Bayi Yesus yang Hampir Kubuang

Sewaktu kecil, saya diarahkan oleh Papa Mama untuk sekolah minggu dalam gereja protestan beraliran Calvinis (Hervormd) yang memakai adat Jawa, namun tetap terbuka bagi semua suku di Indonesia. Saya diarahkan ke dalam gereja tersebut, selain pertimbangan jarak yang dekat rumah (sekitar 400 meter), karena Mama pun sejak kecil sekolah minggu di tempat yang sama. Bahkan pemberkatan nikah Papa Mama juga dilakukan di dalamnya, sebelum akhirnya Mama mengikuti Papa ke dalam gereja protestan beraliran Calvinis (Gereformeerd) yang tidak memakai adat Jawa.Dalam sekolah minggu yang difasilitatori oleh pemuda-pemudi (tak jarang pula oleh diaken dan penatua) yang ada di gereja tersebut, saya banyak dikenalkan dengan doktrin dasar kekristenan, diantaranya saya dikenalkan dengan pondasi kekristenan yang berisikan (dua belas butir) Pengakuan Iman Rasuli. Setiap kali sekolah minggu dilaksanakan, setiap kali itu pula saya bersama dengan teman-teman yang lain mengucapkan (dua belas butir) Pengakuan Iman Rasuli, tak butuh waktu yang lama untuk bisa menghafalkannya.

Sekolah minggu merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi saya, karena dengan mengikuti sekolah minggu hingga berakhir, setelahnya saya bisa bergegas pulang dan diijinkan oleh Papa Mama untuk melihat serial kesayangan di RCTI, serial anak-anak yang berjudul: Doraemon. Loh, kok jadi lari ke Doraemon, balik lagi ke cerita tentang sekolah minggu ya? Hehehe. Sekolah minggu memang benar-benar kegiatan yang menyenangkan bagi saya, bukan karena alasan supaya bisa mendapatkan tiket (ijin) nonton Doraemon dari Papa Mama, tapi karena di sekolah minggu bisa mendengarkan cerita tentang kisah-kisah yang ada di Alkitab.

Saya memang paling senang mendengarkan cerita, Papa Mama saya saja perlu menyediakan tenaga yang ekstra kalau sudah “nekat” bercerita sesuatu kepada saya, karena saat saya mendengarkan cerita pasti akan saya gali sampai akarnya (terus bertanya sampai dipuaskan rasa ingin tahunya), ungkapan/ledekan yang khas dari Mama dalam bahasa Jawa yang sering ditujukan kepada saya seperti ini: “Lek takon mesti sak empot-empote. (Kalau bertanya selalu sampai akar-akarnya).” Karena kesenangan saya mendengarkan cerita inilah yang melatarbelakangi saya senang datang ke sekolah minggu.

Salah satu cerita tentang kisah dalam Alkitab yang saya dengarkan dengan seksama saat sekolah minggu adalah tentang penampakan punggung tangan manusia yang menulis pada dinding istana raja Belsyazar, yang makna dari tulisannya diartikan oleh Daniel (http://goo.gl/geyUgW). Cerita yang terkandung “bumbu mistis” di dalamnya tersebut, tak pernah terlupakan oleh saya. Bahkan kata-kata yang ditulis oleh punggung tangan itu, kata-kata yang telah saya hafalkan sejak pertama kali mendengarnya itu: “Mene, mene, tekel ufarsin”, tak pernah beranjak dari dalam kepala saya hingga kini telah tumbuh dewasa.

Selain cerita tentang kisah dalam Alkitab, ada pula salah satu peristiwa yang terjadi saat sekolah minggu yang tetap melekat kuat dalam benak saya. Peristiwa tersebut terjadi pada saat perayaan Paskah, saat anak-anak sekolah minggu gabungan dari beberapa unit yang ada dalam wilayah yang sama (satu kecamatan) dikumpulkan jadi satu di tempat sekolah minggu yang paling luas. Satu minggu sebelum perayaan Paskah tersebut, pengumuman telah disampaikan kepada kami anak-anak sekolah minggu untuk menghias telur seindah mungkin (http://goo.gl/VTuSPl), nantinya telur-telur yang telah dihias akan dilombakan untuk mendapatkan hadiah.

Kala itu, dalam waktu seminggu saya coba mencari ide akan dibentuk seperti apa hiasan telur yang akan dilombakan. Hingga akhirnya ide datang dari kakak wanita saya, yang menyarankan untuk mengambil tema natal dalam menghias telur, sebuah tema tentang kelahiran bayi Yesus yang dibaringkan dalam palungan (tempat makanan dan minuman ternak) yang dipenuhi dengan jerami kering. Setelah ide tema tercetuskan, sehari menjelang perayaan Paskah dilaksanakan, saya (yang dibantu oleh kakak) pun mulai menghias telur.

Bahan-bahan yang disiapkan lebih dulu adalah: satu telur rebus dengan cangkang yang tetap utuh, satu kotak korek batang bekas, kardus air mineral bekas ukuran secukupnya, lem kertas, spidol hitam, dan jerami yang saya beli di toko bangunan (jerami kering sering digunakan untuk mengecat tembok dengan kapur basah). Setelah bahan tersedia, bagian bawah kotak korek ditempelkan di atas kardus bekas bagian tengah, kemudian jerami ditempelkan memenuhi atas kardus. Tak lupa juga memenuhi kotak korek dengan jerami, lalu telur rebus (yang telah diberi mata, hidung, dan mulut dengan spidol hitam) diletakan di atasnya.

Esoknya, hari raya Paskah pun tiba, saya menuju ke tempat perayaan yang telah ditentukan dengan menggunakan sepeda angin. Telur yang telah dihias tak lupa saya bawa dengan penuh kehati-hatian menggunakan tas plastik warna hitam, supaya tidak rusak saat dilombakan. Setibanya di tempat sekolah minggu, sambil membawa masuk telur hias yang telah saya buka plastiknya, saya memperhatikan telur hias milik teman-teman. Saat melihat hiasan milik teman-teman yang lain, seketika itu juga rasa malu melanda diri saya. Bagaimana tidak malu, karena saya perhatikan telur hias milik teman-teman itu berwarna-warni, penuh dengan kemewahan, sementara telur hias milik saya hanya dari bahan-bahan (bekas) seadanya, dan nampak kampungan (kurang modern) tanpa modal.

Setelah dilanda rasa malu, saya memilih tempat duduk di bagian tengah mepet tembok gedung sekolah minggu. Ketika sudah bisa duduk dengan tenang, saya terpikir untuk tidak mengikutsertakan telur hias yang saya miliki ke dalam lomba. Saat teman-teman yang lain mengumpulkan telur hias mereka pada meja yang telah disediakan, saya pribadi lebih memilih meletakan telur hias yang saya miliki di bawah tempat duduk, dan berencana membuangnya ke tempat sampah setelah berakhirnya perayaan Paskah. Tak lama setelah semua telur hias terkumpul, rangkaian kegiatan perayaan Paskah pun dimulai.

Puji-pujian dinaikan, film tentang Paskah ditayangkan, pemberitaan firman disampaikan, hingga tiba pada penghujung acara pengumuman pemenang telur hias, dan pembagian hadiah bagi pemenang. Selama rangkaian kegiatan dilaksanakan, fasilitator sekolah minggu telah memperhatikan dan menilai telur hias yang dikumpulkan. Yang mengejutkan bagi saya ketika pengumuman akan dilaksanakan, salah satu fasilitator datang menghampiri saya, menanyakan keberadaan telur hias yang saya miliki. Rupanya fasilitator tersebut telah memperhatikan saya sejak awal tiba di tempat perayaan Paskah.

“Mana telur hias yang tadi sudah dibawa?” Tanya kakak fasilitator. “Nggak jadi ikut, Kak. Punya saya jelek, malu yang lain bagus-bagus.” Jawab saya dengan segera. “Nggak papa, sudah dibawa kok nggak jadi ikut.” Jawab kakak fasilitator sembari mengambil dengan paksa (karena saya halangi untuk menyentuh) telur hias milik saya yang ada di bawah tempat duduk. Telur hias yang saya miliki pun segera dibawa ke depan, dan tak lama setelahnya diumumkan sebagai telur hias yang terbaik, mengalahkan telur hias lainnya yang menurut saya penuh dengan kemewahan.

Perayaan Paskah berakhir, saya pun bergegas pulang membawa hadiah yang telah didapat (saya lupa hadiah pastinya, karena waktu sekolah minggu sering dapat hadiah, kalau tidak salah hadiah pemenang telur hias itu sebuah gelas micky mouse ukuran besar yang berisikan beberapa snack di dalamnya). Mengayuh sepeda dengan penuh semangat, ingin segera tiba di rumah untuk menceritakan kronologisnya secara lengkap kepada Papa, Mama, dan Kakak tentang bagaimana telur hias milik saya bisa memenangkan lomba.

Peristiwa telur hias dengan tema kelahiran bayi Yesus yang dibaringkan dalam palungan tersebut, menjadi monumen (mempunyai nilai sejarah) yang penting dalam hidup saya. Seiring berjalannya waktu, ketika saya mulai tumbuh remaja meninggalkan masa sekolah minggu, saya diberikan kebebasan oleh Papa Mama (mulai dari Evangelikal hingga Pentakostal pernah saya singgahi untuk belajar di dalamnya, namun kebebasan yang diberikan bukan untuk membiarkan saya terdistorsi oleh rupa-rupa angin pengajaran, tapi untuk mengajarkan saya memiliki sikap Oikumenis yang menghargai perbedaan di dalam tubuh Kristus) untuk menempuh perjalanan kehidupan rohani sendiri, dan monumen “telur hias” itu kerap menjadi refleksi dalam perjalanan yang saya lalui.

Salah satu refleksi yang tak pernah saya lupakan ketika saya masih duduk di bangku SMA, sebuah refleksi yang saya dapatkan dari peristiwa yang terjadi saat saya melakukan kunjungan ke rumah teman yang sedang sakit. Tak lama setelah kehadiran saya di rumah teman, Mama dari teman saya tersebut menghampiri saya memohon kesediaannya untuk mengikuti pengajian yang segera dilangsungkan. Mama dari teman saya tersebut tidak mengetahui latar belakang agama saya, maka saat memohon itu sambil membawakan kopyah dan sarung untuk saya kenakan. Spontan saya menjawab: “Wah maaf, Tante. Habis ini saya mau ada kegiataan lainnya.” Lalu disusul dengan jawaban teman saya: “Roy ini Kristen, Ma.”

Seketika itu juga rasa malu melanda diri saya (malu dengan diri sendiri), malu dengan sikap hati yang saya miliki, malu karena menyembunyikan “telur hias” yang tak ingin diketahui, malu karena menyangkal “bayi Yesus” yang ada dalam hati. Tidak seharusnya saya memiliki motivasi yang memalukan seperti itu, tidak seharusnya saya berdiplomasi dalam menjawab pertanyaan, jauh lebih baik jika saya menjawab: “Baiklah Tante, saya akan mengikuti pengajian. Namun maaf sebelumnya, karena saya Kristen, maka saya tidak menggunakan kopyah dan sarung.”

Mengikuti pengajian seperti itu sama sekali tidak akan menggoncang iman, terbukti setelah saya dewasa sering menghadiri pengajian/acara keagamaan umat Islam, dan duduk diam di dalamnya mendengarkan ceramah dari pemukanya. Bahkan tak jarang, saya juga membantu menyiapkan perlengkapan ibadah sholat Jumat, sholat Tarawih dan buka puasa bersama saat bulan Ramadhan tiba. Lagi pula, tindakan semacam itu tidak dilarang di dalam kekristenan, justru Kristen mengajarkan untuk hadir dalam kepentingan kemanusiaan (masyarakat). Karena dalam Alkitab, dari kitab Kejadian sampai Wahyu, ada benang merah penting yang menunjukan teladan bahwa Allah adalah Allah misionaris yang menjangkau kemanusiaan.

Tak henti hanya pada rasa malu yang melanda ketika peristiwa itu terjadi, penyesalan pun saya rasakan ketika melangkah keluar dari rumah teman. Dalam perjalanan pulang, penyesalan diri makin menghujam batin dengan hebat, terlebih saat teringat akan peristiwa Petrus yang menyangkal Yesus (http://goo.gl/iCWzes). Petrus merasakan tindakan penyangkalan merupakan kebodohan, itu sebabnya Petrus menangis dengan sedihnya setelah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Saat itu juga, masih dalam perjalanan pulang di atas motor, saya berjanji untuk tidak pernah mengulang kembali kebodohan yang sama.

Dua tahun setelah peristiwa itu terjadi, ketika tak lama lagi bangku SMA akan saya tinggalkan, saya mengikuti ujian praktek mata pelajaran: Pendidikan Agama Kristen. Setiap siswa harus menyampaikan khotbah di hadapan siswa lainnya, yang temanya bebas mencari/menggali sendiri dari Alkitab. Berangkat dari kebodohan yang memberikan emosi tersendiri (luapan perasaan yang bertahan dalam waktu lama, sampai sekarang, dan entah sampai kapan) bagi saya, maka saya mengambil tema tentang dua murid Yesus yang melakukan kebodohan pengkhianatan: Petrus yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, dan Yudas Iskariot yang menjual Yesus seharga tiga puluh uang perak.

Dalam keterbatasan saya memberikan kritik teks dan menafsirkan Alkitab semasa SMA, saya coba menyampaikan respon di balik penyesalan yang dialami Petrus dan Yudas Iskariot. Petrus dan Yudas Iskariot sama-sama menyesal dengan sangat dalam, namun ada perbedaan respon atas penyesalan dari keduanya. Saat Petrus mengkhianati Yesus dengan penyangkalan, hati Petrus menjadi hancur yang terlihat dari air matanya yang tumpah (itu sebabnya Petrus menghilang saat Yesus disalibkan, karena Petrus tidak ingin makin hancur lebur saat melihat Yesus disiksa), tapi Petrus tidak larut dalam intimidasi pengasihanan diri, Petrus lebih memilih bertobat (minta ampun) dan menjadi rasul yang militan bagi Yesus.

Sementara saat Yudas Iskariot mengkhianati dengan menjual (memberikan informasi tentang keberadaan) Yesus kepada imam-imam kepala, hati Yudas Iskariot pun menjadi hancur yang terlihat dari pengembalian tiga puluh uang perak, dengan cara dilemparkan ke dalam Bait Suci di hadapan imam-imam kepala dan tua-tua. Hati Yudas Iskariot menjadi hancur karena tidak menyangka Yesus akan dijatuhi hukuman mati, dan makin hancur lebur ketika penyesalannya diiungkapkan, hanya mendapat tanggapan: “Itu urusanmu sendiri.” (http://goo.gl/R2F9XA). Hingga akhirnya Yudas Iskariot larut dalam intimidasi pengasihanan diri, Yudas Iskariot lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Monumen “telur hias” dalam diri saya makin tegak berdiri setelah rangkaian peristiwa (sesuai yang tertulis dalam beberapa paragraf di atas) yang saya lalui. Keyakinan untuk tidak pernah menyembunyikan dan membuang “bayi Yesus” makin dalam saya miliki, terlebih setelah mendapat refleksi dan pijakan berdiri saat mencari dan merenungkan bahan khotbah untuk ujian praktek semasa duduk di bangku SMA. Larut dalam intimidasi pengasihanan diri karena pernah melakukan kebodohan harus dihindari, jalan pertobatan dan menjadi militan bagi Yesus yang harus dipilih.

Apakah benar saya telah memilih jalan pertobatan? Pertobatan yang tidak akan pernah mengulang kebodohan? Pertobatan tanpa ada ujian, kebenarannya belum bisa dibuktikan. Pertobatan saya pun harus diuji untuk membuktikan kebenaran, dan berulang kali ujian telah saya dapatkan, namun yang paling membekas dalam benak saya terjadi tiga tahun selepas SMA. Ketika itu seorang teman mengajak saya yang sedang dalam perjalanan pulang ke arah Surabaya dari luar kota, untuk mampir sebentar ke rumah saudaranya. Menurut pengakuannya saudara jauh dari orang tua kandungnya, saya pun mengiyakan ajakannya.

Saat langit telah gelap, saya tiba dalam sebuah rumah yang terletak di salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang penduduk mayoritasnya berasal dari suku yang saat dihadapkan dengan masalah, senjata tradisionalnya yang akan berbicara. Belum lama kami masuk ke dalam rumah itu, teman saya memulai pembicaraan dengan tuan rumah. Dari pembicaraan yang ada, akhirnya saya mengetahui bahwa orang yang kami kunjungi bukanlah saudara jauhnya, melainkan seorang dukun santet. Selesai pembicaraan, ritual “pemagaran” dilakukan pada diri teman saya, supaya tidak terkena (mungkin saja ada) serangan balik saat tengah malam dilakukan ritual “penyerangan” pada diri seseorang sesuai yang dikehendaki oleh teman saya.

Setelah ritual selesai dilakukan, dukun santet tersebut berkata kepada saya: “Mas-nya tidak sekalian?” Saya pun menjawab dengan cepat: “Wah, kalau saya pakai gitu-gituan, Prewangan saya (sambil tangan kanan dan jari telunjuk saya angkat menunjuk ke arah langit) bisa marah.” Seketika itu, dukun santet menatap saya dengan tajam, saya pun balas menatap dengan tersenyum. Saya tersenyum karena dalam hati bersukacita telah berhasil melewati ujian dengan baik, kata “Prewangan” yang saya ucapkan itu menunjuk pada Satu Pribadi. Prewangan yang pernah saya sembunyikan, Satu Pribadi yang pernah saya sangkali, namun kali ini tidak saya sembunyikan dan sangkali kembali sekalipun nyawa yang dipertaruhkan.

Selama beberapa detik suasana menjadi tegang, karena si dukun santet tetap menatap dengan tajam. Saya pun tetap membalas tatapan dengan senyuman, hingga akhirnya suasana menjadi cair, saat dukun santet mulai bertanya kepada saya: “Asli mana, Mas? Ambon ya?” Entah apa yang dilihatnya hingga bertanya seperti itu, mungkin karena melihat tampang Ambon saya. Setelah si dukun santet melontarkan pertanyaan itu, pertanyaan lainnya menyusul dan obrolan mengalir. Hingga tiba waktunya, saya dan teman melangkah keluar dari rumah dukun santet. Sambil meminta maaf kepada saya karena tidak berkata jujur sejak awal, teman saya pun mengungkapkan alasannya kenapa harus menyerang dan meminta perlindungan (dari situ saya jadi tahu, terkadang ada pihak-pihak yang berani dengan keras berkonflik dengan pihak lain, itu karena merasa percaya diri ada “kekuatan lain” di luar dirinya yang melindungi).

Monumen “telur hias” yang terbangun sejak sekolah minggu telah banyak memberikan refleksi kepada saya, dan monumen “telur hias” itu tetap saya butuhkan sebagai “batu penjuru” dalam menempuh perjalanan yang masih panjang terbentang di depan. Menempuh perjalanan untuk mempertahankan (tidak menyembunyikan dan membuang) Yesus, merupakan sebuah perjuangan, dan perjuangan itu mahal harganya. Namun, saat berani membayar harganya, mahkota kemuliaan akan tersematkan. Berani membayar harga, sekalipun harus mati dengan cara disalib terbalik seperti Petrus yang berjuang mempertahankan Yesus. Karena jauh lebih mulia mati dengan cara seperti Petrus, daripada harus mati gantung diri dengan tali yang terlepas dari leher hingga menyebabkan jatuh tertelungkup, perut terbelah, dan semua isi perut tertumpah keluar seperti Yudas Iskariot yang telah menjual Yesus.

Yuk, bareng-bareng kita berjuang mempertahankan Yesus, dan jangan pernah menjual-Nya dengan cara yang makin beragam (menjual-Nya sama artinya dengan membuang-Nya): 1) Seseorang yang gampang bersumpah demi Yesus, sedikit-sedikit “demi Yesus”, nama Yesus diobral seperti barang murahan. 2) Seseorang yang berusaha memikat lawan jenis yang seiman, nama Yesus dibawa-bawa untuk usaha memikat (sok rohani, memakai topeng di wajah, memberi barang/uang dengan alasan memberkati, dsb.), yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan kelaminnya. 3) Seseorang yang memiliki kepentingan pekerjaan/bisnis, ketika dihadapkan dengan rekan kerja/bisnis yang seiman, nama Yesus dibawa-bawa untuk melancarkan urusan. 4) Seseorang yang memakai simbol-simbol keagamaan (kalung salib, dll.). Saat diperlukan untuk pencitraan, maka simbol itu akan dipamerkan. Namun, saat tak diperlukan, maka simbol itu akan disembunyikan. 5) Dan lain sebagainya.

Akhir kata, pada pagi hari (Kamis, 19 Desember 2013) yang indah ini, bagi saudara-saudaraku yang tetap menjaga tradisi liturgi, sedang dalam masa persiapan menantikan “kedatangan Tuhan” dengan berdoa, berpuasa, menyanyikan puji-pujian, dsb. hingga malam 24 Desember 2013, saya ucapkan: “Selamat Hari Minggu Adven Ketiga.” Sementara bagi saudara-saudaraku yang telah merayakan Natal sebelum malam 24 Desember 2013, saya ucapkan: “Selamat Natal. Surya Pagi dari tempat yang tinggi telah datang membawa kehidupan bagi dunia, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan, dan mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera (Lukas 1: 78-79).”

NB (Nambah): Saat menulis catatan di atas, sesekali saya sambil melantunkan himne yang ada dalam Kidung Jemaat (sebuah kidung yang telah saya dengar sejak kecil). Berikut saya sertakan himne tersebut yang dibawakan secara kontemporer oleh Glenn Fredly: http://youtu.be/zs8bfJ_LGig. Kiranya lirik dalam himne dapat menjadi doa yang indah untuk kita naikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: