati. Selain itu, meleburnya ajaran yang ada karena dipengaruhi oleh teladan Yesus. Kelahiran Yesus dalam sejarah dan lokasi geografis tertentu, tentunya bukan karena suatu kebetulan, tapi sudah “di-predestinasi-kan” untuk menunjukan bahwa Yesus terlahir sebagai seorang anak manusia yang berbudaya.

Yesus terbukti sebagai manusia yang berbudaya karena telah melebur dalam tradisi Yahudi sejak balita. Dari mana buktinya? Buktinya dari profesi yang Yesus miliki, untuk bisa berprofesi sebagai pengajar yang berbicara di depan umum, seseorang harus menempuh semua jenjang pendidikan yang telah berkembang dalam tradisi Yahudi. Jenjang pendidikan terendah dimulai saat usia 5 tahun yang disebut Mikra, lalu dilanjutkan dengan Mishna dan Talmud. Ketiga jenjang tersebut merupakan “wajib belajar” yang harus ditempuh oleh pria Yahudi hingga usia 20 tahun. Yesus sendiri setelah menyelesaikan “wajib belajar”, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu sekolah khusus Yahudi yang disebut Bet Midrash. Bet Midrash ditempuh selama 10 tahun, itu sebabnya Yesus baru muncul mengajar di depan umum ketika berusia 30 tahun.

Jika Yesus sebagai Teladan Agung yang kami miliki telah mengajarkan untuk berbudaya, telah mengajarkan selama berada dalam dunia harus berelasi dengan kebudayaan yang ada. Maka, kami pun melakukan apa yang telah Yesus teladankan, melebur dalam kebudayaan pada letak geografis kami dilahirkan, melebur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang mayoritas mendiami Kota Surabaya. Namun yang perlu diingat, Yesus bukan hanya mengajarkan untuk melebur dengan kebudayaan yang ada, tapi Yesus juga mengajarkan kepada kita untuk melawan kebudayaan yang tidak sesuai dengan kebenaran (itu sebabnya kami melakukan seleksi dan komparasi). Salah satu bentuk perlawanan Yesus bisa dilihat ketika menghalangi massa yang akan menjalankan tradisi “rajam batu” kepada seorang pelacur yang tertangkap tangan sedang berzinah dengan laki-laki.

Bahkan, jika kami (dan kita) melihat lebih jauh lagi, bukan hanya pribadi Yesus yang mengajarkan untuk berbudaya, tapi pribadi Roh Kudus juga telah mengajarkannya. Hal tersebut tersirat dari peristiwa Pentakosta (bdk. Kisah Para Rasul 2), yang menunjukan bahwa Roh Kudus telah melebur dalam kebudayaan-kebudayaan yang ada di dunia. Peleburan itu di-manifestasi-kan lewat bahasa lidah yang dilafalkan oleh rasul-rasul (murid Yesus), bahasa lidah yang dilafalkan itu merupakan berbagai bahasa (produk kebudayaan) yang ada di dunia, sementara rasul-rasul sendiri berasal dari Galilea.

Kemampuan rasul-rasul berkata-kata dengan berbagai bahasa itu timbul karena mereka penuh (dirasuki) Roh Kudus, sehingga mereka bisa mengatakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah dengan bahasa-bahasa yang dikenali oleh orang banyak yang hadir di sekitar mereka pada saat itu. Adapun bahasa-bahasa yang dikenali itu berasal dari kebudayaan berikut: orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab.

Dari dasar teologis yang ada tersebut, dari teladan Yesus dan ajaran yang tersirat dari Roh Kudus, maka Bapa pun pasti menghendaki hal yang sama untuk kami (dan kita) melebur ke dalam kebudayaan, karena Ketiganya ada dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam segala perkara. Dari dasar teologis ini, kami tak ragu untuk melebur ke dalam budaya Jawa. Kembali lagi pada bahasan wanita cantik yang telah melahirkan saya, salah satu budaya (local wisdom) Jawa yang selalu kami dengar dari Mama (dan Papa) adalah tentang “prinsip tabur tuai” dalam masyarakat Jawa. Sebuah prinsip yang tertera pula dalam Alkitab, karena tertera dalam Alkitab yang berfungsi sebagai pedoman kehidupan beriman keluarga kami, maka local wisdom masyarakat Jawa itu pun kami serapkan dan terapkan dalam menjalani kehidupan.

Local wisdom yang dimiliki oleh masyarakat Jawa tentang “prinsip tabur tuai” itu, seringkali berbunyi seperti berikut: “Sopo sing nandur, bakale ngunduh. (Siapa yang menanam, akan menuai).” Tak jarang pula “prinsip tabur tuai” itu diucapkan dengan kalimat yang panjang: “Sopo sing nandur pari, bakale ngunduh pari. Sopo sing nandur suket, bakale ngunduh suket. Sopo sing nandur apik, bakale ngunduh apik. Sopo sing nandur elek, bakale ngunduh elek. (Siapa yang menanam padi, akan menuai padi. Siapa yang menanam rumput, akan menuai rumput. Siapa yang menanam kebaikan, akan menuai kebaikan. Siapa yang menanam kejahatan, akan menuai kejahatan).”

Tak dipungkiri, prinsip yang telah Mama (dan Papa) ajarkan ini memiliki dampak yang berarti dalam kehidupan kami (ketiga anaknya). Sejak kami kecil, Mama dan Papa selalu mengajarkan lewat teladan kepada kami, terutama Mama yang seringkali menyampaikan petuah setiap kali selesai melakukan “aksi menabur” kebaikan. Mama kerap berujar kepada kami: “Mama melakukan kebaikan-kebaikan seperti ini kepada orang lain, supaya anak-anak Mama kelak juga diperlakukan baik oleh orang lain.”

Petuah yang kerap Mama sampaikan itu memang benar adanya. Kebaikan yang Mama dan Papa lakukan memang benar-benar memudahkan setiap langkah kami. Papa yang tidak banyak bicara pun, dari teladannya telah banyak kami ketahui kebaikannya. Saya pribadi seringkali menjumpai Papa yang membawa pulang surat lamaran seseorang, Papa seringkali mencoba menolong orang-orang yang butuh pekerjaan. Lewat surat-surat lamaran yang Papa bawa itu, Papa “menjual diri” kepada relasi-relasinya. Meski Papa bukan orang besar, Papa hanya karyawan biasa dari sebuah perusahaan swasta di Surabaya, namun usaha Papa sering tembus dan mengantarkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Dari kebaikan Papa yang sering menolong orang untuk mendapatkan pekerjaan, telah mengantarkan kami menuai kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan. Kami tidak pernah merasakan jadi pengangguran, selepas jenjang pendidikan tinggi (S1) yang kami jalani, pekerjaan dengan mudah bisa langsung kami dapatkan. Bahkan ketika kuliah sedang berjalan, kami telah mampu mendapatkan penghasilan sendiri dan beasiswa untuk biaya kuliah. Terlebih kakak pertama saya, dari awal hingga berakhirnya kuliah selama 3,5 tahun mendapatkan beasiswa penuh, lengkap dengan bonus predikat kelulusan “cum laude” sebagai Sarjana Teknik Kimia.

Namun, apakah semua jalan yang kami lalui selalu mulus? Jawabnya tidak, meski kebaikan selalu Papa Mama taburkan, jalan yang mulus tak selalu kami rasakan. Saya pribadi beberapa kali mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari generasi di atas saya, beberapa kali dijadikan tumbal untuk suatu kepentingan. Belum lama ini pun terjadi menimpa diri saya: ada dalam satu kepentingan, tanpa pernah menduduki posisi yang terendah, tanpa pernah dikaderkan sebelumnya, tapi saya ditempatkan dalam satu posisi yang sulit. Saat masalah datang di dalamnya, semua memilih pergi meninggalkan saya, dalam hati hanya bisa meneriakan “local wisdom” yang dimiliki oleh masyarakat Jawa: “Hey, tidakkah kalian ingat anak-anak kalian di rumah? Tidakkah kalian melihat diri saya seusia anak-anak kalian yang masih panjang perjalanan hidupnya di depan sana?”

Seorang diri saya harus menyelesaikan kepentingan yang “sudah terlanjur” di-tupoksi-kan (tupoksi: tugas, pokok dan fungsi), ingin rasanya melarikan diri dari kepentingan. Namun, jika saya melarikan diri, saya tidak akan pernah mendapatkan pelajaran kehidupan yang menuju pada pendewasaan. Seorang diri saya harus segera menghadirkan “gula-gula” agar kepentingan bisa segera dilaksanakan, setelah “gula-gula” bisa dihadirkan, seketika itu juga “semut-semut” yang tadinya pergi berhamburan, datang kembali untuk menikmati “gula-gula” yang tersedia. Hingga tulisan ini saya buat, saya sedang menunggu “gula-gula” itu habis, dan setelahnya saya harus segera membersihkan “ruang pesta”. Semoga “ruang pesta-nya” tidak hancur berantakan, sehingga saya tidak benar-benar dijadikan tumbal.

Keputusan saya untuk tidak melarikan diri dari kepentingan yang ada adalah keputusan yang tepat, karena saya telah mendapatkan pelajaran bagaimana caranya tetap bisa menghormati generasi di atas saya, sekalipun memuakan dan menyebalkan. Lewat kepentingan yang ada, saya juga mendapatkan pelajaran bagaimana caranya kelak harus memperlakukan generasi di bawah saya, bukan menjadi pribadi yang memuakan dan menyebalkan, tapi bisa menjadi sahabat yang memberikan bimbingan dan mengajarkan yang benar, bukan membiarkannya seorang diri terlantar. Terlebih dari itu semua saya jadi bisa melihat: ketika semua (manusia) pergi meninggalkan saya seorang diri, namun Sang Kebaikan tak akan membiarkan saya seorang diri. Sang Kebaikan sendiri yang menjadi sahabat bagi saya, setia menemani dalam lembah masalah, memberikan bimbingan untuk menyelesaikan masalah.

Kebaikan yang Papa Mama taburkan memang tidak sia-sia, meski tuaian kebaikan tidak kami dapatkan dari manusia, namun tuaian kebaikan datang dari Sang Kebaikan sendiri. Mengetahui kebaikan-kebaikan yang datang dari Sang Kebaikan sendiri, membuat saya tidak ragu untuk terus melebur ke dalam budaya Jawa, melebur ke dalam local wisdom yang dimiliki masyarakat Jawa. Karena ketika saya bisa melebur ke dalam local wisdom masyarakat Jawa, saya merasakan dampak/keuntungan yang berarti. Seperti yang pernah terjadi tahun lalu, dengan menggunakan local wisdom “tabur tuai” yang dimiliki oleh masyarakat Jawa, saya pernah mencoba menyelesaikan konflik dua belah pihak yang bertikai.

Suatu ketika seorang teman (bapak-bapak usianya jauh di atas saya) datang menghampiri saya, mencurahkan isi hatinya yang sedang bertikai dengan seseorang (usianya sama dengan saya dan saya pun mengenalnya), sebut saja namanya Bunga (kok kaya inisial korban perkosaan ya? Hehehe). Dari curahan hatinya nampak sedang menyimpan rasa sakit dan dendam yang mendalam dengan Bunga, hingga keluar kalimat seperti berikut dari bibirnya: “Sudah dua orang menyatakan siap untuk menghabisinya, tanpa saya sendiri perlu mengotori tangan. Atau kalau mau pakai cara-cara yang tidak kelihatan (sambil menyebut nama salah satu kabupaten di Jawa Timur), sekarang juga bisa saya habisi, tinggal telepon saja.”

Setiap curahan hati dari teman saya (lintas generasi) tersebut, saya dengarkan dengan seksama. Bahkan saat menyampaikan kalimat seperti yang tertulis dalam paragraf sebelumnya, saya dengarkan dengan serius pula, tidak menganggapnya sebagai bualan belaka. Karena saya pribadi pernah mengalaminya (namun dalam komunitas yang berbeda, dan untuk kepentingan yang berbeda pula), dan saya pribadi juga pernah menjadi “saksi hidup” atas merenggangnya nyawa seseorang untuk masalah serupa (namun dalam komunitas yang berbeda, dan untuk kepentingan yang jauh lebih besar): masalah generasi muda yang senang dengan gebrakan menuju perubahan, sementara yang generasi tua terlalu senang dengan rasa aman dalam zona nyaman. Sepanjang saya mendengarkan curahan hati yang ada, saya sambil memikirkan cara untuk masuk ke dalam hati yang sedang terbuka karena rasa sakit dan dendam yang tercurah.

Dalam diam, saya teringat akan local wisdom “tabur tuai” yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Setelah mendengarkan semua curahan hati yang tertumpah, saat tiba giliran saya bicara, saya pun mencoba berkata-kata dengan menggunakan pendekatan local wisdom: “Pak, saya dengan anak bapak kan seumuran, jadi saya termasuk anak bapak (secara usia) ya? Saya dengan Bunga juga seumuran, jadi Bunga juga termasuk anak bapak ya? Jika anak kemarin sore seperti saya dan Bunga yang mungkin telah melakukan kesalahan, apakah hukuman yang akan langsung bapak berikan? Apakah tidak bisa dengan memberikan pengertian lebih dulu? Sebagai anak muda, saya pribadi merasakan perlu banyak belajar tentang kehidupan, tentunya saya akan senang saat melakukan kesalahan, tapi bisa dimaklumi. Begitu juga yang mungkin Bunga rasakan, tentunya pasti akan senang jika bisa dimaklumi dan diberikan pengertian, supaya mendapatkan pelajaran kehidupan.”

Seketika itu juga teman saya tersebut terdiam, rupanya local wisdom yang dimiliki oleh masyarakat Jawa, bisa membungkam dan membuatnya berpikir ulang atas rencana jahat yang dimilikinya. Kini, setelah setahun berjalan, kedua belah pihak disatukan dalam satu komunitas dan satu kepentingan yang sama, tanpa ada lagi pertikaian. Apakah itu terjadi karena perkataan saya? Saya tidak bisa menyimpulkannya seperti itu, karena terlalu percaya diri sekali jika saya mengatakan itu karena saya. Namun, dengan saya mengetahui bahwa local wisdom bisa membungkam seseorang yang berniat jahat saja, sudah cukup bagi saya untuk belajar dalam kehidupan ini, sudah cukup bagi saya untuk tidak pernah berhenti melebur ke dalam budaya tempat saya menghirup udara Kota Surabaya ini.

Kiranya melalui renungan sederhana yang saya tulis tepat pada Tahun Baru Jawa, 1 Suro 1947 (Selasa, 5/11/2013) tersebut, dapat menggugah semangat teman-teman dari berbagai suku di Indonesia untuk melebur ke dalam kebudayaannya masing-masing. Terlebih bagi teman-teman dari suku Jawa, jangan pernah malu terlahir sebagai suku Jawa, meski seringkali dianggap sebagai warga negara kelas dua karena “logat medok-nya”. Selamat Tahun Baru Jawa, teruslah melebur ke dalam budaya Jawa, teruslah beribadah hingga kesudahan dunia. Tak lupa juga untuk sahabatku Muslim dimanapun sedang berada: Selamat Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1435.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: